Senang rasanya ketika
TransJakarta
yang kami tumpangi akhirnya sampai di Terminal Kalayang atau yang lebih
dikenal sebagai Skytrain Bandara Soekarno-Hatta. Perjalanan dari Blok M
memakan waktu sekitar 57 menit. Saya dan suami langsung bergegas masuk
ke dalam terminal. Yeay, jujur saya cukup antusias! Dalam bayangan saya,
dari atas kereta melayang ini kami bakal bisa melihat deretan pesawat
yang sedang parkir di
apron. Soal
bentuk keretanya sendiri, mungkin tak jauh beda ya dengan pengalaman
naik LRT atau MRT.
Menuju stasiun Kereta Bandara kalau lurus terus
Lewat eskalator atau lift kalau mau naik kalayang
Begitu masuk ke dalam, sempat agak sedikit bingung. Lurus terus atau
naik eskalator? Sebetulnya ada petunjuknnya. Tapi, kepala saya agak
sedikit pusing karena sedang kurang enak badan. Suami langsung ke toilet
begitu sampai terminal Kalayang. Jadinya saya memutuskan bertanya ke
satpam.
"Silakan langsung naik, Bu. Kalau lurus itu ke stasiun kereta
bandara".
Noted! Kapan-kapan cobain naik kereta bandara, ah!
Salah Turun dari Kalayang, Kirain Mendarat di Terminal 2!
Saya dan suami langsung naik menggunakan eskalator. Suasana di atas
kurang lebih sama kayak stasiun MRT. Rel kereta ada di kedua sisi yaitu
jalur A dan jalur B. Kata suami, terserah mau jalur mana juga. Pokoknya
yang cepet datang.
Suami: "Nanti kita turun di Terminal 2, Bun."
Saya: "Kenapa di terminal 2? Kan, mau makan siang di Food Park. Itu
adanya di Terminal 3."
Suami: "Sholat Dzuhur dulu."
Sebetulnya saya agak bingung dengan jawaban suami yang tentang sholat.
Bukannya di Terminal 3 juga ada mushola? Kenapa juga harus di Terminal
2? Tapi, ya udah lah saya nurut aja.
Terdengar suara pengumuman kalau kereta kalayang menuju terminal 2 dan
3 akan segera datang di jalur B. Ya karena suami bilang naik mana aja
yang paling cepat datang, kami pun bersiap-siap.
Keretanya mirip LRT Jakarta. Begitu pun bagian dalamnya, tapi kursinya
lebih sedikit. Jumlah gerbongnya seingat saya hanya 2. Tapi, jalannya
gak se-smooth LRT Jakarta.Naik Skytrain masih lumayan berasa
geradak-geruduknya saat kereta jalan. Untung aja jarak pendek,
ya. Saya rasa kalau jarak jauh, kurang nyaman kereta yang
gujak-gijuk jalannya. Ini saya ngebandinginnya sama
LRT Jakarta
karena belum pernah naik LRT Jabodebek.
Ketika kereta Kalayang berjalan, saya melihat pemandangan beberapa
pesawat sedang parkir. Saya langsung bilang ke suami, "Wah berarti palik
asik naik kereta yang jalur B. Bisa lebih dekat lihat pesawatnya".
Perjalanan ke Terminal 2 singkat aja. Tau-tau udah sampai. Kami
langsung turun ke bawah dan keluar stasiun. Suami ngajak saya nanya
lokasi mushola di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta.
Saya: "Yah, kenapa sih sholatnya harus di Terminal 2? Kan kita mau
makan siang di Terminal 3? Kenapa gak langsung sholat di sana
aja?"
Suami: "Karena pesawat Nai mendarat di Terminal 2. Siapa tau pesawatnya
udah mendarat. Jadi makannya barengNai."
Saya: "Lhaaaa! Pesawat Nai di Terminal 3, Yaaaah!"
Suami: "Masa' sih?"
View dari skytrain jalur A ke arah luar bandara, termasuk lihat
parkiran
Kami pun buka WAG keluarga, lihat lagi info tiket dari Nai.
Saya: "Tuh kan beneeer! Terminal 3!"
Suami: "Ya udah naik kereta lagi aja ke Terminal 3."
Eyaampuuun! Ada-ada aja deh ceritanya hehehe. Kami pun kembali masuk ke Terminal Kalayang.
Eyaampuuun! Ada-ada aja deh ceritanya hehehe. Kami pun kembali masuk ke Terminal Kalayang.
Melihat Berbagai Pesawat Lebih Dekat dari Skytrain Jalur B
Salah satu view ketika skytrain melintas di jalur B
Almarhum kakek pernah menjabat Kepala Cabang di salah satu bank
pemerintah. Kalau lagi datang ke Jakarta, saya suka diajak menjemput dan
mengantar kakek ke bandara. Dulu, bandaranya masih di Kemayoran.
Saya yang saat itu masih anak-anak, selalu semangat kalau diajak ke bandara. Karena bisa melihat banyak pesawat dari dekat. Seneng aja gitu rasanya. Bahkan dulu seingat saya bisa dadah-dadah (melambaikan tangan) langsung ke penumpang karena ada area terbuka berupa balkon.
Saya yang saat itu masih anak-anak, selalu semangat kalau diajak ke bandara. Karena bisa melihat banyak pesawat dari dekat. Seneng aja gitu rasanya. Bahkan dulu seingat saya bisa dadah-dadah (melambaikan tangan) langsung ke penumpang karena ada area terbuka berupa balkon.
Suasana sore dari atas kalayang jalur B
Makanya, ketika ada yang bilang ke saya, emang apa bedanya naik dari
jalur A atau B. Sama aja rutenya. Iya betul, untuk rute sama aja.
Makanya di awal pun suami bilang terserah dari jalur mana aja yang
duluan dateng.
Tapi, karena kami jalan santai dan hanya menjemput, tentu gak apa-apa lah pilih-pilih jalur. Gak dikejar waktu juga. Mungkin lain cerita kalau memang mengejar jadwal penerbangan. Meskipun, sekarang tidak ada lagi anjungan dadah, saya tetap yakin kalau diajak melihat pesawat akan menyenangkan, terutama bagi anak-anak.
Saya pernah beberapa kali melihat konten orang tua mengajak anak-anaknya naik kereta kalayang. Tidak untuk bepergian naik pesawat. Tapi, sekadar hiburan naik kereta dan bonusnya bisa lihat pesawat. Gak apa-apa banget, kok. Anak-anak juga biasanya bakal seneng banget.
Tapi, karena kami jalan santai dan hanya menjemput, tentu gak apa-apa lah pilih-pilih jalur. Gak dikejar waktu juga. Mungkin lain cerita kalau memang mengejar jadwal penerbangan. Meskipun, sekarang tidak ada lagi anjungan dadah, saya tetap yakin kalau diajak melihat pesawat akan menyenangkan, terutama bagi anak-anak.
Saya pernah beberapa kali melihat konten orang tua mengajak anak-anaknya naik kereta kalayang. Tidak untuk bepergian naik pesawat. Tapi, sekadar hiburan naik kereta dan bonusnya bisa lihat pesawat. Gak apa-apa banget, kok. Anak-anak juga biasanya bakal seneng banget.
Fasilitas di Stasiun Kalayang
Ada beberapa fasilitas di stasiun kalayang. Salah satunya toilet yang bersih, Kemudian ada juga charging stasiun. Saya kurang tau apakah banyak yang pakai fasilitas nge-charge ini atau enggak. Karena jarak kedatangan antar kereta tuh gak lama. Paling cuma beberapa menit sekali udah datang. Bisa dilihat dari layar info kedatangannya.
Dahulukan penumpang yang mau bepergian dulu
Suasana stasiun terkadang sepi, terkadang ramai. Menurut saya,
dahulukan yang mau berangkat. Lihat aja dari bawaannya yang cukup banyak
seperti koper, dufle bag, atau ransel besar. Kemungkinan akan bepergian
naik pesawat. Biarkan mereka yang duluan naik karena harus datang tepat
waktu.
Adanya skytrain memang memudahkan mobilitas dari T1 hingga T3. Biayanya
juga gratis, ya. Gak perlu tap-tap kartu juga. Jam operasionalnya mulai
pukul 06.00 s/d 24.00 wib.
Naik Skytrain Bandara Soekarno-Hatta ternyata bukan sekadar urusan
berpindah terminal, tapi juga menyajikan pengalaman visual yang seru dan
berkesan. Menyaksikan si burung besi berlalu-lalang dari ketinggian
membawa kepuasan tersendiri, terutama bagi para pecinta aviasi maupun
Sahabatv KeNai yang ingin menikmati sisi lain dari Soetta. Bagi saya
pribadi, tentu seperti nostalgia juga dengan masa kecil. Jadi, kalau
nanti punya waktu senggang saat berada di bandara, jangan ragu untuk
menjajal Kalayang ini. Siapa tahu, Sahabat KeNai justru menemukan spot
plane spotting
favorit baru di sini!
Berangkat dan pulang naik TransBandara. Lain kali cobain naik KA Bandara,
ah!



0 Comments
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)