Jumat, 04 Desember 2015

Selfie Juga Ada Etika

etika selfie
Selfie juga ada etikanya. Salah satu alasannya adalah karena manusia itu makhluk sosia. Gak hidup sendirian di dunia.

Selfie ... Dimana-mana selfie? Saya suka selfie. Bagaimana dengan Sahabat Jalan-Jalan KeNai, suka selfie juga? Saya gak peduli seseorang mau upload foto selfie sebanyak apapun di akun social medianya. Kalau saya gak suka tinggal hide saja tanpa perlu misuh-misuh. Cara meng-hide sama mudahnya kalau memberi like.

Saya juga tidak peduli apakah seorang traveler akan lebih banyak foto selfie dengan latar pemandangan atau murni hanya foto pemandangan saja. Fotomu adalah milikmu. Memang benar kalau ingin untuk kepentingan pihak tertentu, misalnya kirim ke majalah, foto selfie biasanya dilarang. Tapi kalau hanya untuk konsumsi pribadi diupload ke akun socmed atau blog sendiri, saya pikir terserah masing-masing saja.

Saya juga tidak akan menghubungkan kebiasaan selfie dengan bahasan psikologi. Karena saya tidak expert di bidang itu. Saya menulis ini karena walopun menyukai selfie tapi juga suka jengah apabila melihat hasil selfie yang seenak jidatnya.

Apa iya kita bisa bebas selfie sesukanya? Menurut saya sih di zaman (yang katanya) kebebasan ini pun selfie juga harus ada etika. Kita bisa aja mengaku sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuat. Tapi gak ada salahnya kan kalau mempelajari etika lebih dahulu sebelum melakukan selfie.

Jangan Mengganggu yang Sedang Beribadah

Beberapa waktu lalu sempat heboh di social media tentang para photographer dadakan yang meliput sebuah acara ibadah. Kenapa saya katakan potographer dadakan? Karena kemungkinan besar yang melakukan adalah para wisatawan dan bukan photographer resmi. Masalahnya para photographer dadakan itu melakukan pemotretan semaunya sehingga mengganggu jalannya ibadah yang seharusnya sakral. Memang saat itu perdebatan yang terjadi adalah tentang etika tentang memotret ritual peribadatan. Tapi saya juga merasa bisa jadi ada juga yang mengganggu suasana ibadah dengan melakukan selfie.

Safety First NOT Selfie First

etika selfie

Sahabat Jalan-Jalan KeNai sudah tau belum kalau di Rusia sudah mulai ada aturan larangan dan pembatasan selfie untuk daerah tertentu? Akibat semakin tingginya angka kematian dan kecelakaan saat selfie karena mengabaikan keselamatan membuat pemerintah membuat beberapa aturan tentang selfie.

Tidak hanya di Rusia, sejak 1 Juli lalu menurut beberapa sumber yang saya baca, Disneyland membuat aturan yang melarang membawa tongsis. Awalnya tongsis masih boleh dibawa, asalkan tidak dipakai saat menaiki wahana. Pihak Disneyland pernah menghentikan wahana roller coaster yang sedang berjalan ketika mengetahui ada pengunjung yang menggunakan tongsis saat sedang naik roller coaster. Dikhawatirkan ulah pengunjung ini akan membahayakan pengunjung lain. Karena banyak pengunjung yang tidak taat aturan, akhirnya tongsis benar-benar dilarang masuk Disneyland.

Di beberapa daerah lain di US juga ada larangan selfie. Misalnya di Lake Tahoe, lokasi dimana pengunjung bisa melihat beruang dari dekat. Tapi karena semakin banyak pengunjung yang selfie sama beruang (padahal harusnya kan wisata edukasi aja), akhirnya keluarlah larangan karena khawatir beruang jaid terganggu. Di Spanyol juga ada larangan untuk selfie di arena adu banteng. Apalagi pernah ada insiden pengunjung yang terluka karena banteng.

Ternyata gak cuma di Indonesia saja, para penggila selfie yang suka abai dengan keselamatan. Bagaimana dengan aturan di Indonesia? Kelihatannya memang selfie masih belum menjadi aturan tertulis di sini. Saya membayangkan apabila di Indonesia ada aturan tertulis, apakah akan terjadi pro-kontra yang hebat di social media? Hahaha ... abaikan saja apa yang saya bayangkan. Tapi mau ada aturan tertulis atau tidak memang sudah seharusnya kita harus paham bahwa safety first NOT selfie first. Kalau sampe celaka atau mencelakakan orang lain, siapa yang harus disalahkan?

etika selfie 
Nai main ayunan sambil selfie. Gak kami larang, hanya sering mengingatkan bagaimana menjaga diri. Jangan sampai keasikan selfie trus jatuh dari ayunan saat sedang mengayun kencang

Berempatilah!

Saya selalu gagal paham dengan orang-orang yang selfie ditengah musibah. Apalagi kalau selfienya sambil ketawa-tawa. Kemanakah rasa empati?

Cari Tahu Terlebih Dahulu Lebih Baik

Tidak semua tempat bisa selfie. Di postingan saya sebelumnya yang tentang Food Blogger, dikatakan bahwa saat ini sudah banyak resto yang tidak keberatan makanannya difoto walopun tidak minta izin terlebih dahulu. Berarti mungkin saja di saat socmed belum seramai sekarang, foto di restaurant adalah sesuatu yang terlarang. Mungkin untuk resto sudah banyak yang mengizinkan. Tapi masih banyak tempat lain yang melarang untuk melakukan selfie. Misalnya di tempat ibadah, museum, dan beberapa area lainnya.

etika selfie 
Batu gordam yang terlihat cantik. Catatan perjalanan ini bisa Sahabat Jalan-Jalan KeNai baca di Ray of Light Goa Jomblang yang Bikin Speechless

Ketika kami sekeluarga ke Goa Jomblang, instrukturnya mengatakan bahwa di dalam goa nanti ada sebuah batu  putih besar bernama batu gordam. Instruktur membolehkan kami untuk berfoto di sana asalkan badan kami bersih. Area di sekitar batu kan sangat berlumpur, kalau kami tidak bebersih dulu maka bisa-bisa batunya akan terkena lumpur. Kalau dibiarkan, lama-lama batunya tidak akan bersih lagi. Makanya instruktur dengan tegas selalu mengingatkan untuk berfoto di sana dalam keadaan bersih. Gak cuma mengingatkan, intruktur kami rajin mengelap batu tersebut supaya terlihat tetap putih bersih. Sepatu boot wajib dicopot.

Bahkan saya dan anak-anak mendapat larangan tambahan dari suami. Katanya, dilarang menduduki atau berdiri di dekat batu, cukup foto didekatnya saja. Karena menurut suami, proses terciptanya batu gordam sangat panjang. Mungkin bisa memakan waktu jutaan tahun dan hingga sekarang terus berproses karena tetesan air di atas goa masih ada. Sayang sekali kalau harus diinjak atau diduduki karena khawatir bisa menghambat proses pertumbuhan batu tersebut.

Kabarnya di Tanah Suci ada area terlarang untuk selfie. Bahkan di Korea Selatan malah katanya kalau mau pake tongsis harus yang udah bersertifikat aman dari negara tersebut. Di Perancis juga ada 1 area tertentu yang melarang pengunjung untuk selfie karena dianggap akan mengganggu wisatawan lain yang benar-benar ingin menikmati liburan. Entah benar atau tidak, mungkin yang pernah ke Tanah suci, Korea Selatan, atau juga perancis bisa kasih tau saya :)

Jangan cuek dengan berbagai larangan ini. Jangan pula ngotot dan merasa benar sendiri kalau kemudian ditegur karena melanggar. Karena untuk beberapa tempat hukumannya bisa berat, lho. Ada hukuman denda (yang jumlahnya lumayan besar) hingga penjara.

Selfie itu Menggoda? Hmm ... Nanti dulu ...

Gak bermaksud memancing pro-kontra, nih. Cuma mau mengungkapkan kalau saya gak setuju dengan pendapat yang melarang selfie karena bisa menggoda lawan jenis. Gak dipungkiri ketika melihat selfie cowok ganteng, saya akan mengatakan (walopun dalam hati) kalau itu cowok memang ganteng. Tapi apakah saya tergoda dan mikir yang aneh-aneh? Gak juga, lah. Biasa aja kalau saya, gak sampe segitunya.

Cuma memang untuk para penggemat selfie paling tidak harus cari tau juga pose apa yang bisa memancing orang salah persepsi. Malah kalau selfie kan kadang menampakan jari tangan. Coba dicari tahu lagi lewat google, jari-jari seperti apa aja yang bisa dibilang kode. Jangan sampai maksud hati ingin sekadar selfie, gak taunya malah disalahartikan orang lain.

Jangan Selfie dengan Memperlihatkan Area yang Pribadi di Tubuhmu

Suatu hari salah seorang teman saya pernah upload foto dirinya sedang selfie. "Mana hijabmu?" Banyak pertanyaan yang serupa, sesaat setelah teman saya mengupload foto tersebut. Gak berapa lama kemudian, teman saya membuat status kalau foto yang sebelumnya diupload dan sudah dihapus adalah sebuah ketidaksengajaan. Handphone disimpan di tas, dan entah gimana ceritanya salah satu foto yang ada di handphonenya terupload.

Saya rasa mungkin aja terjadi. Smartphone zaman sekarang yang umumnya sudah touch screen, apabila lupa dilock, bisa aja hanya karena terkena sentuhan tau-tau miss call seseorang. Jadi gak menutup kemungkinan juga kalau foto yang ada di dalam bisa upload ke socmed setelah beberapa kali tersentuh layarnya.

Itu baru rambut yang terlihat, tapi bagaimana kalau kita iseng memotret tubuh sendiri yang sedang tanpa busana? Mungkin merasa aman karena fotonya kan di kamar dan gak akan dishare, sekadar koleksi pribadi. Tapi, siapa tau gak sengaja layarnya tersentuh dan fotonya terupload? Atau handphonenya ilang lalu foto-fotonya dilihat orang orang yang gak bertanggung jawab untuk kemudian disebarluaskan. Hiii ... Sereeeem, ah!

Selfie Jangan Sampai Merusak Lingkungan

etika selfie 
Gak ada yang melarang, kok, foto sama bunga. Asalkan jangan merusak. Kalau Sahabat Jalan-Jalan KeNai merasa berhak untuk hidup, maka bunga pun juga merasa ingin punya hak yang sama. Cuma aja bunga-bunga itu gak bisa berbahasa manusia.

Ini yang lagi ngehitz banget beritanya. Tentang Amaryllis yang harus menjadi korban para penggila selfie. Saya pun geram membacanya. Tapi memang membully para pelaku juga bukan solusi terbaik. Walopun itu salah satu resiko di dunia maya. Ada aksi, maka akan ada reaksi.

Kembali saya mencari berita di berbagai sumber. Ternyata, di New York ada peraturan yang melarang para pengunjung untuk merusak taman. Dendanya gede banget kalau sampai ketahuan. Bisa sampai $15K atau sekitar Rp200juta. Nah, lho!

Sekali lagi, di negara kita memang belum ada aturan tertulisnya. Tapi bisa dong sebagai masyarakat kita menjadi warga yang tau etika? Termasuk etika saat berselfie. Gak perlu harus nunggu ditegur orang dulu baru nyadar. Karena kadang kitanya juga yang malas mencari tau. Padahal kan ngakunya ketergantungan dengan dunia maya. Nah, apa salahnya ketergantungan itu dipakai sejenak untuk mencari info di dunia maya? Selfie juga ada etika :)

*Tulisan ini tidak ditujukan ke pihak tertentu seperti anak alay dan lain sebagainya. Karena coba aja perhatiin, mereka yang sudah dikatakan seharusnya dewasa pun masih ada aja yang melakukan selfie tanpa tau aturan :)

52 komentar:

  1. Salan kenal mbak..
    Fenomena selfie ini emang jadi topik menarik ya mbak, dari yg bikin terkenal sampai ada yg tewas gara2 nurutin si selfie.. Hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Dan entah sampai kapan fenomena ini terus berlanjut hehhe

      Hapus
  2. Negara kita Kayanya blom setegas itu deh mak. Ya palingan ngikutin hati nurani aja boleh atau tidak selfie. Tapi hati nurani yang bersih Dan normal ya.
    Aku baru tau loh di Disneyland ga boleh pake tongsis

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! ada atau gak ada aturan, harus pakai hati nurani dan akal sehat :)

      Hapus
  3. "Kalau Sahabat Jalan-Jalan KeNai merasa berhak untuk hidup, maka bunga pun juga merasa ingin punya hak yang sama. Cuma aja bunga-bunga itu gak bisa berbahasa manusia", setuju mbak....

    BalasHapus
  4. Setuju...mau eksis boleh-boleh aja, asal tahu keadaan, situasi, kondisi
    Posting di sosmed paling fotonya cuma ngehits beberapa hari, tapi kalo sampe merusak, lama perbaikannya

    BalasHapus
  5. saya gak terlalu suka selfie karena berasa ga cakep :P .. tapi suka banget motoin obyek yang kira-kira tampak cakep kalo dipajang di blog.. palingan sukanya motoin anak.. hanya aja kalo mau dipajang di blog, saya cari yang muka anaknya gak keliatan semua.. takut diculik atau disalahgunakan hihihihhi... paling dipajang di instagram aja, itupun dikunci dan yang bisa liat cuma orang tuanya aja hehehehe... *parno*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, jangankan upload foto anak. Untuk diri sendiri aja harus hati-hati :)

      Hapus
  6. Segala sesuatu emang harus ada etikanya ya Mak, biar nggak merugikan diri sendiri atau orang lain, untunglah sekarang kadar eksis saya berkurang sejak ada si kecil.. :D
    Pinginnya motoin yang kecil mulu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau semua punya keadasarn bahwa segala sesuatu ada etika kayakya dunia bakal aman :D

      Hapus
  7. Waaah ini penting banget buat aku yg juga hobi selpie-selpie..
    kadang emang kebiasaan, liat tempat baru mesti aja selfie, tanpa permisi dulu. harusnya liat2 dulu ya tempatnya boleh di jadiin spot selfie apa ngga :s

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Ran. Jangan sampe dikejar-kejar satpam karena selfie, lho hehehe

      Hapus
  8. Kalo bukan selfie holic, juga bukan yang jarang selfie.!!! 50-50.:D Selfie boleh2 saja menurut aku, yang di tempat dan saat yang tepat aja.! Oh iya salam jenal mbak myra.

    BalasHapus
  9. Saya suka selfie tapi insyaallah ngga mau lah kalo cuma demi selfie trus merusak atau merugikan yg lain. Amit2, jangan sampai deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita jangan seperti itu, ya :)

      Hapus
  10. Aku pernah baca tentang lomba selfi bareng jenazah. Tapi yg masih hidup harus senyum gitu. Duh, ngenes

    BalasHapus
  11. haha...saya suka sekali sign-sign no selfie diatas...semoga dilestarikan juga di indonesia...
    kadang-kadang jengah juga pada selfiers yang kdg tdk bermalu. seolah dunia milik sendiri...sampai baring-baring di lantai alamak...bagaimana menjelaskan kelakuan orang dewasa semacam itu pada anak-anak....*maaf yang suka selfie baring-->ini kritik ya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang memang kalau kita gak bisa mengatur diri sendiri. Harus diberlakukan aturan tegas seperti itu :)

      Hapus
  12. saya gak suka selfie, jadi ada untungnya juga ya gak poto2 muka karena resiko abai terhadap lingkungan jadi bisa dihilangin :D kalo buat yg gak suka selfie kayak saya, yg sibuk selfie ini mengganggu pemandangan yg saya mau foto. ini kalo jalan-jalannya ramean gitu. jadi saya harus sabar nunggu mereka selfie terus pergi dari titik yg mau saya poto :D hehehe.

    temen saya pernah cerita ttg selfie, katanya sekarang tempat wisata harus tegas menindak para selfiean (halah selfian), pasang peraturan ketat. karena tukang selfie ini gak bisa dibiarkan seenak mereka, mungkin karena mereka gak tahu atau gak peka, jadi harus dikasihtahu, dengan cara yang halus juga yang tegas. jadi pasang papan peringatan selfie di tempat wisata terutama yang wisata alam sangat diwajibkan, termasuk menyiapkan lajur atau titik yg aman untuk berselfie. jadi selfie bukan hal yg buruk sebenernya yak, cuma harus diwadahi aja gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya juga mulai berpikir kayaknya memang sudah saatnya mulai ada aturan untuk selfie

      Hapus
  13. Waktu saya di tanah suci, kadar selfie berasa berkurang dengan sendirinya. Makanya cuma punya foto dikit aja bareng suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di tanah suci memang sebaiknya jauh dari gadget. Biar kelihatannya khusyu :D

      Hapus
  14. masalah kepedulian, kita tidak didididididik untuk peduli, tapi didididididik untuk menjadi juara di kelas, karena juara adalah segalanya... sikuuuuuut kanan sikuuuuut kiri.. saja juara

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak apa-apa, kok, dididik menjadi juara. Tapi diidk juga menjaid mental juara :)

      Hapus
  15. ahayyy..selfi sama bunga-bunga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin karena hati berbunga-bunga hehehe

      Hapus
  16. saya pernah dengar ada selfi diujung jurang terus orangnya nyemplung..duuhhh..!

    * selfinya pake kamera 360 biar syantiikkk... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, kalau gitu udah abai dengan keselamatan

      Hapus
  17. ehm, bener bgt selfie itu menggoda...menggoda lawan jenis. jadi kalo yg udah ibu2 kaya saya mah harus saling menjaga perasaan dengan pasangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung ekspresinya kalau kata saya :)

      Hapus
  18. Gara2 medsos banyak org kalap selfi sampai merusak lingkungan bahkan membahayakan diri. Bisa jadi reminder untuk tetap safety selfie nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! boleh selfie tapi harus tau aturan :)

      Hapus
  19. Saya kalo selfie ga mengganggu org kok kaka.... :)))

    BalasHapus
  20. Dulu waktu pertama2 travel saya selalu selfie walaupun jaman dulu blm jaman henpon yang ada kamera depan dan memory besar. aku selfie pake digicam, pke timer atau minta tolong orang lewat hahahaa... anehnya tahun-tahun belakangan narsis nya berkurang drastis, kalo kemana-mana lebih seneng fotoin objek malah kadang udah ga pengen foto cuman liat aja. kenapa itu ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak tau, sih, kenapanya. Mungkin memang moodnya aja berubah :)

      Hapus
  21. Selfie pun butuh kedewasaan ya Mbak Myra.

    BalasHapus
  22. untungnya aku sih emg ga suka selfie.. tongsis aja haram punya :D.. kalo lg liburan, foto2 sih boleh, tp itu juga difotoin ama suami, dan paling hanya bbrp foto.. skedar bukti udh pernh ksana ;D Tapi kalo lg traveling di luar ya mba, dan ada turis yg bertongsis ria, sejauh ini semuanya slalu orang Indonesia ;p..org kita ini emg doyan skali berfoto sepertinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. buat saya gak apa-apa juga doyan foto. Asal jangan ganggu orang atau etika aja :D

      Hapus
  23. Kalo aku sih emang jarang selfi. Paling moto obyeknya. Eman kalo moto bunga, tp nginjek juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. pokoknya jangan sampai merugikan sekitar

      Hapus
  24. Alhamdulillah ga terlalu narsis ...

    BalasHapus
  25. wah mbak topiknya bagus, bisa sampai panjang dan jelas ya

    BalasHapus
  26. Mbak... kita lg sepemikiran... aku hampir jg mosting ttg selfie... tp ga jadi hahahaha... tp emang bnr yaa... selfie jg pny etika, hrs empati jg pada lingkungan sekitar.. gak merusak. Aku jg suka selfie, tp kdg klo lg merasa jelek ga mau selfie hahahaha...

    BalasHapus
  27. Kayaknya sama dengan pikitan saya #toss

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...