Jalan-Jalan KeNai

Blog family traveling tentang adventure, kuliner, hotel, dan tips perjalanan

#UmamiFoodMarathon Dengan Tema Kuliner Betawi Bersama AJI-NO-MOTO® : Mengkonsumsi MSG Itu Aman

#UmamiFoodMarathon Dengan Tema Kuliner Betawi Bersama AJI-NO-MOTO® : Mengkonsumsi MSG Itu Aman

"Dasar generasi micin!"
"Begitu deh kalau kebanyakan makan micin!"

Sering mendengar/membaca kalimat-kalimat seperti itu? Itu bukan pujian. Kalimat-kalimat itu biasanya membully atau paling tidak mengatakan bahwa orang yang sedang ditudingnya itu bodoh. Tapi apa benar micin atau MSG bisa membuat kita bodoh?

Hmmm ... kalau micinnya dijadiin makanan utama dan camilan trus gak makan makanan lain mungkin iya bisa bikin bodoh. Lha, semua ahli gizi juga mengatakan kalau komposisi makan yang tepat itu harus lengkap dengan komposisi yang seimbang. Kalaupun harus diet, tetap sebaiknya konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Kayaknya gak ada ahli gizi atau dokter manapun yang mengatakan makan micin aja cukup. Lagipula apa iya ada orang yang sehari-harinya cuma makan micin?

Rasa ingin tahu saya pun berlanjut. Saya semakin penasaran tentang asal mula kenapa micin selalu dikambing hitamkan sebagai penyebab kebodohan. Dari berbagai sumber yang saya dapat, semua ini bermula pada tahun 1968. Ada seorang dokter asal Maryland bernama Robert Ho Man Kwok menulis jurnal tentang pengalamannya yang selalu merasa pusing usai menyantap Chinese food. Gejalanya seperti Chinese Restaurant Syndrome. Sebetulnya dokter tersebut tidak langsung menuding MSG lah penyebabnya. Dokter tersebut justru mempertanyakan apakah penyebabnya karena MSG, rempah-rempah, atau anggur yang dikonsumsinya. Tetapi masyarakat terlanjur meyakini penyebabnya adalah MSG. Dan entah bagaimana kemudian berkembang menjadi rumor kalau MSG itu bikin bodoh.Padahal berbagai penelitian sudah membuktikan kalau anggapan tersebut salah.

Talkshow: "Mengkonsumsi MSG Itu Aman"


Sabtu (16/12) AJI-NO-MOTO® mengajak para blogger melakukan #UmamiFoodMarathon selama satu hari. Kalau biasanya saya gak pernah kepikiran untuk marathon *capek, cuy!😂* tetapi kalau yang ini berbeda. Marathon yang ini bukan olahraga lari, tetapi kami diajak untuk menikmati beraneka kuliner Betawi selama sehari. Tidak hanya menikmati kuliner, ada juga talkshow tentang keamanan mengkonsumsi MSG dan juga demo masak.

dr. Diyah Eka Andayani, M.Gizi, SpGk mengatakan pemakaian MSG itu aman bagi tubuh. Dan sebetulnya tidak ada takaran baku selain secukupnya. Setiap orang kan kebutuhannya berbeda-beda. Tetapi bila dirata-rata, idealnya sekitar 1 sdt per hari per orang. *Ya, Sahabat KeNai bisa kira-kira sendiri apakah pemakaian MSGnya sebanyak itu atau tidak.

Chef Ari Galih menambahkan kalau Western food jarang menggunakan MSG karena lidah orang barat sudah terbiasa dengan butter dan kaldu hasil rebusan misalnya kaldu ayam. Sedangkan masakan Asia lebih kaya rasa karena banyak menggunakan rempah-rempah. MSG juga banyak digunakan untuk makanan Asia karena rasa Umami itu yang ingin didapatkan.
Ada 5 rasa dasar sebagai faktor penentu penerimaan kita terhadap rasa masakan, yaitu manis, asam, asin, pahit, dan umami.
Sederhananya tuh kalau Sabahat KeNai bilang rasa makanannya 'nendang' nah itu artinya ada rasa umami. Rasa umami jmemang merujuk ke rasa gurih atau lezat. Beberapa chef juga mendeskripsikan rasa umami dengan sebutan berbeda-beda, diantaranya mouth watering, mildness, mouth fullness, delicate and subtle, atau lainnya.

Kunci masakan lezat menurut Chef Ari Galih ada di bumbu dasar. Setelah itu, ditingkatkan rasanya dengan menambahkan garam, gula pasir, dan merica. Bila dengan bumbu dasar dan 3 bahan peningkat rasa saja rasa masakan sudah gurih, maka tidak perlu lagi ditambahkan MSG.

Secara alami, rasa umami terdapat pada aneka bahan pangan. Dan rasa umami dapat meningkat dengan adanya proses fermentasi (contoh: kecap ikan), pematangan (contoh: tomat dan keju), perebusan (contoh: bouillon, kaldu dashi, dan gao tang), penambahan bumbu (contoh: MSG dan terasi), dan kombinasi dari berbagai bahan umami.

Pak Fahrurozi, Head of Public Relation AJI-NO-MOTO® mengatakan tidak perlu khawatir mengkonsumsi MSG. Bila ada rumah makan yang mengklaim tanpa MSG pada masakannya itu tidaklah tepat. Semua bahan makanan mengandung MSG. Kerupuk saja ada MSG-nya. Bahkan ASI pun mengandung glutamat yang merupakan asam amino bebas. Jumlah glutamat pada ASI manusia juga lebih tinggi daripada susu sapi, domba, atau unta.
AJI-NO-MOTO® berarti sumber rasa. MSG ini terbuat dari tetes tebu pilihan yang diproses dengan cara fermentasi yang berstandar internasional di bawah lisensi AJI-NO-MOTO® Tokyo sebagai perusahaan pertama yang sudah memproduksi penyedap rasa sejak tahun 1909.
MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat berupa serbuk kristal berwarna putih dengan sifat tidak berbau, mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam alkohol, serta rasa agak manis dan asin. Sifat lainnya adalah, glutamat bersifat "self limiting", artinya penambahan berlebihan menimbulkan rasa tidak enak.

Jadi kalau Sahabat KeNai merasa pusing atau gejala tidak enak lainnya setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, menurut Chef Ari Galih kemungkinan karena pemakaian MSGnya berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan memang gak baik. Jadi pakai MSG secukupnya saja seperti yang sudah dijelaskan oleh dr. Diyah.

AJI-NO-MOTO® adalah produk MSG yang ada di Indonesia. Kita kadang menyebutnya micin. Kalau Sahabat KeNai terbiasa menggunakan penyedap lain misalnya Masako, itu termasuk MSG juga. Hanya bedanya kalau Masako sudah ditambahkan berbagai rempah-rempah untuk menambah rasa. Sedangkan AJI-NO-MOTO® hanya untuk meningkatkan rasa (flavor enhancer).

Tidak ada aturan baku kapan waktunya memberi MSG pada saat memasak. Bisa diberikan di awal, tengah, atau akhir proses memasak. Tetapi memang lebih enak di akhir proses memasak setelah masakan terasa bumbunya kemudian ditingkatkan lagi dengan MSG sehinga timbul rasa umami.

Sedikit perbedaan pendapat antara Chef Ari dengan pak Fahrurozi adalah tentang saat yang tepat memberikan MSG. Chef Ari Galih mengatakan MSG tidak perlu lagi diberikan bila dengan garam, gula, dan merica saja sudah cukup. Sedangkan pak Fahrurozi mengatakan MSG sebaiknya diberikan sebelum garam. Kalau rasanya sudah umami, garam tidak perlu diberikan lagi. Alasannya jumlah kandungan garam 3x lebih tinggi daripada MSG untuk ukuran masing-masing 1 sendok makan. Banyak orang mulai mengurangi konsumsi sodium karena erat kaitannya dengan hipertensi. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yamaguchi dan Takahashi (1984), MSG juga dapat mempertegas rasa asin. *Kok jadi semacam mengingatkan perbedaan saya dengan mamah, ya? Kalau saya sepakat dengan Chef Ari, sedangkan Mama pasti sependapat dengan pak Fahrurozi 😂

Usai talkshow, Chef Ari Galih melakukan demo masak. Chef Ari mengatakan kalau MSG bukanlah hal yang terlarang di dunia kuliner. Banyak chef di berbagai restoran juga menggunakan MSG untuk mendapatkan rasa umami dari masakannya. Saya juga cukup akrab dengan berbagai produk AJI-NO-MOTO®. Seperti yang dilihat di foto teratas, produk mana yang paling akrab buat Sahabat KeNai? Kalau saya paling tidak tepung bumbu ayam goreng yang paling sering digunakan.


Pada demo masak di hari itu, Chef Ari membuat 2 macam masakan yaitu Gabus Pucung dan Pecak Bandeng. Salah satu tips menarik dari Chef Ari adalah menghaluskan makanan dengan cara diulek membuat rasa masakan jauh lebih enak daripada menggunakan blender atau food processor. Ada proses di mana batu ulekan bertemu dengan berbagai bahan dasar yang bisa membuat rasa masakan menjadi lebih enak.


#UmamiFoodMarathon Kuliner Betawi bersama AJI-NO-MOTO®

Mengikuti talkshow udah, melihat demo masak juga udah, berikutnya adalah membuktikan kalau MSG itu aman. Caranya dengan berwisata kuliner. Oleh karena itu para blogger diajak oleh AJI-NO-MOTO® dan tabloid Bintang Indonesia untuk wisata kuliner seharian menikmati berbagai kuliner Betawi.

Warung Mak Dower


Sekitar pukul 07.00 wib, kami sudah berkumpul di kantor AJI-NO-MOTO®, Sunter – Jakarta Timur. Gak pake sarapan dari rumah karena bakal seharian wisata kuliner bersama AJI-NO-MOTO®.

Selain seru, memang penting juga wisata kuliner kayak gini. Kan di destinasi pertama ada talkshow tentang keamanan mengkonsumsi MSG. Setelah itu juga ada demo masak. Nah, lebih afdol lagi memang mencicipi langsung berbagai kuliner terkenal yang di semua masakannya menggunakan MSG khususnya produk AJI-NO-MOTO®. Semacam pembuktian juga apa benar kalau MSG itu aman dikonsumsi.
"PT. AJI-NO-MOTO® ingin menghapus stigma di masyarakat kalau MSG itu membuat bodoh. Padahal MSG diperlukan tubuh asalkan dengan kadar yang secukupnya," ujar pak Fahrurozi.
Setelah sambutan singkat dari pak Fahrurozi, kami pun naik bis yang sudah disediakan menuju destinasi pertama. Gak jauh lokasinya dari kantor AJI-NO-MOTO®. Kami menuju Warung Mak Dower di Rawamangun.

Sahabat KeNai biasanya sarapan dengan menu apa? Kalau saya, sarapan biasanya yang praktis aja. Nasi goreng, nasi dan telur dadar/telur ceplok, bubur ayam, atau makanan sisa semalam yang dihangatkan hehehe. Kalau Keke dan Nai malah cuma segelas susu atau setangkap roti. Kadang-kadang aja sarapan dengan semangkuk sereal. Pokoknya sarapan pagi tuh yang praktis banget, deh.

Tapi saat kami ke Warung Mak Dower berbagai hidangan yang menggugah selera langsung terhidang di meja. Bahkan sejak dari parkiran, wangi ikan asin jambal goreng sudah tercium. *Hmmm … langsung elus-elus perut dan ingin segera sarapan.

Menu sarapan sekomplit ini dengan nama-nama yang unik 😋



Warung Mak Dower menawarkan berbagai kuliner Betawi. Nama makanannya pun unik-unik dan kocak yaitu Jengkol Nampol, Cuwe Ngacir, Tutut Ngibrit, Gabus Pucung, Tulang Jambal Sewot, Udang Lenje, Pecak Bandeng, Cumi Lenong, Genjer Centil, Sayur Asem Demplon, dan Es Ondel-Ondel. Saya cekikikan ketika dikasih tahu nama-nama makanan yang dihidangkan. Ya sesuai dengan karakter orang Betawi yang memang kocak.


Warung ini diberi nama Mak Dower karena kebanyakan makanannya berasa pedas. “Bisa bikin bibir jadi dower”, kata Mas Wandi, pemilik Warung Mak Dower. Saya sih penggemar makanan pedas tentu aja senang menyantapnya. Tapi buat yang gak kuat pedas, siap-siap aja bakal huh-hah kepedesan. Sesekali bibir jadi sexy (baca: dower) karena pedas kan seru. Lagipula siapa yang bisa menolak menu seperti itu? Dari penampakannya aja udah menggiurkan. Bahkan saya yang seringkali menolak makan jengkol, akhirnya mencicipi juga pulennya jengkol Warung Mak Dower.

Soto Betawi H. Husen


Destinasi kedua adalah soto betawi H. Husen yang berlokasi di Manggarai. Bila Sahabat KeNai penasaran dengan rasa soto betawi H. Husen yang legend ini, datang sepagi mungkin pada saat akhir pekan. Pukul 06.00 wib aja katanya udah antre banget. Padahal warung makan baru buka pukul 07.00 wib.


Kami datang ke sana sekitar pukul 10.45 wib. Hujan pun mengguyur dengan deras. Pas banget kan hujan deras ditemani dengan seporsi soto betawi? Saat kami ke sana, suasana sudah sangat ramai. Bahkan soto daging pun sudah habis. Eyaampuuunnn, padahal belum jam makan siang!

Belum juga pukul 12.00 wib tapi jeroannya sudah tinggal segitu. Dagingnya malah sudah habis.

Tapi ya begitulah, kalau lihat lemari display aja udah kelihatan kayak mau habis. Padahal saat baru buka, isinya penuh banget dengan daging dan segala jeroan. Saat akhir pekan memang warung ini ramai dari pagi. Pengunjungnya pun gak hanya warga sekitar tapi ada juga yang dari jauh makan di sini. Sedangkan kalau hari kerja, ramainya menjelang makan siang.



Untuk rasanya? Hmmm … Gak heran deh saya kenapa soto Betawi H. Husein termasuk legend. Kuah santannya yang kental berpadu dengan aneka jeroan. Gurih dan mantaaapp!

Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan



Kalau Sunter, Rawamangun, dan Manggarai lokasinya tidak berjauhan, untuk destinasi terakhir kami lumayan menjauh yaitu ke arah Jagakarsa. Bila Sahabat KeNai ingin lebih mengenal Betawi tidak hanya kuliner tetapi juga budaya dan sejarahnya, tepat banget kalau main ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Kami disambut dengan salah satu tarian Betawi yaitu nyecek setapak.


Sebelum kulineran di sini, kami dijelaskan secara singkat tentang sejarah Betawi oleh abang Roni. Bicara betawi memang akulturasi dari berbagai budaya. Makanya tidaklah heran kalau kuliner, bahasa, dan lain sebagainya juga akulturasi dari berbagai budaya lokal ataupun internasional.

Cepek, gopek, seceng, berbagai sebutan mata uang lainnya sering Sahabat KeNai dengar terutama kalau orang Betawi ngomong. Padahal itu akulturasi dari bahasa Tionghoa. Begitu juga dengan bebagai hal lain, misalnya kuliner. 

Buah buni lagi musim di Setu Babakan. Rasanya bikin mata merem melek 😂


Rimbun banget suasana di Kampung Budaya Betawi Setu Babakan. Seolah-olah tidak seperti di Jakarta. Jauh dari gambaran di mana kalau ingat Jakarta adalah gerah, macet, dan gedung yang serba tinggi. Tapi di Setu Babakan ini banyak sekali pohon.. Termasuk pohon yang udah jarang ditemui. Danaunya pun bukan danau buatan. Piknik asik murah meriah bisa seru di sini. Gak ada tiket masuk, tapi siapkan saja sejumlah uang untuk menikmati berbagai kuliner Betawi atau jajanan lainnya.

Salah seorang pebatik muda yang dengan telaten membuat batik tulis
 
Deretan batik cetak di Setu Babakan

Sebelum kulineran, kami diajak melihat proses pembuatan batik terlebih dahulu. Ada batik cetak dan batik tulis. Saya kagum dengan para pebatik di sana yang masih muda-muda. Kan, biasanya saya selalu melihat pebatik yang usianya sudah lanjut. Jarang juga melihat para pebatik muda. Mungkin salah satu faktornya karena membuat batik tulis butuh ketelatenan dan kesabaran yang besar.



Di Kampung Budaya Betawi Setu Babakan, kami mengikuti demo membuat bir pletok dan kerak telor. Tenang aja, bir pletok gak bakal bikin mabok. Justru menghangatkan karena diolah dari 15 macam rempah-rempah. Rasanya manis, pedas, dan langsung menghangatkan tubuh.

Saya langsung beli 2 botol besar. Keesokan harinya, 1 botol langsung tandas diminum oleh suami. Padahal ya, 1 botol besar minuman berkhasiat yang dibuat tanpa pengawet ini bisa tahan sampai 3 bulan. Tapi karena memang suka jadinya malah cepat habis hehehe. Musim hujan memang enak minum minuman hangat seperti ini.



Kami juga melihat proses pembuatan kerak telor. Baru kali ini saya mencicipi rasa kerak telor *Selama ini saya kemana aja? 😅* Ternyata enak juga, ya. Apalagi serundengnya. Ada rasa manis, asin, dan gurih karena terbuat dari berbagai bumbu yaitu bawang merah, jahe, kencur, dan lainnya.

Demo membuat kerak telur mengakhiri wisata kuliner kami. Hujan turun dengan sangat deras membuat kami harus menunggu sejenak supaya bisa kembali ke parkiran bis. Semua tempat makan dari pagi hingga sore tentu saja merupakan tempat pilihan yang tidak hanya sudah dikenal oleh banyak masyarakat karena kelezatannya tapi juga tempat-tempat tersebut setia menggunakan MSG AJI-NO-MOTO®.

Apakah saya merasakan pusing atau gejala tidak enak badan lainnya setelah mengkonsumsi makanan yang diberi MSG selama seharian? Alhamdulillah enggak. Saya hanya merasakan lelah dan ngantuk akibat kekenyangan dan hujan. Efek lainnya adalah saya merasa bahagia karena sudah diajak berwisata kuliner #UmamiFoodMarathon dengan makanan yang semua rasanya umami!

64 komentar:

  1. Hmmm soto betawi.aku jarang pakai MSG. Tapi paa kulineran rasanya banyak yang pakaim semua selera ya.Dokumentasinya ok bgt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya soto Betawi buatan sendiri, Mbak. Tapi sebetulnya bahan makan alami pun mengandung MSG, kok :)

      Hapus
  2. wahh...mau juga kulineran seharian. perut kenyang hatipun jadi senang

    BalasHapus
  3. eh kemecer lihat buah buni ..langsung terbayang rujak bebeg
    senang ya acaranya sekalian wisata kuliner.., dan mupeng juga pengen ke Setu Babakan lagi setelah tahunan nggak ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, buah ini udah jarang banget terlihat ya, Mbak :)

      Hapus
  4. pas banget ya minum bir pletok di saat gerimis kemaren. hangatnya nikmat :)

    BalasHapus
  5. Sedaaaaap bener dah agh yak. Kuliner Betawi mah lucuk2 namanya. Pengen dah ntar nyari sayur Babanci.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sesuai dengan karakter Betawi yang memang spontan dan lucu :)

      Hapus
  6. ubah persepsi salah ttg MSG... MSG aman dan bijak menggunaknnya

    BalasHapus
  7. Kerak telor sering kita jumpai di tempat wisata ya, dan di Setu Babakan juga ada banyak penjualnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama di Kemayoran juga masih banyak

      Hapus
  8. Selain kenyang kita juga jd nambah pinter juga ya mak cie

    BalasHapus
  9. aku jg beli bir pletok langsung ludes blm sempet nyobain hehe..untung udah puas minum pas dilokasi ujan2 mantab dh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang paling nikmat kalau diminum saat hujan :)

      Hapus
  10. Walah, baru Kali ini nyobain kerak telor? Wuidiih. Ini salah satu makanan Favorit kalau lagi jalan2 ke PRJ waktu aku kecil2. Susah2 gampang nyari penjualnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi di Kemayoran sekitaran PRJ kayaknya masih banyak yang jual

      Hapus
  11. Dulu di tempat saya banyak pohon buni tapi sekarang udah nggak ada karena udah ditebangin buat dibikin rumah.. inget buni inget masa kecil.. MSG ternyata aman selama dipakai sesuai aturan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan, biasanya pepohonan 'mengalah' sama pembangunan :(

      Hapus
  12. Saatnya meluruskan persepsi yang salah soal MSG ya. Mamaku selalu pakai MSG di masakannya. Tapi gak berarti keluarga kami jadi generasi micin seperti yang orang sebutkan. Bener ga sih? :)

    BalasHapus
  13. Kalau marathon yang ini bukan membakar energi, tapi menambah energi.. haha.. seharian dikasih energi melimpah dan enyaaak. Dan semua energinya pasti pakai MSG.. xixixi.. tuh yg terlihat jelas ada di kerak telor. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. menambah energi tapi menyenangkan hehehe

      Hapus
  14. Marathon yg nikmat ya mba chiii... Kerak telornya juga sedeep. Yg penting pemakaiannya nggak berlebihan. MSG is safe

    BalasHapus
  15. Haha suka berdebat juga ya sama Mama tentang kapan waktu yang tepat dalam menaburkan MSG. Iya sebenarnya kembali ke selera masing2 ya kapan semuanya pun tepat. Yang terpenting MSG tetap aman dikonsumsi untuk anak2 sekalipun selama dalam batas yang aman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak sampe berdebat, sih. Tapi mama saya termasuk yang MSG dulu baru garam. Sednagkan saya sebaliknya hehehe

      Hapus
  16. Saya memang dari dulu tdk pernah menghindari MSG. Kalau pas masak tersedia MSG di dapur ya saya pakai. Kalau pas nggak ada ya nggak pakai. Intinya saya bukan musuh MSG hehehe....😁

    BalasHapus
  17. Ahh senengnya yang kulineran. Btw aku termasuk generasi micin, soale mamaku kalo masak bumbunya meski pekat. Emang gurih banget, jadi kalo sekalinya masak tanpa micin hambar.
    Aku bukan penolak micin, tapi ga pecinta micin, ya sedang2 aja sesuai kebutuhan. Ga mungkin kan bikin pancake pake micin eeaa

    Duh, jadi laper gini, kabita kerak telor hmm apalagi kalo pake telor bebek, yummy..mauuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa umaminya berasa banget ya, Teh :)

      Hapus
  18. Wah dulu saya pernah baca ttg syndrom yg diakibatkan makan mecin tuh. Memang bikin sebagian orang jadi khawatir ya. Tapi aku setuju, kalau mmg tdk berlebihan gak masalah. Seru banget acaranya mbak, bahkan ada buah buni, hmmm asemmm buat rujakan enak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya informasi yang beredar selama ini perlu diluruskan, Mbak :)

      Hapus
  19. mindset udah ada istilah generasi micin ya
    padahal klo gak berlebihan sih gapapa
    cuma klo gak pake micin kurang nendang aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sebetulnya micin gak bikin bodoh asalkan sesuai takaran

      Hapus
  20. dulu sering banget denger kata umami. sekarang paham deh, umami itu apa.
    sebenernya generasi mecin itu udah sejak dulu. iya gak sih
    lah kan masak juga udah pakai mecin. klo emang bahaya gak mungkin eksis smpai sekarang. ihiy.

    BalasHapus
  21. Next semoga diajak ke pabrik pembuatan MSG ya ...

    BalasHapus
  22. Enaknya food marathon gini. Di rumahku juga selalu pake micin untuk beberapa makanan tertentu seperti sayur bening.

    BalasHapus
  23. Akhirnya aku cobain jg yg mak dower. Ga nyangka ternyata deket kantor cabangku yg di pemuda wkwkwkwk..

    Di antara soto betawi h husein dan mak dower, jelas pilihanku mak dowerlah. Soto betawinya ini kesukaan suami mba. Kalo aku kurang suka krn kuahnya santan. Dari dulu aku lbh seneng kalo soto betawi itu kuah susu :) . Lbh gurih soalnya.

    Kalo yg mak dower ini lgs jd pilihan utamaku lah kalo mau makan yg deket2 rawamangun :D

    BalasHapus
  24. aduh itu foto sayur asemnya menggoda abgnet mba, aku jadi kangen pengen makan di warung mak dower lagi nih hehe

    BalasHapus
  25. jarang pakai msg tapi sekarang tahu harus gimana pakainya yang esuai takaran, acaranya seru bnget

    BalasHapus
  26. Duuuuh bahagia banget nih kayanya kalo bisa ikutan umami food marathon inih, muterin jakarta untuk nyobain makanan enak.. Siapa yang bisa nolak cobaaaaaaaa? Dan ternyata warung mak dower itu deket bgt sama rumah aku, ntar cobain aaaaahhh <3

    BalasHapus
  27. Jadi penggunaan msg aman ya kalau sesuai takarannya. Istri saya juga pakai msg, tetapi tidak semua masakan. Seperlunya saja

    BalasHapus
  28. Aduh ituuuu makanan betawinya bikin mupeng.
    Iya aku juga pernah baca, kalau MSG itu boleh kok dikonsumsi asal sesuai aturan. ada zat-zat di dalam MSG yang dibutuhkan tubuh juga, Lupa namanya.

    Yup, sesuai aturan kuncinya. Apa juga yanng berlebihan, nggak boleh.

    BalasHapus
  29. Kulinernya bikin perut laper...

    Tapi emang bener sih, sesuatu yang berlebihan itu nggak baik.

    BalasHapus
  30. Enaknya wisata kuliner bareng ajinomoto. Aku pun di rumah pake ajinomoto, secukupnya aja yang penting. Kalo gak gurih emang agak aneh sih rasa makanan.

    BalasHapus
  31. Dulu aku nggak papa makan makanan yang mengandung vetsin. Tapi sekarang jadi sensi Myr. Langit2 mulut jadi perih gitu. jadi mau nggak mau menghindari makanan bermicin. tapi sekali-sekali masih makan. Biar nggak bodoh karena kekurangan suapan micin. Hihihihihi

    BalasHapus
  32. Yang di Kampung Budaya Betawi Setu Babakan seru banget. Memang pemakaian vetsin ya mesti sewajarnya aja. Apapun kl sdh kebanyakan pasti gak akan baik hasilnya ^_^

    BalasHapus
  33. Aku suka kerak telor, suka makannya, suka juga nontonin cara buatnya. Sampe sekarang masih amaze, bisa ya nasi mateng tanpa dikasi air. Hahahaha

    BalasHapus
  34. Pilihan makanannya banyak yaaa.. tapi aku masih tetap pakai bumbu alami aja niiih mba :)

    BalasHapus
  35. Sesungguhnya saya belum pernah berhasil makan di soto pak husen, setiap berangkat dari bekasi pagi eh di sana belum buka. Giliran siang, malah udah tutup sampe sana :(. Jadi mupeng liat fotonya mba Mira

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)