Jumat, 16 Oktober 2015

#wegowithkids - Menjadi Keluarga Petualang ala Sukma Dede

#wegowithkids - Menjadi Keluarga Petualang ala Sukma Dede. *Melanjutkan lagi tulisan yang tertunda lama hahaha*
sumber foto : FB Sukma Kurniawan

Kemana tempat paling asyik mengajak anak-anak jalan-jalan? Mall? Playground? Atau malah mendaki gunung? Hmmm ... Kedengerannya terlalu ekstrim, ya, mengajak anak-anak mendaki gunung. Tapi, sebetulnya gak begitu juga, sih. Malah setelah mendengarkan penjelasan salah satu narasumber di acara #wegowithkids, yaitu mas Sukma Dede, saya malah merasa kayaknya agak terlambat mengajak anak-anak berpetualang seperti ini.Tapi, kata mas Dede gak ada kata terlambat sebetulnya. *Hmmm ... baiklah :D*

Apabila Sahabat Jalan-Jalan KeNai blogwalking ke blog mas Dede, akan disuguhkan berbagai cerita petualangannya ke berbagai tempat di Indonesia. Yang paling menarik buat saya adalah berbagai cerita perjalanan mas Dede dan keluarga tentunya. Berpetualang bersama-sama di alam terbuka. di blog mas Dede juga ada postingan tentang Pendidikan Karakter Melalui Aktivitas Mendaki Gunung. Wajib dibaca, deh! :)

Sahabat Jalan-Jalan KeNai juga tertarik menjadi keluarga petualang ala Sukma Dede? Baca dulu beberapa tip berikut ini, ya.

Ajak anak berdiskusi

Ketika akan mengunjungi suatu tempat, sebaiknya orang tua mencari info sebanyak-banyaknya lebih dahulu. Kemudian diskusikan bersama anak. Jawab aja semua pertanyaan anak. Katakan cape kalau memang perjalanan itu akan membuatnya lelah. Jangan paksakan anak apabila dia belum mau.

Selalu membuat anak-anak ceria

Kalau anak sudah mau diajak jalan, bukan berarti anak gak akan jelek moodnya, lho. Bisa aja diperjalanan moodnya nge-drop karena lelah. Orang tua jangan paksakan anak untuk terus berjalan. Bisa-bisa anak akan tambah ilang moodnya. Justru kita yang harus ikuti irama anak-anak. Berhenti saja sejenak, dan ajak mereka bermain. Kalau perlu bawa mainan kesayangan anak. Kayak gitu gak makan waktu lama, kok. Biasanya anak udah ceria lagi. Kalau udah gitu, cusss lanjutkan perjalanan.

Gak ada yang instan

Anak bisa langsung naik gunung adalah sesuatu yang gak mungkin. Kalau lihat putra mas Dede ikut naik gunung itu bukan proses yang instan. Secara rutin mas Dede sekeluarga melakukan aktivitas fisik yang ringan. Sekitar 2-3 jam secara rutin setiap 1 bulan sekali.

Untuk yang baru mau mencoba, menurut mas Dede lakukan trekking ringan dulu aja. Jangan langsung yang berat-berat, apalagi bawa anak. Salah-salah nanti akan celaka. Tentunya gak mau hal seperti itu terjadi, kan?

Orang tua harus siap dulu

Mas Dede seringkali mendapatkan pertanyaan dari orang tua tentang kapan waktu yang tepat mengajak anak-anak naik gunung? Menurut mas Dede, anak akan siap diajak naik gunung kalau orang tuanya lebih dulu siap.

Ketika sedang traveling, putra mas Dede pun pernah menangis serta kecapean. Dari sisi parenting, yang seharusnya paling tau mood anak adalah orang tuanya. Sekarang bagaimana orang tua mau paham mood anak kalau mereka sendiri tidak siap. Yang ada malah orang tuanya yang lebih ngambek. Padahal anak-anak kalau ngambek cuma sebentar, orang dewasa lebih lama hahaha. Jadi orang tua dulu yang harus siap. Baru kemudian mengajak anak-anak untuk traveling seperti itu.

Sedikit curcol, nih. Itulah kenapa ketika mendengar paparan mas Dede, saya merasa agak terlambat. Karena saya baru merasakan asyiknya traveling ke alam bersama anak-anak itu sekarang ini. Saya dan suami memang sama-sama suka jalan-jalan, tapi berbeda selera. Suami senang mendaki gunung, saya anak kotaan yang senang kenyamanan hahaha. Camping memang sering kami lakukan sejak Keke usia belum 2 tahun. Tapi, camping yang glamping (glamour camping). Dulu itu gak ada, deh, cerita naik angkot dan segala kehebohannya. Pokoknya selama ini suami ikutin selera saya. :D

Semua itu karena saya gak siap. Dan, saya setuju banget sama pendapat mas Dede kalau orang tua harus siap lebih dulu. Gak lucu kan kalau di tengah jalan saya yang ngambek. Masa' suami harus ngebujukin saya juga sepanjang jalan. Apalagi kalau ditambah anak-anak juga ngambek. Nanti suami jadi baby sitter kami bertiga hahaha.

Menurut mas Dede, dilihat dari sisi medis, sosial, serta edukasi banyak manfaat yang dirasakan dengan mengajak anak-anak beraktivitas naik gunung. Berikut beberapa aktivitas yang bisa dirasakan.

Family bonding semakin mengingkat

Mas Dede menyukai jalan-jalan. Istrinya pun menyukai jalan-jalan. Karena menyukai hobi yang sama, jadilah setelah memiliki anak, hobi tersebut tetap berlanjut. Manfaatnya, bisa semakin meningkatkan family bonding. Anak pun akan semakin kaya akan pengetahuan dengan banyak diajak jalan-jalan.

Banyak manfaat dari naik transportasi umum

Kalau mau melihat Indonesia yang sebanrnya, maka naik angkutan umum, begitu kata mas Dede mengutip kata-kata Gie. Dari angkutan umum kita bisa merasakan pengalaman perjalanan yang komplit. Kelamaan nunggu angkot, sempit, dan panas selama di angkotan umum wajib dirasakan oleh anak. Bukan berarti anak dilarang naik kendaraan yang nyaman, lho. Tapi, sesekali memang anak wajib dikenalkan dengan angkutan umum yang ada di Indonesia untuk mendapatkan pengalaman.

Belajar beradaptasi

Seringkali kita mendengar pepatah 'Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung." Mas Dede dan istri juga suka mengajak anak mendatangi perkampungan yang bahkan belum pernah didatangi sebelumnya. Setiap daerah memiliki keunikan masing-masing. Dari mulai cara makan, berpakaian, dan lain sebagainya. Disini anak belajar beradaptasi serta menghormati setiap tempat yang dikunjungi.

Lebih sehat

Dari literarur yang pernah mas Dede baca, anak yang terbiasa beraktivitas di ketinggian paru-parunya semakin besar. Itulah kenapa atlet di luar sana, banyak yang berprestasi. Fisik anak pun semakin kuat.

Sahabat Jalan-Jalan KeNai, sudah siap ajak anak-anak naik gunung? ;)

Sukma Dede

www.sukmadede.com

Instagram: sukmadede
Twitter: @sukmadede

Tulisan lainnya tentang #wegowithkids lainnya:
  1. #wegowithkids: Jalan Bersama Anak Itu Ribet tapi Bernilai
  2. #wegowithkids - Serba-serbiFamily Trip ke Luar Negeri ala Tesya's Blog

43 komentar:

  1. Jadi pengen ngajak Thifa naik gunung, moga ga minta gendong XD

    BalasHapus
  2. Kalau naik gunung dengan cara fisik, saya aja malas apalagi anak anak. Tapi kalau mengunjungi tempat wisata yang berada dipuncak gunung yang terjangkau transportasi saya dan keluarga sangat suka. Kebetulan kami memang bukan penggemar jalan jalan, hanya sekedar melepas kepenatan dan menciptakan keharmonisan orang tua dan anak anak saja. Kami memang suka mengunjungi wisata alam seperti gunung dan pantai serta wahana bermain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, memang kembali ke masing-masing, sih. Jangan dipaksakan juga untuk naik gunung alau memang mals melakukannya :)

      Hapus
  3. Klo mau ngajak anak kecil ikut petualangan outdoor kudu mempersiapkan banyak hal ya mbak..
    Nice info mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Banyak yang harus disiapkan :)

      Hapus
  4. Sebenernya aku sejak kecil suka ngebolang, sayang banget ortuku gak suka.. Kebolak ya? Hahahah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga dulu gak boleh, lho. Makanya puas-puasin jalan pas udah berkeluarga. sampe sekarang masih gak boleh? :D

      Hapus
  5. Keluarga yang asyik... Saya belum berani ngebolang bawa anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Saya suka melihat perjalanan mas Dede dan keluarga.

      Kalau belum berani memang sebaiknya jangan dipaksakan :)

      Hapus
  6. Saya berminpi naik gunung bareng anak2 mbak, tapi lebih dulu nyiapin sayanya,haha.. Sbnarnya anak2 memang lebih suka wisata dialam terbuka seperti gunung, skrg ngenalin hutan2 dulu aja, klo mau naek ntar klo dah 4 taunan aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pelan-pelan dan bertahap aja, Mbak. Saya aja baru sekarang ini mulai berpetualang :D

      Hapus
  7. Faiz sudah pernah kuajak naik bukit, aduuuh yang senang anaknya yang gemeteran emak bapaknya, belum siap ternyata kamiiih

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhe, anak-anak lebih banyak tenaganya, ya :D

      Hapus
  8. Kalo outdoor kadang kepikiran nya takut digigit nyamuk lah, takut kepanasan lah dsb dsb
    Itu emak bapaknya yg parno Dulu.
    Huahaha
    Jadi, ke mol terdekat deh. Hihihi. Ga sering juga sih, cuma kalo anaknya ud uring2an aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu juga saya banyak takutnya. Sekarang pasrah, percaya aja sama suami hahaha. Etapi, saya tetap takut sih kalau sampai ketemu ular. Untungnya belum pernah. Semoga jangan sampe kejadian

      Hapus
  9. Aku dulu pengen banget ngajak anak-anak ke gunung, yang sedang aja lah kayak Ungaran. Tapi karena suami justru yang nggak setuju. Kita kebalikan kayaknya mbak, mungkin karena masa muda dulu aku suka banget jalan-jalan ke gunung sementara suami nggak pernah, hihiii

    BalasHapus
  10. secara langsung menjadi petualang alaias sang petualang harus menyiapakan fisik yang hebat, jikalau sakit-sakitan itu tidak seharusnya ikut petualang

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangankan berpetualan naik gunung. Ngemall aja kalau badan lagi sakit buat saya gak nyaman :)

      Hapus
  11. wah asiknya..kepengen juga nyobain bareng keluarga

    BalasHapus
  12. Boleh juga idenya, memang selama ini yang paling deket ngajak anak2 cuma ke mall walau dah bosen :) tapi mau kemana lagi.

    BalasHapus
  13. Hai kak sukma dede! ^_^
    Aku mengikuti jejaknya nih bawa anakku jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. toss, Mbak! Saya juga mulai ikutan mas Sukma Dede, nih, Berpetualang bersama anak-anak :)

      Hapus
    2. Wah kalian....selamat bersenang-senang dan be safe!

      Hapus
  14. ide yang bagus mba, anak2 kan paling seneng yang namanya di ajak jalan2, wisata, apa lagi naik gunung tapi yang mudah di jangkau anak, kayanya seru

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, yang ringan-ringan aja dulu :)

      Hapus
  15. cita-citaku pengen ajak bocah kemping nih mba, belum kesampean, cari camping ground yang udah ready tenda utk dsewa hihi ngga punya peralatannya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang banyak kan camping ground yang udah menyediakan tenda :)

      Hapus
  16. wah, kayaknya seru tuh ngajak si kecil naik gunung
    tapi rewel nggak ya ntar? huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, hanya mas Fikr yang lebih tau tentang anak sendiri :)

      Hapus
  17. Kuncinya ada pada orang tua ya, Mak. Orang tua harus siap dulu. Begitu pun dalam mengajarkan hal2 lain, orang tua terlebih dulu sudah harus menguasainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! semuanya dimulai dari orang tua dulu :)

      Hapus
  18. Sayanya pingin, ayahnya anak-anak yang ogah. -,-
    Rasanya tuhhhh ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu saya dan suami juga berbeda selera. Tapi, salah satu ada yang mengalah. Trus lama-lama jadi hampir sama seleranya :)

      Hapus
  19. Belum pernah naik gunung sama anak-anak. TApi pengin ngajakin berkemah di tenda...

    BalasHapus
  20. Aku masih maju mundur mau naik ke kawah Ijen nih Mak Chi. Pasalnya si kakak kalau diajak berlatih, jogging lah paling enggak, pasti banyak alesan. Tapi dianya keukeuh banget mau ke gunung. ulisan ini bikin aku semangat lagi.TFS mak,

    BalasHapus
  21. Makasih ya mbak Myra udah berbagi disini 😃

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...