Heal The Earth

"Teh! Ini buat Teteh."
"Beneran ini, Mang?"
"Iya bener, Teh. Bawa aja."

Mamang sayur langganan saya di pasar memberi 1 bonggol kol berukuran lumayan besar. Tentu saja saya seneng banget, karena dari sebonggol itu bisa diolah menjadi beberapa masakan.

hari bumi saat pandemi, heal the earth,

Heal The Earth


Bermula dari beberapa hari sebelumnya. Mamang sayur menanyakan apakah saya punya stok koran bekas. Saya jawab gak ada karena memang sudah lama sekali tidak berlangganan koran. Mamang sayur curhat kalau sekarang semakin susah mencari koran besar. Kalau pun ada, harganya bisa lebih mahal dari pada kantong kresek.

"Padahal, Teh. Sekarang, semakin banyak aja pembeli yang kayak Teteh. Kalau belanja gak mau pakai kantong plastik lagi. Mana awal Juli juga pemprov melarang penggunaan kantong plastik."

Di satu sisi, saya senang mendengarnya kalau sekarang semakin banyak pembeli yang menolak menggunakan kresek. Padahal ya di awal saya membiasakan belanja dengan membawa tas belanjaan sendiri, banyak penjual yang merasa aneh.

Saya pun tidak keberatan kalau semua belanjaan sayur langsung dimasukkan saja ke tas belanjaan tanpa dibungkus lagi dengan koran. Karena biasanya, setelah dibungkus akan dikaretin. Padahal saya menghindari juga karet gelang. Biasanya kalau udah terkumpul banyak, karet gelangnya saya balikin lagi ke mamang sayur. 

Saya juga senang karena sosialisasi tentang Jakarta Bebas Sampah Plastik sudah sampai ke pelanggan. Memang iya sejak awal tahun, spanduk tentang hal ini sudah terpampang di depan pasar.

Lalu saya menawarkan kertas bekas sebagai pengganti koran. Di rumah banyak aja kertas bekas ngeprint. Itupun setelah saya pakai bolak-balik. Biasanya kalau udah bolak-balik baru mau saya buang.

Mamang sayur seneng banget dengan penawaran saya. Makanya beberapa hari setelah itu, saya bawakan kertas bekas ke pasar. Sebagai ucapan terima kasih, saya diberikan sebonggol kol itu. Padahal saya gak berniat minta imbalan, lho.

Bukan bumi yang membutuhkan manusia, tetapi manusialah yang membutuhkan bumi

Belakangan ini, saya semakin sering membaca berita tentang perubahan iklim. Pada tahun 2010 saja, WWF sudah menyatakan bila populasi manusia terus bertambah, konsumsi sumber daya alam dan polusi yang terus meningkat, maka manusia membutuhkan 2 bumi untuk menyerap sampah CO2 dan memenuhi konsumsi SDA manusia.

Keresahan tentang perubahan iklim terus berlanjut. Tahun lalu, Keke yang sudah menginjak SMA ikut demo tentang ini. Dia mulai merasa resah dengan kondisi bumi yang semakin sakit.

Memang iya, sekarang juga semakin banyak masyarakat yang melakukan langkah kecil untuk menunjukkan kecintaannya terhadap lingkungan. Misalnya, mulai membawa kantong belanja sendiri, menggunakan sedotan ramah lingkungan, membawa botol minum, dan masih banyak lagi. 

Saya pun sekarang ke mana-mana sudah tidak pernah nyetir mobil sendiri. Lebih suka naik transportasi umum. Sekarang, di Jakarta kondisi transportasi umumnya semakin layak. Saya suka sekali naik TransJakarta, MRT, LRT, dan KRL. Ya paling sesekali aja naik ojek online kalau agak jauh dari transportasi umum.

[Silakan baca: Begini Caranya Naik LRT Jakarta]

Tentu saja semua langkah kecil itu patut diapresiasi. Meskipun masih jauh dari hasil benar-benar menghilangkan polusi. Masih ingatkan belum lama ini DKI Jakarta tingkat polusinya termasuk parah?

Saya terus berusaha menanamkan rasa optimisme kelak bumi akan kembali bersih kalau masyarakatnya semakin banyak yang sadar lingkungan hidup. Meskipun tidak tau membutuhkan waktu berapa lama. Saya bahkan tidak pernah terpikir akan terjadi dalam waktu dekat.

Kemudian datanglah pandemi COVID-19 ...

Wabah yang awalnya sangat saya benci dan ditakuti. Tetapi, lama kelamaan, saya mulai merasakan hikmah dari wabahnya ini. Salah satunya bumi juga sedang menyembuhkan diri.

Merasa gak kalau akhir-akhir ini langit terlihat semakin biru? Walaupun cuaca Jakarta tetap panas terik, tetapi melihat langit biru dan udara lebih bersih karena minim polusi membuat bernapas menjadi lebih menyenangkan.

Tidak hanya langit yang terlihat lebih biru dan bersih. Katanya, Sahabat KeNai bisa melihat gunung gede dan salak dari Jakarta. Sayangnya karena masa PSBB, saya tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Hanya dari berita di berbagai media. Tetapi, saya tetap percaya, kok. Jangankan saat pandemi, ketika libur Lebaran di mana sebagian besar warga Jakarta melakukan mudik, langit Jakarta memang terlihat jadi lebih bersih.

[Silakan baca: Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri]

Di berbagai belahan dunia lain juga sama. Banyak berita baik tentang kondisi alam yang terjadi, saat semua manusia harus berada di rumah aja karena lockdown. Hmmm ... sepertinya memang saat ini, bumi juga sedang diberi kesempatan untuk menyembuhkan dirinya. Tetapi, di sisi lain juga membuktikan bahwa manusialah yang selama ini terbukti melakukan kerusakan. Disadari atau tidak, saya mungkin masih termasuk salah satunya. Hiks!

[Silakan baca: Alasan Tidak Mudik Pada Tahun Ini]

22 April lalu adalah Hari Bumi. Pada tahun-tahun sebelumnya Earth Day mungkin hanya seremonial saja. Tetapi, bisa jadi tahun ini bumi mendapatkan kado terindah karena kembali bersih. Ketika manusia beramai-ramai menyanyikan lagu Heal The World. Maka, bumi juga sedang Heal The Earth.

Saya tetap ingin pandemi segera berlalu. Ingin kembali beraktivitas normal. Tetapi, saya juga jadi berpikir, ketika nanti semua manusia sudah kembali ke aktivitas semula, butuh berapa lama lagi untuk bumi kembali sakit? Sedih uy jadinya. Hiks!

Ya, semoga aja kekhawatiran saya ini tidak terjadi. Mumpung masih dalam masa karantina, bisa kita pakai untuk merenung dan memikirkan langkah tentang cara lebih mencintai bumi. Agar nanti tidak hanya manusia yang bebas dari wabah. Tetapi, bumi pun bisa tetap tersenyum.

You Might Also Like

24 comments

  1. “Bukan Bumi yang membutuhkan manusia, Tetapi Manusialah yang membutuhkan Bumi”. Ungkapan ini semoga membuat kita semua sadar bahwa di Bumi kita bisa melakukan dan mendapatkan segalanya, tapi seringnya lupa untuk menjaga dan mencintainya. Semoga semua lekas kembali seperti semula yah Teh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, semoga manusia semakin sadar untuk peduli dengan bumi

      Hapus
  2. Banyak hikmah dibalik musibah, tapi corona ini bukan solusi untuk merubah bumi ini kembali normal. Diperlukan perubahan pola hidup manusianya yang mendukung ke arah pelestarian alam. Salah satunya mengurangi konsumsi sampah plastik rumah tangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tidak ada yang berharap bumi menjadi bersih karena corona sebagai solusinya. Tetapi, setidaknya ini menjadi pengingat untuk semua manusia. Di saat manusia tidak banyak beraktivitas, sampah dan polusi pun berkurang. Jadi ketika saatnya nanti semua sudah bisa beraktivitas normal, harus diingat untuk tetap menjaga kebersihan dan mengurangi polusi

      Hapus
  3. Semoga pandemi segera berakhir ya mbak. Di tengah pandemi kita patut bersyukur gas emisi berkurang, polusi berkurang, efek rumah kaca terhenti. Mungkin ini jd salah satu cara memurnikan bumi dg cara alami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya begitu, Mbak. Meskipun sedih juga karena diingatkan melalui wabah

      Hapus
  4. Nah kan Mamang sayur minta koran, dijaman sekarang kebanyakan udah pada ga langganan lagi ya Chi. Untungnya masih ada kertas yang bisa ditawarkan, dapet sebonggol kol hahaa, kan lumayan ga boleh nolak rezeki ceunah, buat bala2 kan..

    Semoga langkah2 kecil apapun yang kita lakukan, merupakan salalh satu kontribusi pada bumi kita tercinta yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan banget kalau buat ibu-ibu mah, Teh. Sebonggol kol bisa buat beberapa kali bala-bala hahaha

      Hapus
  5. Wah setuju banget teh. Aku pun suka membawa tas belanjaan sendiri kalo mau belanja. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk merawat bumi kita yaah. Bawa tas belanjaan sendiri, bawa tumbler dan tempat makan sendiri juga itu bisa menjadi salah satu bentuk cinta kita terhadap bumi. Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Semoga kita semakin peduli dengan lingkungan, ya

      Hapus
  6. Aku suka cerita ini, kisah si mamang sayur yang kebingungan cari pengganti kresek dan bumi yang sedang proses penyembuhan. Kebayang luka-luka bumi yang habis digerogoti mahluk hidup yang kian bertambah ditambah ulah manusia yang bikin ini itu pakai bahan yang bisa melukai bumi.
    Jadi perenungan.
    Pandemi ini benar2 teguran keras.

    BalasHapus
  7. Lumayan dapet kol mbak, bisa dibikin bala-bala buat takjil hehehe
    Iya, sekarang kalo belanja juga suka bawa tas sendiri aja dan selalu nyetok tas di motor kalau kebeneran mau belanja tapi lupa bawa tas.

    Semoga pandemi ini bisa menjadi pengingat agar kita bisa menjaga bumi dengan lebih baik yah. Selamat hari bumi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk nah iya, kan. Emak-emak mah seneng dikasih kol juga :D

      Hapus
  8. Sekarang bumi lagi istirahat ya mbak langit-langit biru nan cerah. Bumi tempat berpijak manusia

    BalasHapus
  9. Keadaan bumi saat ini memang sungguh memprihatinkan, selain mendaur ulang sampah atau mengurangi penggunaan plastik saya setuju dengan penggunaan transportasi umum atau berjalan kaki juga merupakan salah satu langkah nya hal ini sebagai aksi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor yang relatif tinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Aksi kecil manusia juga bisa berarti kok untuk bumi

      Hapus
  10. Amiin, doa yang sama juga kupanjatkan, semoga ketika manusia terbebas dari wabah bumi juga sehat wal afiat ^_^ Disatu sisi senang melihat bumi tersenyum tapi disisi lain miris karena gak bisa kemana-mana dan gerak terbatasi

    BalasHapus
  11. Iya ya mak sedih banget, kalau sudah aktivitas bakal ada kemacetan lagi, bumi kembali sakit dengan polusi. Tapi semoga ada hikmah ya. Dan bumi selalu sehat ya. Pademi ini segera berlalu, sehingga kita bisa aktivitas seperti biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita menjadi bijak setelah pandemi selesai, ya

      Hapus
  12. Wah bener nih kalau bumi sakit karena manusia dan dgn pandemi sisi positif bumi rada sehat. Trus bila pandemi berlalu bumi sakit lgi, gimana ya? Tapi smg pandemi skrg sgra betlalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya berharap kalau nanti sudah beraktivitas lagi, manusianya semakin bijak juga

      Hapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)