Bagi para pencinta kopi, berkunjung ke Bandung rasanya belum lengkap tanpa
membawa pulang sebungkus Kopi Aroma. Toko kopi yang terletak di kawasan
Jalan Banceuy No. 51 ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan sebuah
mesin waktu yang membawa Sahabat KeNai kembali ke masa lalu.
Saya dan suami kembali menyambangi toko legendaris yang sudah berdiri sejak
tahun 1930-an ini. Pertama kalinya, ke toko kopi ini bukan di hari Sabtu.
Kirain bakal sepi, ternyata Selasa pagi udah panjang aja antreannya bahkan
dari sebelumnya tokonya buka!
Semerbak Wangi Kopi di Kawasan Banceuy
Menemukan Toko Kopi Aroma sebenarnya tidak sulit. Begitu memasuki kawasan
Banceuy, aroma harum kopi langsung tercium. Pas banget dengan nama merknya,
ya. aroma kopinya seolah menjadi kompas alami bagi para wisatawan.
Kami sudah mengenal kopi ini sejak lama. Sebelum coffee shop modern bertebaran seperti sekarang. Memang gak sulit mencari lokasinya. Tapi, bagi kami yang sulit adalah menemukan waktu yang pas.
Dulu, kami lumayan sering ke Bandung, tapi paling semalam. Berangkat Sabtu pagi, Minggu malam pulang. Harus diniatin banget kalau mau beli kopi Aroma. Begitu sampai Bandung jangan ke mana-mana dulu, langsung aja beli kopi.
Kami sudah mengenal kopi ini sejak lama. Sebelum coffee shop modern bertebaran seperti sekarang. Memang gak sulit mencari lokasinya. Tapi, bagi kami yang sulit adalah menemukan waktu yang pas.
Dulu, kami lumayan sering ke Bandung, tapi paling semalam. Berangkat Sabtu pagi, Minggu malam pulang. Harus diniatin banget kalau mau beli kopi Aroma. Begitu sampai Bandung jangan ke mana-mana dulu, langsung aja beli kopi.
Toko Kopi Aroma hanya buka sampai pukul 14.30. Buka setiap hari, kecuali
Minggu. Itulah makanya saya bilang harus diniatin banget untuk langsung
datang ke sana begitu sampai Bandung. Apalagi kawasan Banceuy, tuh, selalu
ramai banget setiap akhir pekan. Pernah kejadian kami ke sana akhirnya gagal
beli kopi. Bukan karena kehabisan, tapi gak dapat parkir!
Mendadak Beli Kopi Aroma
Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, kalau lagi di Bandung,
saya dan suami sering olahraga jalan kaki. Rutenya selalu random. Pagi itu,
kami menyusuri jalan Asia Afrika, Braga, lalu Banceuy.
Ketika melihat ada penjual koran, kami pun ingin membeli. Saya langsung iseng motoin suami yang lagi beli koran, tau-tau terdengar suara memanggil, "Foto-foto di sini aja. Lebih bagus!"
Ketika melihat ada penjual koran, kami pun ingin membeli. Saya langsung iseng motoin suami yang lagi beli koran, tau-tau terdengar suara memanggil, "Foto-foto di sini aja. Lebih bagus!"
Kami menoleh ke arah suara lalu menghampiri. Suami sampai diarahin gaya
fotonya. Tentu aja kami senang, saking senangnya, kami sampai lupa bertanya.
Belakangan (setelah googling), saya baru tau kalau beliau adalah koh Widya
Purnama, pemilik Kopi Aroma generasi kedua. Ramah banget beliau.
Setelah puas foto-foto, mendadak jadi pengen beli kopinya. Mumpung udah di depan tokonya juga kan yaaaa. Tapi, karena belum buka, kami memutuskan sarapan bubur ayam Ichsan dulu.
Silakan baca: Segarnya Jalan Kaki di Bandung, Ditutup Sarapan Bubur Ayam Ichsan Banceuy
Lha, satu per satu, mulai berdatangan pembeli Kopi Aroma. Antreannya semakin mengular, padahal belum buka. Ada sedikit rasa cemas kalau antreannya makin panjang. Membayangkan bakal lama nih antrenya. Tapi, mau ikut antre juag gak mungkin karena keburu pesan bubur.
Setelah puas foto-foto, mendadak jadi pengen beli kopinya. Mumpung udah di depan tokonya juga kan yaaaa. Tapi, karena belum buka, kami memutuskan sarapan bubur ayam Ichsan dulu.
Silakan baca: Segarnya Jalan Kaki di Bandung, Ditutup Sarapan Bubur Ayam Ichsan Banceuy
Lha, satu per satu, mulai berdatangan pembeli Kopi Aroma. Antreannya semakin mengular, padahal belum buka. Ada sedikit rasa cemas kalau antreannya makin panjang. Membayangkan bakal lama nih antrenya. Tapi, mau ikut antre juag gak mungkin karena keburu pesan bubur.
Konsistensi Rasa yang Dirawat Puluhan Tahun
Saya perhatikan, pembelinya beragam. Ada warga lokal, beberapa drivel ojol
yang mungkin mendapatkan pesanan beli kopi legendaris ini. Persis di depan
kami adalah sepasang turis Jepang. Sempat nanya dan ngobrol sebentar sama
suami ketika mengantre.
Menurut saya, konsistensi rasa yang dirawat puluhan tahun membuat Kopi Aroma tetap eksis sampai sekarang. Begitu masuk ke dalam, saya tidak begitu merasakan perubahan suasana. Malah kayaknya dari dulu sama aja. Suasana klasik tetap berasa. Kemasannya tetap sama. Aroma kopinya itu ngangenin banget!
Menurut saya, konsistensi rasa yang dirawat puluhan tahun membuat Kopi Aroma tetap eksis sampai sekarang. Begitu masuk ke dalam, saya tidak begitu merasakan perubahan suasana. Malah kayaknya dari dulu sama aja. Suasana klasik tetap berasa. Kemasannya tetap sama. Aroma kopinya itu ngangenin banget!
Meskipun mengular antreannya, tapi sebetulnya gak lama. Pilih kopi dan
langsung bayar. Makanya pergerakannya cepat. Sepertinya mayoritas pembeli
juga udah tau kopi mana yang akan dibeli. Karena langsung memilih dan bayar.
Gak ada yang nanya-nanya sampai lama.
Di sini hanya ada robusta atau mokka arabika. Sahabat KeNai lebih suka yang mana?
Sahabat KeNai bisa memilih kopi yang masih dalam bentuk biji atau sudah digiling (kasar, medium, dan halus). Membeli dalam bentuk biji tentu membuat Sahabat KeNai lebih leluasa mementukan tingkat kehalusan sendiri di rumah. Tapi, kalau gak punya grinder atau ingin lebih praktis, bisa langsung memilih yang sudah digiling.
Kalau hanya beli 1 kemasan, kami biasanya memilih Mokka Arabika seberat 250 gr dengan tingkat gilingan medium. Moka Arabika masih ada rasa asamnya, tidak sekadar pahit. Itu yang bikin kami suka. Tapi, kembali ke selera masing-masing, ya.
Di sini hanya ada robusta atau mokka arabika. Sahabat KeNai lebih suka yang mana?
Mokka Arabika - Harum, memiliki kandungan asam yang lembut dan rendah kafein” 100% kopi Arabika, gabungan dari Priangan, Jawa, Aceh, Medan, Flores dan Timor. Kopi mentah disimpan selama 8 tahun dan disangrai menggunakan kayu selama 2 jam sehingga menghasilkan wangi dan rasa yang khas.
Robusta - Unggul di rasa pahit dan tinggi kafein” 100% kopi Robusta, gabungan Robusta Sumatera dan Jawa. Kopi mentah dituakan selama 5 tahun kemudian disangrai dengan kayu selama 2 jam.
Sumber: https://kopiaroma.id
Adapun harganya kopi Aroma adalah sebagai berikut:
- Mokka Arabika - Rp60.000,00 (250 gr) dan Rp120.000,00 (500 gr)
- Robusta - Rp40.000,00 (250 gr) dan Rp80.000,00 (500 gr)
Sahabat KeNai bisa memilih kopi yang masih dalam bentuk biji atau sudah digiling (kasar, medium, dan halus). Membeli dalam bentuk biji tentu membuat Sahabat KeNai lebih leluasa mementukan tingkat kehalusan sendiri di rumah. Tapi, kalau gak punya grinder atau ingin lebih praktis, bisa langsung memilih yang sudah digiling.
Semua keterangan tentang kopi Aroma hingga harganya ditempel dengan
sangat jelas. Tapi, ruangannya sangat kecil. Hanya untuk memesan dan
bayar. Gak ada kursi sama sekali. Makanya antreannya bisa makin mengular
karena memang gak ada ruang tunggu di dalam.
Saran saya, kalau Sahabat KeNai baru pertama kali beli Kopi Aroma, mending baca info tentang kopinya dulu di situs https://kopiaroma.id atau menyimak review. Ya meskipun pilihannya hanya 2 varian, mungkin akan sedikit bingung memilihnya kalau baru pertama kali beli di sana.
Saran saya, kalau Sahabat KeNai baru pertama kali beli Kopi Aroma, mending baca info tentang kopinya dulu di situs https://kopiaroma.id atau menyimak review. Ya meskipun pilihannya hanya 2 varian, mungkin akan sedikit bingung memilihnya kalau baru pertama kali beli di sana.
Kalau hanya beli 1 kemasan, kami biasanya memilih Mokka Arabika seberat 250 gr dengan tingkat gilingan medium. Moka Arabika masih ada rasa asamnya, tidak sekadar pahit. Itu yang bikin kami suka. Tapi, kembali ke selera masing-masing, ya.
Bangunan Cagar Budaya Bergaya Art Deco
Di tempat kami berfoto, terdapat prasasti tentang Koffie Fabriek Aroma.
Bangunan toko yang dibangun pada tahun 1930 dengan arsitek Liem A Goh.
Pada bagian paling bawah ada keterangan kalau bangunan Kopi Aroma menjadi
cagar budaya berdasarkan Perda Kota Bandung No. 7/2018.
Meskipun kawasan Banceuy selalu terlihat semrawut, bangunan Kopi Aroma
ini masih terasa keindahannya. Membayangkan seperti apa para pelanggan
kopi pada zaman kolonial Belanda.
Hanya saja, saya menyayangkan aksi vandalisme yang cukup mengganggu keindahan bangunan bergaya art deco ini. Lebih mengherankan lagi, sampai ada yang di bagian atas lho coret-coretnya. Ngeselin sih lihatnya sama oknum yang vandalisme begini.
Buat Sahabat KeNai yang berwisata ke Bandung saat akhir pekan dan ingin beli Kopi Aroma, pokoknya ingat-ingat aja kalau hari Minggu dan tanggal merah tuh tokonya tutup. Mendingan ke sana Sabtu pagi. Karena bisa susah banget cari parkirnya. Kecuali kalau Sahabat KeNai menginap di sekitar sana, mendingan jalan kaki aja. Sekalian jalan-jalan ke Pasar Baru setelah belanja kopi hehehe.
Jl. Banceuy No.51
Braga, Kec. Sumur Bandung
Kota Bandung, Jawa Barat 40111
Jam operasional: 08.30 s/d 14.30 wib (Minggu dan hari libur tutup)
kopiaroma.id
Hanya saja, saya menyayangkan aksi vandalisme yang cukup mengganggu keindahan bangunan bergaya art deco ini. Lebih mengherankan lagi, sampai ada yang di bagian atas lho coret-coretnya. Ngeselin sih lihatnya sama oknum yang vandalisme begini.
Buat Sahabat KeNai yang berwisata ke Bandung saat akhir pekan dan ingin beli Kopi Aroma, pokoknya ingat-ingat aja kalau hari Minggu dan tanggal merah tuh tokonya tutup. Mendingan ke sana Sabtu pagi. Karena bisa susah banget cari parkirnya. Kecuali kalau Sahabat KeNai menginap di sekitar sana, mendingan jalan kaki aja. Sekalian jalan-jalan ke Pasar Baru setelah belanja kopi hehehe.
Kopi Aroma
Jl. Banceuy No.51
Braga, Kec. Sumur Bandung
Kota Bandung, Jawa Barat 40111
Jam operasional: 08.30 s/d 14.30 wib (Minggu dan hari libur tutup)
kopiaroma.id




42 Comments
Jadi cuma jual kopi giling ya? Sampe ngantre gitu. Btw, pinter juga ya sang pemilik ngajak foto di kedainya
ReplyDeleteiya hanya jual kopi giling atau yang bijian utuh
DeleteBagi pecinta kopi dan tahu membedakan rasa kopi baik itu dari rasa, aroma maupun jenis biji kopi yang diseduh, bisa membeli kopi dari kopi aroma ini pasti sesuatu yang bernilai. Karena tahu kopi dari Kopi Aroma bukan sembarangan kopi
DeleteIh bener banget. Aksi vandalisme tuh mengganggu keindahan bangunan milik Kopi Aroma ini ya. Terus terang termasuk pada pedagang emperan yang nangkring persis di depan pintu masuk. Harus nya ada petugas yang mengatur mereka-mereka ini agar berada di satu area yang tidak menghalangi keindahan bangunan cagar budaya ini. Dan sepertinya bagus juga jika outlet kopi ini dicat ulang, dibersihkan, dan ditata ulang.
ReplyDeleteSempat ngobrol sama suami tentang sejarah Koffie Fabriek Aroma yang sudah ada sejak 1930 ini dengan suami. Kabarnya sempat ada tanda tanya besar mengapa tampilan fisik warung kopi ini tak beranjak membaik mengikuti selera kekinian atau melakukan tahapan perubahan agar tampak lebih cerah dan estetik. Menurut saya ini penting supaya mereka tidak jalan di tempat.
Akh iya betul pisan, terkait aksi vandalisme yang meresahkan bikin tampilan sekitar jadi amburadul nggak karuan. Apalagi ditambah para pedagang emperan yang kesannya semrawut. Semoga sih kedepannya dibenahi.
DeleteBener, penting ada inovasi supaya lebih kekinian tanpa mengubah kualitas rasa kopi. Soalnya kadang orang pengen ngopi di tempat, ada kopi yang diseduh kayak kopi bah Sipit di Bogor mereka sediakan kedai walau nggak luas, lumayan digandrungi. Semoga saja, kedepannya pemilik kopi Aroma Bandung ini lebih gercep tangkap peluang buat bisnis mereka makin long lasting.
Aksi vandalismenya mengganggu pemandangan. Semoga aja ada ketambahan coffee shop juga, ya. Mungil juga gak apa-apa
Deletewah baru tau kalo beli kopi di toko Aroma sampai ngantre
ReplyDeleteMungkin karena kebetulan saya ke sana hanya beberapa yang belanja
Dulu saya suka berlama-lama di deket sini hanya untuk menikmati aroma kopi yang menguar
sedap banget
apalagi minum kopinya ya?
Saya kalau ke sana selalu antre panjang. Mungkin karena akhir pekan. Tapi, Selasa pagi juga rupanya ramai.
DeleteSejak tahun 1930? Wow, legend banget itu, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Salut sih bisa ada sampai sekarang dan tetap ramai. Di tengah gempuran aneka coffeeshop hits dengan segala desain estetiknya, yang legend dan sederhana gini tuh kadang punya daya tarik tersendiri.
ReplyDeleteNah iya, aku pun salut ya sama Kopi Aroma yang legendaris dan tetap digandrungi sama pencinta kopi. Meski pun seadanya dan tetap mempertahankan autentikasi nya, berarti branding mereka udah strong parah.
DeleteBetter datang pagi kalau mau beli kopi biar nggak kejebak antrian panjang meskipun terbilang efektif sih ya, sat-set pelayanan nya.
Selalu takjub dan kagum sama kopi legendaris yang bisa mempertahankan kualitas rasa. Apalagi Kopi Aroma ini udah lama banget. Alhamdulillah ya sempat ketemu owner yang merupakan generasi kedua.
ReplyDeleteKalau dari opsi yang ada aku bakalan pilih kopi Mokka Arabica karena lumayan cocok sama aku. Ternyata hari Minggu tutup toh, agak sayang juga. Berarti kalau ke Bandung Sabtu, yaudah gaskeun langsung beli kopi aroma.
Iya, wisatawan harus pertimbangkan waktu kalau ke Kopi Aroma atau jastip mungkin
DeleteWah, klasik banget! Beli Kopi Aroma emang butuh ekstra kesabaran ya, tapi kebayar tuntas pas dapet wangi sangrai kopinya yang khas banget 😊
ReplyDeleteAntrenya seringkali panjang. Tapi, biasanya alurnya cepat bergeraknya
DeleteAku kok salfok ya sama warung kopi Aroma ini. Sampe baca ulang mom Chi saking bingung ini beli KOPI apa sekalian beli yang udah diseduh hahaahha... tapi emang sih kopi Aroma ini terkenal banget ya, sayang beberapa kali ke Bandung belum sempat ke sini sini...
ReplyDeleteDi sini hanyak jual kopi bubuk, Mbak
DeleteKopi Aroma memang legend sih. Antrinya bisa mengular. Padahal di supermarket besar (Griya) udah ada kok kantongan bubuk, 250 g. Mungkin lebih jos kalau antri sendiri ya. Apalagi kalau memang punya grinder, jadi beli biji kopi aja. Lagipula kalau di Supermarket, takutnya udah lama, jadi udah berkurang wangi kopinya.
ReplyDeleteNah, bikin saya penasaran juga. Kalau lihat infonya di Kopi Aroma katanya tidak menjual di tempat lain. Tapi, setahu saya di toko Jogja dan Griya ada. Mungkin beli putus kali, ya?
Deleteharganya lumayan pricey ya, Kak. Tapi wajaar sih. Masa tunggu sebelum disangrai itu lho tahunan, euy.
ReplyDeleteAromanya juga nikmat banget
DeleteAku jadi ikut merasakan perjuangan antre demi secangkir kopi legendaris. Memang kadang pengalaman seperti ini justru jadi cerita yang berkesan. Terima kasih sudah berbagi tips supaya pembaca bisa lebih siap kalau ingin berkunjung.
ReplyDeleteBagi penyuka kopi tentu sudah tidak asing dengan Kopi Aroma ti Bandung ini. Rasanya khas, asli dan tempatnya unik. Pantas kalo dijadikan cagar budaya ya mbak, secara sudah ada sejak jaman kolonial, jadi menyimpan sejarah. Saya sih sukanya yang Arabika, tapi sececap dua cecap saja.
ReplyDeleteDuh gemes banaget mak chi sama aksi coret2 vandalisme itu, bikin rusak estetik mana bangun cara budaya pula kan. Ya Allah... sampe ke atas2 pulak yaa... niat banget ya merusak begitu. Ini kalau dibagusin bangunannya unik dan letaknya di ujung persimpangan mestinya estetik kalau juga ditata linngkungan sekitarnya yaa...vintage athmosphere
ReplyDeleteMasyaAllah legend banget ya Kak berarti ini, dari tahun 1930. Alhamdulillah-nya terjaga juga prasastinya sehingga bisa jadi nilai mantap buat yang berkunjung ke Kopi Aroma sambil ngopi manis
ReplyDeleteHebat nih kopi legendaris sampai udah ke generasi kedua masih ramai pembeli. Menjaga kualitas itu memang kunci, meski harus antre ataupun harganya lumayan juga tapi kalau sudah cocok ya bakal balik lagi. Kopi Aroma enggak berniat jualan online apa ya supaya yang jauh ini bisa nyicip.
ReplyDeleteSebanyak itu calon pembeli ya padahal tokonya belum buka. Udah kaya punya magnet sendiri aja sampai narik segitu kuat calon pembeli
ReplyDeleteKalau aku sama suami, pas antara milih makan atau antri, gantian teh
Misalkan suami antri, aku makan aja dulu. Ntar setelah aku makan, suami aku gantiin antrinya. Dia makan. Gitu. Hehe...
Kopi aroma ini cuma jual kopi giling aja ya, mbak? Kirain jual kopi seduh juga. Dari dulu penasaran juga nih karena legend banget ini toko kopinya sayang belum ada kesempatan ke bandung lagi saya
ReplyDeleteBeneran seperti mesin waktu, vibesnya gak berubah dari dulu itu Jalan Banceuy, Kebayang semua suasananya, tapi anehnya aku belum pernah ke Kopi Aroma walau sering lewat situ, lihat semua vibes nya bikin aku pengin banget ke sana ih, harus sampai sana pagi jangan terlalu siang berarti ya kalau mau ke tokonya supaya gak keburu tutup.
ReplyDeleteNaah, saya masih ingaat cerita jalan-jalan pagi mbak dan ini kelanjutannya yaa menemukan toko kopi di Jalan banceuy. Tokonya jadul yaa mesin gilingan kopinya juga antik bener. Eh iya kan itu gilingan kopi yang berwarna emas itu? pengen deh ngopi disana,
ReplyDeleteIh kenapa sik nggak dimana-mana, suka ada aja yang vandalisme. Bukannya bikin indah malah merusak. Hih. Nyebelin banget.
ReplyDeleteJadi ngerti kenapa namanya Kopi Aroma. Saking wanginya bisa mengarahkan kemana orang tuh kudu melangkah biar sampai ke tokonya.
kopi aroma emang terkenal banget sih, tapi sebagai warga Bandung saya malah belum pernah nyobain tapi lewat mah sering, hahaha. Katanya enak ya kopinya, saya prefer kopi manglayang sih karena deket rumah, wkwkwk. Next mau nyobain juga deh, dan siapa tau ketemu koh Widya Purnama juga pengen juga nih nanya nanya soal kopi
ReplyDeleteBandung memang selalu punya cerita dari secangkir kopi. Antre panjang di Kopi Aroma bukan sekadar menunggu, tapi jadi pengalaman menikmati suasana legendaris yang sudah melekat dengan kota ini, Mba Mir. Kadang perjalanan kecil seperti ini justru yang bikin rindu balik lagi ke tempat ini.
ReplyDeleteWow, berarti harus effort banget ya. Sampe-sampe gagal beli kopi, hanya kerana gak kebagian parkir. Gak kebayang ramainya macam mana. Harusnya, kendaraannya bisa diparkir di tempat lain, hehehe....
ReplyDeleteTernyata konsistensi rasa adalah salah satu yang membuat Kopi Aroma ini sampe mengular antreannya. Iya sih ya, yang namanya tindakan vandalisme ini sangat merusak bangunan.
Very nice sharing !!
Aku selalu penasaran kalau sebuah kedai sampai punya antrean panjang, apalagi kalau ternyata orang-orang memang rela menunggu untuk mendapatkan kopinya. Kopi Aroma sendiri memang punya cerita dan nama yang sudah cukup lama di Bandung, jadi pengalaman antre di sana terasa seperti bagian dari perjalanan kuliner juga. Kalau sudah jauh-jauh datang, biasanya rasa penasarannya malah makin besar setelah melihat pembelinya terus berdatangan. Harganya pun cukup terjangkau ya
ReplyDeleteJadi kebayang wangi semerbak kopinya sampai sini. Rezeki banget ya bisa ketemu dan diarahkan gaya langsung sama Koh Widya, ramah banget beliau!
ReplyDeleteSaya juga tim Mokka Arabika sih, rasa asam tipisnya itu emang juara dan gak bikin kembung. Bener banget soal vandalisme itu, duh gemas lihat bangunan cagar budaya estetik malah dicoret-coret oknum gak bertanggung jawab.
Jadi ikut sedih melihat ada aksi vandalisme di tempat seperti ini. Huhuhu... Padahal bangunan dan suasana klasiknya justru menjadi daya tarik tersendiri, apalagi Kopi Aroma punya sejarah panjang. Semoga ke depannya semakin banyak pengunjung yang ikut menjaga, bukan malah mencoret-coret atau merusak. Sayang banget kalau tempat bersejarah seperti ini kehilangan keindahannya gara-gara ulah oknum. Di luar itu, pengalaman antre dan suasana Kopi Aroma yang diceritakan tetap bikin penasaran untuk ikut merasakan langsung kalau sedang ke Bandung.
ReplyDeleteAduuuuuh aku telat tahu tempat ini .... Kalau ga, bisa ajak uncle pas ke bandung, ngopi siniii 😅. Aku tuh kalau pilihannya kopi kekinian atau kopi jadul begini, lebih milih yg jadul sih mba. Ada rasa khas yg ingetin Ama masa kecil kayaknya. Keinget dulu, tiap babysitterku bikin kopi, aku ikut icip2 🤣🤣. Dr cerita mba aja, udh kebayang betah deh ngopi sini.
ReplyDeleteMenarik sekali bisa ikut keseruan beli kopi di tempat ini. Dan ternyata bangunannya punya nilai historis. Sayang banget kalo dicoret-coret kayak di fot terakhir ya
ReplyDeleteWah iya banget atuh, ke Kopi Aroma mah selalu ngantri. Aku juga sering begitu. Btw, aduh kangen juga minum kopi dari Kopi Aroma. Udah lama gak minum. Nanti saat turun gunung kudu nih mampir ke sana :D
ReplyDeleteWah seru nih minum di tempat yang sudah legend banget begini, terasa banget itu nikmatnya kopinya sampai sini kak
ReplyDeleteSetuju banget, Kak! Wangi kopi di Banceuy itu emang khas banget dan bikin kangen Bandung. Saya pernah kecele juga dulu gara-gara datang hari Minggu pas tokonya tutup, hehe.
ReplyDeleteIhhhh iyaaa itu vandalisme nya bener2 mengganggu keindahan gedung banget...kok bisa2 nya sie mereka melakukan itu mana sampai diatas pula..mbok kalo mau mending digambar cantik sekalian biar gak mengganggu kayak gitu,,suka gemes liatnya...
ReplyDeleteBtw balik ke kopi aroma brarti ini harus aku masukin list yaa klo suatu saat berkesempatan ke bandung,,awalnya td aku pikir mereka jualkopi seduh juga ternyata hanya jual kopi biji dan bubuk jadi kalopun antri gak terlalu lama yaa
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)