Jumat, 12 Februari 2016

Mencari Anggrek Raksasa di Kebun Raya Bogor. (Tidak) Malu Bertanya, Tetap (Ter)Sesat si Jalan.

Mencari anggrek raksasa di Kebun Raya Bogor itu melelahkan hahaha! Padahal kami sudah bertanya, lho. Jadi kalau ada pepatah "Malu Bertanya, Sesat di Jalan", saat itu gak berlaku untuk kami. Karena kenyataannya, kami "Tidak Malu Bertanya, Tapi Tetap Tersesat di Jalan" hehehe.

Siang itu, Sabtu (6 Februari 2016), kami sedang makan siang yang kesorean di Lemongrass *Soalnya baru makan siang pukul 3 sore hehehe*

Nai: "Bunda, habis makan, kita mau kemana?"
Bunda: "Kayaknya istirahat dulu aja di hotel, ya. Atau berenang di hotel juga boleh. Jalan-jalannya besok aja."
Nai: "Besok, mau jalan-jalan kemana?"
Bunda: "Terserah. Ke kebun raya mau, gak?"
Nai: "Kenapa ke kebun raya?"
Bunda: "Kan, Ima pernah bilang mau ke kebun raya. Lagian, kemaren Bunda baca berita di salah satu media online, katanya di kebun raya lagi mekar bunga anggrek raksasa. Anggreknya itu cuma mekar 2 tahun sekali. Sekali mekar bisa 2 bulan, sih. Tapi, mumpung lagi di Bogor, kita lihat anggrek raksasa aja, gimana?"

Keesokan harinya ...


Kami menginap di Padjadjaran Suites Hotel, Bogor. Kami keluar dari hotel pukul 10.30 wib. Memutuskan untuk naik angkot saja menuju Kebun Raya. Dari hotel menuju Kebun Raya tidak suli, cukup menyebrang dan tunggu angkot 09 *Lupa jurusan mana. Pokoknya nomor angkotnya 09.* Sekitar 10 menit (kalau lancar) kami sudah tiba di pintu 3 Kebun Raya, Bogor.

Ini kali pertama Keke dan Nai jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor (KRB). Kalau buat saya, ke KRB bisa jadi semacam perjalanan nostalgia. Waktu kecil, KRB adalah salah satu tempat yang paling sering didatangi untuk piknik keluarga. Setelah besar, saya gak pernah ke KRB lagi selama bertahun-tahun. Baru tahun 2016 ini saya ke KRB lagi.

Setelah membayar tiket masuk seharga IDR14K, saya lalu bertanya ke salah seorang petugas yang berada di loket. Abis gak ada papan petunjuk di mana anggrek raksasa berada.

Saya: "Permisi, Mbak. Kalau anggrek raksasa yang sedang mekar ada di area mana, ya?"

Mbak yang saya tanya tidak menjawab sama sekali, dia hanya memalingkan muka ke arah teman di sampingnya.

Mbak A: "Ada perlu apa, Bu?"
Saya: "Iya kalau anggrek raksasa yang sedang mekar ada di area mana?"
Mbak A: "Anggrek raksasa?"
Saya: "Kemarin saya baca di internet, katanya ada anggrek raksasa yang sedang mekar di sini. Kejadian yang hanya terjadi antara 2-3 tahun sekali. Dimana lokasinya, ya?"
Mbak A: "Oh, mungkin di jalan Astrid, Bu."
Saya: "Dimana itu jalan Astrid? Jauh?"
Mbak A: "Enggak, kok. Dari sini, ibu tinggal belok kiri trus lurus aja. Gak jauh udah jalan Astrid. Tapi tunggu sebentar, ya, Bu."

Mbak A lalu menghampiri seorang petugas laki-laki yang berdiri di luar loket.

Bapak B: "Ibu mau lihat anggrek raksasa?"
Saya: "Iya, Pak."
Bapak B: "Mungkin ada di jalan Atrid, Bu. Dari sini belok kiri trus lurus aja. Gak jauh, kok."
Saya: "Baik, Pak."
Bapak B: "Tapi, kalau Ibu mau lihat anggrek mendingan di Griya Anggrek aja, Bu."
Saya: "Lokasinya dimana, Pak?"
Bapak: Dari sini lurus. Itu yang atap kacanya dari sini kelihatan. Di rumah kaca itu ada berbagai jenis anggrek."
Saya: "Saya gak mau lihat berbagai jenis anggrek, Pak. Saya cuma mau lihat anggrek raksasa. Kalau saya lihat foto yang di internet itu, kayaknya lokasinya di area terbuka. Menempel di salah satu pohon besar, bukan di rumah kaca."
Bapak: "Kalau begitu, Ibu coba aja dulu ke jalan Astrid. Tapi, saya gak tau pasti di sana ada atau enggak."
Saya: "Begitu, ya?"
Bapak: "Iya, Bu. Karena kalau di sini setiap petugas sudah punya pegangan masing-masing. Saya pegangannya area atas sini. Jadi gak tau area lain, Bu. Maaf, ya."
Saya: "Gak apa-apa, Pak. Terima kasih banyak, ya."
Saya mengerti kalau setiap petugas di sana sudah ada tugas masing-masing. Apalagi Kebun Raya Bogor itu luas. Tapi, saran saya, untuk sesuatu yang tidak terjadi setiap saat dan berpotensi mengundang banyak pengunjung untuk tertarik datang, ada baiknya semua petugas tau lokasinya. Contohnya kayak anggrek raksasa ini. Kan, katanya hanya mekar setiap 2 tahun sekali saja. Tentu ini akan sangat menarik untuk dilihat banyak pengunjung.

Tapi, yang saya rasakan saat di KRB, infonya minim sekali. Tidak ada banner bahkan petugas pun tidak tahu. Coba lihat web KRB pun tidak ada infonya. Sampai saya sempat berpikir apa jangan-jangan berita itu media online itu hoax?
Dari loket masuk, sesuai dengan arahan mereka, kami belok kiri. Berjalan lurus terus hingga sampai di persimpangan pertama. Ada papan petunjuk, ke kiri itu jalan menuju Green Garden Cafe. Jalan ke kiri sepi dan agak gelap karena rimbunnya pepohonan. Semua pengunjung berjalan terus. Kami pun mengikuti.


Di persimpangan kedua, kami kembali melihat papan petunjuk jalan. Ke sebelah kiri masih arah menuju Green Garden Cafe tapi jalannya lebih terang. Cafenya juga terlihat jelas dari tempat kami berdiri. Di sebelah kanan adalah jalan menuju masjid yang juga terlihat jelas masjidnya dari tempat kami berdiri. Jalan lurus, kami akan bertemu dengan kolam teratai raksasa.

Banyak pengunjung lebih memilih ambil jalan lurus. Di pinggir kolam teratai, ada taman yang luas. Banyak yang piknik di sana. Ada juga yang terus melanjutkan perjalanan ke area lain. Kami pun memilih untuk berjalan lurus. Sempat foto-foto sejenak di kolam teratai raksasa sebelum melanjutkan perjalanan.

15 menit ... 30 menit ... 1 jam ... Mana jalan Astrid, sih? Kata petugas di loket 3 jalan Astrid itu dekat, tinggal lurus aja. Tapi kami sudah berjalan sekian lama, entah udah berapa kali belokan kami lewati, gak ketemu juga dengan jalan Astrid. Kami pun akhirnya melihat papan penunjuk jalan. Lho, lokasinya dekat sama Pintu 3 tempat kami masuk? Tapi, perasaan gak lihat jalan Astrid?

Ketika berada di pintu 1 yang juga menjadi pintu utama, saya ingin bertanya ke petugas yang ada di sana. Tapi dilarang suami. Alasannya, paling sama aja jawabannya sama petugas di pintu 3. Suami menyarankan saya untuk bertanya ke salah seorang supir mobil wisata. Menurutnya, supir mobil wisata kemungkinan besar tau karena kerjaannya keliling KRB membawa para pengunjung.

Supir Wisata: "Oh, anggrek raksasa ada di jalan Astrid, Bu."
Saya: "Yakin, Pak?"
Supir Wisata: "Yakin, Bu. Nanti dari sini Ibu belok ke kanan. Ikutin terus jalannya, nanti ketemu jalan Astrid."
Saya: "Terima kasih banyak, Pak."

Tapi, kami memilih belok kiri dulu. Kalau lihat dari papan petunjuk jalan, gak jauh dari lokasi kami berdiri ada museum Zoologi. Kemudian kami ingin melanjutkan melihat istana dari KRB.

Batang-batang anggrek yang cukup rendah

Suami: "Ini jalan Astrid, Bun."
Saya: "Iya, tapi mana anggrek Raksasanya?"
Suami: "Itu kali di pohon besar yang di depan."
Saya: "Kalau lihat sulur-sulurnya, sih, mirip kayak yang di berita itu. Tapi mana anggreknya?"
Keke: "Iya, gak ada anggreknya."
Suami: "Coba lihatnya ke atas."

Anggrek raksasa yang dicari ada di ketinggiar sekitar 3 meteran dari permukaan tanah. Saya juga sedikit salah mengira. Tadinya dalam bayangan saya akan melihat anggrek dengan kelopak segede gaban eh raksasa. Eh, gak taunya kecil *tapi gak tau juga kalau lihat dari jarak dekat*.

Saya: "Trus, yang dimaksud raksasanya apanya? Kayaknya kecil-kecil kelopaknya?"
Suami: "Keseluruhannya kayaknya. Biasanya anggrek kalau nempel di pohon, kan, gak sampe sepanjang gini batang-batangnya. Bunga juga gak sebanyak itu ngegerombolnya. Mungkin itu yang dibilang raksasanya."
Saya: "Iya, juga kayaknya."

 
Anggrek raksasa atau dikenal juga dengan nama anggrek tebu karena batangnya yang mirip tebu. Ciri-ciri anggrek terbesar di dunia ini adalah
  1. Rangkaian bunga bisa panjang hingga mencapai 2 meter 
  2. Rangkaian bunga disetiap tangkai berjumlah 50-100 kuntum
  3. Panjang batang bisa mencapai 3 meter, menjuntai ke bawah
  4. Daunnya tipis dengan panjang 50-100 cm dan lebar 3-4 cm
  5. Berbunga serempak setiap 2 tahun dan bertahan mekarnya hingga 2 bulan
Alhasil, kami menghabiskan waktu hingga 2 jam berjalan kaki untuk mencari anggrek raksasa di Kebun Raya Bogor. Yang bikin ngikik adalah pohon anggrek itu ada di dekat masjid yang saya lihat! Yang di persimpangan dekat kolam teratai dan cafe. Trus, saya buka lagi portal berita yang menulis tentang anggrek raksasa itu. Di sana juga disebutkan lokasinya. Eyaampuun! Inilah kalau gak teliti membacanya hahaha.

Nai: "Coba tadi langsung tau, ya. Pasti udah pulang dari tadi. Kan, rencananya cuma mau lihat anggrek raksasa aja."
Saya: "Iya, mungkin kita memang harus keliling KRB dulu, Nak hehehe."

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 13.00 wib. Perut sudah lapar, mau keluar untuk cari makan lagi udah males. Pegel kakinya hehehe. Apalagi, di langit udah menunjukkan tanda-tanda akan hujan deras. Kami memutuskan untuk makan siang di Green Garden Cafe aja.


Saya gak tau sejak kapan anggrek raksasa ini mekar. Tapi, kabarnya baru-baru ini dan akan bertahan selama 2 bulan kalau sedang mekar. Kalau Sahabat Jalan-Jalan KeNai berencana mau ke Bogor dalam waktu dekat ini, coba mampir ke KRB. Siapa tau masih mekar. Ya, daripada menunggu 2 tahun lagi.

Berdasarkan pengalaman kami yang sempat nyasar itu, pohon anggrek raksasa paling gampang ditemui kalau masuk dari pintu 3. Paling dari pintu 3 cuma butuh jalan santai selama 10 menit saja. Atau kalau masuk dari pintu lain, patokannya kolam teratai raksasa atau cafe Green Garden. Dari situ, akan kelihatan masjid. Semoga aja gak ada Sahabat Jalan-Jalan KeNai yang nyasar kayak kami, ya hehehe.

Cerita lengkap jalan-jalan di KRB dan kulineran di Green Garden Cafe, di postingan berikutnya, ya.

38 komentar:

  1. Tgl 6 kesitunya? Ahahaha.. Saya tgl 7 kesitunya.. Rame bgt.. Tapi cuma jalan2 kejembatan sama keliling2 gtu.. Gatau kalo ada anggrek itu. Hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, memang infonya minim banget. Malah gak ada. Kalau saya gak sengaja baca salah satu portal berita, mungkin gak akan tau anggrek raksasa ini

      Hapus
  2. Wah bagus sekali. Sayangnya hanya tiap 2 tahun.
    Kapan ya bisa ke Bogor.
    Terima kasih atas repotnya
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2 tahun lagi ke Bogor, Pakde. Lihat anggrek raksasa :)

      Hapus
  3. Jadi kalau ga baca berita ga bakal tahu kalau itu anggrek raksasa ya mbak?

    BalasHapus
  4. Ya ampun itu judul, nyindir banget. Hahaaa... aku juga Kalau jalan2 muter sampai pegel Dulu baru ketemu.

    Sayang Ya kurang dipublish. Padahal potensi objek wisata banget tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak bermaksud nyindir, sih. Cuma sekadar memberi masukan. Sayang banget kalau sesuatu yang sebetulnya potensial menarik banyak pengunjung malah gak dimanfaatkan :)

      Hapus
  5. Wah ini gara - gara Astrid mbak, jadi mbak sekeluarga harus muter - muter terlebih dahulu. Tapi perjuangan sekeluarga keren loh mbak, pokoknya nggak mau menyerah begitu saja. Nah dengan begini kan mbak sekeluarga jadi saling berkomunikasi, iya kan? jadi serasa merasakan petualangan sesungguhnya. Keren! :-)

    BalasHapus
  6. bener-bener raksasa ya mba..anggreknya besar aja :)

    BalasHapus
  7. Apa-apa kalau dikelola pemerintah pasti minim petunjuk, minim informasi, pokoknya serba minim.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya yang seperti itu diperbaiki kebiasaannya

      Hapus
  8. Aku aja blm prnh mba sekalipun k krb :D. Palingan lewatin ya, tp masuk ga prnh.. So, trnyata anggreknya bgitu yaa.. Bkn pecinta tanaman sih, makanya sbnrnya aku bingung beda ama anggrek biasa :p.. Sama lah, aku pikir raksasa gede bgt gt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya gak harus pecinta tanaman aja yang ke KRB. Tapi piknik di KRB juga enak, lho

      Hapus
  9. Keren semangatnya sekeluarga, pantang menyerah. Hehee.
    Saya malah belum pernah ke Kebun Raya Bogor, eh ke Bogor aja belum pernah. Kapan ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk nanggung, Mbak. Mumpung lagi di Bogor :D

      Hapus
  10. tetanggaku suka banget sama anggrek, dirumahnya ada macem macem anggrek sampe kaya kebon tapi aku malah ga ngerti bagusnya anggrek sampe di gilai gilai. huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mertua saya koleksi anggrek. Kalau saya sih seneng aja lihat bunga :)

      Hapus
  11. wahahaha... sy ngebayangin anggrek warna merah/ungu mekarnya segede bunga bangkai... ternyataaa :D

    BalasHapus
  12. itu pohon yang ditumpangi oleh anggrek masih kuat ya :) hehe

    BalasHapus
  13. Pernah ke sana dua kali. Anak-anak seneng bisa lari-larian. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya memang asik piknik di sana. Orang tua saya sering mengajak kami piknik di sana :)

      Hapus
  14. Waah lumayan gempor juga ya Mba 2 jam keliling KRB cari si anggrek.. :)

    BalasHapus
  15. Tipikal tempat wisata di Indonesia, selalu masalah penunjuk arah. Di dalam Ancol saja penunjuk jalan ada tapi tidak jelas.... hadeh..

    Tapi saya harus ke sana nih, ingin tahu di mana jalan astrid itu, mencari jalan sesuai dengan nama sendiri... :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang masalah deh kalau petunjuk jalan udah gak jelas begitu :)

      Hapus
  16. walaupun saya orang Bogor rasanya gak bosa berkali-kali main ke KRB, etapi kok ya aku belum paham tanaman khusus anggreknya sebelah mana

    BalasHapus
  17. Nah lho... sudah kemana-mana ternyata di dekat saja. hehehe...
    tapi kalau saya juga pasti mengira kelopak bunganya besar gitu. hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga awalnya menyangka begitu

      Hapus
  18. Sebesar-besarnya suatu arena, bukannya mereka selalu ada briefing ya? Kalau obyek wisata lama sukanya begitu, belum terbuka jalan pikirannya bhw penting banget utk informatif dimanapun pengunjung berada. Biasanya kan mereka bisa berkomunikasi via HT atau telpon ke pusat informasinya ya, bantu nanyain gitu. Kalau obyek2 wisata baru biasanya sangat ramah & informatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah, Mbak. Untung lokasinya nyaman buat wisata anak. Ya jadi sekalian aja lah jalan-jalan. Walaupun tetap aja ada rasa kesal sedikit :D

      Hapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...