Jumat, 13 November 2015

Menanti (Kabar) Burung Yang Gak Kunjung Tiba

paralayang, puncak, puncak pass resort
Seperti menanti (kabar) burung yang gak kunjung tiba. Hai, raptors! Pada ada dimana, sih?

Masih penasaran dengan migrasi burung raptor yang gagal dilihat saat menginap di Rumamera, kami pun berencana untuk menginap lagi. Pengennya, sih, seminggu setelahnya tapi suami harus ke Jogja untuk survey kegiatan yang akan diadakan di sana. Puncak menjadi tujuan kami berikutnya. Karena menurut beberapa info, kalau mau melihat migrasi burung raptor, salah satu tempat terbaik adalah di daerah Puncak. Tepatnya di area paralayang.

Mulai mencari-cari penginapan di sekitar area paralayang. Tapi, kalau mencari melalui online travel agent, semuanya penuh untuk tanggal yang kami inginkan. Suami ajakin cari penginapan mendadak aja. Kali ini, saya gak berdebat, udah mulai biasa dengan bepergian dan mencari penginapan mendadak hehehe.

“Coba cek Melrimba Garden, Bun, “ saran suami. Saya pun langsung cari info melalui internet dan ternyata di Melrimba ada camping areanya. Melrimba garden lokasinya sangat dekat dengan area paralayang. Bahkan menurut suami dari Melrimba pun bisa melihat view migrasi burung.

Setelah mendapatkan nomor telpon, saya segera melalukan kontak. Rate menginap di Melrimba Garden adalah IDR1.250K per tenda. Mendapat 4 x lunch/dinner, 4 x breakfast/snack, 2 ikat kayu bakar untuk api unggun, tempat bbq, segalon air mineral, ada listrik di dalam tenda, serta kamar mandi dengan shower panas dan dingin.

Kami memilih ambil dinner, karena dipikir kalau lunch lebih gampang lah buat cari makan. Kami juga memilih breakfast ketimbang snack. Abis pagi hari suka malas cari makan kalau harus ke luar dulu. Karena gak dapat snack, beberapa hari sebelum camping, saya udah belanja. Udah stock lamb chop, sosis berukuran besar, dan saus bbq. Begitu hari H, malah ketinggalan semua. Huaaaa ….!

Rencana berangkat ke puncak usai subuh. Tapi, kayaknya emang harus dipertegas yang dimaksud usai subuh. Sampe malam juga bisa dibilang usai subuh hehehe. Hampir pukul 7 pagi kami baru berangkat dari rumah. Perjalanan sepanjang tol, lancar jaya. Begitu keluar tol, kendaraan mulai berhenti.

Gak bergerak hampir 1 jam. Untung dapetnya di tempat teduh

5 menit … 10 menit … 20 menit … Kok, gak bergerak? Tadinya, kami pikir macet karena terkena lampu merah. Tapi, lama banget diamnya. Saya pun mulai buka internet dan mulai curiga kalau akan ada penutupan jalan. Menurut jadwal, pukul 9 pagi akan diberlakukan jalur searah menuju puncak.Seharusnya itu menguntungkan untuk kami yang akan menuju puncak. Tapi sejak pukul 8 kendaraan sudah tidak bergerak sama sekali. Saya menduga mungkin saja polisi sedang meng-clear-kan area sekitar. Entah benar atau tidak dugaan itu. Untung saja kendaraan kami berhenti di tempat teduh, jadi gak kepanasan cuma rada bosan aja kelamaan nunggu.

 
Diantara kami berempat, cuma saya yang beberapa kali jejertitan. Semangat banget jalan-jalannya. Tapi, begitu sampe lokasi, gemeteran sendiri lihat ketinggiannya. Apalagi pas anak-anak dan suami duduk di pinggiran. Rasanya kaki lemees hahaha
Kayaknya bakal buyar rencana mengajak anak-anak main paralayang suatu saat nanti. Lah, saya yang ngajakin, tapi saya juga yang ketakutan :D

Menjelang pukul 9 terdengar sirene mobil polisi. Yup! Jalur searah mulai dibuka. Yippiiieee!! Perjalanan menuju tempat paralayang pun sangat lancar. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami sudah sampai di sana.

Setelah membayar biaya masuk lokasi (IDR45K), kami mulai naik tangga menuju area paralayang. Sudah ada satu komunitas berasal dari Bogor yang sedang menanti migrasi burung. Tidak ada yang sedang bermain paralayang di pagi hari itu. Katanya, sih, setelah jam makan siang baru kegiatan paralayang dimulai.

 
Seporsi cilok dan rujak bebek, gak mampu menahan Keke dan Nai untuk menunggu lebih lama :D

Hingga 1 jam menanti, gak juga ada satupun burung melintas. Anak-anak mulai bosan. Padahal udah ‘disogok’ dengan seporsi cilok. Menunggu memang membosankan. Daripada anak-anak semakin rewel, kami pun memutuskan untuk meninggalkan area tersebut.

Lychee ice tea untuk Nai. Strawberry ice tea untuk saya.

Melrimba garden lokasinya gak jauh dari tempat paralayang. Benar kata suami saya, dari Melrimba juga bisa melihat migrasi burung. Sesampainya di sana, setelah melihat tenda, kami pun keluar lagi untuk makan siang. Resto Puncak Pass menjadi pilihan. Selain dekat dengan Melrimba, resto Puncak Pass Resort adalah favorit kami. Selalu menyempatkan untuk makan di sini kalau sedang jalan-jalan ke Puncak. Beberapa kali makan di sana, rasanya belum ada satupun makanan dan minuman yang rasanya gagal. Enak semua! Apalagi agak kecewa karena masih juga gagal melihat migrasi burung. Jadi makan di Puncak Pass Resort bisa mengobati kekecewaan hahaha *alesaaan :D*

 
Sop buntut bakar untuk Keke

Nasi timbel untuk saya

Sop buntut pesanan suami

 
Gurame bakar kesukaan Nai

Keke dan ayahnya memilih sop buntut, tapi beda menu. Saya sebetulnya pengen steak. Kayaknya, lamb chop steak dengan mint sauce menggiurkan. Tapi lidah saya ini seleranya suka ada waktunya. Kayak makan bubur, buat saya paling enak buat sarapan. Nah, steak buat saya paling enak buat makan malam. Jadi, ragu juga buat order steak. Akhirnya, pilih nasi timbel ajah hehehe.

Setiap porsi menu resto Puncak Pass itu besar buat ukuran kami. Makan seporsi aja udah ngenyangin banget. Padahal dessertnya enak-enak, lho. Beberapa kali nyobain dessertnya saat makan di sana. Tapi, kali ini rasanya kami gak sanggup. Kenyang banget. Paling suami aja yang pesan seporsi es campur yang kemudian dihabiskan oleh anak-anak.

 
Semua kerajinan kayu ini langsung dibuat di sana

 

Dibalik suara syahdu kecapi suling, saya rada ngebatin juga melihat bapak pemain kecapi yang sudah tua. Semoga ada anak muda yang juga mahir bermain kecapi suling, ya :)


Di resto Puncak Pass Resot, selain semua makanan dan minumannya enak, suasananya juga tenang. Semakin menenangkan karena diiringi musik kecapi suling. Kesannya syahdu banget. Di sana juga dijual beberapa kerajinan kayu seperti wayang, congklak, dan topeng. Sering ditemui tamu warga negara asing yang makan di sana, terutama yang berusia lanjut. Biasayna warga negara asing suka beli kerajinan khas Indonesia. Saya coba menerka, sepertinya para tamu itu kemungkinan besar warga negara Belanda yang sedang bernostalgia di sana. Mengingat resto ini juga sudah cukup tua. Dan, beberapa menu di resto ini adalah masakan Belanda.

 
Ditutup dengan es campur. Padahal pengen poffertjes dan lainnya. Tapi, udah kenyang banget hihihi

Setelah makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke Cipanas. Pengen lihat taman bunganya. Tapi, begitu sampai parkiran, kayaknya harus jalan lagi menuju taman bunganya. Duh, perut kekenyangan ditambah mata yang udah ngantuk berat, rasanya males kalau harus jalan lagi. Anak-anak malah udah tertidur pulas di mobil Putar balik ajalah mampir ke minimarket mencari pengganti snack dan sosis yang tertinggal. Walopun gak ada brand sosis dan saus bbq favorit kami, gak apa-apalah daripada gak ada sama sekali.

Kemudian, kami kembali ke Melrimba. Menghabiskan weekend di sana. Sayangnya lagi-lagi kami gagal melihat migrasi burung raptor. Seperti menanti (kabar) burung yang gak kunjung tiba. Di php-in terus hehehe.

Tetep, sih, kegiatannya menyenangkan. Ceritanya … bersambung *langsung dipelototin yang baca* :p

Puncak Pass Resort

www.puncakpassresort.com





18 komentar:

  1. pengen kesana..tapi kayaknya emaknya bakal deg2an ngeri :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. harusnya kita barengan kesana. Biar deg-degannya barengan hehe

      Hapus
  2. Duh, es nya bikin ngiler polll

    BalasHapus
  3. oalaaahhh ternyata ngejar si raptor masih berlanjut yaaa...

    BalasHapus
  4. aku malah doyan bgt ama tempat2 tinggi begini..cita2 dr dulu pgn paralayang ga jadi2 nih :D.. lagi2 burungnya ga ketemu ya mba... enjoy liburannya ajalah ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau Mbak Fanny mah beranian, uy! :)

      Hapus
  5. Saya senang klo main ke blogmu mbak. ada cerita dan bnayak foto2 cantik

    dari semua kuliner yang ada, saya penasaran sama yang namanya rujak bebek

    dan dakonnya itu unik ya, saya punya di rumah permainan tradisional dakon. dikasih orang jepara dan itu kayunya pake kayu jati....

    BalasHapus
  6. rujak bebegg, pengen kesana, tapi bingung naik apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya gak usah harus ke Puncak kalau mau menikmati rujak bebeg

      Hapus
  7. Cantik lokasi kamu dan menu yang enak... Salam kenalan dari Malaysia food blogger... www.mahamahu.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  8. Rujak bebek itu kayak gimana, Mbak? Penasaran. Aku juga agak pobhia ketinggian ini. Kadang berani naik tapi suka ngeri pas liat bawah. Parah lagi suka keder pas turun. Gemeteran

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti rujak biasa. Cuma dihancurin buahnya, Mbak :)

      Hapus
  9. nak ekoootttttt..syelalu
    jln2 kenai pasti seruuuuuuuuuuuu

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...