Rabu, 27 Juli 2016

Kisah di Balik Hidangan - Food Photography and Writing Class by Harnaz

 
Bagaimana membuat sebuah review makanan serta foto makananyang menarik bagi pembaca?
Foto milik Menikmati Indonesia

Sabtu, 16 Juli 2016, saya mengikuti Food Photography and Writing Class by Hamaz. Acara yang diadakan oleh Menikmati Indonesia ini benar-benar menarik. Tentang bagaimana membuat artikel food review yang baik serta dikuatkan dengan foto yang menarik.

Awalnya, saya taunya kalau acara ini diadakan di The East. Semakin penasaran setelah diberitahu lewat email kalau ngumpulnya di Mall Ambassador. Semua peserta diminta menyelesaikan tantangan dulu. Wah antara deg-degan dan antusias saya baca e-mailnya. Tantangan gimana, nih?

Wisata Kuliner Indonesia di Jembatan ITC Kuningan

 
Clue card yang bisa dipakai sebagai panduan bila ingin membuat review makanan

Saya datang ke lokasi, tepat pukul 12 siang. Peserta dibagi ke dalam beberapa grup. Saya ada di grup 7 dengan jumlah 3 orang. Setiap peserta diberi clue card. Kami diminta untuk membeli makanan yang ada di Jembatan ITC Kuningan. Eits, ini bukan makanan kaki lima, ya.

Jembatan ITC Kuningan itu jembatan yang menghubungkan mall Ambassador dan ITC Kuningan. Tetep ada di area dalam gedung. Di jembatan ITC lantai IV, ada berbagai penjual kuliner Indonesia. Paling banyak sih kuliner Manado. Saya gak tau mengapa kuliner Manado terlihat mendominasi di sini. Apa penggemarnya paling banyak atau apa, saya gak tau. Yang pasti, saya pun akhirnya memilih kuliner asal Sulawesi Utara ini.

 
Seporsi menu ini seharga IDR28K

Saya: "Ini sayur apa, Mas?"
Penjual: "Sayur daun kluwek."

Dari beberapa rumah makan yang menjual kuliner Manado, saya tertarik untuk memilih rumah makan Payangka karena ada menu telur ikan. Saya penggemar telur ikan. Saya perhatikan gak semua rumah makan Manado di sana menjual menu ikan, kalaupun ada maish belum siap untuk disajikan.

Kemudian, saya tertarik dengan sayur yang berwarna hitam. Kata penjualnya, itu sayur daun kluwek. Hmmm ... saya baru tau kalau daun kluwek bisa disantap. Selama ini taunya buah kluwek yang biasa menjadi bahan utama rawon.
Sayur daun kluwek disebut juga sayur pangi. Ada juga yang menyebutnya Sayur pangi buluh karena dimasak di dalam buluh (bambu). Sayur pangi memang tidak ditumis, tetapi daun yang telah diiris tipis dan dicampurkan berbagai bumbu halus ini dimasukkan ke dalam bambu yang kemudian dibakar.
Di daerah asalnya, sayur pangi ada yang dikasih lemak babi. Hasilnya, sayur menjadi sangat berminyak. Kalau yang saya coba ini, sayurnya kering. Nyaris tanpa minyak, makanya saya sempat menyangka kalau ini sayur yang direbus atau ditumis dengan minyak yang sangat sedikit. Ada suwiran ikan cakalang di dalamnya. Rasa sayurnya pedas, kesat, dan asin. *kalau ragu, mendingan tanya lebih detil ke penjualnya, ya :)*

Telur ikan bumbu kuningnya terasa gurih tapi daun kemanginya gak begitu terasa. Tumis daun pepaya rasanya sedikit pahit. Sambal tomatnya biasa aja, malah tomatnya kayak yang kematengan. Kalau disatukan, dalam seporsi hidangan yang saya pilih rasanya cukup komplit. :D

Bila Sahabat Jalan-Jalan KeNai tertarik mencicipi sayur pangi, bisa datang ke

Payangka

Jembatan ITC Kuningan Lt IV/33

Telp: 021-57935516

Open hours: 10.00 s/d 21.00 wib

Food Photography and Writing Class by Harnaz


Setelah berwisata kuliner di ITC Kuningan, kami langsung menuju The East untuk mengikuti sesi Food Photography and Writing Class. Menjadi narasumber pada hari itu adalah Hamaz, penulis buku '100 Maknyus Jakarta' dan '100 Maknyus Bali' bersama pak Bondan Winarno. Pada tahun 2015, Harnaz yang bernama asli Harry Hardianto Nazarudin ini juga menulis buku 'Kimia Kuliner'. Saat ini, menjadi moderator di milis Jalan Sutra.

Sahabat Jalan-Jalan KeNai bisa follow Harnaz di
  • Twitter: @itsharnaz 
  • Facebook: Harnaz Tagore
  • Email: harnaz@gmail.com
  • Instagram: harnaz
  • YouTube: Harnaz dan Kimia Sutra
  • Blog: www.itsharnaz.com

Food Writing

Acara dimulai dengan menayangkan acara kuliner pak Bondan yang pernah ada di salah satu televisi swasta. Episode jalan-jalan ke Wonosobo mencicipi kuliner khas daerah tersebut yaitu Mie Ongklok dan juga teh. Di tayangan tersebut terlihat bagaimana pak Bondan menggambarkan kisah di balik hidangan. Tidak sekadar mengatakan manis, pedas, asin saja. Tapi bagaimana cara makannya, apa saja bahannya, nama rumah makannya, dan lain sebagainya. Pak Bondan juga pergi ke perkebunan teh Tambi serta menjelaskan sejarah dari perkebunan tersebut.
Tujuan mereview adalah agar orang lain bisa ke sana dan merasakan apa yang kita rasakan
4 Langkah untuk Menulis Review yang Baik


  • Data - Nama rumah makan, alamat, jam buka, nomor telpon, kisaran harga, hidangan utama (Makanan yang diunggulkan, Apanila ada banyak menu unggulan, pilih yang paling enak), mengandung babi atau tidak adalah yang wajib ada di setiap review. Hati-hati ketika menyatakan makanan tersebut halal atau tidak. Bila tidak ada sertifikat MUI, sebaiknya infokan saja kalau makanan di rumah makan tersebut tersebut menyajikan babi atau tidak. 
Bila ingin serius mereview, selalu bawa catatan. Atau paling tidak minta kartu nama rumah makan tersebut agar bisa dihubungi bila ingin meminta data.

  • Analisa - Dalam sebuah review, analisa harus ada tapi jangan terlalu banyak. Paling mudah adalah menganalisa rasa makanan. Kemudian bisa dilanjutkan dengan cara membuat serta bahan-bahannya. Misalnya ketika mereview tentang sayur pangi. Aslinya daun ini berasa pahit. Bisa dianalisa bagaimana cara menghilangkan rasa pahit, bahan apa saja yang digunakan, dan bagaimana mengolahnya kemudian dihubungkan dengan rasa makanannya.
 
  • Cerita - Temukan kisah di balik hidangan. Dari mana asal hidangan tersebut? Apakah hanya dimakan oleh orang tertentu? Apakah hanya disajikan di saat tertentu? Bagaimana kisah pemilik resto memulai usahanya? Faktor cerita ini bisa membuat review menjadi menarik.
  • Logika - Gunakan logika agar menjadi sebuah review yang menarik. Sajikan informasi dengan urutan yang enak dibaca. Menulis review tidak harus panjang, yang penting menarik. Beri judul yang menarik. Setiap paragraf, kalimatnya tidak perlu banyak. Pastikan informasi yang ditulis itu valid dan merasa yakin sehingga bisa dipertanggungjawabkan.
"Supaya kuliner Indonesia maju, maka harus keluar dari konsep enak - gak enak." -William Wongso

Bila ingin mereview makanan secara mendalam memang harus keluar dari dikotomi makanan enak-gak enak. Pikiran seorang reviewer kuliner harus terbuka untuk menerima berbagai rasa yang tidak familiar di lidah. Agar lebih menghargai makanan enak-tidak enak, valuable, dan rasa. Misalnya, ada french fries yang diberi minyak truffle. Untuk yang belum biasa akan merasakan bau yang 'aneh'. Bila ingin menganalisa, maka harus dicari tahu bahan-bahannya. Agar lebih menghargai prosesnya. Jangan hanya berpendapat enak atau gak enak.

Contoh lainnya adalah sayur pangi. Dari segi rasa mungkin biasa aja. Pedas, kesat, dan asin. Tapi ada proses yang sangat menarik di baliknya. Seluruh bagian pohon kluwek mengandung racun sianida, termasuk daunnya. Untuk menghilangkan racunnya, membutuhkan proses tertentu dengan cara direndam di dalam tanah atau air. Setelah racunnya hilang, sayur pangi pun baru diolah dengan berbagai bumbu yang dimasukkan ke dalam bambu. Berbagai proses inilah yang membuat sayur pangi menjadi valuable dan bisa diangkat menjadi sebuah tulisan. Dan bila menghargai sebuah proses, biasanya tidak sayang mengeluarkan uang.

Food Photography


Beberapa tahun silam, memotret makanan di resto seperti menjadi sesuatu yang terlarang. Banyak resto yang tidak bersedia makanannya difoto karena khawatir akan ditiru. Sejak adanya Instagram, memotret makanan menjadi sesuatu yang lumrah. Bertebaran foto-foto makanan di Instagram.

4 Dasar Posisi Food Photography yang Umum di Gunakan
  • Flat Lay - beberapa makanan diatur komposisinya sedemikian rupa dan difoto dari atas
  • Whole Plate - 1 porsi makanan difoto secara utuh, fokuskan ke bagian yang paling menarik.
  • Food Porn - Motret dari jarak dekat, fokus tajam kepada bagian tertentu dari makanan yang dianggap paling menarik
 
  • Human Interest - memperlihatkan proses pembuatan atau menyajikan makanan tersebut. Ekspresi yang difoto secara candid akan terlihat menarik.
Yang harus diperhatikan adalah
  1. Perhatikan komposisi cahaya
  2. Pastikan meja dalam keadaan bersih
  3. Fokuskan ke bagian yang tepat
  4. Hindari penggunaan lampu flash. Foto makanan yang menggunakan flash akan terlihat datar
http://www.jalanjalankenai.com/2016/07/food-photography-writing-class-by-harnaz.html
Menikmati Indonesia

Acara ini diselenggarakan oleh Menikmati Indonesia bekerjasama dengan Komunitas Jalan Sutra. Menikmati Indonesia adalah digital platform wisata yang menceritakan tentang segala hal di Indonesia. Seluruh pelaku wisata, termasuk travel blogger bisa ikut bergabung di sini. Sahabat Jalan-Jalan KeNai bisa ikut berkontribusi menulis artikel, pengusaha pariwisata bisa menawrkan paketnya, dan lain sebagainya. Semua tentang pariwisata Indonesia

Menikmati Indonesia


www.menikmatiindonesia.com

Fanpage: Menikmati Indonesia
Instagram: MenikmatiIndonesia

38 komentar:

  1. oooo begitu caranya ... terima kasih telah berbagi ilmu

    BalasHapus
  2. Makasih sharingnya. Jadi ngerti.

    BalasHapus
  3. Ini ilmu baru buatku, beruntung aku ikutan acara ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bermanfaat banget, ya. Sarat ilmu :)

      Hapus
  4. Mak, saya baru dengar sayur pangi. ya Allaaah, cetek banget pengetahuan kuliner saya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata kuliner Indonesia itu benran sangat kaya, ya

      Hapus
  5. Wah clear bgt ilmunya.. ijin save foto2nya ya mba buat sy belajar..

    BalasHapus
  6. Wah..nambah ilmu,nih! Ternyata gak hanya sekedar menceritakan rasa makanananya saja ya...tapi kita juga perlu menceritakan proses pembuatan serta bahan makanan tersebut. Makasih, sharingnya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menceritakan proses pembuatan bisa bikin artikel menjadi lebih hidup. Pembaca pun akan semakin tertarik

      Hapus
  7. Thanks sharing ilmunya mak..langsung bookmark

    BalasHapus
  8. Wah bermanfaat banget ini inponyah.. makasih mak....

    BalasHapus
  9. Berguna bgt sharingnya mbak ^o^. Ah kalo tau ada class bgini aku pgn ikut. Jd belajar bikin review makanan yg baik.

    Btw aku baru tau bgt daun kluwek mngandung sianida dan perlu cara khusus mnghilangkannya.. nah, itu gmn kalo org yg membuat ga trlalu teliti ato sembrono wkt mnghilangkan racunnya ya.. agak2 seram mau makan sayur daun kluwek ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, saya juga akhirnya ikutan bingung hehehe. Tapi saya pernah baca, katanya direndam atau direbus dulu, Mbak. Biasnaya juga saya rendam dengan air manas dulu sebelum diolah

      Hapus
  10. thank you mbak ilmunya...lengkap nih mbak. membantu sekali..ntar dipraktekan..semoga saya bisa...hihi.

    BalasHapus
  11. Makasi mbak ilmunya, saya jadi tahu gimana mereview makanan yang benar.

    BalasHapus
  12. wah makasih sharingnya yang tentang food photography :D

    BalasHapus
  13. Semua ada ilmunya. Termasuk review resto dan makananya. Terima kasih atas sharingnya Mbak Myra. Saya jadi tahu banyak sekali kekurangan saya dalam menulis tentang kuliner selama ini :)

    BalasHapus
  14. Selama ini baru sampai tahap share pengalaman kuliner saja, belum mendalam spt itu. Makasih buat bagi-bagi ilmunya :)

    BalasHapus
  15. Bermanfaat nihh bagiku yg suka review kuliner

    BalasHapus
  16. Chi lengkap banget ilmunya, kita yang nggak ikutan jadi bisa belajar
    makasih banget ya mau dibagi di sini, aku ijin simpan artikel ini ya

    BalasHapus
  17. Penting banget ya Mba membuat teknik penulisan yang pas untuk tulisan tentang food writing.. Sehingga pembaca bisa merasakan gimana sih enaknya makanan itu..

    BalasHapus
  18. Waaah menarik sekali ini tulisannya. Sebagai yang hobby motret makanan, ini jadi ilmu baru untuk saya. Terima kasih sudah sharing di blog. :D

    BalasHapus
  19. Duh makasih sekali atas informasinya. Saya juga suka foto-foto makanan, tapi seringkali hasilnya jelek. Mungkin dapat diaplikasikan nanti :D

    BalasHapus
  20. wah keren mba reviewnya..

    BalasHapus
  21. Ilmu baruuuuu... iya ya,kadang klo nulis enak ga enak itu jg rèlatif sih ya. Makasi udh berbagi ya teh Chi

    BalasHapus
  22. Jadi lebih ngerti food review, ternyata bukan sekedar maknyuss.

    BalasHapus
  23. Horeee kepake banget artikelnya, mba chi. Langsung saya catet-catet, mau dipraktekin klo review makanan. Tadi siang abis review resto sih, duh telat deh baca artikel ini, banyak data yg saya gak ambil selama review di sana heuheuheu

    BalasHapus
  24. Food Photography itu susah susah gampang. Untung ada slidenya yah mak, jadi lebih mudah mengingat apa yang perlu diperhatikan. Thanks.

    BalasHapus
  25. tulisan ini bisa jadi reverensi nih. karena aku juga suka posting makanan di instagram

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...