Bubur Ayam Cianjur Pasar Rawamangun, Awalnya Iseng Jadi Ramai!

gerobak kuliner bubur ayam cianjur pasar rawamangun jakarta timur tempat sarapan pagi yang ramai pembeli

"Padahal saya iseng jualan karena bosan dengan kerjaan. Eh, ternyata ramai. Jadi lanjut sampai sekarang." Penjualnya bercerita sambil tertawa kecil.

Ketika kami sedang makan bubur, ada pembeli lain yang datang. Tapi, penjualnya lagi asik ngobrol dengan pedagang lain. Meskipun ngobrolnya di dekat gerobak, tapi sepertinya terlalu asik sampai harus dipanggil. Dibecandain sama suami kalau jualannya cuma iseng. Eh, gak taunya beneran dia mengaku kalau awalnya memang iseng jualan, hehehe.


spanduk menu gerobak bubur ayam cianjur pasar rawamangun yang menyediakan aneka sate ati ampela usus dan telur puyuh

Sebetulnya, pagi itu kami berencana mau ngopi di Pasar Rawamangun, tapi areanya ramai banget. Saya pun teringat cerita suami kalau ada penjual bubur baru di sekitar pasar. Ya sudah, tujuan pun berubah jadi sarapan Bubur Ayam Cianjur Pasar Rawamangun yang ternyata punya cerita unik ini.

botol kecap asin abc kuah kaldu kuning dan kerupuk sebagai menu pelengkap bubur ayam cianjur pasar rawamangun

Kuah kuning, kecap asin, kecap manis, dan sambal dipisah. Kita tinggal meracik sendiri sesuai selera. Kerupuknya pun disajikan terpisah. Masing-masing mendapatkan 1 mangkok kerupuk. Jadi, gak perlu berdebat enakan bubur dikasih kuah atau enggak. Karena tinggal racik sendiri hehehe.

satu porsi penuh bubur ayam cianjur pasar rawamangun dengan tambahan sate usus bumbu kuning dan semangkuk kerupuk

1 mangkok bubur polos diberi topping ayam suwir, kacang kedelai, dan irisan cakwe segera disajikan. Sayangnya, irisan daun bawangnya dicapur dengan seledri. Makanya, saya minta jangan dikasih. Padahal saya suka banget bubur ayam ditaburi irisan daun bawang.

toples plastik berisi sambal cair merah pedas sebagai pelengkap bubur ayam cianjur pasar rawamangun
Tempat sambalnya segede ini dan harus dituang.
bubur ayam cianjur pasar rawamangun dengan kuah sambal pedas melimpah topping suwiran ayam cakwe kacang dan sate usus

Bubur ayamnya terasa agak plain. Tapi, bikin saya lebih leluasa meracik bumbu sendiri. "Hati-hati nuangin sambalnya, Bun," mengingatkan saya ketika sedang menuang sambal. Sambalnya dimasukkan ke dalam wadah besar dan harus dituang kalau pengen pedas buburnya. Tapi, kalau gak pelan-pelan, bisa langsung tumpah banyak ke mangkok. Padahal sedikit aja udah cukup pedas.

pilihan menu sate telur puyuh dan sate usus dalam wadah kontainer plastik di meja warung bubur ayam cianjur
Aneka sate-satean bubur ayam cianjur
dua tusuk sate usus ayam bumbu kuning gurih di atas mangkuk bubur ayam cianjur pasar rawamangun

Jangan lupain sate-sateannya. Satenya terlihat menggiurkan ketika tutup wadahnya dibuka. Saya suka tampilan sate untuk bubur ayam yang teksturnya masih agak basah karena bumbu ungkep. Biasanya tekturnya lebih lembut daripada yang digoreng kering. Bumbunya yang masih menempel di sate juga biasanya enak. Sate di sini rasanya gurih dan ada rasa manis yang tipis.

area tempat makan sederhana dengan meja kayu dan kursi plastik di kedai bubur ayam cianjur pasar rawamangun jakarta timur

Ketika sedang menikmati bubur, datang pembeli lain. Seperti cerita di awal, penjualnya gak langsung tau ada pembeli lagi yang datang. Singkat cerita, setelah menyajikan bubur ayam untuk pembeli lain, penjualnya duduk dekat kami kemudian bercerita kalau awalnya iseng jualan.

Penjualnya masih muda. Mungkin seumuran ma Keke. Dia mengaku pernah kerja di salah satu hotel di Jakarta, tapi saat ini sedang jenuh. Pengen cari suasana lain. Terpikirlah ide iseng jualan bubur ayam cirebon. 
 
Ya karena iseng, dia bilang kalau gak laku mau balik lagi cari kerja di hotel. Eh, ternyata dari hari pertama jualan rame terus. Memang bukan rame yang sampe harus antre panjang. Tapi, setidaknya habis terus dagangannya. Alhamdulillah. Makanya yang tadinya katanya cuma iseng, malah berlanjut sampai sekarang.

suasana penjual menyiapkan porsi di gerobak bubur ayam cianjur pasar rawamangun dekat masjid
Persis di seberang Terminal Rawamangun
suasana tenda tempat makan bubur ayam cianjur pasar rawamangun jakarta timur yang berdampingan dengan penjual bunga
Sesekali tercium aroma bunga


Saya lupa menanyakan waktu jualannya. Kalau pagi, bubur ayam Cianjur ini jualan di depan pasar Rawamangun. Kalau sore ke malam, agak bergeser lokasinya, tapi masih di dekat pasar.

Lokasi kalau pagi persis di seberang Terminal Rawamangun dan di samping penjual bunga. Jadi, sesekali tercium aroma bunga.

egelas teh hangat manis dalam cangkir kaca bening sebagai minuman pendamping di warung bubur ayam cianjur pasar rawamangun
Lupa harga bubur dan sate-sateannya. Teh tawar hangat seingat saya gratis.


Saya lupa harga per porsinya. Tapi, masih belasan ribu, lah. Kalau gak salah, 2 porsi bubur ayam dengan 4 tusuk sate, gak sampe Rp50 ribu. Porsinya juga bikin kenyang. Pembayaran bisa tunai atau QRIS.

Penjualnya ternyata berasal dari Sukabumi, tepatnya di daerah pesisir pantai. Dia menceritakan daerah asalnya dengan sangat semangat. Tapi, saya lupa nama daerahnya. Pastinya obrolan ringan tersebut sukses menemani sarapan kami pagi itu.

"Bapak sama ibu juga orang Sunda, ya? Logatnya Sunda," tebaknya ramah. Kami pun tertawa, mengiyakan, dan menyudahi sesi sarapan pagi itu.

Memang unik, penjual asli Sukabumi yang jualan Bubur Ayam Cianjur di Pasar Rawamangun, dan berawal dari sekadar iseng. Tentu rasa yang pas dan harganya yang ramah kantong, membuat bubur ini jadi salah satu pilihan sarapan yang tepat kalau lagi jalan-jalan ke Pasar Rawamangun. 

 

Pasar Rawamangun

 
Jl. Pinang Raya No.23
Rawamangun, Jakarta Timur 13220

Post a Comment

0 Comments