Review Spaghetti Beef Spicy Waroeng Steak & Shake Rawamangun, Alternatif Selain Steak!

Mural dinding bertuliskan "Steaknya Indonesia" di dalam area restoran Waroeng Steak & Shake

Teman se-gank waktu kuliah ngajakin ketemuan pas dia lagi mampir ke Jakarta. Setelah obrolan panjang di WAG, kami sepakat buat kulineran sekaligus ngumpul di Waroeng Steak & Shake Rawamangun. Meskipun pada akhirnya cuma bertiga yang bisa hadir, momen temu kangen ini tetap seru. Tidak lama setelah sampai di lokasi dan bernostalgia, saya langsung memesan menu Spaghetti Beef Spicy favorit sambil menunggu satu teman lagi yang masih di jalan.

Ke Waroeng Steak & Shake kok malah pesan spaghetti?

Steak di sini lumayan enak, kok. Tapi, memang kalau steak, saya lumayan picky memilih resto favorit Makanya, ketika temen-temen ngajak kumpul di sini, saya memilih menu lain.


Waroeng Steak & Shake, Pelopor Resto Steak dengan Harga Terjangkau


Suasana ruang makan indoor yang luas dan rapi di Waroeng Steak & Shake Rawamangun

Udah lama banget gak makan di Waroeng Steak & Shake. Pertama kali makan di resto ini waktu anak-anak masih kecil. Ditraktir sama kakak ipar sekalian kumpul bocah. Ya karena waktu itu anak-anak saya dan para sepupunya juga masih kecil.

Waroeng Steak & Shake termasuk pelopor resto steak yang sudah ada sejak September 2000. Sesuai dengan namanya 'waroeng', konsep restonya memang ala warung dengan menu steak yang harganya terjangkau untuk kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat kelas bawah.

Konsep awal restoran ini memang melekat banget di ingatan. Banyak netizen yang bernostalgia tentang serunya makan steak dengan harga yang ramah di kantong pelajar dan mahasiswa. Namun, melihat situasi ekonomi saat ini (in this economy), rasanya agak ragu ya, apakah harganya masih bisa dibilang 'pas' untuk kantong mahasiswa zaman sekarang. Meski begitu, kalau dibandingkan dengan steak house premium, harga yang ditawarkan di sini jelas jauh lebih bersahabat dan ramah di dompet.

Suasana area tempat duduk semi-outdoor di Waroeng Steak & Shake cabang Rawamangun

Sekian tahun kemudian, saya baru ke sini lagi. Interior dalamnya lebih cakep. Ada juga area luar di belakang. Meja dan kursinya masih ala warung makan. Hanya beberapa yang berbeda. Siang itu, suasana masih sepi. Mungkin karena belum masuk jam makan siang, ya.

Area meja dan kursi sofa minimalis yang nyaman di dekat jendela kaca Waroeng Steak & Shake Rawamangun

Kalau untuk makan berat seperti steak, sebetulnya lebih memilih meja yang kayak 'warung' itu. Lebih lebar mejanya dan tinggi kursinya pun pas. Tapi, kami memilih duduk di kursi sofa dengan meja bulat karena kami pikir datang gak sekadar untuk kulineran. Tentu akan mengalir berbagai obrolan santai karena udah lama juga gak ngumpul.


Spaghetti Beef Spicy yang Mirip Aglio Olio


Tampilan semangkuk Spaghetti Beef Spicy dengan potongan daging sapi di Waroeng Steak & Shake

Saya memesan spaghetti beef spicy karena tampilannya di menu mirip Aglio Olio. Sebagai penggemar varian tersebut, saya merasa wajib mencobanya dan berharap rasanya sesuai ekspektasi.

Bumbu dasar spaghetti aglio olio tuh sederhana. Hanya aglio (bawang putih) dan olio (minyak zaitun). Justru karena kesederhanaannya ini, terkadang rasanya gak selalu pas. Semua elemennya harus balance. Sayangnya di beberapa resto, menu ini ada spaghetti yang jadinya terlalu oily atau malah kering. Rasa bawang putihnya ada yang terlalu kuat, ada juga yang anyep.


Potongan bawang putih di atas sajian Spaghetti Beef Spicy

Setelah menunggu beberapa saat, pesanan saya disajikan. Ya, rasanya mirip spaghetti aglio olio. Dan, yang saya suka adalah sesuai ekspektasi. Kelembapan spaghettinya yang dibalut minyak terasa pas. Bawang putihnya diiris dan rasanya juga gak berlebihan.

Spaghetti Beef Spicy dengan potongan cabai merah dan irisan daging sapi

Menu yang saya pesan ini dilengkapi dengan beef slice dan irisan rawit. Jadi, ada rasa pedas yang cukup samar. Meskipun penggemar pedas, saya lebih suka kalau menu ini memang jangan terlalu pedas. Cukup samar aja. Biar gak menutupi rasa utamanya.

Menikmati Spaghetti Beef Spicy Waroeng Steak & Shake

Potongan beef slicenya lumayan banyak, tapi sayangnya agak dingin. Mungkin kurang lama menumisnya, ya. Buat saya yang utamanya adalah rasa spaghettinya dan untungnya enak. Jadi, ya gak bikin kecewa, lah. Tapi, kalau bisa tetap diperhatikan juga supaya lain kali semuanya terasa pas.

Untuk porsinya menurut saya tergantung jam makan hehehe. Kami ke sana saat brunch. Perut saya masih berasa kenyang karena sudah sarapan. Jadi, pas aja porsinya kalau untuk saya saat itu. Tapi, kalau menikmatinya saat jam makan siang, mungkin agak sedikit kurang, ya.


Secangkir Espresso Saat Brunch di Waroeng Steak & Shake


ecangkir espresso hangat dengan biskuit Lotus Biscoff sebagai pelengkap di restoran

"Bu, ini pahit sekali kopinya. Gak apa-apa?"

Saya dan teman-teman ketemuan di jam nanggung. Waktu untuk brunch. Mau makan yang berat, tapi masih lumayan kenyang karena sarapan. Makanya, selain pesan spaghetti, minumnya hanya pesan secangkir espresso.

Pesan makanan dan minumannya langsung di kasir. Nah, kasirnya sampai bertanya 2x dengan ramah tentang espresso. Memastikan saya gak salah pesan karena katanya pahit banget kopinya hehehe.

Saya bertanya tentang asal biji kopinya, tapi agak lupa jawaban kasir. Kalau gak salah menggunakan robusta dari salah satu daerah di Sumatera Utara. Sekaligus memastikan ke kasir kalau saya tidak salah pesan, karena memang benar-benar hanya ingin menikmati secangkir espresso.

Secangkir kecil espresso, saya nikmati perlahan. Sesekali saya menggigit sekeping biskuit Lotus Biscoff yang disajikan bersama espresso. Saya menikmatinya sambil ngobrol berbagai topik random dengan teman-teman.

Benar kata kasirnya, rasa kopinya sangat pahit. Tapi, saya suka dan justru menemukan keseimbangan dari makanan juga minuman yang saya pesan. Spaghetti yang gurih sedikit pedas, kopi pahit, dan sedikit manis dari biskuitnya.


Harga dan Fasilitas di Waroeng Steak & Shake Rawamangun


Fasilitas musholla di Waroeng Steak Shake Rawamangun

Karena ketemuannya tuh Oktober tahun lalu, saya jadi agak lupa sama harganya. Seingat saya, untuk spaghetti di bawah Rp35 ribu dan espresso harganya belasan ribu.

Ada fasilitas mushola di sini. Ukurannya juga lumayan lapang. Tapi, saya gak teralu memperhatikan apakah disediakan mukena atau enggak. Tpai, yang pasti fasilitasnya bersih.

Di jalan Waru Rawamangun selain terkenal dengan deretan tukang fotocopy, juga ada beberapa cafe dan resto. Tapi, hanya sedikit yang punya lahan parkir sendiri. Kebanyakan ya parkir di pinggir jalan. Waroeng Steak & Share Rawamangun punya lapangan parkir yang cukup luas. Mungkin sekitar 5 mobil bisa masuk. Menurut saya, ini salah satu nilai plus resto ini selain fasilitas musholla dan toilet.

Pertemuan kami kali ini memang tidak berlangsung lama karena salah seorang teman harus bergegas menjemput anaknya sekolah. Ngomong-ngomong soal urusan antar-jemput, sepertinya di antara teman se-gank, baru saya yang sudah bebas dari rutinitas ini. Sebetulnya dari dulu, anak laki-laki saya sudah terbiasa mandiri pulang-pergi sekolah sendiri, sementara si bungsu yang perempuan sering diantar-jemput ayahnya bahkan sampai ia kuliah dan magang kerja.

Anyway, seporsi Spaghetti Beef Spicy di Waroeng Steak & Shake Rawamangun ini menurut saya sangat recommended sebagai alternatif menu non-steak yang enak, begitu juga dengan kopi espresso-nya. Kalau Sahabat KeNai sendiri, apa menu favorit yang biasa dipesan saat kulineran di Waroeng Steak & Shake?


Waroeng Steak & Shake


Jl. Waru No.22, RT.1/RW.8, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220

Jam buka:
  • Senin s/d Kamis - 11.00 s/d 22.00 WIB
  • Jum'at - 12.45 s/d 23.00 WIB
  • Sabtu - Minggu - 10.00 s/d 23.00 WIB

Post a Comment

0 Comments