Bagi para pencinta kopi, berkunjung ke Bandung rasanya belum lengkap tanpa
membawa pulang sebungkus Kopi Aroma. Toko kopi yang terletak di kawasan
Jalan Banceuy No. 51 ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan sebuah
mesin waktu yang membawa Sahabat KeNai kembali ke masa lalu.
Saya dan suami kembali menyambangi toko legendaris yang sudah berdiri sejak
tahun 1930-an ini. Pertama kalinya, ke toko kopi ini bukan di hari Sabtu.
Kirain bakal sepi, ternyata Selasa pagi udah panjang aja antreannya bahkan
dari sebelumnya tokonya buka!
Semerbak Wangi Kopi di Kawasan Banceuy
Menemukan Toko Kopi Aroma sebenarnya tidak sulit. Begitu memasuki kawasan
Banceuy, aroma harum kopi langsung tercium. Pas banget dengan nama merknya,
ya. aroma kopinya seolah menjadi kompas alami bagi para wisatawan.
Kami sudah mengenal kopi ini sejak lama. Sebelum coffee shop modern bertebaran seperti sekarang. Memang gak sulit mencari lokasinya. Tapi, bagi kami yang sulit adalah menemukan waktu yang pas.
Dulu, kami lumayan sering ke Bandung, tapi paling semalam. Berangkat Sabtu pagi, Minggu malam pulang. Harus diniatin banget kalau mau beli kopi Aroma. Begitu sampai Bandung jangan ke mana-mana dulu, langsung aja beli kopi.
Kami sudah mengenal kopi ini sejak lama. Sebelum coffee shop modern bertebaran seperti sekarang. Memang gak sulit mencari lokasinya. Tapi, bagi kami yang sulit adalah menemukan waktu yang pas.
Dulu, kami lumayan sering ke Bandung, tapi paling semalam. Berangkat Sabtu pagi, Minggu malam pulang. Harus diniatin banget kalau mau beli kopi Aroma. Begitu sampai Bandung jangan ke mana-mana dulu, langsung aja beli kopi.
Toko Kopi Aroma hanya buka sampai pukul 14.30. Buka setiap hari, kecuali
Minggu. Itulah makanya saya bilang harus diniatin banget untuk langsung
datang ke sana begitu sampai Bandung. Apalagi kawasan Banceuy, tuh, selalu
ramai banget setiap akhir pekan. Pernah kejadian kami ke sana akhirnya gagal
beli kopi. Bukan karena kehabisan, tapi gak dapat parkir!
Mendadak Beli Kopi Aroma
Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, kalau lagi di Bandung,
saya dan suami sering olahraga jalan kaki. Rutenya selalu random. Pagi itu,
kami menyusuri jalan Asia Afrika, Braga, lalu Banceuy.
Ketika melihat ada penjual koran, kami pun ingin membeli. Saya langsung iseng motoin suami yang lagi beli koran, tau-tau terdengar suara memanggil, "Foto-foto di sini aja. Lebih bagus!"
Ketika melihat ada penjual koran, kami pun ingin membeli. Saya langsung iseng motoin suami yang lagi beli koran, tau-tau terdengar suara memanggil, "Foto-foto di sini aja. Lebih bagus!"
Kami menoleh ke arah suara lalu menghampiri. Suami sampai diarahin gaya
fotonya. Tentu aja kami senang, saking senangnya, kami sampai lupa bertanya.
Belakangan (setelah googling), saya baru tau kalau beliau adalah koh Widya
Purnama, pemilik Kopi Aroma generasi kedua. Ramah banget beliau.
Setelah puas foto-foto, mendadak jadi pengen beli kopinya. Mumpung udah di depan tokonya juga kan yaaaa. Tapi, karena belum buka, kami memutuskan sarapan bubur ayam Ichsan dulu.
Silakan baca: Segarnya Jalan Kaki di Bandung, Ditutup Sarapan Bubur Ayam Ichsan Banceuy
Lha, satu per satu, mulai berdatangan pembeli Kopi Aroma. Antreannya semakin mengular, padahal belum buka. Ada sedikit rasa cemas kalau antreannya makin panjang. Membayangkan bakal lama nih antrenya. Tapi, mau ikut antre juag gak mungkin karena keburu pesan bubur.
Setelah puas foto-foto, mendadak jadi pengen beli kopinya. Mumpung udah di depan tokonya juga kan yaaaa. Tapi, karena belum buka, kami memutuskan sarapan bubur ayam Ichsan dulu.
Silakan baca: Segarnya Jalan Kaki di Bandung, Ditutup Sarapan Bubur Ayam Ichsan Banceuy
Lha, satu per satu, mulai berdatangan pembeli Kopi Aroma. Antreannya semakin mengular, padahal belum buka. Ada sedikit rasa cemas kalau antreannya makin panjang. Membayangkan bakal lama nih antrenya. Tapi, mau ikut antre juag gak mungkin karena keburu pesan bubur.
Konsistensi Rasa yang Dirawat Puluhan Tahun
Saya perhatikan, pembelinya beragam. Ada warga lokal, beberapa drivel ojol
yang mungkin mendapatkan pesanan beli kopi legendaris ini. Persis di depan
kami adalah sepasang turis Jepang. Sempat nanya dan ngobrol sebentar sama
suami ketika mengantre.
Menurut saya, konsistensi rasa yang dirawat puluhan tahun membuat Kopi Aroma tetap eksis sampai sekarang. Begitu masuk ke dalam, saya tidak begitu merasakan perubahan suasana. Malah kayaknya dari dulu sama aja. Suasana klasik tetap berasa. Kemasannya tetap sama. Aroma kopinya itu ngangenin banget!
Menurut saya, konsistensi rasa yang dirawat puluhan tahun membuat Kopi Aroma tetap eksis sampai sekarang. Begitu masuk ke dalam, saya tidak begitu merasakan perubahan suasana. Malah kayaknya dari dulu sama aja. Suasana klasik tetap berasa. Kemasannya tetap sama. Aroma kopinya itu ngangenin banget!
Meskipun mengular antreannya, tapi sebetulnya gak lama. Pilih kopi dan
langsung bayar. Makanya pergerakannya cepat. Sepertinya mayoritas pembeli
juga udah tau kopi mana yang akan dibeli. Karena langsung memilih dan bayar.
Gak ada yang nanya-nanya sampai lama.
Di sini hanya ada robusta atau mokka arabika. Sahabat KeNai lebih suka yang mana?
Sahabat KeNai bisa memilih kopi yang masih dalam bentuk biji atau sudah digiling (kasar, medium, dan halus). Membeli dalam bentuk biji tentu membuat Sahabat KeNai lebih leluasa mementukan tingkat kehalusan sendiri di rumah. Tapi, kalau gak punya grinder atau ingin lebih praktis, bisa langsung memilih yang sudah digiling.
Kalau hanya beli 1 kemasan, kami biasanya memilih Mokka Arabika seberat 250 gr dengan tingkat gilingan medium. Moka Arabika masih ada rasa asamnya, tidak sekadar pahit. Itu yang bikin kami suka. Tapi, kembali ke selera masing-masing, ya.
Di sini hanya ada robusta atau mokka arabika. Sahabat KeNai lebih suka yang mana?
Mokka Arabika - Harum, memiliki kandungan asam yang lembut dan rendah kafein” 100% kopi Arabika, gabungan dari Priangan, Jawa, Aceh, Medan, Flores dan Timor. Kopi mentah disimpan selama 8 tahun dan disangrai menggunakan kayu selama 2 jam sehingga menghasilkan wangi dan rasa yang khas.
Robusta - Unggul di rasa pahit dan tinggi kafein” 100% kopi Robusta, gabungan Robusta Sumatera dan Jawa. Kopi mentah dituakan selama 5 tahun kemudian disangrai dengan kayu selama 2 jam.
Sumber: https://kopiaroma.id
Adapun harganya kopi Aroma adalah sebagai berikut:
- Mokka Arabika - Rp60.000,00 (250 gr) dan Rp120.000,00 (500 gr)
- Robusta - Rp40.000,00 (250 gr) dan Rp80.000,00 (500 gr)
Sahabat KeNai bisa memilih kopi yang masih dalam bentuk biji atau sudah digiling (kasar, medium, dan halus). Membeli dalam bentuk biji tentu membuat Sahabat KeNai lebih leluasa mementukan tingkat kehalusan sendiri di rumah. Tapi, kalau gak punya grinder atau ingin lebih praktis, bisa langsung memilih yang sudah digiling.
Semua keterangan tentang kopi Aroma hingga harganya ditempel dengan
sangat jelas. Tapi, ruangannya sangat kecil. Hanya untuk memesan dan
bayar. Gak ada kursi sama sekali. Makanya antreannya bisa makin mengular
karena memang gak ada ruang tunggu di dalam.
Saran saya, kalau Sahabat KeNai baru pertama kali beli Kopi Aroma, mending baca info tentang kopinya dulu di situs https://kopiaroma.id atau menyimak review. Ya meskipun pilihannya hanya 2 varian, mungkin akan sedikit bingung memilihnya kalau baru pertama kali beli di sana.
Saran saya, kalau Sahabat KeNai baru pertama kali beli Kopi Aroma, mending baca info tentang kopinya dulu di situs https://kopiaroma.id atau menyimak review. Ya meskipun pilihannya hanya 2 varian, mungkin akan sedikit bingung memilihnya kalau baru pertama kali beli di sana.
Kalau hanya beli 1 kemasan, kami biasanya memilih Mokka Arabika seberat 250 gr dengan tingkat gilingan medium. Moka Arabika masih ada rasa asamnya, tidak sekadar pahit. Itu yang bikin kami suka. Tapi, kembali ke selera masing-masing, ya.
Bangunan Cagar Budaya Bergaya Art Deco
Di tempat kami berfoto, terdapat prasasti tentang Koffie Fabriek Aroma.
Bangunan toko yang dibangun pada tahun 1930 dengan arsitek Liem A Goh.
Pada bagian paling bawah ada keterangan kalau bangunan Kopi Aroma menjadi
cagar budaya berdasarkan Perda Kota Bandung No. 7/2018.
Meskipun kawasan Banceuy selalu terlihat semrawut, bangunan Kopi Aroma
ini masih terasa keindahannya. Membayangkan seperti apa para pelanggan
kopi pada zaman kolonial Belanda.
Hanya saja, saya menyayangkan aksi vandalisme yang cukup mengganggu keindahan bangunan bergaya art deco ini. Lebih mengherankan lagi, sampai ada yang di bagian atas lho coret-coretnya. Ngeselin sih lihatnya sama oknum yang vandalisme begini.
Buat Sahabat KeNai yang berwisata ke Bandung saat akhir pekan dan ingin beli Kopi Aroma, pokoknya ingat-ingat aja kalau hari Minggu dan tanggal merah tuh tokonya tutup. Mendingan ke sana Sabtu pagi. Karena bisa susah banget cari parkirnya. Kecuali kalau Sahabat KeNai menginap di sekitar sana, mendingan jalan kaki aja. Sekalian jalan-jalan ke Pasar Baru setelah belanja kopi hehehe.
Jl. Banceuy No.51
Braga, Kec. Sumur Bandung
Kota Bandung, Jawa Barat 40111
Jam operasional: 08.30 s/d 14.30 wib (Minggu dan hari libur tutup)
kopiaroma.id
Hanya saja, saya menyayangkan aksi vandalisme yang cukup mengganggu keindahan bangunan bergaya art deco ini. Lebih mengherankan lagi, sampai ada yang di bagian atas lho coret-coretnya. Ngeselin sih lihatnya sama oknum yang vandalisme begini.
Buat Sahabat KeNai yang berwisata ke Bandung saat akhir pekan dan ingin beli Kopi Aroma, pokoknya ingat-ingat aja kalau hari Minggu dan tanggal merah tuh tokonya tutup. Mendingan ke sana Sabtu pagi. Karena bisa susah banget cari parkirnya. Kecuali kalau Sahabat KeNai menginap di sekitar sana, mendingan jalan kaki aja. Sekalian jalan-jalan ke Pasar Baru setelah belanja kopi hehehe.
Kopi Aroma
Jl. Banceuy No.51
Braga, Kec. Sumur Bandung
Kota Bandung, Jawa Barat 40111
Jam operasional: 08.30 s/d 14.30 wib (Minggu dan hari libur tutup)
kopiaroma.id




0 Comments
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)