Di balik foto-foto estetik keluarga di puncak gunung yang sering kita lihat di media sosial, ada realita lapangan yang jarang terekspos yaitu ransel berat, jalur menanjak tanpa henti, dan balada anak yang mendadak mogok jalan karena kelelahan. Mendaki gunung bersama anak memang menyajikan petualangan seru, tetapi jika dilakukan tanpa perhitungan matang, liburan impian bisa dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk. Keamanan dan keselamatan anak tentu menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Sebelum Sahabat KeNai dan keluarga mulai melangkah ke jalur pendakian, pahami dulu berbagai tips dan persiapan penting naik gunung bareng anak agar momen berharga ini tetap berjalan aman, nyaman, dan penuh tawa.
Udah lumayan lama saya ingin menulis tentanf Tips Mempersiapkan Anak Mendaki
Gunung. Draft di blog sudah ada sejak Juli 2019. Dengan berbagai alasan,
tulisan gak kunjung selesai. Terus menjadi draft, gak pernah dihapus, tapi
mau diterusin juga malas hehehe!
Hingga beberapa bulan lalu, saya membaca berita tentang anak bayi berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia ketika mendaki Gunung Ungaran. Gregetan banget ketika membaca kronologinya. Pasangan ini mengaku sekadar jalan-jalan ke petugas, bukan untuk muncak. Tapi, sepanjang jalan keduanya cekcok. Istrinya pengen turun karena cuaca tidak memungkinkan, bahkan hujan. Si suami bersikeras lanjut sampai puncak dengan bayinya. Singkat cerita, istrinya memilih turun sendirian dan di bawah meminta petugas untuk membujuk suaminya turun.
Tim SAR pun bergerak cepat. Melakukan evakuasi kepada bayo yang saat itu kondisinya basah karena kehujanan. Menyelimutinya denganemergency blanket atau selimut darurat agar suhu tubuh gak semakin turun.
Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja. Hanya mengalami dehidrasi ringan. Tapi, tetap aja ya bagi saya yang dilakukan orangtuanya tidak bijak. Abai dengan kesehatan dan keselamat anak.
Hingga beberapa bulan lalu, saya membaca berita tentang anak bayi berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia ketika mendaki Gunung Ungaran. Gregetan banget ketika membaca kronologinya. Pasangan ini mengaku sekadar jalan-jalan ke petugas, bukan untuk muncak. Tapi, sepanjang jalan keduanya cekcok. Istrinya pengen turun karena cuaca tidak memungkinkan, bahkan hujan. Si suami bersikeras lanjut sampai puncak dengan bayinya. Singkat cerita, istrinya memilih turun sendirian dan di bawah meminta petugas untuk membujuk suaminya turun.
Tim SAR pun bergerak cepat. Melakukan evakuasi kepada bayo yang saat itu kondisinya basah karena kehujanan. Menyelimutinya denganemergency blanket atau selimut darurat agar suhu tubuh gak semakin turun.
Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja. Hanya mengalami dehidrasi ringan. Tapi, tetap aja ya bagi saya yang dilakukan orangtuanya tidak bijak. Abai dengan kesehatan dan keselamat anak.
Mendaki Gunung Bukan FOMO, Persiapan Harus Matang
"Akhirnya, lo ikutan hobi suami, ya."
Teman-teman kuliah saya pernah mengatakan kalau saya mulai ikutan hobi suami. Mereka suka bilang kalau saya dan suami tuh beda banget hobinya. Suami anak gunung, sedangkan saya anak kota. Hmmm ... lebih tepatnya anak rumahan, sih. Karena saya lebih sering magernya dan betah banget di rumah hehehe.
Benar yang dikatakan teman-teman. Saya memang mulai ikut hobi suami ketika sudah menikah. Awalnya bukan karena mulai tertarik, tapi demi anak-anak. Saya ingin anak-anak juga mengenal aktivitas ayahnya. Jangan di rumah melulu kayak bundanya hehehe. Apa nanti setelah dewasa mereka akan lebih betah di rumah atau berpetualang? Paling gak dikenalin dulu dengan aktivitasnya.
Tapi, bukan berarti langsung diajak naik gunung, lho. Paling gak dikenalkan dengan suasana alam dulu. Camping pertama kali ketika Keke usia setahunan dan Nai masih di dalam perut. Diajak trekking tipis-tipis dulu.
Diajak bertahap karena gak cuma anak yang dikenalkan dengan alam bebas, tapi juga bundanya. Pasti saya juga bakal kaget kalau ujug-ujug diajak naik gunung. Makanya dikenalin pelan-pelan.
Kenapa gak anak sama ayahnya aja yang mendaki? Kan, ayahnya paham tentang mendaki gunung.
Ya, saya tau ada beberapa anak yang bisa diajak berpetualang seru dengan salah satu orang tuanya aja. Tapi, alasannya kembali ke tentang persiapan. Gak hanya fisik, tapi juga mental. Persiapan detilnyam seperti barang apa aja yang dibawa, sudah pernah saya tulis di blog ini, artikelnya berjudul Persiapan Pendakian Gunung Prau Bersama Anak ya.
Anak-anak kami sangat dekat dengan orang tuanya. Tapi, gak bakal mau deh kalau pergi berhari-hari tanpa bundanya ikut. Bisa-bisa mereka rewel, nanti ayahnya juga yang repot. Makanya ketika pertama kali mengajak kami mendaki gunung, hal pertama yang ditanya suami adalah "bunda udah siap?". Karena menurutnya kalau saya siap, insyaAllah anak-anak juga siap.
Silakan baca: Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri
Teman-teman kuliah saya pernah mengatakan kalau saya mulai ikutan hobi suami. Mereka suka bilang kalau saya dan suami tuh beda banget hobinya. Suami anak gunung, sedangkan saya anak kota. Hmmm ... lebih tepatnya anak rumahan, sih. Karena saya lebih sering magernya dan betah banget di rumah hehehe.
Benar yang dikatakan teman-teman. Saya memang mulai ikut hobi suami ketika sudah menikah. Awalnya bukan karena mulai tertarik, tapi demi anak-anak. Saya ingin anak-anak juga mengenal aktivitas ayahnya. Jangan di rumah melulu kayak bundanya hehehe. Apa nanti setelah dewasa mereka akan lebih betah di rumah atau berpetualang? Paling gak dikenalin dulu dengan aktivitasnya.
Tapi, bukan berarti langsung diajak naik gunung, lho. Paling gak dikenalkan dengan suasana alam dulu. Camping pertama kali ketika Keke usia setahunan dan Nai masih di dalam perut. Diajak trekking tipis-tipis dulu.
Diajak bertahap karena gak cuma anak yang dikenalkan dengan alam bebas, tapi juga bundanya. Pasti saya juga bakal kaget kalau ujug-ujug diajak naik gunung. Makanya dikenalin pelan-pelan.
Kenapa gak anak sama ayahnya aja yang mendaki? Kan, ayahnya paham tentang mendaki gunung.
Ya, saya tau ada beberapa anak yang bisa diajak berpetualang seru dengan salah satu orang tuanya aja. Tapi, alasannya kembali ke tentang persiapan. Gak hanya fisik, tapi juga mental. Persiapan detilnyam seperti barang apa aja yang dibawa, sudah pernah saya tulis di blog ini, artikelnya berjudul Persiapan Pendakian Gunung Prau Bersama Anak ya.
Anak-anak kami sangat dekat dengan orang tuanya. Tapi, gak bakal mau deh kalau pergi berhari-hari tanpa bundanya ikut. Bisa-bisa mereka rewel, nanti ayahnya juga yang repot. Makanya ketika pertama kali mengajak kami mendaki gunung, hal pertama yang ditanya suami adalah "bunda udah siap?". Karena menurutnya kalau saya siap, insyaAllah anak-anak juga siap.
Silakan baca: Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri
Gunung Gak Akan Ke Mana-Mana. Kapan Waktu yang Tepat Mengajak Anak Mendaki?
Gak hanya sekali suami menanyakan apakah saya sudah siap. Gak memaksa juga.
Gunung gak akan ke mana-mana, kok. Tapi, kapan waktu yang tepat mengajak
anak mendaki?
Sahabat KeNai mungkin pernah melihat orang tua yang mengajak anaknya mendaki. Bahkan ada yang anaknya masih batita. Terkadang menimbulkan komen beragam pro kontra. Bagi saya pribadi, berdasarkan pengalaman, selama orangtuanya paham pendakian dan persiapannya matang sih gak apa-apa deh bawa anak mendaki.
Ketika saya bilang siap, semua persiapan detilnya diserahkan ke suami. Saya ikut aja karena suami kan udah pasti paham teknisnya. Kalau pun penasaran ya paling nanya, bukan untuk mengatur-ngatur.
Contohnya nih ketika semua diminta bawa ransel dengan isi perlengkapan pribadi masing-masing seperti pakaian, jaket, hingga makanan dan minuman. Saya sempet bertanya kenapa anak-anak juga diminta bawa ransel. Kayaknya gak tega gitu. Saya maunya biarin aja mereka jalan tanpa bawa apa-apa.
Suami pun menjelaskan dengan rinci alasannya. Tentu aja berat ranselnya juga disesuaikan dengan berat badan masing-masing. Jadi, dipastikan anak-anak tetap bisa bergerak lincah meskipun sambil bawa ransel. Ya udah kembali saya percayakan semua ke suami.
Kami juga pakai jasa porter meskipun suami paham mendaki gunung. Tapi, masalahnya adalah dia juga bawa 3 orang pemula yaitu istri dan anak-anaknya hehehe. Porter yang akan mendampingi anak-anak, sedangkan suami mendampingi saya.
Selama pendakian seringkali saya yang selalu kelelahan. Sedangkan anak-anak kayak gak ada habis battere energinya. Mereka seringkali protes kalau kebanyakan berhenti. Nah, porter yang akan mendampingi kelincahan anak-anak kami.
Ketika mendaki memang setiap orang memiliki situasi dan kondisi berbeda. Jangan samakan juga sama akamsi. Beberapa melihat bocah-bocah akamsi naik gunung hanya pakai sandal jepit dan tanpa bawa perlengkapan apapun. Sambil berlarian pula. Bagi mereka, gunung memang seperti tempat bermain. Makanya, bisa tektok mendakinya.
Ada pula orang tua yang mengajak anaknya mendaki tanpa membawa porter. Apapun pilihannya memang bebas aja. Kuncinya memang di persiapan. Safety First.
Saya baru 2x mendaki gunung, yaitu Gunung Gede dan Prau. Bahkan yang ke Gunung Gede, kami gagal muncak. Hanya sampai alun-alun Suryakencana. Rencananya, setelah subuh akan nanjak ke puncak Gunung Gede. Tapi, saya dan anak-anak terlalu mager. Lebih memilih mendingan tidur karena kecapean hahaha!
Terlepas dari alasan mager, memang mendaki gunung juga tentang mengendalikan ego. Ya mungkin akan berasa puas kalau bisa sampai puncak gunung. Sayang banget udah sekian jam mendaki tapi gagal sampai puncak. Ya, tapi saya dan anak-anak juga capek. Apalagi ini pengalaman pertama mendaki. Daripada maksain trus kenapa-napa yakaaan. Lagian gunung juga gak akan ke mana-mana. Siapa tau suatu saat bisa balik lagi.
Berikutnya, kami sekeluarga sempat berencana mau mendaki Semeru di akhir tahun. Kebetulan suami juga mau hadir di salah satu acara tentang mendaki gunung di Malang. Jadi sekalian aja setelah itu ke Semeru.
Persiapan udah matang. Tinggal berangkat aja sebenarnya. Tapi, Qadarullah terjadi banjir besar di Pacitan dan bencana alam di beberapa wilayah lain. Tentu Tim SAR dan lainnya berpencar melakukan evakuasi. Sehingga acara pun batal, termasuk rencana kami mendaki. Gak lama setelah itu datanglah pandemi.
Pandemi udah usai. Anak-anak udah besar. Udah punya kesibukan masing-masing. Tapi, sepertinya Keke mulai menunjukkan minat seperti ayahnya. Kalau saya pribadi kayaknya harus mulai melupakan naik gunung. Apalagi sejak lutut bermasalah lumayan lama. Meskipun sekarang sudah bisa jalan normal, tapi tetap deg-degan kalau treking tipis atau sekadar turun naik tangga.
Suami sih tetap menyemangati, insyaAllah bisa lah diajak berpetualang. Tentu aja saya masih pengen banget. Tapi, saya gak akan bosan-bosannya bilang kembali ke persiapan. Jangan mendaki hanya karena FOMO. Mendaki hanya untuk 'kasih makan' konten medsos.
Bagaimana kalau kedua orang tua juga minim pengalaman naik gunung? Sekarang ini kan banyak open trip, Sahabat KeNai bisa ikut salah satunya. Tapi, jangan asal-asalan memilih. Cari yang sesuai kebutuhan atau malah lebih bagus lagi pakai jasa private. Apalagi ini kan bawa anak-anak. Mendingan pakai jasa professional yang private.
Ingat! Safety first. Mendaki gunung itu bukan sekadar jalan-jalan. Persiapannya harus matang demi keamanan. Jangan FOMO, kendalikan ego. Persiapannya harus lebih matang lagi. Jangan deh ajak anak-anak berpetualang tanpa adanya persiapan. Ini bukan perkara 'kalau ada apa-apa jadi nyusahin Tim SAR'. Kalau bener-bener sayang, harus perhatiin juga keselamatan dan keamanan anak, ya.
Silakan baca: Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng: Keindahan yang Perlu Dikenang
Sahabat KeNai mungkin pernah melihat orang tua yang mengajak anaknya mendaki. Bahkan ada yang anaknya masih batita. Terkadang menimbulkan komen beragam pro kontra. Bagi saya pribadi, berdasarkan pengalaman, selama orangtuanya paham pendakian dan persiapannya matang sih gak apa-apa deh bawa anak mendaki.
Ketika saya bilang siap, semua persiapan detilnya diserahkan ke suami. Saya ikut aja karena suami kan udah pasti paham teknisnya. Kalau pun penasaran ya paling nanya, bukan untuk mengatur-ngatur.
Contohnya nih ketika semua diminta bawa ransel dengan isi perlengkapan pribadi masing-masing seperti pakaian, jaket, hingga makanan dan minuman. Saya sempet bertanya kenapa anak-anak juga diminta bawa ransel. Kayaknya gak tega gitu. Saya maunya biarin aja mereka jalan tanpa bawa apa-apa.
Suami pun menjelaskan dengan rinci alasannya. Tentu aja berat ranselnya juga disesuaikan dengan berat badan masing-masing. Jadi, dipastikan anak-anak tetap bisa bergerak lincah meskipun sambil bawa ransel. Ya udah kembali saya percayakan semua ke suami.
Kami juga pakai jasa porter meskipun suami paham mendaki gunung. Tapi, masalahnya adalah dia juga bawa 3 orang pemula yaitu istri dan anak-anaknya hehehe. Porter yang akan mendampingi anak-anak, sedangkan suami mendampingi saya.
Selama pendakian seringkali saya yang selalu kelelahan. Sedangkan anak-anak kayak gak ada habis battere energinya. Mereka seringkali protes kalau kebanyakan berhenti. Nah, porter yang akan mendampingi kelincahan anak-anak kami.
Ketika mendaki memang setiap orang memiliki situasi dan kondisi berbeda. Jangan samakan juga sama akamsi. Beberapa melihat bocah-bocah akamsi naik gunung hanya pakai sandal jepit dan tanpa bawa perlengkapan apapun. Sambil berlarian pula. Bagi mereka, gunung memang seperti tempat bermain. Makanya, bisa tektok mendakinya.
Ada pula orang tua yang mengajak anaknya mendaki tanpa membawa porter. Apapun pilihannya memang bebas aja. Kuncinya memang di persiapan. Safety First.
Saya baru 2x mendaki gunung, yaitu Gunung Gede dan Prau. Bahkan yang ke Gunung Gede, kami gagal muncak. Hanya sampai alun-alun Suryakencana. Rencananya, setelah subuh akan nanjak ke puncak Gunung Gede. Tapi, saya dan anak-anak terlalu mager. Lebih memilih mendingan tidur karena kecapean hahaha!
Terlepas dari alasan mager, memang mendaki gunung juga tentang mengendalikan ego. Ya mungkin akan berasa puas kalau bisa sampai puncak gunung. Sayang banget udah sekian jam mendaki tapi gagal sampai puncak. Ya, tapi saya dan anak-anak juga capek. Apalagi ini pengalaman pertama mendaki. Daripada maksain trus kenapa-napa yakaaan. Lagian gunung juga gak akan ke mana-mana. Siapa tau suatu saat bisa balik lagi.
Berikutnya, kami sekeluarga sempat berencana mau mendaki Semeru di akhir tahun. Kebetulan suami juga mau hadir di salah satu acara tentang mendaki gunung di Malang. Jadi sekalian aja setelah itu ke Semeru.
Persiapan udah matang. Tinggal berangkat aja sebenarnya. Tapi, Qadarullah terjadi banjir besar di Pacitan dan bencana alam di beberapa wilayah lain. Tentu Tim SAR dan lainnya berpencar melakukan evakuasi. Sehingga acara pun batal, termasuk rencana kami mendaki. Gak lama setelah itu datanglah pandemi.
Pandemi udah usai. Anak-anak udah besar. Udah punya kesibukan masing-masing. Tapi, sepertinya Keke mulai menunjukkan minat seperti ayahnya. Kalau saya pribadi kayaknya harus mulai melupakan naik gunung. Apalagi sejak lutut bermasalah lumayan lama. Meskipun sekarang sudah bisa jalan normal, tapi tetap deg-degan kalau treking tipis atau sekadar turun naik tangga.
Suami sih tetap menyemangati, insyaAllah bisa lah diajak berpetualang. Tentu aja saya masih pengen banget. Tapi, saya gak akan bosan-bosannya bilang kembali ke persiapan. Jangan mendaki hanya karena FOMO. Mendaki hanya untuk 'kasih makan' konten medsos.
Bagaimana kalau kedua orang tua juga minim pengalaman naik gunung? Sekarang ini kan banyak open trip, Sahabat KeNai bisa ikut salah satunya. Tapi, jangan asal-asalan memilih. Cari yang sesuai kebutuhan atau malah lebih bagus lagi pakai jasa private. Apalagi ini kan bawa anak-anak. Mendingan pakai jasa professional yang private.
Ingat! Safety first. Mendaki gunung itu bukan sekadar jalan-jalan. Persiapannya harus matang demi keamanan. Jangan FOMO, kendalikan ego. Persiapannya harus lebih matang lagi. Jangan deh ajak anak-anak berpetualang tanpa adanya persiapan. Ini bukan perkara 'kalau ada apa-apa jadi nyusahin Tim SAR'. Kalau bener-bener sayang, harus perhatiin juga keselamatan dan keamanan anak, ya.
Silakan baca: Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng: Keindahan yang Perlu Dikenang



0 Comments
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)