Menyantap Sate Kelinci, Berani?


Masih lanjutan dari cerita menginap di Villa Cempaka, nih. Tapi pengalaman yang tahun 2013nya hehehe. Jadi, setelah diputuskan pulang hari itu juga, selepas maghrib kami pun meninggalkan Villa Cempaka. Karena belum makan malam, kami mencari tempat makan di sekitar Ciater dulu. Lupa di mananya, yang pasti sebelum pasar Lembang. Karena salah seorang mamang saya sebetulnya menyarankan cari makan di pasar Lembang. Tapi, ya namanya juga perut udah mulai pada berontak, jadi cari yang ada aja.

[Silakan baca: Asiknya Kumpul Keluarga di Villa Cempaka Ciater]

Di sepanjang jalan, berjejer warung makan yang menjual menu jagung bakar dan tape uli. Sebetulnya mereka gak cuma menjual 2 menu itu, ada menu-menu lainnya walopun gak banyak. Ketika parkir, suami udah bisik-bisik ke saya tentang harga. Maksudnya tanya dulu harganya baru pesen. Malah kalau perlu parkir mobilnya rada jauhan biar kesannya kita dateng ke warung tersebut jalan kaki hehehe.

Tapi, ya mungkin karena udah pada lapar, kami berhenti tepat di salah satu warung dan langsung memesan beberapa menu. Ada yang pesan tape uli, jagung bakar, roti bakar, ayam bakar, hingga sate kelinci. Udah lupa pula buat nanya harga terlebih dahulu. Nah, ngomong-ngomong tentang sate kelinci, beranikah Sahabat KeNai menyantap sate kelinci?😁

Om saya yang pertama kali pesan sate kelinci. Kemudian suami ikutan pesan. Tapi, kalau suami ikut pesan karena penasaran sama rasanya. *Sekaligus uji nyali juga kayaknya hahaha* Melihat suami pesan, saya pun tertarik ikutan nyoba walopun agak takut-takut. Bukan takut sama rasanya, tapi gak tega kalau membayangkan wajah kelinci yang unyu-unyu trus disate hehehe.

Setelah satenya datang, saya masih ragu menyantapnya. Tapi, daripada penasaran trus sampe kebawa mimpi mendingan cobain ajalah. Hal pertama yang pertama saya lakukan adalah menutup mata. Gak mau membayangkan wajah kelinci *padahal ngapain juga pake nutup mata segala, ya hihihi*. Setelah itu 1 tusuk sate habis saya santap.

Rasanya..., agak kenyal. Sepintas mirip dengan daging ayam, tapi kalau kelinci lebih kenyal. Enak, sih. Dan katanya daging kelinci itu juga banyak gizinya. Tapi, kayaknya saya lebih memilih daging ayam aja, deh. Bukan karena gak tega. Setelah mencoba, saya lebih suka tekstur daging ayam daripada kelinci. Atau apa saya harus coba menu lain yang berbahan dasar kelinci baru bisa ketagihan, ya? 😜

Total harga yang harus dikeluarkan lumayan. Gak tau emang harganya segitu atau pedagangnya 'nembak'. Tapi, kalau kata mamang saya, jauh lebih murah harga yang di pasar Lembang. Lain kali, memang sebaiknya tanya harga dulu seperti saran suami saya. Supaya bisa mutusin mau makan di sana atau enggak. Di daftar menunya gak tertera harga satu pun.

Sahabat KeNai, pernah menyantap sate kelinci juga?😋

[Silakan baca: Berlemak di Warung Sate Shinta]