Kamis, 11 September 2014

Apa Susahnya Baca Peraturan?

Peraturan Gunung Gede

Semalam...

Suami: "Savana Bromo katanya kebakaran. Udah baca beritanya belom?"
Saya: "Ah, yang bener?"

Saya pun langsung internetan, padahal tadinya udah selimutan mau tidur. Menurut berbagai sumber berita yang saya baca tadi malam, kebakaran sudah mencapai luas 100ha! Diduga penyebabnya adalah puntung rokok atau api unggun yang tidak padam dengan sempurna. Musim kemarau juga menambah parah kebakaran tersebut karena menyebabkan merambat lebih cepat.

Saya jadi teringat, pertengahan Agustus lalu. Dimana banyak pendaki suka melakukan upacara 17 Agustusan di berbagai gunung. Ada kejadian gunung Lawu terbakar. Dugaan penyebabnya juga puntung rokok atau bara api unggun yang tidak padam dengan sempurna

Bulan Juni lalu, saya dan anak-anak diajak suami mendaki gunung Gede. Di pos penjagaan pertama ada 2 papan berukuran sangat besar dengan tulisan yang sangat jelas. (Ket: Lihat foto diatas)

Saya: "Kalau kita gak boleh bikin api unggun, trus gimana caranya untuk menghangatkan badan?"
Suami: "Bawa pakaian dan jaket yang bisa menghangatkan badan."

Menurut suami, sebetulnya gak apa-apa juag menyalakan api unggun asal tau tekniknya. Tapi kenyataanya, banyak yang gak mengerti atau menganggap sepele. Makanya akhirnya larangan seperti itu keluar. Lebih baik dilarang sekalian, deh.

Sayangnya larangan tinggal larangan. Entah karena banyak yang males baca, cuek, egois, atau apalah. Selama pendakian, saya seringkali menemukan pendaki yang buang sampah sembarangan, membawa alat musik, membuat api unggun, dan lainnya.

Ketika lagi asik menikmati indahnya padang savana gunung gede, yaitu alun-alun surya kencana, tau-tau melihat asap tebal membumbung. Menurut suami, kemungkinan itu dari api unggun. Saya ketakutan karena asapnya cukup besar. Dan, saya memang jadi agak ngedumel sendiri melihatnya. Abis kalau sampe kebakaran gimana? Mau lari kemana? Hiii...

Memang faktor human error itu masih berupa dugaan. Gesekan antar ranting kering saat kemarau pun bisa menyebabkan percikan api. Tapi, mengingat banyaknya pendaki yang juga gak disiplin, faktor human error juga memang gak bisa diabaikan.

Ketika di gunung gede itu, saya memang merasakan sekali kurangnya petugas patroli. Tapi, rasanya gak bisa juga 100% kita menyalahkan petugas patroli. Kalau kita pergi ke alam bebas tujuannya bukan untuk gaya-gayaan semata, harusnya udah paham sama salah satu quote klasik para pecinta alam "LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINTS."

Papan pengumuman juga udah terpampang jelas. Yang kita perlu kita lakukan itu cuma membaca, memahami, dan patuh. Zaman sekarang informasi juga lebih mudah didapat. Tinggal tanya google. Kurang apa lagi? Jangan cuma mikir, kamera udah dibawa belom, ya? Hufff :(

Butuh waktu lama untuk memperbaiki alam. Merusaknya hanya sesaat...

 Jalan-jalan kami sekeluarga ke Bromo tahun lalu. Sedih rasanya kalau bukit Savana keindah ini harus terbakar

24 komentar:

  1. Katanya sih mak peraturan itu ada untuk dilanggar ... jadi walaupun tahu tapi banyak yang pura-pura gak tahu dan malah gak mau tahu

    Thanks sharinya ya mak :)

    BalasHapus
  2. gara2 puntung rokok yang seupil,jadinya merusak alam...duh :(

    BalasHapus
  3. Iya tuh, rokok memang merugikan.

    BalasHapus
  4. Hiks... sedih bgt denger berita ini. Knp ya orang2 ni? Apa si susahnya mengikuti peraturan..maunya cuma enaknya aja. :(
    Thn lalu jg pulau Sempu di tutup..rusak krn terlalu byk org datang. :(
    Sekarang aku denger utk pendakian ke Semeru dibatasi mak dlm rangka menjaga ekosistem. Semoga kebiasaan jelek ini ga terulang lagi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebiasaan jelek yang merugikan banyak orang dan alam akhirnya, ya

      Hapus
  5. Waktu saya ke sana bulan lalu, Bukit Savana memang sedang meranggas karena kemarau. Namun yang tak habis pikir perilaku jorok dan tak peduli lingkungan dari pengunjung emang menyakitkan hati :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, Mbak. Saya juga gak habis pikir :(

      Hapus
  6. Wah sedih juga ya mbak kalo banyak yg masih belum peduli sama lingkungan maunya...semoga gak terjadi lagi dah padahal keren abis tuh savananya Bromo

    BalasHapus
  7. padahal aku blm sempat ke sana lho mba,,kok udah kebakar siih hiks ;) betul bgt mba,,memperbaikinya susah,,tp merusaknya cm sesaat,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kalau Mbak tita bisa ke sana, Savana Bromo sudah cantik lagi :)

      Hapus
  8. Begitulah sifat manusia Jeng.
    Larangan "jangan buang sampah sembarangan" dicuekin
    Ketika rumahnya kebanjiran baru marah kepada pemerintah.
    Dilarang Parkir malah parkir, kalau diderek protes
    Dilarang korupsi malah ngebut sikat sana-sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. dilarang malah jadinya melanggar ya, Pakde :(

      Hapus
  9. hampir yang "negatif" seperti menjadi ciri khas sebagian"oknum" masyarakat Indonesia.. kurang kesadaran diri mnjaga alam skitar dan kurangnya kebanggaan mnjadi bagian dari alam Indonesia yang begitu rupawan di dunia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga yang kebiasaan negatif2 itu perlahan hilang, ya :)

      Hapus
  10. cuman dilihat n dibaca doank....,mak...kaya cuma iseng gitu.., tapi gak dipatuhi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya begitu, Mbak. Bisa baca, tapi gak bisa mempraktekkan

      Hapus
  11. Ferdias Bookelmann

    Begitulah Mak, senin kemarin Lereng Gunung Agung juga terbakar. Ini disebabkan karena penduduk desa yang ingin membuka lahan dengan cara membakar ilalang. Sedih banget, karena puluhan hektar hutan lindung rusak karena ulah manusia.

    BalasHapus
  12. Sedih..miris. Setelah mendengar sebelumnya gunung lawu, disusul rinjani
    dan kebanyakan terjadi akibat kelalaian "Puntung Rokok"

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...