Camping di Tanakita

Setahun yang lalu, Keke bilang mau ajak teman-teman dekat di SMPnya camping di Tanakita. Mumpung tahun ajaran baru belum dimulai. Apalagi tidak ada satupun dari mereka yang melanjutkan ke sekolah yang sama.  



Camping di Tanakita


Kami pun langsung menyetujui. Apalagi ini bukan pengalaman pertama. Waktu Keke lulus SD, dia juga ajak beberapa temannya perpisahan di Tanakita. Cuma bedanya kalau kali ini ada beberapa anak perempuan yang diajak. Waktu SD anak laki-laki semua.  

[Silakan baca: Acara Perpisahan Sekolah di The Highland Park Resort & Hotel, Bogor]


Drama Dimulai Sejak Keberangkatan


stasiun cawang atas

Ada 8 anak yang diajak sama Keke. 4 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Waktu SD dia mengajak 12 anak.

Saya pikir karena udah punya pengalaman sebelumnya, akan lebih gampang. Apalagi ini 'kan anak-anak SMP. Udah masuk usia remaja. Ya gak perlu dijaga-jaga banget. Paling saya sempat ketar-ketir ketika tau ada anak perempuan. 

Ternyata saya salah! Justru anak laki-laki yang banyak dramanya sejak awal keberangkatan.

Sejak beberapa hari sebelumnya saya udah minta Keke kasih tau ke teman-temannya barang apa aja yang harus dibawa dan pukul 5 subuh sudah harus berkumpul di stasiun Cawang Atas. Gak boleh telat!

2 anak laki-laki menginap di rumah kami sejak sehari sebelum berangkat. Menjelang pukul 5 subuh, semua teman Keke sudah berkumpul kecuali 2 orang anak laki-laki yang tidak ikutan menginap. Di telponin berkali-kali dan kirim pesan ke LINE juga gak dijawab.

Kami mengundurkan jadwal naik kereta sekitar 30 menit. 2 anak itu baru menjawab. 1 anak ternyata salah mengingat tanggal. Dia pikir berangkatnya besok, mana belum packing. Ya udah ditinggal.

1 anak lagi abis sholat Subuh malah lanjut tidur lagi. Ibunya sampai nelpon ke saya, memohon supaya ditungguin karena anaknya udah packing dan nungguin banget jalan-jalan ke Tanakita. Hadeuuuhh! 

Ya gak mungkin juga kami nungguin di stasiun Cawang Atas sampai itu anak datang. Bisa ketinggalan kereta ke Cisaat. Saya bilang menyusul aja ke stasiun Bogor sekarang juga. Tetapi, kalau sampai terlambat, dengan terpaksa kami tinggal.

Kami pun berangkat. Begitu sampai stasiun Bogor, Nai dan ayahnya langsung menyebrang ke stasiun Paledang untuk mencetak tiket. Sedangkan saya, Keke, dan teman-temannya menunggu di stasiun Bogor.

Waktu rasanya berjalan lamaaaaa banget. Anak yang ketinggalan gak juga datang. Sekalinya datang, ada 1 lagi anak laki-laki tiba-tiba menghilang. Ditelponin gak bisa. Setelah dicari, rupanya dia lagi di toilet karena sakit perut.

Saya pun menyuruh semua langsung berlari menuju stasiun Paledang. Apalagi suami udah berkali-kali nelpon. Kasih tau kalau kereta sebentar lagi mau berangkat.

Buat Sahabat KeNai yang pernah ke stasiun Bogor, pasti paham deh kalau nyebrang di sini tuh gak mudah. Harus naik jembatan penyebrangan yang lumayan tinggi. Mana kalau pagi hari kan crowded banget tuh di sana.

Saya, Keke, dan semua anak perempuan udah berlari kayak ngejar maling hahaha. Eh, 3 anak laki-laki lainnya jalan santai banget, dong. Saya langsung minta Keke untuk ajak teman-teman yang perempuan ke stasiun Paledang. Sedangkan saya menunggu anak laki-laki dari seberang sambil teriak-teriak minta mereka lari. Bikin saya jadi tontonan aja.

Tapi, karena suasana sedang ramai, mereka gak melihat saya berteriak-teriak. Setelah menyebrang, baru deh mereka langsung lari. Minta ampun deh ini bocah-bocah! Hehehe.

Seumur-umur, baru kali itu saya berlari sekencang-kencangnya dari stasiun Bogor ke Paledang sambil gendong ransel yang berat pula. Kalau bukan karena takut ketinggalan kereta kayaknya gak bakal mau lagi deh saya lari kayak gitu.

Drama belum selesai, kami nyaris tidak bisa masuk karena Keke dan teman-temannya dianggap sudah dewasa. Mereka tidak bisa menunjukkan KTP untuk dicocokkan ke tiket. Ya jelas aja gak punya, mereka masih pada bocah cuma badannya aja yang bongsor. Untungnya ada yang bawa kartu pelajar. Jadi tau deh kalau mereka memang masih anak-anak.

Begitu semua naik, kereta pun langsung jalan. Huff! Nyaris aja kami ketinggalan kereta. Tadinya saya berharap bisa beristirahat sepanjang perjalanan menuju Cisaat. Lumayan 'kan sekitar 2 jam. Apalagi baru berasa lelahnya setelah di kereta.

Tapi, saya gak bisa istirahat sama sekali. Suasana di dalam kereta sangat ramai. Banyak rombongan keluarga dan anak-anak kecil. Mayoritas turun di Cisaat.

Sejak ada Jembatan Gantung Situgunung, memang banyak wisatawan yang naik kereta. Padahal dulu yang turun di Cisaat cuma sedikit.

[Silakan baca: Kalau Roker The Flash ke Tanakita]

Aktivitas Glamping di Tanakita


rundown acara tanakita
makan siang di tanakita
Makan siang dulu

Ngapain aja selama di Tanakita? Tadinya, kami ingin langsung ke jembatan gantung. Tetapi, melihat banyaknya wisatawan yang ke sana, rencana pun berubah. Setelah beristirahat sejenak, menaruh barang di tenda, dan makan siang, kami jalan-jalan ke danau Situ Gunung.
 

Danau Situgunung

jalan-jalan ke danau situgunung

Udah lama kami gak camping di Tanakita, ternyata banyak perubahan yang terjadi. Tidak hanya ada jembatan gantung aja. Tetapi, beberapa tempat wisata lainnya juga lebih tertata.

Jalan menuju danau Situgunung juga sudah dicor. Tidak lagi jalanan alami yang masih tanah dan bebatuan. Bagi beberapa wisatawan mungkin ini terasa menyenangkan. Tetapi, bagi kami malah jadi kurang nyaman.

Jalan menuju danau masih diportal. Kendaraan yang boleh masuk hanyalah ojek atau pihak yang berwenang. Tetapi, sejak jalanan dicor, banyak wisatawan yang dari atau menuju danau dengan menggunakan ojek. Mana ngebut-ngebut pula ojeknya mentang-mentang jalanan udah mulus!

Buat kami yang senang berjalan kaki menjadi gak nyaman . Gak bebas lagi berjalan karena harus selalu berada di pinggir. Jalanan mulus begitu justru malah bikin cepat capek. Kalau masih jalan tanah, lebih nyaman buat ditapak.

Beda banget waktu aksesnya masih alami. Paling sesekali aja ojek lewat. Wisatan juga kayaknya mikir panjang dulu kalau mau naik ojek dengan kondisi jalan seperti itu. Lagipula sengebut-ngebutnya gak kebangetan.

piknik di danau situ gunung

Gak hanya jalanannya, di kawasan wisatanya juga terlihat ada perubahan. Jadi lebih tertata dan rapi. Saya melihat banyak yang menawarkan jasa menawarkan tikar. Berarti di waktu tertentu kawasan danau ini ramai. Padahal dulu gak ada jasa ini.

fasilitas di danau situ gunung

Toilet dan musholanya juga udah rapi. Dulu, lihat penampilan toiletnya luar toiletnya aja udah malesin. Kelihatan jorok gitu. Etapi, yang baru ini saya juga gak masuk ke dalamnya, ya. Mudah-mudahan aja juga lebih bersih.

[Silakan baca: Romantisan di Situ Gunung]

aktivitas di danau situgunung
main perahu di danau situ gunung

Setelah sampai danau, anak-anak perempuan sempat galau antara pengen naik perahu dan enggak. Tapi, akhirnya semua memilih ngobrol di pinggir danau. Sekitar 30 menit lah kami di sana, kemudian balik ke Tanakita.

flying fox di tanakita
 

Pulang dari danau, kami main Flying Fox dulu. Teman-teman Keke sih yang main. Kami cuma nungguin aja. Kami udah keseringan mai flying fox di sini hehehe.

Suasana Sore di Tanakita

aktivitas di tanakita 
jalan-jalan ke suspension bridge situgunung

Suami ingin menemui temannya di Suspension Bridge Situgung. Saya pun ikut. Penasaran dengan jembatan gantung yang katanya terpanjang di Indonesia ini.

Nai, Keke, dan teman-temannya memilih tetap di Tanakita. Kalau Nai beristirahat di tenda. Sedangkan Keke dan teman-temannya asik becanda sambil sesekali main musik. 

Keke dan teman-temannya yang laki-laki tidak hanya teman satu sekolah. Tetapi, mereka suka main musik bareng. Dulu hampir setiap hari mainnya ke studio musik buat latihan. Makanya saat camping pun tetep aja bermusik.

Suspension Bridge Situgunung

jembatan gantung situ gunung
Suspension Bridge Situgunung

Sedang nyenyak tidur, saya terbangun karena mendengar ada seseorang yang ngoceh di luar. Saya lihat ke jam yang ada di hp. Masih pukul 3 dinihari. Ini bocah-bocah pada gak tidur apa, ya?

Rupanya ada 1 anak laki-laki yang belum tidur. Dia pun membuat keramaian dengan membangunkan teman-temannya. Setelah semua pada bangun, giliran dia masuk ke tenda dan tidur. Ngeselin memang hahaha!

Ternyata dia gak bisa tidur karena teman-temannya pada gak mau diem tidurnya. Mana dia badannya paling kecil. Makanya dia akhirnya ngegangguin semuanya supaya pada bangun hihihi. 

[Silakan baca: Uji Nyali di Jembatan Gantung Situgunung]

jembatan gantung terpanjang di indonesia

Pukul 6 pagi kami jalan kaki ke jembatan gantung. Memang sengaja pagi-pagi supaya masih sepi. Tapi, ada 1 anak yang cuma pakai sandal jepit.

Pada saat berangkat ke Tanakita, saya sudah melihat anak ini menggunakan sandal jepit. Tapi, masih dibiarkan karena saya pikir sepatunya mungkin disimpan di tas. Ternyata dia gak bawa sama sekali. Beneran cuma pakai sandal jepit. Padahal Keke sudah kasih tau teman-temannya apa aja yang harus dibawa.

Suami saya cukup tegas untuk hal ini. Kalau hiking dilarang pakai sandal jepit karena kurang aman. Makanya teman Keke ini sempat diminta untuk tidak ikut. Untungnya ada salah seorang anak yang bawa sandal gunung. Jadi teman Keke masih dibolehkan ikut dengan meminjam sendal temannya.Untung aja ukuran kakinya sama.

Oot sedikit, ya. Pakai sandal gunung juga suami sebetulnya kurang sreg ketika melakukan hiking karena keamanannya tetap dianggap kurang. Pernah ada kejadian, saya menginjak beling dari pecahan botol. Untung aja saat itu pakai sepatu. Kalau pakai sandal gunung, kemungkinan bagian pinggir kaki saya masih bisa terluka. Apalagi kalau hanya pakai sandal jepit. Itulah kenapa suami saya cukup tegas dengan peraturan ini. 

[Silakan baca: Sepatu Kets Itu Wajib]

Curug Sawer

jalaur lama menuju curug sawer
Jalur lama seperti ini tracknya
ke curug sawer via jembatan gantung
Track ke curug sawer bila melalui jembatan gantung
jalan-jalan ke curug sawer
Tetap ada jalur alami

Dari jembatan, kami menuju ke curug sawer. Jalan menuju curug melalui jembatan gantung semacam short cut. Tetapi, tentunya ada harga yang harus dibayar. Kalau mau gratis ya lewat jalur lama.

Jalan pintas bukan berarti lebih mudah. Tetap aja capek, apalagi buat yang gak terbiasa olahraga. Jalurnya juga masih alami. Jadi memang sebaiknya berpakaian senyaman mungkin seperti mau hiking.

fasilitas di curug sawer
Kantin di curug sawer
mushola di curug sawer
Mushola

Di Curug Sawer juga ada kantin dan mushola. Tetapi, belum serapi di danau. Kalau toiletnya saya gak tau. Kayaknya saya gak melihat ada toilet.



Kami gak berlama-lama di sini. Udara masih terasa dingin, apalagi airnya Jadi cuma lihat air terjun sebentar setelah itu balik lagi ke jembatan.

Tanakita Riverside

tanakita riverside

Nai pengen banget main air. Makanya kami memutuskan untuk lanjut ke Tanakita Riverside. Tetapi, sarapan dulu di De' Balcone Resto.

de' balcone resto situgunung 
sarapan di jembatan gantung situgunung

Padahal di Tanakita juga disediakan sarapan. Tetapi, kalau kami balik dulu pasti abis itu pada mager. Makanya mending sarapan di luar abis itu lanjut ke riverside.

Riverside memang masih milik Tanakita. Hanya saja lokasinya terpisah. Suami tadinya mengajak jalan kaki menyusuri sungai. Saya sih setuju aja. Tapi, yakin teman-teman Keke gak akan ada yang sanggup. Waktu pergi-pulang ke curug aja pada kecapean gitu. Apalagi kalau harus lanjut jalan kaki ke riverside. Makanya, kami pun memutuskan untuk carter angkot.

camping di tanakita riverside

Sampai Tanakita Riverside mereka langsung pada nyebur. Puas-puasin deh main air di sini. Dan gak akan ada wisatawan luar selain tamu Tanakita yang boleh main. Apalagi saat itu lagi gak ada tamu. Jadi berasa kayak di sungai pribadi hahaha.

Biasanya di depan pintu masih Tanakita Riverside banyak angkot yang mangkal. Karena dulu, wisatawan yang mau main ke curug banyak juga yang memilih naik ojek daripada jalan kaki lewat jalur lama. Nah pintu masuk jalur ojek ada di dekat Tanakita Riverside.

Tetapi, sejak ada jembatan gantung Situ Gunung, jalur ojek ini menjadi sepi. Malah kayaknya udah gak ada yang naik. Makanya angkot pun gak ada yang mangkal lagi. Kebanyakan pindah ke area pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango karena lebih banyak yang naik. Makanya kami harus sedikit berjalan kaki. Sampai menemukan angkot yang lewat dan mengantarkan kami balik ke tenda.

glamping di tanakita
Acara bebas dan siap-siap untuk pulang

Setelah sampai tenda, acara bebas. Terserah mau mandi atau istirahat dulu. Pastinya harus packing juga karena siap-siap pulang kembali ke Jakarta.

Untungnya perjalanan pulang gak terlalu banyak drama. Mana seingat saya, kami pulang hari Senin. Barengan banget dengan jam pulang kantor. Commuter Line sangat ramai. Kalau sampai drama lagi kayaknya saya bakal menyanyi ala-ala sinetron di salah satu tv swasta "ku menangiiiiisss ...." 😂

Jadi kangen banget camping di Tanakita. Udah setahun lebih belum ke sana lagi. Pengennya naik kereta. Pergi jangan, nih?


Tanakita


Jl. Kadudampit KM 09
Taman Nasional Gede Pangrango
Sukabumi, Jawa Barat 43153

Phone: 08119417845 / 0878 20631452

tanakita.id

IG: @tanakitaofficial

 

You Might Also Like

113 comments

  1. kayaknya kalo kamping di TANAKITA petugasnya pasti punya protokol kesehatan yg sangat ketat ya Mak.
    Akuuu jadi pengiiinnn kemping ke sini.
    ENJOY banget pastinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. pastinya, Mbak. Karena untuk keselamatan dan kenyamanan bersama :)

      Hapus
  2. saya membayangkan jalan di jembatan gantung itu, ngeri-ngeri sedap ya, terutama yang takut ketinggian.

    Pembangunan akses ke lokasi wisata emang ada plus minusnya ya mbak. Jalanan mulus, jadi pada ngebut, menganggu pengunjung lain yang ingin berjalan pelan sambil menikmati suasana

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul. Tetapi, saya tetap lebih suka yang lama karena lebih alami juga rasanya :D

      Hapus
    2. Iyaaahhh, daku juga mupeng bangettt coba jembatan gantungnya
      Pasti mixed feeling, antara excited, rada2 ngeri sedap, tapi pengin eksis juga di poto ye kaaann

      Hapus
  3. InsyaALLAH tahun depan moga2 ada rezeki dan kesempatan main ke sini.
    Corona segera enyahlaahhh

    BalasHapus
  4. Ih ini asik banget ya mak Chi, pengen juga ngerasain camping gini sama keluarga. Kayaknya banyak banget deh list liburan sehabis pandemi nanti, sekarang mah dicatatin dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya saya betah di sini. GAk mau kalau cuma semalam hahaha

      Hapus
  5. Wah menyenangkan sekali kalau bisa kesana walau agak merinding lihat jembatan gantung sama hammocknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi, seru lho jalan di Jembatan gantung. Apalagi tiduran di hammock hehehe

      Hapus
  6. Aku ngakak bacanya di pargraf yang banyak dramanya, yang kebetulan melibatkan anak lelaki. Duh sebagai ibu beranak lelaki dua, benaran dah, saya ikut merasakan apa yang dirasakan Mbak Myr dalam drama ini wkwkwkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ternyata malah anak laki-laki yang penuh drama hahaha

      Hapus
  7. Wah, aku sudah beberapa kali lihat teman yang berfoto di jembatan gantung ini, ternyata di sekitarnya banyak area lain untuk menikmati alam..Keren sekali ya Tanakita ini...cocok untuk dikunjungi ramai-ramai sama keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak, Mbak. Makanya enakan kalau ke sini tuh sekalian menginap

      Hapus
  8. Kwkwk..baru tahu ternyata yang penuh drama anak laki-lakinya ya haahha
    Seru banget camping rame-rame begini, jadi mupeng camping. Oh ya pakai sepatu memnag paling aman ya, soalnya kuatir di jalan ada benda tajam kek beling atau apa
    Ya ampun Keke dan teman-temannya masih solid banget ya meski sekolahnya beda-beda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak menyangka, kan? Hehehe

      Betul, Mbak. Memang baiknya pakai sepatu

      Hapus
  9. Kangen kemping Tanakita atulaaah, main offroad lagii, uji nyali dan waktu itu belom ada jembatan situ gunung yaaa. Ahh pastinya seruu pengalaman kemping anak2 cowo maah, apalagi masa2 abege kek gitu, kbayang hebohnya yang satu ga bisa tidur dan ngeganggu yang lainnya, hahaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kuy lah kita kemping di sini lagi. Seseruan bareng lagi :D

      Hapus
  10. Setahu lalu, ini uda didraft atau memang baru skarang nulisnya mbak? detail ceritanya kayak baru kejadian kemaren hehehe:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah saya tulis potongan-potongan ceritanya sejak kepulangan dari sini di FB. Jadi tinggal disatukan di blog aja ^_^

      Hapus
  11. Bayangin kak Myr yang super rempong ngurus para ABG-ABG ini...
    Ini orangtua lainnya pada gak ikut apa, kak?
    Yang perempuan pun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak ada, Mbak. Hanya anak-anaknya aja yang ikut

      Hapus
    2. Kak Myra super sekali...
      Dan camping di Tanakita semua fasilitas sudah jadi hanya tinggal membekali diri dengan list kebutuhan selama menginap di Tanakita.

      Seneng sekali..

      Hapus
  12. Tiap kali Mbak Chi cerita tentang camping di Tanakita tuh jadi pengen camping ke sana. Semoga suatu saat bisa. Tapi tulisan ini jadi reminder buat saya untuk memperhatikan bawaan anak tertama anak cowok kalau mereka mau camping atau bepergian sendiri nggak sama ortu.

    BalasHapus
  13. Seru bacanya pergi bareng anak2 remaja gini ya mba, ngaturnya itu loh ternyata gk bisa ontime Juga.. tapi pas smp tujuan Jadi happy iya

    BalasHapus
  14. Huwaaaaa... menyenangkan sekali, mbak.. apalagi anak2 yang dibawa, udah pada gedhe2. Jadi udah bebas ngga ada yang nggelendotin minta gendong.

    BalasHapus
  15. Keren banget emang Tanakita, pengen deh suatu saat ke sana, moga-moga ada rezeki waktu, kesempatan, dan perbekalan ke sana

    BalasHapus
  16. Mba mobil city car bisa gak ya masuk ke area tanakita? Seru sekali tempatnya

    BalasHapus
  17. Ya ampun. Sebagai tim sandal jepir kemana2 garis keras aku baru tau kalo sandal jepit tyt tidak semultifungsi yg aku pikirkan. Wkwk. Thanks banget loh mba remindnya. Krn aku mmg sangat amat jarang jalan2 jd mungkin kalo gak baca artikel ini aku gak tau blass soal ini. Smg suatu saat nanti bs jalan2 kesini jg. Senang banget liatnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau hiking memang sebaiknya jangan pakai sandal jepit :)

      Hapus
  18. Ini satu yang bikin ngiri dari Mak Chi. Rajin jalan-jalan ke alam bareng anak-anak. Huhu kepengen banget bisa camping di alam langsung begitu kayak di Tanakita. Belom kesampaian aja. Paling cuma siang aja, naik gunung. Semoga abis pandemi bisa deh mewujudkan keinginan untuk bisa camping bareng anak-anak ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya pengen banget pandemi segera berlalu

      Hapus
  19. Dulu awal-awal Tanakita dibangun, suami saya suka bantu-bantu jadi volunteer di sana. Kalau lihat foto-fotonya udah ngebt banget kemping dan main ke Situ Gunung. Sayang udah pindah ke Batam. Nunggu ke sana saat pulkam saja.

    BalasHapus
  20. Wuaaaaa. baca postingan inijadi ga sabar mau boyongn bocil trio biza gedean dikit... Hmm.. mungkin 3-4 tahun lagi kali yak... Semga bisa memperkenalkan mereka dengan aktivitas2 seru dan padat imu dialam sana.... Btw.. Mba Myra kapan dan ke mana dulu ngajak keke dan nai camping?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama kali camping ya di Tanakita. Waktu Keke usia 1 tahun lebih dan saya lagi hamil 4 bulan. Tanakita memang tempat camping yang ramah anak :D

      Hapus
  21. I haven’t really got a chance to go camping here in Indonesia. Kayaknya seeuuu abis dan musti dicoba kalau sudah okeee

    BalasHapus
  22. Hadeeeh ikut deg degan baca pembukanya Mak. Wakakkaka

    Keren euy. Kalo saya mah udah pasti bakal marah marah itu. Apalagi saya mudah capek dan gak bisa lari cepet.

    Etapi itu terus kebayar ya Mak setelah sampek tempat. Kayaknya seru.

    BalasHapus
  23. Wah...jadi pengen kemping lagi. Lihat situasi di sana kayaknya nyaman dan adem ya ...
    Suasananya indah sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya saya gak pernah puas kalau cuma semalam :D

      Hapus
    2. Ahhhh, kangen ke TAnakita lagi, cuss ahh kemping di sana agendain barengan sama teh nurul juga yang suka kemping.
      Seseruan pake jeep hadududuu

      Hapus
    3. Yuk ke sini lagi kalau situasi udah memungkinkan

      Hapus
  24. Asyik banget ya Mbak kayaknya camping di Tanakita. Apalagi anak-anak, siapa yang enggak betah di sini coba? Hihi.
    Btw itu jembatan Situgunung manarik banget.. dan challenging banget, yaa :)

    BalasHapus
  25. Ini sih puas banget campingnya mba, gemes banget pengen nyempil ikutan juga
    sekeluarga pasti seru banget.

    BalasHapus
  26. Wishlist banget itu ke Suspension Bridge Situgunung, dari sebelum pandemi pengen ke sini belum kesampaian juga sampe sekarang. Semoga wabah segera berlalu dan bisa ke sini

    BalasHapus
  27. Haha kebayang gregetan yah sm tingkah abege cowo itu tp smua trbayar yah mba sm perjalanan yg menyenangkan..

    Mau ah nyoba nginep disana. Thx for the infonyah mba! Smoga yg nanti petugasnya taat sm protokol kesehatan biar pengunjung merasa aman..

    BalasHapus
  28. Aku kapan ya terakhir ke Situ Gunung? Sudah lebih 10 tahun yang lalu kali, Mbak Myr. Jadi lihat dari foto-foto di atas emang sudah banyak perubahan di kawasan sana ya. Tak hanya jalannya yang sudah dicor, penataannya tampaknya juga lebih rapi

    BalasHapus
  29. Dramak banget awal perjalanannya ya. Kalau ga tegas ga berangkat deh. Penasaran pengen glamping ke tanakita ini. Asik kayaknya sejuk. Dulu pernah ke jembatannya doang nyari konten hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya masih ingat konten yang Kang Aip buat hahaha

      Hapus
  30. Pengeeen deh sekeluarga camping di Tanakita kayak gini. Semoga punya dana dan kesempatan ya buat camping di sana suatu hari nanti

    BalasHapus
  31. Seru banget camping di Tanakita. Paginya bisa main ke suspension bridge dan sepi. Trus ke air terjun. Trus main air. Ya ampun,, pengennnn.

    BalasHapus
  32. Aduuuh...foto2nya bikin mupeng banget pengen kemping ke sini juga. Tapi..hiking nya kuat gak yaa??*ngelirik lutut..haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. BTW, baca drama di awal perjalanan ini aku ikut deg2an..haha.. Remaja memang menggemaskan..

      Hapus
  33. Ahaha, ribet juga ya jalan sama anak-anak yang baru mau gede ini.
    Anak-anak umur segini memang kadang terlalu menggampangkan sesuatu.
    Setuju kalau mendaki harus menggunakan sepatu, kalau bisa pun sepatu gunung dan bukan sepatu trailrun, karena sepatu gunung yang tinggi melindungi hingga ke atas mata kaki.

    Seneng ya mereka masih bisa jalan-jalan gini. Coba lihat 3 tahun lagi, apakah masih seseru ini juga? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak. Tetapi, kalau hiking ringan di tempat wisata gitu, gak apa-apa lah sepatu kets apapun. Kalau ke gunung, biasanya kami pakai sepatu gunung

      Hapus
  34. Haha drama banget yaa mau berangkat..tanakita ini ternyata dekat rumah bibiku di Sukabumi jadi kalau mau ke jembatan gantung tinggal ngesot

    BalasHapus
  35. duh liat curug kok pengen nyemplung yak hahaa adem banget kayaknya, apalagi Bandung akhir2 ini ga kira2 panasnya :(

    BalasHapus
  36. Ya ampun ini asik bgt, camping di sini kudu rombongan ya mbak, kalau satu keluarga gitu bisa gak sih? Enak bgt kayaknya. Anakku paling demen kalau diajak camping gini.

    BalasHapus
  37. liat jembatannya jadi ngeri sendiri Mba, menarik tapi bikin lutut gemetaran hahaha.
    Asyik banget ya camping di tempat kayak gini, asri banget :)

    BalasHapus
  38. Yang paling epik bagian ini nih ... Seumur-umur, baru kali itu saya berlari sekencang-kencangnya dari stasiun Bogor ke Paledang sambil gendong ransel yang berat pula. Keren. Saya membayangkannya saja kayaknya gak sanggup sayah hihi.

    Kalau camping dilakukan lagi, in syaa Allah beda lagi nih pengalamannya. Keke sudah lebih dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dibayangin juga saya gak bakal sanggup. Ini juga karena terpaksa. Kalau sampai ketinggalan kereta gak akan bisa berangkat ke sana hahaha

      Hapus
  39. Mbak mo nanya nih dr statiun bogor ke tanah kita gimana rutenya...dan aku pernah ke situ gunung stu cuman naik bus bareng rombongan kntr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari stasiun Bogor nyebrang ke stasiun Paledang. Naik kereta ke arah Sukabumi. Nanti turunnya di stasiun Cisaat. Dari stasiun Cisaat bisa pesan ojol atau mobil online

      Hapus
  40. Saya setuju dengan ketegasan Suami Mbak. Kalau hiking ga boleh pakai sendal jepit. Sendal gunung pun tidak disarankan. Saya tahu aturan wanadri pasti pasti ketat. Saya pernah ga bisa ikut acara karena ga ada sepatu...

    BalasHapus
  41. waaa seru banget ihhh, ku jadi pengen camping juga deeh, rasanya udah lama banget nggak camping juga hehehe, main ke alam alam kaya gini tu bikin happy hihihi

    BalasHapus
  42. Baru saja minggu kemarin rencanaan sama teman-temanku untuk eksplorasi Sukabumi minggu depan, tapi sayangnya PSBB lagi. Terpaksa ditunda lagi deh. Nanti kalau pandemi sudah berlalu, pengen kemping juga di Tanakita. Satu minggu kalau perlu biar puas eksplorasinya. hahaha

    BalasHapus
  43. Ngomongin sendal aku gak punya loh, jadi kemana-mana pakai sepatu gitu, ke arisan RT pernah diledekin kaya mau ke mana aja, soalnay kakiku sensi sama debu2 gitu.
    Eh malah oot soal sendal :-D Seru lah cmaping di Tanakita ya, aku belum kesampaian coba sampai skr ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita samaan! Toss dulu! Dari dulu saya memang alergi sama debu

      Hapus
  44. Wuih baca-baca ini jadi kangen suasana kemping akutu, pastinya menyenangkan banget walau banyak juga dramanya. Aku pernah kemping di tempat dingin banget jadinya kedinginan deh hehe..tapi banyak sukanya sih kemping itu... Pengen juga nyoba kemping di Tanakita ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya meskipun suka kedinginan, tetapi saya tetap suka kemping di tempat dingin

      Hapus
  45. Aihh asyik bener ih camping bareng gini. Merasakan nikmatnya menyatu dengan alam, memupuk persaudaraan, banyak banget deh pokoknya manfaatnya :)

    BalasHapus
  46. Mba aku salfok sama dramanya duh gemasss wkwkwk...geregetan pisan kirain yah makin gede makin bisa diatur ternnytaaaa duh tapi jadi pengalaman lucu kalau skerg ingat 2 ya mba wkwk

    BalasHapus
  47. Tempat campingnya ini asik banget mbak, apalagi asri dan udaranya pasti segar banget. Semoga pandemi berlalu dan bisa camping dengan keluarga.

    BalasHapus
  48. Masya Allah indah banget sih pemandangannya jadi pengen juga kemping di sini bersama keluarga

    BalasHapus
  49. Duuuhh gemesnya baca kelakuan bocah-bocah, mulai dari yang telat, minta ditungguin, sampai lari-lari. Lanjut ada yang ga bawa sepatu juga. Kebayang gimana keselnya suamimu ya Chi, dia kan jebolan mapala pasti ga mau kalo ga sesuai prosedur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Disiplin banget deh suami untuk yang seperti ini :D

      Hapus
  50. Baca cerita ini bikin aku pengen banget ngerasain camping, secara aku tu belum pernah ngerasain camping seumur-umur

    BalasHapus
  51. Duh kangen ya kemping begini. Pasti banyak pengalaman yang didapat. Kayaknya mba Myra seneng banget ke Tanakita. Aku jadi penasaran dengan tempatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya senang glamping di Tanakita karena .... Hehehe

      Hapus
  52. Ya ampun aku jadi pengen banget ke Sukabumi, wisata alamnya indah banget, apalagi kalau sambil camping di Tanakita pasti lebih seru.

    BalasHapus
  53. tempat campingnya asik yaa.. jadi sadar udah luama banget gak main ke daerah2 yang dingin dan hijau kayak gini. kebanyakan di kota mulu nih hihi

    BalasHapus
  54. Wah seru banget itu rundown acaranya ada treking, cari kunang2 dan api unggun, ditambah tempatnya emang mendukung banget bakalan betah deh glamping di Tanakita :)

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)