Menjelang kepulangan Nai dari Hong Kong, saya melontarkan ide naik transportasi umum ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Awalnya, saya pikir bawa kendaraan pribadi aja karena barang bawaan Nai dari HK pasti banyak. Tapi, suami gak mau dengan alasan males cari parkir. Mendingan naik taxi katanya.
Kemudian, saya pun ngajakin naik transportasi umum. Meskipun awalnya
suami ragu-ragu, khawatir saya kecapean. Saya beralasan udah lama banget
pengen nyobain ke bandara Soetta naik transportasi umum. Mumpun ada alasan
mau jemput anak yakaaaan. Kalau disengajain kayaknya bakal gak jalan-jalan
ke sananya hehehe.
Suami menyetujui keinginan saya. Awalnya, kami berencana naik
TransJakarta aja. Memang harus beberapa kali ganti bis kalau dari rumah.
Tapi, kalau terintegrasi, total ongkosnya hanya Rp3.500,00 meskipun
berganti-ganti naik TJ.
Dari KRL Hingga Kalayang Menuju Terminal 3 Bandara Soetta
Setelah mempertimbangkan beberapa hal terutama titik kemacetan dan durasi
perjalanan, kami sepakat untuk sedikit mengubah rencana. Tetap naik
transportasi umum, tapi gak hanya TransJakarta. Berikut beberapa transum
yang kami naiki menuju Terminal 3 Bandara Internasional
Soekarno-Hatta.
Sedikit tips, cara kami mengeceknya adalah dengan menggunakan Google Maps. Ketik tujuannya ke Bandara Soekarno-Hatta lalu pilih yang transportasi umum. Nanti diberi beberapa opsi. Makanya dari opsi tersebut kami akhirnya memutuskan naik beberapa transum menuju bandara Soetta.
Sedikit tips, cara kami mengeceknya adalah dengan menggunakan Google Maps. Ketik tujuannya ke Bandara Soekarno-Hatta lalu pilih yang transportasi umum. Nanti diberi beberapa opsi. Makanya dari opsi tersebut kami akhirnya memutuskan naik beberapa transum menuju bandara Soetta.
Commuter Line atau KRL
Kami naik KRL hingga stasiun Sudirman. Perjalanan lancar bahkan langsung
dapat tempat duduk. Suasana di dalam kereta lumayan sepi. Mungkin karena
saat itu udah bukan jam sibuk orang berangkat dan pulang kantor.
MRT
Turun di Stasiun Sudirman, kami berjalan kaki menuju Stasiun MRT BNI Dukuh
Atas. Kedua stasiun ini berjarak 350 aja. Sangat dekat. Cukup melewati
Terowongan Kendal. Kami naik MRT menuju stasiun Blok M BCA.
Turun dari MRT dengan pedenya kami berjalan menuju pintu keluar Melawai.
Ujug-ujug saya merasa kayaknya salah keluar, nih! Untung aja kami langsung
nanya petugasnya sebelum turun. Ternyata beneran salah! Kami disarankan
keluar menuju pintu E dan F untuk menuju Blok M Hub Gojek.
Ya sebetulnya kalau pun udah salah turun, kami tinggal naik lagi. Tapi,
mungkin agak sedikit merepotkan kalau bawa barang banyak seperti koper
besar. Meskipun bisa aja naik lift. Ya tetap mendingan nanya, deh,
daripada keburu salah turun hehehe.
TransJakarta atau TransBandara
Dari Stasiun MRT BCA menuju Blok M Hub Gojek hanya berjarak 200 meter.
Detil naik TransBandara udah saya ceritakan di postingan sebelumnya.
Pastinya yang perlu dicatat, nih, kurang friendly kalau bawaannya terlalu
banyak, jangan mepet waktunya kalau naik TransBandara, dan jangan sampai
salah masuk jalur di Blok. TransBandara juga gak berhenti di banyak halte
karena setengah perjalanan lewat tol.
Silakan baca: Ke Bandara International Soekarno-Hatta Naik TransJakarta Cuma Rp3.500!
Silakan baca: Ke Bandara International Soekarno-Hatta Naik TransJakarta Cuma Rp3.500!
Skytrain / Kalayang
Kemudian lanjut naik kalayang atau lebih dikenal dengan nama skytrain.
Armada ini memudahkan banget kalau Sahabat KeNai ingin berpindah-pindah
dari T1, T2, dan T3. Ada 2 jalur kereta yaitu A dan B. Sama aja, sih, tapi
saya lebih suka jalur B. Alasannya udah saya ceritain di postingan
sebelumnya, ya.
Secara keseluruhan, senang banget bisa merasakan sensasi naik berbagai
transportasi umum ke Bandara Soekarno-Hatta. Totalnya ongkosnya seingat
saya gak sampai Rp50 ribu. Tapi, bukan hanya ongkosnya yang murah, lho.
Seru aja bisa sekalian jalan-jalan dulu.
Pastinya belum berani naik transportasi umum seperti ini kalau memang mengejar waktu keberangkatan. Naik taxi aja, saya biasanya jalan dari beberapa jam sebelumnya. Gak lucu kan kalau sampai ketinggalan pesawat hehehe. Harus siapin waktu panjang kalau naik transum. Ditambah lagi, fisik juga sebaiknya prima, deh. Karena beberapa kali harus turun naik tangga. Buat saya yang terkadang lututnya agak rewel ya cukup melelahkan dan harus pelan-pelan hehehe.
Pastinya belum berani naik transportasi umum seperti ini kalau memang mengejar waktu keberangkatan. Naik taxi aja, saya biasanya jalan dari beberapa jam sebelumnya. Gak lucu kan kalau sampai ketinggalan pesawat hehehe. Harus siapin waktu panjang kalau naik transum. Ditambah lagi, fisik juga sebaiknya prima, deh. Karena beberapa kali harus turun naik tangga. Buat saya yang terkadang lututnya agak rewel ya cukup melelahkan dan harus pelan-pelan hehehe.
Durasi perjalanan kami dari rumah ke Terminal 3 Bandara International Soekarno Hatta kurang lebih 3 jam. Tapi, kami jalan santai banget! Apalagi saat turun naik tangga, saya memang gak bisa cepat supaya lutut gak sakit. Beberapa kali berhenti juga buat ke toilet, atm, termasuk fotoin kucing-kucing jalanan hehehe.
Harusnya Pulangnya Naik Bus Damri
Area menuju stasiun kereta api bandara
Awalnya kami berencana pulang naik taxi. Karena barang bawaan Nai kan
lumayan banget. Tapi, saya cukup kaget ketika mengecek perkiraan tarif
taxi di aplikasi. Hampir Rp500 ribu! Waduh hampir setengah juta, uy!
Hehehe.
Saya tau kalau baik taxi memang biasanya di atas Rp200 ribu. Tapi, gak pernah sampai mendekati setengah juta juga. Memang sih saat itu jam pulang kantor dan kabarnya kalau lihat dari medsos, kondisi jalanan di Jakarta lagi parah macetnya.
Saya dan suami spontan langsung kepikiran naik TransJakarta lagi, lanjut MRT, setelah itu baru deh naik taxi. Sempet sih kepikiran naik kereta bandara dan lanjut naik taxi. Tapi, kami pikir kayaknya kalau masih macet bakalan agak susah juga nih dapat taksi di stasiun Manggarai.
Saya tau kalau baik taxi memang biasanya di atas Rp200 ribu. Tapi, gak pernah sampai mendekati setengah juta juga. Memang sih saat itu jam pulang kantor dan kabarnya kalau lihat dari medsos, kondisi jalanan di Jakarta lagi parah macetnya.
Saya dan suami spontan langsung kepikiran naik TransJakarta lagi, lanjut MRT, setelah itu baru deh naik taxi. Sempet sih kepikiran naik kereta bandara dan lanjut naik taxi. Tapi, kami pikir kayaknya kalau masih macet bakalan agak susah juga nih dapat taksi di stasiun Manggarai.
Sampai rumah, saya baru kepikiran harusnya naik bus DAMRI. Udah pasti
bakal tetap kena macet di jalan. Tapi, pasti akan lebih cepat sampai rumah
juga dan ongkosnya gak segede tarif taxi di jam sibuk.



26 Comments
Cuma Rp 3.500 dan dapat pengalaman berharga sekaligus ide tulisan,
ReplyDeleteEmang worth it banget ya Mbak?
Termasuk excited nyari transum termudah dan termurah bawa barang bawaannya Nai
TJnya yang Rp3.500. Tapi, kalau ditotalin tetap aja masih termasuk murah banget dibandingkan naik taxi. DAMRI, atau kereta bandara.
DeleteSeru banget pengalaman naik transportasi umum ke Bandara Soetta ini, Mbak Myra. Mulai dari KRL, MRT, TransBandara, sampai Skytrain, ternyata bisa sekalian jadi pengalaman jalan-jalan. Apalagi ongkosnya enggak sampai Rp50 ribu, jauh dibandingkan taxi yang saat jam sibuk bisa hampir Rp500 ribu. Saya juga relate dengan cerita harus memperhitungkan kondisi fisik, terutama kalau harus naik turun tangga dan berjalan cukup jauh. Kalau lutut sedang rewel memang harus santai dan enggak bisa dipaksakan. Jadi, transportasi umum ke bandara memang menarik dicoba, asal waktunya longgar dan bukan sedang mengejar pesawat. Kalau sampai ketinggalan pesawat gara-gara terlalu asyik eksplor, bisa nangis di pojokan
ReplyDeleteyakaaan. Dari hampir Rp50 ribu dipangkas jadi sersepuluhnya hihihi. Tapi, ya memang harus siap waktu dan fisik kalau naik transum begini.
DeleteLuwengkap poll gitu ya JKT. Duh iri beut dech. Emang ibukota harus lengkap. Dari bus sama MRT. Moga kota lain juga dapat giliran.
ReplyDeleteAamiin Allahumma aamiin
DeleteSeru juga ya, ke Bandara pakai transum. Saya baru sebatas dari Bandung-JKT pakai transum, bus kota, sambung MRT. Pernah juga, pakai Whoosh, sambung LRT. Pan kapan mau nyoba. Tapi mau terbang ke mana ya? Hum...harus kuat nih, naik turun escalator gonta-ganti moda.
ReplyDeleteJalan-jalan aja, meskipun gak bepergian pake pesawat. Etapi, niat banget ya kalau dari Bandung ke Bandara Soetta sekadar jalan-jalan hehehe
DeleteSeru banget ya sekali jalan naik berbagai jenis transum begini. Kudu jeli ngecek jadwal dan ngitung waktunya sih
ReplyDeleteMantep banget ini sih. Berangkat jemput ke Bandara Soekarno-Hatta pake transportasi umum full. Mulai dari KRL, MRT, sampe ke Tije bandara. Bahkan pas sampe lokasi, buat ke terminal tiga bisa dimudahkan pake kalayang (gratis) kan yaaa. Aku beberapa kali berangkat selalu naik kalayang buat ke T3.
ReplyDeleteNah, pas pulangnya memang biasanya pada pilih taxi biar lelauasa taro koper dkk. Tapiii itulah jam jam tertentu tarifnya menggila. Kalau sampe 500K mirip dari tempatku ke bandara nih (Bogor) sempat ngecek tarif di jam normal segitu. Bener, kalau sepulang jemput, better naik DAMRI lebih terjangkau dan cepat karena lewat tol.
Nah saya baru kepikiran DAMRInya pas udah di rumah. Padahal sempet lihat pas di bandara. Kayanya udah pusing duluan lihat perkiraan tarif hampir setengah juta hihihi
DeleteDuh kalau aku dari Cikarang dan naik LRT atau KRL jadi panjang banget rutenya ya Myr. Iya kalau cuma bawa badan. Kalau bawa koper bakal lemes kali pas sampai bandara Soetta. Etapi untung ada DAMRI di Jababeka. Meski harus naik taxi on-line atau didrop ke terminal DAMRI. Sekali naik langsung sampe Soetta. Lumayan pricy sih tapi gak perlu naik turun. Bisa tidur sepanjang dua jam perjalanan.
ReplyDeleteKalau bawa koper apalagi sendirian mendingan jangan, Mbak. Tapi, gak apa-apa juga sih kalau beneran jalan santai dan masih kuat nenteng koper sambil naik transum
Deleteaku tuh suka pake banget tulisan perjalanan yang begini, karena bukan cuma kasih info rute tapi ikut ngajak kita merasakan ribet-serunya pindah dari KRL, MRT, TransBandara sampai Kalayang 😄.
ReplyDeleteApalagi bagian soal harus menyediakan waktu panjang dan menyesuaikan kondisi fisik, ini relate banget. Kadang perjalanan dengan transportasi umum justru jadi cerita tersendiri, bukan sekadar cara untuk sampai tujuan.
jujur aja, aku orang yang riset berkali-kali sebelum bepergian, selain takut nyasar ( tau sendiri kan, beda tujuan dan beda transum jadi beda jauuuhhhhhh banget sekarang ini!) aku pernah nyasar di Tj Priok alamaaak.. naik gojek ke tujuan sampai habis 60 ribuan hiks hiks
Saya pun berkali-kali ngecek google maps dulu. Sampai akhirnya memutuskan untuk gonta-ganti transportasi umum
DeleteSeruu di Jakarta menuju bandara aja banyak transumnya ya mbak, kalo di Medan cm ada railink doang. Ini yang bikin kangen Jakarta, naik keretanya itu lohhh seneng akutuh hihiii
ReplyDeleteKalau lagi ga buru-buru memang enak ke Bandara pakai transum. Jelajahnya banyak. Bisa naik TiJe dari Blok M atau dari Kalideres juga bisa Kak Myr menuju Bandara.
ReplyDeleteCuma kalau udah boarding melanda, ya tentunya cari yang sat set, meski pikirkan juga ongkosnya hehe
betul banget
DeleteSerius ini cita cita aku sih, ke Bandara naik transum. Tapi yang udah udah kan harus ngejar waktu ya. Apa daya ya lagi lagi pakai kendaraan pribadi lebih meyakinkan. Walau emang yang nyetir harus mau effort nyari parkir atau standby.. kapan ya, pengen naik kereta bandara itu deh. Bukan gimana gimana, penasaran aja sih hehe. Nanti mungkin ya kalau udah pada besar anak anak bisa tanpa dihendong jadi ga terlalu encok setelahnya
ReplyDeleteIya, better coba rasain sekali aja naik transportasi umum ke bandara. Tapi emang kudu siapkan waktu lebih awal banget buat jaga-jaga. Kalau arah pulang dari bandara sebenernya lebih banyak opsi karena jatohnya santai walau agak capek yaa abis terbang hehehe.
DeleteAlhamdulillah Jakarta emang udah super mumpuni transportasi umumnya nih.
Aku hobi bangeett naik transum kalo lagi di Jakartaaa..
ReplyDeleteMashaAllaah.. jaman bangeett.. ngerasain pas rame, empet-empetan.. tapii hati happy!
Dan menurut testimoni orang yang sering aku ajakin ngobrol sambil menikmati perjalanan transum jakarta memang solusi ter-tepat in this economy...
Beneran membelah kemacetan Jakartaaa...
Semangat kuliahnya, adek Nay..
Semoga Allah mudahkaan.. dan seneng baca cerita naik TransBandara, meski belum pernah secara langsung. Tapi kabarnya, ada tempat naro kopernya di bagian depan yaa.. sungguh nyamaann~~
Alhamdulillah~
Sekarang akses ke Banda Soetta tuh semakin mudah saja ya dengan beragam alternatif transumnya. Tapi memang enak pakai transum ke sana kalau lagi enggak buru-buru banget.
ReplyDeleteWow, transum yang dipakai sambung-menyambung tapi seru yaaa ... Kalau nggak lagi buru-buru atau bawaannya lagi nggak banyak pasti ini jadi pilihan yang menarik. Berarti kalau mau coba buat jalan-jalan santai ke bandara aja, tetap lebih baik di hari libur ya? Soalnya beberapa moda transum sepertinya tetap akan ramai kalau di hari kerja.
ReplyDeleteDari daftar moda transportasi yang disebutkan di atas, saya belum pernahnya naik Transjakarta nih. Kelupaan mau cobain pas di Jakarta, giliran udah sampai di bandara untuk balik ke Lombok, obrolin sama temen, oh iyaa saya belum coba naik Transjakarta.
ReplyDeleteJadi inget dulu jaman jadi tim liputan kemenpar, dari Bandung harus ke Bandara Soetta ngejar pesawat pake kendaraan umum. Mulai naik kereta sampe Gambir, lanjut Damri ke Bandara. Di dalam naik kalayang hehehehe seru abis pokoknya
ReplyDeleteKalau bisa Damri bisa kemana aja sih mbak tapi ya kalau sudah kena mampet, dinikmatin aja, secara ga punya jalur sendiri seperti busway
ReplyDeleteMenarik lho pengalamannya bisa eksplore transum, secara kita metropolitan, transumnya sudah terhubung antar jenis moda transum, jadi memudahkan banget
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)