Jalan-Jalan KeNai

Blog family traveling tentang adventure, kuliner, hotel, dan tips perjalanan

Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri

"Kenapa lewat Gunung Putri?" tanya saya ketika suami mengajak kami mendaki Gunung Gede via Gunung Putri. Patinya ini juga akan menjadi pengalaman pertama saya dan anak mendaki gunung.

Berbeda dengan suami yang memang seorang pecinta alam, saya memang belum pernah naik gunung sama sekali. Makanya ketika suami mengajak mendaki gunung Gede, dia tidak hanya harus berhasil mebujuk saya. Tetapi, juga harus melewati diskusi yang cukup alot dan pertimbangan yang lumayan panjang.

Tidak hanya saya, anak-anak juga belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Kalau sekadar trekking ke air terjun atau danau udah cukup sering. Tetapi, mendaki gunung akan menjadi pendakian pertama. Tentunya akan menjadi tantangan bagi suami membawa 3 orang yang baru pertama kali mendaki. Saya pun harus kuat. Bagaimana kalau di tengah jalan sudah menyerah? Anak-anak juga bisa ikutan menyerah.

[Silakan baca: 14 Persiapan Menuju Everest]
 
pengalaman pertama mengajak anak mendaki gunung gede

Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri


Saya pun mulai googling tentang pendakian ini. Mencari tau perlengkapan naik gunung yang aman. Cari tau juga tentang jalur pendakian. Hmmm ... sebetulnya saya bisa aja tanya ke suami karena dia jauh lebih mengerti daripada istrinya. Tapi, 'kan gak ada salahnya cari tau sendiri juga.

Dari beberapa artikel yang saya dapatkan, Cibodas merupakan jalur pendakian ke gunung Gede terfavorit. Masih dari beberapa artikel yang saya baca, ada 3 jalur pendakian resmi ke gunung Gede-Pangrango yaitu melalui Cibodas, Gunung Putri, atau Selabintana. Jalur  Cibodas kelihatannya paling menarik karena paling banyak 'bonus'. Bonus yang dimaksud dalam pendakian adalah jalan landai. Selain banyak bonus, di jalur Cibodas juga katanya lebih indah karena banyak spot wisata alam yang bisa membuat Sahabat KeNai berhenti sejenak untuk menikmatinya. Jalur tersulit adalah lewat Selabintana. Lalu bagaimana dengan Gunung Putri? Hehehe ... Baca terus aja cerita ini sampai selesai. πŸ˜‚

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri
Melewati perkebunan penduduk. Kelihatan landai, ya? Padahal jalurnya udah mulai mendaki

Pendakian Pertama Bersama Anak


Setelah subuh, kami berangkat menuju Gunung Putri. Sesampainya di sana, kami bertemu dengan teman suami.  Selesai mengurus beberapa keperluan, kami pun mulai pendakian. Diawali dengan melewati kebun penduduk, tidak lama kemudian kami pun masuk hutan. Karena masih pagi, kami jadi bisa melihat aktivitas penduduk yang sedang berkebun. Aktivitas yang jarang kami temui di kota, ya kan?

suunto, gunung gede
mendaki gunung gede

Dari awal pendakian treknya terus menanjak hingga Alun-Alun Suryakencana. Rasanya minim bonus kalau lewat Gunung Putri. Untungnya di hutan, jadi kami tidak kepanasan.  Istirahat pertama sekaligus makan siang kami di ketinggian 2050 meter. Masih sekitar 700 meter lagi untuk sampai ke alun-alun Suryakencana.

700 meter dengan kondisi jalur yang terus menanjak tentunya berbeda dengan jalan kaki dari rumah ke minimarket terdekat meskipun jarak tempuhnya sama. Butuh hampir 5 jam untuk kami sampai ke alun-alun Suryakencana *Ini hitungan pendaki 'kura-kura- kayak saya, ya 😁

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri
Kalau lewat jalur Gunung Putri, sebagian besar perjalanan ada di dalam hutan

Saya dan anak-anak sama-sama pendaki pemula, tapi stamina kami berbeda. Anak-anak justru jauh lebih lincah dari saya. Mereka sampai bosan karena sebentar-sebentar saya minta berhenti. Memang sebetulnya tidak baik juga kalau terlalu lama berhenti. Semakin lama beristirahat, suhu tubuh akan semakin dingin. Memulai pendakian kembali ketika suhu tubuh semakin dingin malah jadi berat. Sama suami saya disarankan beristirahat sebentar saja, tapi trus konsisten jalan pelan-pelan. Akhirnya Keke jalan duluan sama porter daripada ikutan berhenti terus padahal dia lagi semangat.

Banyak juga yang mendaki via Gunung Putri. Seingat saya, tahun 2014 itu termasuk tahun politik. Di socmed berasa panas aja karena kebanyakan ngobrol politik. Makanya saya senang mendaki pada tahun itu. Sepanjang perjalanan gak terdengar satupun yang bicara politik. Semua saling sapa dan senyum. Apalagi melihat kami mendaki bersama anak-anak, banyak sekali yang memberi semangat ke Keke dan Nai. Sampai kadang-kadang saya malu sendiri karena yang seharusnya dikasih semangat tuh saya. Stamina saya kalah jauh ma anak-anak hahaha.

camping gunung gede
alun-alun suryakencana

Sekitar pukul 5 sore kami sampai di Alun-Alun Suryakencana. Ada untungnya juga Keke jalan duluan ma porter. Begitu kami sampai, tenda sudah terpasang dengan baik sehingga saya bisa langsung beristirahat sejenak. Porternya juga pintar mencari tempat. Tenda kami didirikan di area yang masih tertutup pepohonan tidak di alun-alunnya. Kalau di alun-alunnya kemungkinan lebih dingin karena angin dan tidak terlindungi oleh pohon.

Saya sempat menemani Nai berlarian di alun-alun Suryakencana. Tetapi tidak lama karena kabut semakin tebal dan udara semakin dingin. Saat saya dan suami berada di luar tenda melihat ada seorang pendaki seperti sedang mencari sesuatu. Ketika pendaki tersebut mendekat, suami pun bertanya. Ternyata pendaki tersebut tertinggal dengan rombongan dan kehilangan kontak.

Kronologisnya, dia sempat beristirahat dan teman-temannya jalan duluan. Suami menawarkan beristirahat sejenak di tenda kami karena hari mulai gelap, tetapi pendaki tersebut menolak. Alasannya semua peralatannya dibawa oleh rombongan, dia hanya membawa 1 senter. Mengertilah saya kenapa suami meminta kami membawa peralatan masing-masing termasuk anak-anak. Kalau sampai terpisah setidaknya di tas masing-masing ada sleeping bag, baju hangat, makanan, dan minuman. *Saat mendaki Gunung Prau, kami sempat hampir gak ketemu sama Keke dan porter

[Silakan baca: Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng]

Pengennya sih melihat langit yang penuh bintang di alam terbuka tetapi sejak maghrib gerimis mulai turun. Gak lama sebetulnya karena sebelum pukul 9 malam, suami mengajak keluar tetapi saya menolak. Udah terlanjur hangat kruntelan di tenda. Males aja kalau harus menggigil lagi.

Matahari udah mulai terbit, suhu 11 derajat. Masih lumayan dingin tapi malam lebih dingin lagi

sunrise di surken
Gagal melihat matahari terbit di puncak gunung Gede. Lihat dari alun-alun Suryakencana aja. Lumayan indah pemandangannya

Gagal ke Puncak Gunung Gede


Kalau Sahabat KeNai ingin melihat matahari terbit di puncak gunung Gede, disarankan berangkat kira-kira 1 jam sebelum subuh. Kami sempat dibangunkan untuk mulai mendaki lagi. Tapi rasanya malas banget. Bener-bener udah pewe di dalam sleeping bag. Lagipula badan makin berasa pegal setelah sekian jam mendaki. Anak-anak juga susah banget dibangunin.

Jangan kaget ya kalau dari subuh aja udah kedengeran ada yang jual nasi uduk. Bukan halusinasi atau hal-hal aneh lainnya, kok. Di alun-alun Suryakencana ini memang ada beberapa penjual makanan dan minuman. Kami sempat membeli 2 cup pop mie. Bukan karena kekurangan bahan makanan, tapi memang pengen jajan aja. Seingat saya harga 1 cup pop mie itu IDR10K. Lumayan mahal, tapi ya kalau mengingat yang jualnya juga harus mendaki dulu, jadi gak apa-apa lah. Cuma ya tetap mendingan bawa makan dan minum sendiri.

[Silakan baca: Rasanya Meminum Air dari Akar Gantung]

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri
Kalau lagi mendaki, biasanya Nai dan ayahnya yang memasak

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri
Saya dan Keke foto-foto sambil nunggu makanan selesai dimasak

Saya dan anak-anak sempat ditawari untuk kembali mendaki. Meskipun udah gak mungkin mengejar matahari terbit tapi setidaknya tetap muncak. Gak ada satupun dari kami yang mau. Udah pada mager di alun-alun Suryakencana πŸ˜‚

Jadi ingat saat mendaki, beberapa kali saya megeluh kenapa gak lewat Cibodas. Saya masih merasa lewat Cibodas lebih menyenangkan seperti yang diceritakan banyak orang di internet. Untungnya suami maupun porter gak pernah terlihat lelah menjawab pertanyaan saya yang berulang-ulang seperti anak kecil. Menurut mereka, lewat Cibodas memang banyak bonusnya tapi jaraknya jadi lebih jauh. Apalagi ditambah dengan banyak spot wisata alam, bisa makin lama sampainya.

Selain itu kalau lewat Cibodas, mau ke alun-alun Suryakencana harus muncak dulu. Sedangkan kalau lewat Gunung Putri ketemunya alun-alun dulu baru puncak. Setelah melihat sendiri seperti apa alun-alun Suryakencana, saya merasa senang karena lewat Gunung Putri. Kapan lagi melihat padang seluas +/- 50 hektar yang ditumbuhi banyak pohon edelweiss? Saat kami kesana, bunganya belum pada bermekaran tapi tetap aja indah untuk dilihat.

Sekitar pukul 9 pagi, kami bersiap untuk pulang. Suami kembali menanyakan mau pulang lewat Gunung Putri atau Cibodas. Kalau lewat Cibodas berarti harus muncak lagi? No, thanks! πŸ˜‚ Lewat Gunung Putri aja kalau turun kayaknya lebih menyenangkan hehehe.


Mendaki gunung bukan perkara menaklukkan atau siapa yang lebih cepat sampai puncak, tapi tentang menakklukan ego diri sendiri.

Ihiiiyy! Fasih banget ya saya berteori begini πŸ˜‚ Tapi memang bener, kok. Kalau belum sanggup atau berkesempatan mencapai puncak, gak usah dipaksakan. Gak usah berlarut-larut kecewanya atau woles aja kayak kami hehehe. Daripada kenapa-napa nanti malah repot. Masih banyak kenikmatan lain yang didapat meskipun gak sampai puncak.

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri
mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri

Saat mendaki, kami melihat banyak pendaki yang turun gunung dengan berlari dengan cepat dan terlihat masing-masing. Suami mewanti-wanti kami tidak untuk melakukan hal itu. Berlari memang enak, tapi jadinya kurang hati-hati. Kadang-kadang ada pendaki yang kecepetan berlari sampai tidak melihat petunjuk jalan di persimpangan misalnya harusnya belok malah lurus. Hal yang seperti itu bisa menjadi salah satu penyebab pendaki tersesat. *Duh! Jangan sampai kejadian, ya. Ngebayanginnya aja saya udah serem. πŸ˜–

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri
mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri

Kalau saat mendaki, Keke dan porter yang duluan sampai. Saat turun, kami bertiga (saya, suami, dan Nai) yang duluan. Tapi gak ditinggalin juga, tetap di depan sampai sejauh mata bisa memandang Keke. Kalau udah agak jauh, kami berhenti sejenak. Sepatu Keke kesempitan makanya saat turun dia agak lama karena kakinya lumayan sakit. Memang kalau mendaki itu sebaiknya pakai sepatu yang 1 nomor lebih besar dari biasanya biar gak sakit.


Turun gunung waktunya tidak selama saat mendaki. Lumayan cepat udah sampai bawah lagi. Kami beristirahat sejenak di rumah teman suami untuk ngeteh dan bebersih badan. Meskipun disediakan air panas, tapi kami gak ada yang mau mandi. Memilih cuci muka aja dan ganti baju. Udah pada malas πŸ˜‚

Makan malam dulu di resto Puncak Pass. Tapi kedatangan kali ini, udah gak ada semangat untuk foto-foto. Cape banget.

Selesai istirahat, kami melajutkan perjalanan. Makan malam dulu di restoran Puncak Pass. Restoran favorit anak-anak kalau lagi jalan-jalan ke puncak. Biarin ajalah meskipun belum pada mandi 2 hari juga yang penting udah cuci muka dan ganti baju. Abis laper juga πŸ˜‚

[Silakan baca: Restoran Puncak Pass]

Alhamdulillah, perjalanan pulang lancar. Entah apa karena ini pendakian pertama, pegelnya baru berasa banget setelah sampai rumah. Selama beberapa hari sesudahnya, mau naik tangga aja sampai rada ngesot. Pegel banget sekujur badan. Sebelnya cuma saya aja yang kayak gitu. Anak-anak dan suami kelihatan biasa aja. 😁

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri

Keterangan:

  • Ini adalah cerita tahun 2014 yang baru saya tulis sekarang. Saat itu Keke berusia 9 tahun dan Nai 7 tahun. Cerita ini merupakan pengalaman pertama saya dan anak-anak mendaki gunung.
  • Patuhi segala larangan. Sayangnya masih ada aja yang melanggar
  • Pada tahun 2014 belum larangan membawa botol plastik kemasan dan tissue basah. Kami membawa botol plastik kemasan sebagai tambahan saja karena botol yang paling banyak kami bawa adalah botol minum pribadi

mendaki gunung gede bersama anak via gunung putri

63 komentar:

  1. Asyik ya mba..udah bisa bertualang di alam bebas gini full team. Aku blm..malah bisa2 bonus nggendong anak 5 tahun😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akan ada waktunya, Mbak. Saya juga bisa begini setelah anak-anak gedean :)

      Hapus
  2. Seru banget mba! dan anak-anak happy ya...semoga kita juga bisa ikutan main ke gunung ini anti..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan-jalan Mbak Indah dengan keluarga juga selalu seru

      Hapus
  3. Serunya baca petualangan Mbak sekeluarga 😍 dan hebatnya lagi anak-anak kuat banget ya diajak naik gunung. Saya seumur2 belum pernah loh, jadi pengen nyoba kapan2 πŸ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena sejak kecil anak-anak saya udah biasa diajak trekking, Mbak

      Hapus
  4. Waduh anak juga di bawa daki Gunung Gede.. keren keluarga yang penuh tantangan

    BalasHapus
  5. Mbaaaak, jadi kapan mau naik ke puncak lagi? Nai sempet-sempetnya yaaaak, lelarian di alun-alun, bukannya udah lelah mendaki yaaa..anak-anak energinya berlebih euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tau, nih. Lagi gak bisa bepergian lama

      Hapus
  6. Belum pernah ngajak anak-anak naik gunung. Mungkin stamina anak-anak malah lebih kuat dari emaknya ini hahaha :D

    BalasHapus
  7. Wah seru banget, share dong klo daki sama anak2 perlu bawa apa aja ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada bedanya kok sama bawaan orang dewasa. Kayaknya harus bikin artikel lagi nih saya

      Hapus
  8. Aku masih awam banget sama naik gunung.. Pernah dulu sekali aja.. Keren Keke Nai udah diajak naik gunung.. Umur segitu udah gak terlalu ribet ya sama bawaan anak-anak mba Chi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka udah bis ajuga bawa bawaan sendiri :)

      Hapus
  9. Aku blm yakin sih kalo mendaki gini mba.. Anak2ku jg masih kecil, tp si kaka disuruh jalan dikit yg lempeng2 aja banyak bgt minta istirahatnya.. Apalagi disuruh mendaki hahahah.. Dan aku jg ga yakin aku sendiri dan suami kuat :p.

    BalasHapus
  10. Wow..menaklukkan ego diri sendiri :) Hhmm...ternyata begitu ya naik gunung? Hehehe aku belum pernah ke Gunung Puteri. Enak kayaknya tidur di tenda gitu. Kalau adikku sih pendaki gunung sampai ke Rinjani segala. Aku belum yakin mampu nih hahaha.. Nice story, mbak Myra :D

    BalasHapus
  11. Harga Pop Mie nggak di gunung, nggak di kapal, pukul rata 10 ribu :D
    Jadi total berapa jam perjalanan dari bawah sampai ke puncaknya Mbak?

    BalasHapus
  12. Nah bener banget Chi, aku tahun kemaren lagi seneng2nya naik gunung, tapi emang iya kalo mendaki gunung yuh bukan perkara menaklukkan atau siapa yang lebih cepat sampai puncak, tapi tentang menakklukan ego diri sendiri, kerasa banget yaa..!

    So, kapan2 naik gunung bareng aah! Udah lama stop ke gunung, musim ga karuan, kangen masak sosis kaya Nai gituuh

    BalasHapus
  13. Asik banget nih, kalau sama ajak anak gitu ya.
    Cara ini salah satu keinginanku disaat kelak sudah punya keluarga..

    BalasHapus
  14. dulu lagi mahasiswa sih naik lewat cibodas, seru ya, hebat nih anak2nya

    BalasHapus
  15. Aku belum pernah naik gunung juga

    BalasHapus
  16. Cuaca lg ekstrim gini berani bgt naik gunung. Salut lah yg suka daki mendaki..
    Kebayar sama pemandangan alam

    BalasHapus
  17. Seru banget ya naik gunung bareng kluarga. Jadi pengen nyobain tar mbak kl debay udah gedean (yaiyalah), hehe.. Anak kecil lbh lincah ya, noted :D

    BalasHapus
  18. Wih hebat Keke dan Nai di usia belia sudah berani naik Gunung Gede, saya saja ketika SMA cuma kuat naik ke Curug di Cibodas he he

    BalasHapus
  19. Indahnyaaa, ingin ke sana juga jadinya

    BalasHapus
  20. Wahh serunya.. Alun-alun Suryakencananya juga lagi bagus banget ya, Mba.. Keren deh Keke dan Nai kuat jalannya, semangaaaatttt :)

    BalasHapus
  21. Kalau pengalaman saya ke gede lewat Cibodas, turunnya baru lewat putri. Keren ih bisa bawa anak2 naik gunung. Saluttt

    BalasHapus
  22. Aku kapok lewat gunung putri mbak, cuapeeeee mana kehujanan banget waktu itu

    BalasHapus
  23. Bang ale kalau sudah besar mau diajak trip ke gunung ah, menyenangkan banget deh kayaknya.

    BalasHapus
  24. belum pernah seumur idup naik gunung. salut sama yg fisiknya kuat.
    seru yaa bawa anak2 naik gunung. mungkin kalo aku jadi nikah ama mantan yg anak gunung bakal begini juga hahaha

    BalasHapus
  25. Wah..asyik ya, berpetualang bersama satu keluarga..enak ya,kalau satu keluarga hobinya sama..

    BalasHapus
  26. Harus nih kesini aku belum pernah;)

    BalasHapus
  27. Aaaak, envy high level ni.

    Saya belum berhasil ni ngajak anak2 ngecamp, manalagi nanjak Rinjani lagi.
    Kabar2i kalo sampe sekeluarga nyampe Rinjani yaaa.
    Sapa tau bisa nanjak bareng kita. ^^

    Salam pagi dari Lombok.

    BalasHapus
  28. Mbak Chiiii, jadi kangen mendaki gunung ih baca postingan ini..

    BalasHapus
  29. Masha Allah mbaaa, salut aku bisa daki gunung. Soalnya aku termasuk manusia berfisik lemah sih, pulang pergi ke jakarta bogor aja besoknya sakit. Aturan mah di latih yaa, tapi apa daya lah kalau udah sakit sampai gak bisa gerak karena setiap bagian badan sakit :'(

    BalasHapus
  30. Ya ampun asik banget ya mbak. Aku juga punya mimpi naik gunung sekeluarga gitu. Seru pastinya.

    BalasHapus
  31. Mbak Chi dan suami rajin banget ya ngajak anak2 berpetualang. Ada ilmunua juga si ya he he. Meanwhile saya dan suami ga pernah naik gunung apapun hihihi. Keren banget apalagi anak2 baru 7 n 9 tahun.

    BalasHapus
  32. Menurut saya memang lebih enak itu kalau jalur berangkat dan jalur pulang berbeda. Misal berangkat via gunung putri dan pupang via cibodas. Jadi lebih ada pengalaman baru aja.

    Thanks sudah berbagi

    BalasHapus
  33. Ya ampun, kemarin baru ngobrolin mau naik gunung bareng suami dan anak-anak. Rencananya sih mau nunggu mereka kelas 3an SD dulu. Dan untuk jalurnya, fix mau dari Gunung Putri jugaaaa! InshaaAllah aku juga bisa walaupun baru pertama kali naik. Wehehehehehee. MAkasi sharingnya ya Mak Myraaaaaa

    BalasHapus
  34. Satu kata dari saya: LUAR BIASA. Tentunya seru dan sangat berkesan ya, Mbak, sama suami dan anak-anak mendaki bersama. Mantaps.

    BalasHapus
  35. waaaah seru! itu orang yg ketinggalan rombongan gimana kabarnya, Mba? dia nyusul temen2nya gituh?saya seneng hiking tapi kalo disuruh mendaki gunung untuk muncak mah gak mau hahahaha edan ah capek huhuhuhu pernah sih sekali muncak terus kapok hahaha

    BalasHapus
  36. Keren Mba...... Saya sama keluarga aja baru berani nyoba yg via Cibodas, hebat mba memutuskan manjat via Putri

    BalasHapus
  37. Wah keren nih ngajak anak-anak naik gunung. Memang perlu ya mbak mengenalkan anak-anak dengan alam dan melihat langsung kehidupan penduduk yang tinggal disana dengan kesederhanaannya, supaya anak-anak tahu ternyata masih banyak teman-teman mereka yang hidupnya sangat sederhana..

    Saya belum pernah naik gunung padahal ingin sekali loh, ibaratnya sampai mimpiin naik gunung heheh. Sebenarnya sudah lupa keinginan itu tapi setelah baca ini malah pengen lagi.

    Mungkin ke Gunung Ungaran saja yang dekat rumah. Dan nggak perlu sampai puncak juga kali ya karena faktor u itu sangat dominan. Sudah puas kalau hanya sampai kaki-kakinya saja atau siapa tahu lebih beruntung jika sampai punggungya meskipun nggak sampai kepalanya Ungaran. Aamiin.. :)

    BalasHapus
  38. Seru bisa jalan2 sekeluarga. Apalagi anak-anak sudah pada besar...

    BalasHapus
  39. Naik gunung sama anak,seruuuu bgt..baperr kan baca-nya

    BalasHapus
  40. Aku dari dulu kepengen banget ngajakin adekku yang paling kecil buat ngedaki gunung. Biar tau gitu enak enggaknya mendaki.

    BalasHapus
  41. hahahahah mba nya malah kebalikan sama saya, saya yang suka naik gunung bojo mah ga pernah malahan, pengen juga ajak anak dan rencananya yak lewat gunung putri karena memang lebih cepet sih...semoga anaknya kuat hehehehe

    BalasHapus
  42. Wah hebat itu, aku pertama kali naik gunung ya gunung gede via gunung putri, itu 12 jam mba, lama banget kek putri solo, tapi pulangnya lewat cibodas jadi muncak dulu, bener sih kalau bawa anak better lewat gunung putri karena gak lewat jurang yang ada air terjunnya itu

    BalasHapus
  43. wah saya belum pernah nih ngajak bocah naik gunung.. masih khawatir anak2 gak kuat.. hehe.. Tapi bolleh juga direncanakan naik ke gunung yang gampang dan gak pake nginep dl nih

    BalasHapus
  44. Salut anak-anaknya mau diajak naik gunung.
    Kalau saya sih lebih suka naik lewat Gunung Putri dan pulangnya lewat Cibodas, jadi lewatin jalur yang berbeda gitu lho (biar ada cerita yang berbeda pula)

    :)

    BalasHapus
  45. Pengalaman seru ya mb... Saya juga blm pernah naik gunung. Sepertinya kl nyoba juga bakal ngos-ngosan ini. Tapi menantang juga ya, kapan2 kalau ada kesempatan mau juga ah nyoba...

    BalasHapus
  46. Ya ampuuun Mbak Myr, indahnya mendaki gunung bersama suami dan anak-anak begini. Kalau pun kita kececeran pasti ada yang sabar nungguin. Terus lihat edelweis di mana-amana, aku kok pengen juga belajar mendaki ya. Hahaha apa masih kuat? Nanti pingsan lagi

    BalasHapus
  47. Lama tidak mendaki kok tida-tiba kangen ahahahha. Menarik rasanya mengenalkan anak kecil dengan alam, jadi dia paham bagaimana nantinya memperlakukan alam.

    BalasHapus
  48. Hi mba,

    wah pengalaman bagus banget nih pasti buat anak-anaknya. kelak saya juga mau ajak anak2 saya nanti buat mencintai alam daripada gadget haha.

    Cheers,
    Ogie

    BalasHapus
  49. Seru banget!
    Keke sama Nai pinter banget sih, kecil-kecil udah berhasil naik gunung. Pasti sekarang udah nambah lagi jumlah gunung yang didaki ya mbak.

    BalasHapus
  50. Ngiri sama Keke dan Nai, pasti jadi kenangan yang gak akan pernah lupa seumur hidup

    BalasHapus
  51. Sejak anak² kecil sampai dewasa belum pernah naik gunung bareng. Mungkin belum menemukan serunya kali yaa...Trims sharingnya jadi nambah pengetahuan...

    BalasHapus
  52. Seru banget sekeluarga mendaki gunung mbak. Inspirasi banget nih ntar klo udah berkeluarga. hahah

    Aku belum pernah naik gunung jalan kaki. Biasanya selalu off road. Terakhir offroad ke Gunung Putri lewat Lembang. hehe

    BalasHapus
  53. Mendaki gunung memang harus lihat petunjuk yang ada, jangan asal jalan aja yah

    BalasHapus
  54. Wah pasti pengalaman seru yg menyenangkan ya buat anak kalau diajak naik gunung kyk gini...

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Saat ini blog Jalan-Jalan KeNai sedang diperbaiki tampilannya. Mohon maaf bila terlihat kurang nyaman selama masa perbaikan.