Selasa, 16 Agustus 2016

Sunrise di Prau dan Turun Gunung via Jalur Dieng

 
Sunrise di Prau dan turun gunung via Dieng menjadi pengalaman kami di hari kedua

Setelah drama kehilangan Keke selesai, saya pun menutup malam itu dengan makan yang banyak kemudian dilanjutkan tidur nyenyak. Malam itu, udara Prau tidak terlalu dingin. Padahal saya sudah membayangkan akan menggigil bila malam telah tiba. Mungkin ketika mencari Keke, saya sudah cukup menggigil. Sehingga, begitu masuk tenda malah terasa hangat. Saya pun tidak terlalu merapatkan sleeping bag. Malahan suami memilih gak pakai sleeping bag. Cukup pakai sarung aja.

[Silakan baca: Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng]

Sunrise di Prau

Suami: "Bun, bangun. Mau lihat sunrise, gak?"

Jam di handphone menunjukkan pukul 05.00 wib. Ugh! Rasanya malas sekali keluar tenda. Ngebayangin dinginnya udara luar bikin saya malas. Enakan bergelung di dalam tenda aja dan melanjutkan tidur.

Kemudian saya berpikir kalau selama ini sering banget gagal melihat sunrise dimanapun. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh salah seorang penyiar radio ketika bertanya kepada para pendengarnya lebih suka sunrise atau sunset. Mayoritas mengatakan sunset. Dan penyiar tersebut menyimpulkan kalau banyak yang lebih memilih sunset karena malas bangun pagi. Terlepas dari apakah kesimpulannya benar atau tidak, setidaknya buat saya itu benar banget hahaha!

Kali ini gak boleh gagal lagi!

Akhirnya, saya memaksakan diri untuk bangun. Masa' mau gagal melulu. Padahal udah jalan jauh. Sayang aja kalau sampe gagal lagi.

Udara dingin langsung menerpa wajah saya yang gak tertutup apapun. Kalau badan hingga kaki sih hangat karena memakai outfit yang cukup tebal. Kerudung yang saya pakai pun mampu menghangatkan kepala. Tapi memang dibilang dingin banget juga enggak. Saya tidak memakai sarung tangan tapi gak bikin tangan saya berasa kedinginan banget. Biasa aja.

 
Kemeriahan tidak hanya dari warna-warni tendanya. Tapi juga dari suasana yang sangat ramai. Benar-benar seperti pasar malam. Ada yang nyanyi, tertawa ngakak, teriak-teriak, dan lain sebagainya. Untung kami tidak mendirikan tenda di area ini 

Entah pukul berapa para pendaki ini tiba. Seingat saya, sampai saya mulai beristirahat baru ada 3 tenda. Salah satunya tenda kami.

Mas Ivan: "Masih kepagian. Nanti aja keluarnya. Sunrisenya masih lama."

Mas Ivan keluar dari tendanya ketika saya dan suami keluar dari tenda. Saya lihat di sekeliling sudah ada beberapa tenda lagi. Entah pukul berapa para pendaki itu datang. Seingat saya, saat kami di sana hingga saya tidur hanya ada 3 tenda. Tenda kami, mas Ivan, dan 1 tenda pendaki lain. Walaupun ketambahan beberapa tenda, tetap suasananya masih sepi. Gak seramai di tempat saya mengunggu Keke. Itu sih udah kayak pasar malam banget!

 
Menjelang sunrise

 
Saya hanya perlu mendaki bukit kecil di depan tenda untuk melihat sunrise. Gak sampai 5 menit sudah sampai di atas. Langsung tampak di depan mata kemegahan gunung Sindoro dan Sumbing. Dari kejauhan terlihat deretan gunung Merapi, Merbabu, Andong dan Ungaran.

Tempat kami mendirikan tenda sepertinya juga jadi jalur melihat sunrise sekaligus deretan gunung. Banyak para pendaki yang lewat di depan tenda untuk melihat sunrise dari bukit. Benar kata mas Ivan kalau tempat kami mendirikan tenda tidak hanya sunyi tapi juga memiliki pemandangan yang paling indah.

 
Nai yang selalu menyiapkan makanan bagi kami. Bahkan sebelum pergi, dia yang membuat daftar makanannya hehehe

 
Sambil nunggu sarapan siap, nge-drone dulu :D
 

Keke dan Nai tidak ikut melihat sunrise. Mereka berdua terlihat sangat nyenyak. Chi pun gak mau membangunkan. Biar aja, lah. Biar mereka beristirahat. Sayangnya, cuaca hari itu cukup mendung. Sunrise tidak terlihat maksimal. Bahkan ketika kami memutuskan untuk turun gunung sekitar pukul 10.00 wib, gunung Sindoro dan Sumbing sudah hampir tidak terlihat karena kabut.

Turun Gunung via Dieng


Suami: "Bun, mau turun lewat mana? Patak Banteng atau Dieng?"

Kalau lihat waktunya, saya tergiur untuk kembali melalui Patak Banteng. Tapi kalau mengingat kecuramannya, nyali saya langsung ciut. Naik aja ngeri apalagi turun? Khawatir kepleset mana jalurnya sempit. Hiii ...

 
Banyak yang menyebut area ini adalah Bukit Teletubies :D

Jalur Dieng katanya lebih landai tapi sampenya lebih lama. Sebetulnya gak landai-landai amat. Ada di beberapa jalur yang agak menanjak. Banyak juga jalur sempit dan licin bikin beberapa pendaki termasuk saya terpeleset. Sebelnya jarang sekali pohon atau akar besar yang bisa saya jadikan pegangan.

 
Sering berhenti karena kaki terasa lumayan sakit

Kaki yang sakit juga memperlambat perjalanan. Beberapa minggu sebelum mendaki, kaki saya sempat terkilir. Pas berangkat ke Dieng, kondisi kaki sudah banyak berkurang sakitnya. Tapi mungkin karena dibawa jalan cukup lama jadinya bengkak dan sakit lagi. Sepatu yang saya pakai jadi terasa menggigit karena sempit gara-gara kaki saya bengkak. Inilah yang bikin perjalanan jadi terhambat karena banyak berhentinya.

 

 Paling gemeteran pas di sini. Jalurnya sempit, licin, gak ada yang bisa dipegang :D

 Entah kenapa area ini disebut Akar Cinta

Karena terlalu sering berhenti, Keke dan Nai turun lebih dahulu bersama mas Ivan. Seingat saya hanya 2x mereka menunggu saya dan suami. Ketika menemukan persimpangan dan di dekat hutan pinus untuk makan siang. Selain itu saya hanya berdua sama suami. Seharusnya romantis kalau berduaan gitu, ya hihihi. Tapi ini sih boro-boro, kaki saya lumayan sakit. Mas Ivan menawarkan sendal jepitnya untuk saya pakai. Tapi suami keberatan, menurutnya tetap lebih baik pakai sepatu. Apalagi kondisi jalanan yang licin, kalau sampe putus di jalan malah lebih repot.

Setelah sekitar 4 jam perjalanan, sampai juga di pos terakhir. Saya dan anak-anak menunggu di terminal, sedangkan suami dan mas Ivan naik angkot untuk mengambil kendaraan masing-masing yang parkir di pintu masuk Patak Banteng. Lumayan lama kami menunggu karena traffic dari dan ke Patak Banteng sangat macet.

Sambil menunggu, saya menguping obrolan para pendaki yang baru memulai pendakian di hari itu. Ternyata karena long weekend, macet total dimana-mana. Rata-rata menempuh perjalanan hingga 24 jam dari Jakarta menuju Dieng. Bahkan ada yang lebih dari 24 jam. Alhamdulillah, perjalanan kami menuju Dieng tidak selama ini walaupun agak mundur beberapa jam dari rencana awal sehingga membuat kami terpaksa mendaki sore hari.

Selesai dari pendakian gunung Prau, kami tidak langsung pulang. Perjalanan masih dilanjutkan menuju Sikunir. Banyak yang bilang golden sunrise di Sikunir sangat indah. Bukit Sikunir tempat kami melihat golden sunrise berlokasi di desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa.

Seperti apa ya rasanya tinggal di desa tertinggi? Dan bagaimana indahnya golden sunrise di bukit Sikunir? Bersambung ke cerita berikutnya, ya :)

Baru juga turun gunung udah ada pembicaraan mau ke gunung mana lagi. Ke pantai, pliiiisss... Sesekali hehehe.

40 komentar:

  1. Walau nggak liat sunrise, tp naik gunung yg penting sampai puncak. Dan msh ke Sikunir? Woaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, viewnya tetep cakep walau gak maksimal sunrise nya. Mumpung lagi di sana jadi sekalian hehehe

      Hapus
  2. Aaa seru banget, foto2nya bikin ngiriiii... iya, naek gunung 17an itu kayak ke pasar, hihihi. Aku inget dulu, pas malem 17an naek gunung, masa pas jalan bbrp kali kesandung org2 yg lagi tidur, hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau momen tertentu di gunung pun gak ubahnya sama di kota, ya. Rame hehe

      Hapus
  3. Ke gunung bareng keluarga, family goals banget! Salut banget bunda.. Aduh yg single jadi pingin cepet2an juga nih *eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lekas berkeluarga, ya. Aamiin :)

      Hapus
  4. Senangnya ya bund,anak2 lebih sering diajak jalan2 sama ortunya..mereka jadi lebih dekat dengan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah satu tujuan saya bertraveling juga karena ingin semakin mempererat bonding dengan anak

      Hapus
  5. Ceritanya seru!!! Anak2 itu staminanya luar biasa. Mereka selalu siap diajak mendaki gunung. Dua anakku juga begitu Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak-anak memang biasanya lebih kuat staminanya apalagi kalau terbiasa aktif

      Hapus
  6. Wah... asyik banget nih acara naik gunungnya. Sunrise di gunung Prau luar biasa. Ternyata dekat Dieng to

    BalasHapus
  7. ini beneran jd pgn naik gunung iihhh ^o^.. keke dan nai aja kuat, berarti aku harus kuat :D..

    Kalo aku justru lbh suka liat sunrise mba.. masih keinget sunrise di sikunir dulu, cakeeeeeppp.... kalo sunset mah buatku biasa aja..pernah ngeliat di danau tonle siamrep, ama di pantai bali, buatku ga istimewa sih ya.. masih jauuuh lebih merinding kalo ngeliat matahari naik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi, dong hehehe

      Sama saya juga suka sunrise. Cuma ya itu, deh. Suka susah bangun pagi hahaha

      Hapus
  8. enak banget ya kemping bawa chef :) Nay keren pingin nyobain dong masakannya, mudah2an di baca sama Nay

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo kalau gitu harus camping sama Nai :D

      Hapus
  9. Keren banget Mba.. panorama sunrise di Gunung Prau..

    BalasHapus
  10. Serunya bisa camping sekeluarga seprti itu ;)

    BalasHapus
  11. Pas aku di akar cinta itu turun kabut. So sweet kayak di twilight wkkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ... tapi di area akar cinta memang paling adem, ya :D

      Hapus
  12. astaga banyak sekali tendanya, kirain andong udah keterlaluan ramenya, ternyata ini lebih rame dari andong. haha

    BalasHapus
  13. Pemandangan ketika sunrise keren banget, foto2nya juga keren...

    BalasHapus
  14. Cantik tempatnyaaaa.. Jadi semangat mau tracking lagi ;)

    BalasHapus
  15. Serunya naik gunung bareng keluarga, sepertinya bisa jadi inspirasi saya untuk ngajak anak ke gunung.

    BalasHapus
  16. Nai pintar banget yaaa. Rajin masak dan mandiri DItunggu pengalaman serunyaa lagii

    BalasHapus
  17. Pengen juga ah..kayak kluarga mb myra. Asyik, rame2 naik gunung skluarga, pasang tenda. *harus nunggu alya gedean aku mb..

    BalasHapus
  18. Selalu seru baca cerita jalan2 Mba Mira dan keluarga. Salut untuk Nai.

    BalasHapus
  19. liat anak-anak mendaki saya merasa kalah. pernah coba mendaki di gunung batur yang ada di bali gak kuat. :(
    jangankan mendaki gunung, naik turun jurang cari air terjun di kabupaten tabanan aja udah habis tenaga.

    BalasHapus
  20. Gunung Prau menjadi magnet tersendiri bagi pendaki pemula. Karena untuk mencapai puncak memang cukup cepat dan di atas banyak lokasi yang bagus untuk ngecamp. Itu foto yang puluhan tenda terpasang ajib banget, nggak kebayang seperti apa ramainya waktu itu. :-)

    BalasHapus
  21. Seruuu liat yang naik gunung begini, anak-anak kuat pula staminanya ya, mba :). Aku suka ngos-ngosan kalo perkara daki gunung... hiks.

    BalasHapus
  22. Wuih, aku baru sampe Dieng doang.

    BalasHapus
  23. Keren pisan ngebolangnya gak tanggung2. Itu peralatan masak bawa sendiri Chi?

    BalasHapus
  24. wow indahnya hanya harus mendaki dulu ya, perlu fisik kuat

    BalasHapus
  25. Itu yg camping banyak amaat, hohoo.. aku bpm pernah ke dieng ey, pingiin

    BalasHapus
  26. Wow asik banget petualangannya mbak..pengen suatu hari bawa anak anak ku ke sini juga :)

    BalasHapus
  27. mendaki ke gunung prau memang selalu ramai, apalagi di hari libur. Ramenya seperti pasar.. hehe
    seneng lihatnya mndaki breng keluarga.. :)
    salam kenal..

    BalasHapus
  28. Nai kuat banget sih.. mgkn kalo aku sm nai kuatan nai deh perjalanan petualangan gini

    BalasHapus
  29. pertama kali saya diajakin ke gn semeru, udah semangat, ehh gatotttt, ternyata masih ditutup gara2 ada org hilang. Alhasil, cuma ke Ranu Regulo, wkwkwkkwkw. Yaampunn itu asikkk banget nerbangin drone di situuuu :*

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...