"Padahal saya iseng jualan karena bosan dengan kerjaan. Eh, ternyata ramai. Jadi lanjut sampai sekarang." Penjualnya bercerita sambil tertawa kecil.
Ketika kami sedang makan bubur, ada pembeli lain yang datang. Tapi, penjualnya lagi asik ngobrol dengan pedagang lain. Meskipun ngobrolnya di dekat gerobak, tapi sepertinya terlalu asik sampai harus dipanggil. Dibecandain sama suami kalau jualannya cuma iseng. Eh, gak taunya beneran dia mengaku kalau awalnya memang iseng jualan, hehehe.
Sebetulnya, pagi itu kami berencana mau ngopi di Pasar Rawamangun, tapi
areanya ramai banget. Saya pun teringat cerita suami kalau ada penjual
bubur baru di sekitar pasar. Ya sudah, tujuan pun berubah jadi sarapan
Bubur Ayam Cianjur Pasar Rawamangun yang ternyata punya cerita unik
ini.
Kuah kuning, kecap asin, kecap manis, dan sambal dipisah. Kita tinggal
meracik sendiri sesuai selera. Kerupuknya pun disajikan terpisah.
Masing-masing mendapatkan 1 mangkok kerupuk. Jadi, gak perlu berdebat
enakan bubur dikasih kuah atau enggak. Karena tinggal racik sendiri
hehehe.
1 mangkok bubur polos diberi topping ayam suwir, kacang kedelai, dan
irisan cakwe segera disajikan. Sayangnya, irisan daun bawangnya dicapur
dengan seledri. Makanya, saya minta jangan dikasih. Padahal saya suka
banget bubur ayam ditaburi irisan daun bawang.
Tempat sambalnya segede ini dan harus dituang.
Bubur ayamnya terasa agak plain. Tapi, bikin saya lebih leluasa meracik
bumbu sendiri. "Hati-hati nuangin sambalnya, Bun," mengingatkan saya
ketika sedang menuang sambal. Sambalnya dimasukkan ke dalam wadah besar
dan harus dituang kalau pengen pedas buburnya. Tapi, kalau gak
pelan-pelan, bisa langsung tumpah banyak ke mangkok. Padahal sedikit aja
udah cukup pedas.
Aneka sate-satean bubur ayam cianjur
Jangan lupain sate-sateannya. Satenya terlihat menggiurkan ketika tutup
wadahnya dibuka. Saya suka tampilan sate untuk bubur ayam yang
teksturnya masih agak basah karena bumbu ungkep. Biasanya tekturnya
lebih lembut daripada yang digoreng kering. Bumbunya yang masih menempel
di sate juga biasanya enak. Sate di sini rasanya gurih dan ada rasa
manis yang tipis.
Ketika sedang menikmati bubur, datang pembeli lain. Seperti cerita di
awal, penjualnya gak langsung tau ada pembeli lagi yang datang. Singkat
cerita, setelah menyajikan bubur ayam untuk pembeli lain, penjualnya
duduk dekat kami kemudian bercerita kalau awalnya iseng jualan.
Penjualnya masih muda. Mungkin seumuran ma Keke. Dia mengaku pernah
kerja di salah satu hotel di Jakarta, tapi saat ini sedang jenuh. Pengen
cari suasana lain. Terpikirlah ide iseng jualan bubur ayam
cirebon.
Ya karena iseng, dia bilang kalau gak laku mau balik lagi cari kerja di
hotel. Eh, ternyata dari hari pertama jualan rame terus. Memang bukan
rame yang sampe harus antre panjang. Tapi, setidaknya habis terus
dagangannya. Alhamdulillah. Makanya yang tadinya katanya cuma iseng,
malah berlanjut sampai sekarang.
Persis di seberang Terminal Rawamangun
Sesekali tercium aroma bunga
Saya lupa menanyakan waktu jualannya. Kalau pagi, bubur ayam Cianjur
ini jualan di depan pasar Rawamangun. Kalau sore ke malam, agak bergeser lokasinya, tapi masih di dekat
pasar.
Lokasi kalau pagi persis di seberang Terminal Rawamangun dan di samping penjual bunga. Jadi, sesekali tercium aroma bunga.
Lokasi kalau pagi persis di seberang Terminal Rawamangun dan di samping penjual bunga. Jadi, sesekali tercium aroma bunga.
Lupa harga bubur dan sate-sateannya. Teh tawar hangat seingat saya
gratis.
Saya lupa harga per porsinya. Tapi, masih belasan ribu, lah. Kalau gak
salah, 2 porsi bubur ayam dengan 4 tusuk sate, gak sampe Rp50 ribu.
Porsinya juga bikin kenyang. Pembayaran bisa tunai atau QRIS.
Penjualnya ternyata berasal dari Sukabumi, tepatnya di daerah pesisir pantai. Dia menceritakan daerah asalnya dengan sangat semangat. Tapi, saya lupa nama daerahnya. Pastinya obrolan ringan tersebut sukses menemani sarapan kami pagi itu.
"Bapak sama ibu juga orang Sunda, ya? Logatnya Sunda," tebaknya ramah. Kami pun tertawa, mengiyakan, dan menyudahi sesi sarapan pagi itu.
Memang unik, penjual asli Sukabumi yang jualan Bubur Ayam Cianjur di Pasar Rawamangun, dan berawal dari sekadar iseng. Tentu rasa yang pas dan harganya yang ramah kantong, membuat bubur ini jadi salah satu pilihan sarapan yang tepat kalau lagi jalan-jalan ke Pasar Rawamangun.
Penjualnya ternyata berasal dari Sukabumi, tepatnya di daerah pesisir pantai. Dia menceritakan daerah asalnya dengan sangat semangat. Tapi, saya lupa nama daerahnya. Pastinya obrolan ringan tersebut sukses menemani sarapan kami pagi itu.
"Bapak sama ibu juga orang Sunda, ya? Logatnya Sunda," tebaknya ramah. Kami pun tertawa, mengiyakan, dan menyudahi sesi sarapan pagi itu.
Memang unik, penjual asli Sukabumi yang jualan Bubur Ayam Cianjur di Pasar Rawamangun, dan berawal dari sekadar iseng. Tentu rasa yang pas dan harganya yang ramah kantong, membuat bubur ini jadi salah satu pilihan sarapan yang tepat kalau lagi jalan-jalan ke Pasar Rawamangun.
Pasar Rawamangun
Jl. Pinang Raya No.23
Rawamangun, Jakarta Timur 13220
Rawamangun, Jakarta Timur 13220



8 Comments
Usaha yang dimulai dari iseng justru berkembang karena dijalani dengan sepenuh hati, ya...Keren nih penjual bubur ayam Cianjur Pasar Rawamangun. Penjualnya yang ramah bikin pelanggan juga merasa bukan cuma sarapan bubur, tapi juga menikmati suasana hangat dan obrolan yang menyenangkan.
ReplyDeleteBtw, sate usus dan sambalnya sungguh menggodaaaaa
Aku salah seorang penggemar bubur dari mana pun dia berasal. Yang penting ada sate-satean khususnya sate usus, bawang merah goreng, dan kerupuk yang berlimpah. Langsung dah khusyuk makannya. BTW, hebat si abang ya. Tangannya enaken berarti. Lepas kerja di hotel malah bisa usaha sendiri. Semoga kedepannya bisa punya kedai tertutup buat dagang dengan kondisi sekitar lebih bersih dan terawat. Terus ajakin si pedagang bunga buat naruh beberapa ember bunga di depan kedai.
ReplyDeleteIseng jadi rejeki. Wah ini inspiratif sekali sekaligus bikin ngiler.
ReplyDeletePenjual yang otentik pasti rasa bumbunya pas, apalagi ini ditunjang emang belajar ilmunya ya..
ReplyDeleteBonus aroma semerbak bunga pasti bikin suasana sarapan makin betah.
Iseng, tapi buburnya dibuat dengan sepenuh hati. Penyajiannya menarik dan pelayanannya ramah. Jelas saja, bikin orang akan datang kembali buat beli bubur di sini.
ReplyDeleteWah, jadi ikut lapar membaca ulasan ini. Bubur ayam memang menu sarapan yang sederhana, tetapi selalu punya daya tarik tersendiri. Cara penyampaiannya detail dan membuat pembaca bisa membayangkan suasana serta cita rasa buburnya. Terima kasih sudah berbagi rekomendasi kuliner yang menarik
ReplyDeletewaaaah aku belum coba nih ^o^... ntr deh kalau ke arah sana lagi.... tapi ya mba, aku tuh pernah makan bubur di rawamangun, tapi aku lupa bubur daerah mana, antara cianjur, cirebon atau sukabumi hahahahaha... yg pasti, aku kaget krn dia taro telur mentah di dasar piring. baru ditumplek bubur panas.
ReplyDeletesementara aku ga bisa makan samasekali yg ada telur mentahnya.. jd pas tahu, aku lgs ksh ke raka, ga mau sentuh.. duuuh malah lupa nama buburnya.. ntah masih jualan atau ga... jadinya tiap makan bubur, saking ga mau dpt telur mentah, aku pasti tanya, ini ga pake telur mentah kan hihihihihih
Ulasannya menarik dan informatif. Deskripsi rasa, porsi, dan suasana tempatnya disampaikan dengan jelas sehingga membuat pembaca semakin tertarik untuk mencobanya. Terima kasih sudah berbagi rekomendasi kuliner yang bermanfaat.
ReplyDeleteTerima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)