Selasa, 10 November 2015

Rumamera Tanakita - Camping Di Atas Awan

Difoto dari Tanakita dengan bantuan teropong

Setiap kali camping di Tanakita, saya suka mengamati sebuah villa yang terletak di bukit kecil yang bersebrangan dengan Tanakita. Paling suka mengamati saat sore atau pagi hari. Ketika kabut mulai turun di sore hari. Atau saat kabut belum menghilang di pagi hari.

Apabila sudah mulai berkabut, saya melihat villa tersebut seperti muncul dari atas awan. Karena seluruh area tertutup kabut yang terlihat seperti kumpulan awan. Hanya villa itu saja yang masih tetap terlihat. Sering penasaran, siapa sih pemilik villa itu. Kayaknya beruntung bisa punya yang memilikinya. Suka penasaran juga pengen lihat ke sana.

Selang beberapa tahun kemudian, villa yang saya sukai ini dikelola oleh Rakata Adventure. Artinya sudah termasuk ke dalam area Tanakita dan disebutnya Rumamera. Asal nama Rumamera sepertinya karena villa tersebut berwarna merah. Bukan merah sih sebetulnya, lebih tepat warna coklat karena dindingnya kayu. Tapi, memang lebih enak disebut Rumamera. Selain terdengar unik juga Rumah Cokelat nanti kayak nama toko yang jualan coklat, ya hehehe.

Awal Oktober 2015 …

Jalan kaki ke Rumamera. Sebetulnya, ada jalan besar yang bisa masuk mobil. Tapi, kami memilih lewat jalan setapak aja

“Jadi mau menginap dimana? Tanakita, Rumamera, Pinus, atau Riverside?” tanya salah satu crew Tanakita begitu kami sampai di sana.

Keke dan Nai awalnya tetap ingin di Tanakita. Ya, mereka belum pernah cobain menginap di area lain jadi agak susah move on dari Tanakita hehehe. Saya dan suami membujuk anak-anak supaya menginap di Rumamera saja. Alasannya, saat itu Tanakita lagi full di booking oleh 1 keluarga besar yang sedang gathering. Rumamera lokasinya paling dekat dari Tanakita, jadi kami memilih di sana.

 
Sampe juga Rumamera setelah berjalan kurang lebih 15 menit

Langsung makan siang

Anak-anak berhasil dibujuk. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Rumamera selama kurang lebih 15 menit. Kendaraan bisa masuk sampai Rumamera. Tapi karena kami menggunakan kendaraan umum, setelah turun di depan pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango harus dilanjutkan dengan berjalan kaki lagi.

Sesampainya di Rumamera sudah ada 1 rombongan kecil yang menginap. Sebetulnya, rombongan itu satu perjalanan dengan kami tapi lebih dulu sampai karena gak mampir dulu ke Tanakita. Rombongan sejumlah sekitar 15-20 orang, kebanyakan ibu-ibu yang punya hobi merajut.

Level bawah ada 1 ruang kosong dan juga beberapa kamar mandi (plus toilet)


Rumamera memang hanya area kecil. Untuk rombongan kecil yang ingin lebih privat atau sekadar menikmati suasana lain selain di Tanakita bisa cobain camping di Rumamera. Di area ini memang villa yang saya suka tetap ada, tapi di bagian dalamnya hanya ada ruang kosong dan pantry. Bisa dipakai untuk menggelar rapat kecil di sana. Di dalam ruangan sudah dilengkapi berbagai peralatan untuk presentasi. Menginapnya tetap di dalam tenda.

 
Udara dingin, angin sepoi-sepoi bisa bikin ketiduran kalau diayun-ayun di hammock :D

 
Baca buku juga enak dilakukan di hammock

Agak norak-norak bergembira, begitu sampai di sana kami melihat hammock. Yeaaay! Bisa cobain tiduran di hammock sampai puas hahaha! Ada 2 hammock di sana, dan keduanya dipakai bergantian oleh kami. Semoga tamu lain gak jadi terpaksa mengalah karena hammock terus-menerus kami pakai hehehe.

Udara sejuk, diayun-ayun oleh hammock, bikin mata jadi mudah kriyep-kriyep karena mengantuk. Beneran enak banget, ya, tiduran di hammock. Untungnya kami ada melakukan aktivitas lain. Selain ingin mengamati migrasi burung raptor juga berkeliling-keliling kalau enggak undah beneran ketiduran di hammock dan tamu lain semakin gak bisa gentian :p

Menjelang malam, masih terlihat sedikit semburat orange di langit. Menikmati sunset memang enak di Rumamera

Nongkrong di Coffee Gede, menunggu migrasi burung, melihat kebun organic, bermain air di Cinumpang, juga berjalan ke hutan sambil mencicipi air akar gantung adalah beberapa kegiatan yang kami jalani. Sampai-sampai rencana untuk melihat sunset di Rumamera gak terlaksana karena balik ke tenda menjelang makan malam. Kalau menginap di Tanakita paling enak menikmati sunrise. Tapi, di Rumamera paling enak menikmati sunset.

Lihat deretan tenda hijau di belakang? Itu lokasi Tanakita. Tenda di level bawah Tanakita terlihat dari Rumamera.  
Fotonya blur, uy! Tapi gerobak pikulan baksonya tetep kelihatan, kan? :p

Jangan khawatir dengan fasilitas dan pelayanan di Rumamera. Sama aja kayak kalau menginap di Tanakita. Gak ada yang berbeda kalau untuk fasilitas dan layanan. Cuma lokasi aja yang berbeda. Di Rumamera lebih berangin daripada di Tanakita karena areanya lebih terbuka. Siap-siap aja deh peralatan perang untuk menangkal masuk angin hehehe.

 
Menjelang sore, api unggun mulai dinyalakan

 
Secangkir teh hangat untuk menemani makan malam :)

Malam hari, saat makan malam di Rumamera, sambil mendengarkan iringan berbagai lagu yang dibawakan secara akustik, saya memperhatikan rombongan tersebut. Mayoritas dari mereka membuat rajutan sederhana. Ya, namanya hobi merajut kegiatan merajut hehehe. Tapi, udara dingin seperti di Rumamera memang enak juga ya diisi dengan kegiatan craft. Jadi, kepikiran juga untuk sesekali bawa alat craft kalau camping lagi.

Sehabis makan malam, kebanyakan tamu merajut. Tapi, ada 1 orang yang sedang menggambar sketsa para penyanyi akustik di depannya

Ada 1 orang dari rombongan itu yang asik membuat sketsa. Membuat sketsa yang sedang bernyanyi. Saya tuh kagum dengan mereka yang pintar menggambar. Apalagi menggambar on the spot. Jago banget kelihatannya.

Saya nyengir aja ketika diajak ikutan yoga. Mendingan tiduran di hammock hehehe

Pagi harinya, beberapa orang dari rombongan tersebut beraktivitas yoga. Saya pun diajak, tapi saya tampik dengan nyengir. Yoga? Hmmm … kayaknya saya lebih memilih (kembali) tiduran di hammock sambil menjadi pengamat yoga saja. Yang kemudian dilanjut dengan sarapan hehehe.

 
Nongkrong lagi Coffee Gede

 Dari Coffee Gede, lanjut ke Riverside Tanakita. Main air di sana trus pulangnya lewat hutan. Sama suami, saya dan anak-anak dikenalin minum air dari akar gantung :D

Usai sarapan, kami kembali beraktivitas ke tempat lain. Rencananya hingga siang aja, biar sorenya bisa melihat sunset di Rumamera. Eh, malah kelamaan beraktivitasnya. Bahkan dari sore hingga malam, kami berada di Tanakita. Dan dengan pertimbangan semua tamu di Tanakita atau Rumamera sudah pulang, kami pindah tidur aja. Malam kedua kami camping di Tanakita. Suami dan anak-anak yang angkutin barang bawaan dari Rumamera. Saya memilih istirahat di Tanakita. Pegel kaki setelah hampir seharian jalan, uy!

 
Malam kedua, pindah tenda. Kami menginap di Tanakita

Kami pulang Senin pagi, naik kereta. Sebetulnya, paling enak itu pulang sore hari. Tapi sengaja pilih kereta pagi karena kami gak mau sampai Jakarta harus terjebak macet dengan yang baru pulang kantor. Habis refreshing trus langsung kena macet, rasanya gak asik banget, ya.

Menginap di Tanakita selama 3 hari 2 malam sebetulnya rencana dadakan. Awalnya, hanya 1 malam saja. Tapi, begitu tau anak-anak libur cukup panjang, kami putuskan untuk memperpanjang liburan. Tiket pulang pergi sudah terlanjur dibeli. Dan, kami baru tau kalau tiket bisa dituker asalkan masih ada seat. Gak ada denda, kok. Kalaupun ada biaya tambahan itu karena kami menukar biaya tiket dari kelas ekonomi ke ekskutif.

 
Saatnya pulang. Cape tapi seneng banget :)

Susah bener dapetin tiket eksekutif saat wiken. Sekarang, para tamu Tanakita kebanyakan memilih naik kereta. Ya, mungkin daripada harus berlama-lama di perjalanan karena macet. Mendingan naik kereta lebih cepat sampai. Kami pun begitu, tapi gak pernah beruntung dapat tiket eksekutif walopun udah pesan dari jauh hari. Kalaupun waktu kami dapat tiket eksekutif untuk pulang, sepertinya karena hari Senin. Itupun pas kami pulang, tiket eksekutif udah sold out, lho.

2 minggu setelah camping di Rumamera, kami kembali camping. Masih penasaran melihat migrasi burung. Berikutnya kami camping di Puncak. Kemudian dialnjut dengan camping di Riverside – Tanakita, seminggu sesudahnya. Memang bulan Oktober dan awal November kami diwarnai dengan cerita camping, nih. Alhamdulillah.

Cerita camping-camping lainnya di postingan berikutnya aja, ya :)

Tanakita Camp

www.tanakitacamp.com

Lokasi: Situgunung, Kadudampit, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat

Reservasi:
Jl. Lamandau IV No.17, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12130
Phone +6221 7200469
Fax +6221 7269761
tanakita@rakata.co.id

14 komentar:

  1. Mbak..cakep banget sih liputannya...lengkap..jd mupeng mau jalan2 ke sana. Tarifnya berapa ya utk kemah gitu..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tarifnya Rp550.000,00 per orang per malam, Mbak :)

      Hapus
  2. duh jadi mupeng, satu rumah gitu bolehnya diisi berapa orang mba ? bawa bayi oke ga yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. di tenda menginapnya, Mbak. Bawa bayi juga boleh, kok. Kapasitas tenda maksimal 4 orang

      Hapus
  3. Duuhh kebayang leyeh2 si hammock.sambil baca novel ditemani hembusan angin gunung. Menyenangkan sekali ^-^

    BalasHapus
  4. Mauuuukkkkk !!!! Udah lama pengen ke sini.

    BalasHapus
  5. Aih, serunya camping. Tanakita itu berasa sorga ya, Mbak. Kayaknya tinggal di sana damaii gitu. Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa menyepi ke Tanakita. 😉

    BalasHapus
  6. huhuhuhu aku belum jadi-jadi kesini huhuhuhu

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...