Bandung bukan hanya tentang fashion dan wisata alam, tetapi juga surga bagi para pecinta kuliner legendaris. Jika Sahabat KeNai mencari steak legendaris di Bandung yang menawarkan lebih dari sekadar makanan, jawabannya adalah Suis Butcher. Sejak berdiri puluhan tahun silam, tempat makan ini telah menjadi saksi bisu berbagai kenangan manis dan mempertahankan cita rasa khas yang tak lekang oleh waktu.
Hiks! Aslinya sedih juga menulis artikel ini. Karena ketika sedang
scrolling di IG, muncul konten terbaru Suis Butcher di mana ownernya
bilang kalau yang di
jl. Riau Bandung
akan ditutup! Aaaaahhh tidaaaak! Banyak aja kenangan di resto ini dari
anak-anak masih kecil hingga terakhir ke sana Juli 2024.
Saksi Bisu Waktu: Mengapa Suis Butcher Jl. Riau Selalu Menjadi Tempat Penuh Kenangan
Suis Butcher gak total ditutup. Katanya yang di pusat yaitu jalan
Setiabudi Bandung masih tetap ada. Tapi, sejak dulu kami selalu memilih
yang di jalan Riau.
Alasan utama karena lokasi yang lebih dekat dengan tengah kota. Setiap kali ke Bandung, kami memang lebih sering berkeliling di tengah kota daripada ke daerah atas atau pinggir kota Bandung. Meskipun belum pernah ke Suis Butcher jalan Setiabudi, dari penampakan luar menurut kami lebih nyaman yang di jalan Riau. Parkirannya juga terlihat lebih luas.
Alasan utama karena lokasi yang lebih dekat dengan tengah kota. Setiap kali ke Bandung, kami memang lebih sering berkeliling di tengah kota daripada ke daerah atas atau pinggir kota Bandung. Meskipun belum pernah ke Suis Butcher jalan Setiabudi, dari penampakan luar menurut kami lebih nyaman yang di jalan Riau. Parkirannya juga terlihat lebih luas.
Dulu tuh selalu rame banget. Tapi, saking sukanya, kami rela aja waiting
list. Makanya banyak kenangan di sini karena sejak anak-anak masih kecil,
steakhouse ini udah jadi favorit kami sekeluarga.
Interior Klasik Suis Butcher: Mesin Waktu dengan Nuansa Hangat Penuh Kenangan
Saat kami ke sana, suasanya sangat sepi. Saya pikir mungkin karena kami
ke sana di hari kerja dan jam nanggung. Udah lewat jam makan siang.
Menjelang sore gitu.
Rasanya seperti tidak banyak perubahan. Bangunannya masih kelihatan sama. Interiornya mungkin agak berubah sedikit, tapi tetap berkesan klasik. Hal lain yang paling saya suka adalah restonya bersih dari mulai tempat makan hingga toilet. Disediakan mushola juga. Bener-bener nyaman makan di sana.
Rasanya seperti tidak banyak perubahan. Bangunannya masih kelihatan sama. Interiornya mungkin agak berubah sedikit, tapi tetap berkesan klasik. Hal lain yang paling saya suka adalah restonya bersih dari mulai tempat makan hingga toilet. Disediakan mushola juga. Bener-bener nyaman makan di sana.
Steak Suis Butcher, Cita Rasa yang Legendaris
Kalau lagi ingin makan steak, kami lebih suka ke steakhouse. Biasanya
bener-bener puas dari segi rasa hingga tingkat kematangan. Suis Butcher
ini termasuk salah satu steakhouse favorit kami. Apalagi dulu kami lumayan
sering ke Bandung.
Usia Suis Butcher udah lebih dari 40 tahun. Kalau yang cabang di Riau usianya sekitar 18 tahun. Ya kira-kira usia yang di jalan Riau sepantaran ma anak saya hehehe.
Terakhir kami makan di sini Juni 2024. Senengnya lagi, kali ini bisa kumpul komplit. Ya, beberapa kali saya cerita sejak anak-anak besar, udah pada punya kegiatan masing-masing. Suka gak klop waktunya. Makanya seneng aja bisa jalan ke Bandung bareng dan sebelum pulang ke Jakarta, makan dulu di Suis Butcher.
Usia Suis Butcher udah lebih dari 40 tahun. Kalau yang cabang di Riau usianya sekitar 18 tahun. Ya kira-kira usia yang di jalan Riau sepantaran ma anak saya hehehe.
Terakhir kami makan di sini Juni 2024. Senengnya lagi, kali ini bisa kumpul komplit. Ya, beberapa kali saya cerita sejak anak-anak besar, udah pada punya kegiatan masing-masing. Suka gak klop waktunya. Makanya seneng aja bisa jalan ke Bandung bareng dan sebelum pulang ke Jakarta, makan dulu di Suis Butcher.
Pilihan Menu Suis Butcher: Dari Steak Legendaris Klasik hingga Varian 'Koki Bertamu'
Sepertinya ada menu yang berbeda setelah sekian tahun gak ke sini yaitu
"Koki Bertamu". Sepertinya ini menu-menu spesial yang dibuat para koki yang diundang.
Waktu kami ke sana, terpampang jelas tulisan di tembok dan buku tamu "Koki
Bertamu Level IV" lengkap denga nama chefnya.
Rib Eye Bone Marrow
Rib Eye Bone Marrow
200gr, IDR187,5K
Steak pilihan Keke dengan tingkat kematangan medium rare. Sepintas
penyajian di piring hanya daging dan sayur. Ternyata mashed potato ada di
bagian bawah, kemudian atasnya ditutup sama steak.
Steak dengan tingkat kematangan medium rare
Tingkat kematangannya sesuai dengan yang dipesan. Daging masih terlihat
kemerahan di bagian dalam. Saya lupa saus apa yang Keke pesan. Kayaknya,
saus jamur, tapi bagian yang bikin steak ini makin enak ada sumsumnya.
Cuma dikasih sedikit, satu bulatan kecil gitu, jadi makannya dicocol
dikit-dikit. Nah, sumsumnya ini yang menambah kenikmatan.
Coffee Butter Tenderloin Santori Beef
Coffee Butter Tenderloin Santori Beef
160gr, IDR147,5K
Sempat agak kaget ketika pesanannya datang. Steak sudah dipotong
kotak-kotak. Memang jadi lebih memudahkan untuk makan, karena gak perlu
dipotong lagi. Tapi, saya pernah menyimak diskusi kalau steak yang bentuk
dagingnya rapi atau sudah dipotong-potong kemungkinan besar
meltique. Saya belum pernah makan meltique. Ada rasa penasaran, tapi antara
pengen dan gak pengen gitu.
Saya langsung menyambar buku menu dan membaca lagi menu yang saya pilih, termasuk deskripsinya. Tertulis Santori Beef. Kalau saya gak salah, itu nama brand, tapi dagingnya memang meltique premium.
Saya memang kurang teliti membacanya. Karena udah langsung tertarik duluan dengan kata coffee. Penasaran aja gitu seperti apa kalau steak dikasih kopi. Pernah baca ulasan yang bilang rasanya enak. Tapi, pernah juga menyimak diskusi, katanya steak meltique bakal kurang pas rasanya kalau level kematangannya medium ke bawah. Harus well done. Sedangkan saya pesan tingkat kematangan medium.
Untungnya saya juga berprinsip selera orang bisa beda-beda hehehe. Meskipun seringkali membaca berbagai ulasan dan diskusi, tapi bisa aja punya pendapat berbeda. Makanya saya tetap mau mencoba. Alhamdulillah, rasanya enak dan unik karena ada hint kopi di dagingnya. Dibuat kematangan medium pun masih terasa enak. Saya menerka-nerka sendiri, apakah karena disuntik lemak wagyu?
Tingkat kematangan medium
Sedikit kritikannya adalah dagingnya lebih oily. Kelihatan juga kan di
foto, steak yang saya pilih lebih mengkilap dibandingkan steak pilihan
Keke dan Nai. Memang katanya kalau meltique lebih berminyak karena
dagingnya diinjeksi lemak. Ditambah lagi, steak saya pakai butter.
Untungnya tidak menimbulkan rasa yang aneh atau menempel di langit-langit seperti kayak memakan sesuatu yang kebanyakan minyak. Tapi, menurut saya, kalau minyaknya bisa dikurangi dan rasa kopinya agak kuat sedikit, kayaknya bakal naik level kenikmatan steak ini.
Untungnya tidak menimbulkan rasa yang aneh atau menempel di langit-langit seperti kayak memakan sesuatu yang kebanyakan minyak. Tapi, menurut saya, kalau minyaknya bisa dikurangi dan rasa kopinya agak kuat sedikit, kayaknya bakal naik level kenikmatan steak ini.
Sirloin Prime ala Suis Butcher
Sirloin Prime ala Suis Butcher
200gr, IDR169,5K
Selera tingkat kematangan steak di keluarga kami kayak ada 2 kubu hehehe.
Saya dan Keke lebih menyukai tingkat kematangan medium rare. Paling mentok
medium. SedangkanNai seperti ayahnya selalu memilih well done.
Tingkat kematangan Well Done
Tapi, tingkat kematangan well done untuk steak di Suis Butcher masih
tetap enak menurut saya. Dagingnya masih tetap berasa lembut dan juicy.
Steak yang Nai pilih termasuk klasik. Saya mencicipi sepotong, rasanya
masih tetap konsisten enak.
Kalau Sahabat KeNai perhatikan, salad atau sauteed vegetables yang disajikan untuk tiap steak berbeda-beda. Bukan kami yang minta berbeda, tapi memang sudah seperti disajikannya. Mungkin disesuaikan dengan steaknya biar rasanya semakin enak. Dan, semua saladnya juga enak.
Kalau Sahabat KeNai perhatikan, salad atau sauteed vegetables yang disajikan untuk tiap steak berbeda-beda. Bukan kami yang minta berbeda, tapi memang sudah seperti disajikannya. Mungkin disesuaikan dengan steaknya biar rasanya semakin enak. Dan, semua saladnya juga enak.
Apple Sringroll
Apple Springroll, IDR35,5K
Hanya suami yang gak pesan steak sore itu. Bukan dia gak doyan, tapi kami
akan lanjut pulang ke Jakarta setelah selesai makan di Suis Butcher. Suami
selalu menolak makan berat kalau mau nyetir jarak jauh. Alasannya suka
bikin ngantuk kalau perut udah kekenyangan. Makanya, dia pesan apple
springroll. Cukup lah untuk bikin perut terisi tapi gak sampai
kekenyangan.
Kelihatannya hanya 2 potong. Tapi, isian apelnya aja setebal itu dan rasanya gak kemanisan dan masih berasa segar apelnya. Semakin enak karena dikasih 1 scoop es krim vanilla.
Kelihatannya hanya 2 potong. Tapi, isian apelnya aja setebal itu dan rasanya gak kemanisan dan masih berasa segar apelnya. Semakin enak karena dikasih 1 scoop es krim vanilla.
Mushroom Soup
Mushroom Soup, IDR32,5K
Suami juga pesan mushroom soup sebagai menu pembuka. Porsinya semangkuk
kecil, tapi cukup mengenyangkan. Karena dikasih seiris garlic bread juga.
Memang cocok buat mengawali makan utama.
Rasanya creamy, tapi gak bikin enek. Teksturnya halus dan jamurnya diblend. Paling ada sedikit kayak potongan jamur gitu di atasnya.
Rasanya creamy, tapi gak bikin enek. Teksturnya halus dan jamurnya diblend. Paling ada sedikit kayak potongan jamur gitu di atasnya.
Go Go Green Juice, Pineapple Juice, dan Minuman Lainnya
Go Go Green Juice, IDR32,5K
Pineapple Juice, IDR25,5K
Ice Lemon Tea, IDR19,5K
Ice Tea, IDR17,5K
Pineapple Juice, IDR25,5K
Ice Lemon Tea, IDR19,5K
Ice Tea, IDR17,5K
Saya ceritakan minuman pesanan Keke dan Nai aja, ya. Kalau pesanan saya
dan suami kan standar aja rasanya hehehe. Keke pesan Go Go Green Juice,
jus campuran sayur dan buah. Saya lupa campurannya apa aja. Rasanya
seger. Jadi, meskipun ukurannya segelas besar, gak bikin enek. Cocok
juga di-pairing sama steak pesanan Keke.
Nai pesen Pineapple Juice. Ini juga segar jusnya. Kayaknya semua jus yang dipesan Keke dan Nai kandungannya beneran banyak buah dan sayur. Makanya seger. Udah gitu yang bikin makin enak tuh manisnya tips aja.
Nai pesen Pineapple Juice. Ini juga segar jusnya. Kayaknya semua jus yang dipesan Keke dan Nai kandungannya beneran banyak buah dan sayur. Makanya seger. Udah gitu yang bikin makin enak tuh manisnya tips aja.
Tom N Jerry Choco
Tom Jerry Choco, IDR32,5K
Nai minta kue coklat untuk dibawa pulang. Nama kuenya Tom N Jerry karena
dibentuk seperti potongan keju gitu. Agak lupa saya ma rasanya. Tapi,
seingat saya, semua makanan yang pernah kami pesan di Suis Butcher tuh
enak.
Kangen Steak Suis Butcher? Ke Jalan Setiabudi Aja
Suis Butcher gak seluruhnya tutup. Resto yang di jalan Setiabudi masih
aja. Kami bisa ke sana kalau kangen
steak legendaris
ini.
Yang hilang paling kenangannya. Karena seperti cerita di awal, kami selalu ke Suis Butcher jalan Riau. Jadi ada kenangan yang tak terlupakan.
Jl. Dr. Setiabudi No.174
Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Jam buka: 10.00 s/d 23.00 WIB
Yang hilang paling kenangannya. Karena seperti cerita di awal, kami selalu ke Suis Butcher jalan Riau. Jadi ada kenangan yang tak terlupakan.
Suis Butcher Steakhouse Setiabudi
Jl. Dr. Setiabudi No.174
Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Jam buka: 10.00 s/d 23.00 WIB



56 Comments
Duuh..melihat tampilan menu-menunya dan deskripsinya, bikin pengen memcoba juga euy. Suasananya juga terlihat nyaman ya.. Terima kasih sharingnya
ReplyDeleteSayang banget yang di Jl. Riau akan ditutup, tapi masih bisa melepas kangen steak legendaris Suis Butcher di Jl. Setia Budi ya, jadi pengen nyicip Apple Sringroll-nya.
ReplyDeleteSemoga ada kesempatan main ke Bandung yang benar-benar muter untuk kulineran.
Iya, Mbak. Masih ada yang di Setiabudi.
DeleteHiks, memang bakalan kehilangan ya Chi, apalgi penuh dengan kenangan bersama keluarga makan disana, berbagai menu andalan bahkan sampe tingkat kematangan steak masih terngiang.
ReplyDeleteTempat di Riau ini buatku juga penuh kenangan, menjadi tempat pertemuan beberapa sahabat dari luar kota karena tempat yang nyaman dan ikon banget Bandung.
waah.. jadi ikutan sediih..
ReplyDeleteTapi gimana yaa.. memang perputaran outlet, resto, toko kue, dll ini cepeett banget.
Kalo gak bisa bertahan, bener-bener tutup.
Betapa banyak AICE Korean Food yang uda gulung tikar jugaa.. huhuhu.. memang tren selalu berganti yaa.. tapi kalau uda cocok dari segi rasa, rasanya sediih yang mendalam.
Kalau cita rasanya juara, rasanya tidak heran Kalau banyak yang manukau tempat ini ya mba. Dan memang tempatnya juga asyik, Lokasinya strategis. Pasti sedih saat tau tempat kesayangan ini tutup ya mba
ReplyDeletekeliatan enak dan menggugah selera, masukin wish list dulu :D
ReplyDeleteMasukin wishlistnya yang di Setiabudi, ya :)
DeleteInteriornya emang klasik gaya kebarat2an ya mbak :D
ReplyDeleteOoo udah 40 tahun usia brand-nya dan yang di Jl. Riau juga udah remaja yaa :D
Aku baru denger ini niiihh. Jadi kepengen juga makan steak :D
Untuk harganya juga masih cukup bersahabat sih ya mbak buat ukuran steak dengan daging seperti itu.
Wah tandain dulu deh tempatnya, semoga nanti saat ke Bandung lagi bisa mampir ke sana :D
Mungkin karena menunya pun western semua. Makanya interirornya juga menyesuaikan.
DeleteWah, beneran legend ya sudah lebih dari 40 tahun beroperasi. Meski resto yang di Jl.Riau akan tutup, tapi untungnya yang di pusat masih buka. Jadi para penikmat Suis Butcher masih bisa menikmati kelezatan steak legendaris di Bandung ini.
ReplyDeleteYup! Masih bisa makan steak enak karena yang di Setiabudi masih ada
DeleteMembaca ini kok ikut sedih juga, mengingat dulu saja Suis Butcher yang jalan Riau sampai ngantre berarti penikmatnya banyak dan lumayan loyal ya. Semoga yang di jalan Setiabudi bisa bertahan terus.
ReplyDeleteAamiin. Iya seingat saya dulu rame terus, Mbak
DeleteWaahh jadi kepoh apakah mbak Mugniar dulu sempat tinggal di Bandung? Kok kenal sama Suis Butcher ini? hehe
DeleteEmang kalau rumah makan legend suka melow yaaa, apalagi yang memiliki kenangan manis di sana, entah sering makan di sana sama teman2 atau sama keluarga. Rasanya ada yang ikut hilang.
Awet banget resto steak nya mpe 40 tahun gitu yaaa... Kece banget loh desain interiornya. Sayang banget deh klo harus tutup. Foto² steaknya mana bikin ngiler semua gitu.
ReplyDeleteSteaknya memang enak. Tapi, mungkin kondisi ekonomi sekarang lagi gak berpihak, ya
DeleteKalau aku ga salah inget, ada juga ya cabang Suis Butcher di Jalan Braga. Pernah lewat situ bareng teman orang Bandung, terus dia cerita kalau dulu ibu dan bapaknya pacarannya di Suis Butcher, karena katanya "gaya banget deh kalau bisa ngajak pacar ke situ".
ReplyDeleteTahu banget ini sih yang cabang Riau yaaa, tapi sayang cuman lewat doang kalau otw ke Dago atau BIP, hehe. Banyak review orang Bandung juga kalau steak di sini otentik dan enak. Harus nyobain atuh ini sih tapi mau tutup ya, otw ke setiabudhi dong.
ReplyDeleteNah itu salah satu enaknya di jalan Riau. Lokasinya di tengah kota Bandung. Saya suka males ke daerah atas hehehe
DeleteSedih banget pas tahu Suis butcher yang di Jalan Riau akan tutup karena di situ Banyak kenangannya tapi memang sudah keputusan manajemennya tapi setidaknya yang di Setiabudi masih ada jadi kalau kangen masih bisa ke sana. Dan semoga saya masih sama seperti yang kita ingat
ReplyDeleteSelalu mwnyisakan kenangan indah saat tempat kuliner favorit berhenti beroperasi. Te.pat yang ngangenin dan makanan yang rasanya tertinggal dalam ingatan. Untungnya masih ada yang di Cabang Setia Budi ya mbaak. Jadi kalau kangen sama steak nya bisa berkunjung kesana.
ReplyDeleteSebagai penggemar steak dan daging, saya harus ke Suis Butcher ini deh kalau lain waktu main ke Bandung lagi. Apalagi menu makanan dan minumannya cukup bervariasi. Jadi pengen makan steak medium lagi dehhh...
ReplyDeleteMelihat menu, tempat dan makanannya sih emang bakal jadi kenangan rasa yg tidak terlupakan.
ReplyDeleteUntungnya resto pusat tetap ada meskipun yg di Jl. RIAU tutup...
Wah legend banget ya, mbak ini tempat makan steaknya sudah 40 tahun yang artinya seusia sama saya. Hehe. Kenapa yang di cabang Riau itu mau ditutup ya, mbak? Apa karena pengen lebih fokus ke satu resto aja yaa?
ReplyDeleteWah suasana vintagenya dapet banget yaa, seseru itu serasa lagi makan steak di era kapan gitu. Ini kayaknya ditunjang juga sama daftar pilihan menunya juga ya klasik dan penyajiannya juga yang senada. Woh udah tutup ya yg di jalan riau, pdhal klo di Bandung bbrp kali nginep di sekitaran jalan riau, baru mau ditandain hahaha. Eh tp masiha da yg di setiabudi yaa
ReplyDeletePas bacanya langsung kebayang aroma dan suasana tempatnya. Suis Butcher memang salah satu yang sering direkomendasikan, jadi makin pengin mampir kalau ke Bandung lagi.
ReplyDeleteIkut merasa sedih lho. Kenangan makan bareng di cabang yang mau ditutup tak bisa diganti meski masih bisa menikmati menu yang sama di lokasi utama.
ReplyDeleteAlasan ditutupnya karena berkurangnya jumlah pengunjung kah? Padahal saya perhatikan inovasinya jalan terus. Cake Tom n Jerry itu booming sekali beberapa waktu lalu.
wah baru tau Suis Butcher jalan Riau mau tutup
ReplyDeleteDulu jadi tempat favorit buat ketemuan karena dekat sekolah anak-anak dan kantor
Mungkin karena banyak pesaing ya dan perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja
Rindunya sama Bandung..
ReplyDeleteSuka deh sama desain restonya, klasik tapi tetep estetik dan nyaman.
BTW, untuk yang ngga suka/ngga bisa makan daging ada pilihan lain ngga, mbak? Misal ayam bakar gitu haaha
Pasti banyak yang kaya aku pingin nongkrong2 disana tapi ngga mau makan dagingnya.
Saya kok malah salfok dengan meja kursi kayu dan taplak kotak-kotaknya ya mbak, kayak di udah jaman jadul gitu. Tapi kalau anak sekarang bilangnya vintage.
ReplyDeleteAlhamdulillah, walau awalnya agak kaget dan kecewa karena pesanan steaknya udah di potong-potong, alhamdulillah rasanya tidak mengecewakan ya, apalagi ada hint rasa kopinya
Suis Butcher yang terakhir aku datangi itu yang di Braga. Pas malam mingguan dengan suami plus menginap di seputaran sana. Gak inget dulu pesan apa tapi yang pasti steak nya tetap bertahan enaknya. Lembut, juicy, dan mudah dikunyah. Bumbunya juga kaya rasa. Favorit saya sih adalah mashed potatoes nya meski french fries nya juga top. BTW, sayang banget ya kalau yang di Riau harus tutup. Padahal di sana tuh legendaris banget. Seperti yang Myra sebutkan, tempat parkirnya juga luas dan lapang. Setidaknya lebih bisa menampung kendaraan lebih banyak ketimbang di Setiabudi maupun Braga.
ReplyDeleteKehadiran Koki Tamu nya juga oke banget ya. Mampu menghadirkan sajian yang punya identifikasi khusus. Plating nya juga menarik. Bikin ngiler maksimal lah pokoknya. Ah jadi kangen ke Bandung dan mampir ke Suis Butcher.
Kalo makan steak pasti kebayangnya resto yang seperti ini. Sayang bangeeeet dah dipotong-potong kecil yaaa, karena ekspektasi kita nama STEAK kan potongan daging utuh, kalo dipotong potong mah makan semur aja hehehe atau yang di Solo itu apa ya namanya (malah tanya)
ReplyDeleteRasanya sayang banget ya kalau nemu restoran yang penuh kenangan karena sering makan di sana bareng keluarga akan tutup kayak Suis Butcher gitu. Meski masih ada cabang lainnya yang buka kan tetap saja terasa beda vibesnya gitu lho.
ReplyDeleteSaya baru tahu malahan Mba kalau Suis Butcher yang di Jalan Riau mau ditutup. Ini kelewatan sama tempat kerja saya dulu soalnya. Emang dari dulu pas lewat ke sini suka banyak pengunjungnya. Ternyata mau ditutup ya, jadi alternatifnya sekarang ke Jalan Setiabudi ya kalau mau makan steak di Suis Butcher
ReplyDeleteKadang saya juga berpikiran seperti Kak Myra, selera orang itu beda², yang itu bilang kurang karena gak cocok di lidahnya tapi siapa tahu cocok di lidah daku hehe. Tinggal kitanya aja yang racik pesanannya ya, entah itu tambahin saus atau kurangi apa misalnya
ReplyDeletePas Teteh ke lokasi yang di Riau ini terlihat sepi, mungkin karena itu juga salah satu alasannya mau tutup sementara di Setiabudi tetap buka.
ReplyDeleteKalau di keluarga Teteh ada dua kubu, versi well done dan medium, kalau di kelau di keluarga saya versi semua suka. Hehehe... Kecuali anak justru tidak suka makan daging merah.
Wah aku penasaran sm apple springroll nya nih.. Kebayang asam manis segar tapi dipadu dengan kriuk dan gurih dari kulit rollnya... Klo kita yg bikin sendiri bakalan work gak yaa... Penasaran euy
ReplyDeleteWow menarik banget kak, Suis steak kayaknya emang harus dicoba nich. Bikin ngiler banget.
ReplyDeletesayang banget suis butcher yang di riau Sekarang dah tutup.
ReplyDeletememang steak disini punya citarasa yang otentik, walopun banyak bermunculan template making steak baru menurutku tetep Suis butcher terbaik
Duh, sedih banget ya baca kabar Suis Butcher Jl. Riau mau tutup. Padahal tempatnya emang se-ikonik itu buat warga Bandung atau pelancong. Setuju banget, suasana klasiknya itu yang bikin kangen. Untungnya masih ada yang di Setiabudi ya, meski memorinya pasti beda!
ReplyDeletepas baca umurnya suis butcher ini sudah 40 tahun wow baru nyadar dia sudah ada dari tahun 80-an ya, mbak. Berarti masakan steak ini juga sudah populer di Indonesia sejak tahun 80-an ya dan kayaknya dulu juga ini buat golongan atas ya kayaknya tempat makannya
ReplyDeleteSaya suka banget steak, dan selalu suka yang tingkat kematangan medium. Lain waktu kalau ke Bandung harus banget nih ke Suis Butcher buat mencicipi steaknya.
ReplyDeleteCerita steak legendaris ini sukses bikin lapar, apalagi detail soal tekstur daging, saus, dan suasana tempat makannya yang khas. Hmmm ngilerrrr
ReplyDeleteInterior desaignnya klasik sederhana ala barat, ya mbak. Kesan yang sepertinya memang dijaga seperti itu bersama dengan cita rasa legendaris yang dipertahankan sedemikian rupa. Melihat foto-foto steaknya benar-benar menggoda dan ingin menyantapnya secara langsung.
ReplyDeleteArtikel ini bikin saya ngerasain nostalgia dan kehangatan tempat makan yang sudah jadi bagian dari perjalanan banyak orang. Ceritanya bukan sekadar soal steak enak, tapi juga kenangan keluarga dan suasana klasik yang bikin tempat itu lebih dari sekadar restoran biasa.
ReplyDeleteWalaupun masih bisa ke Suis Butcher cabang yang satunya tapi kenangannya kan enggak bisa dipindah ya...huhuhu
ReplyDeleteAku suka steakhouse lawas seperti Suis Butcher ini, resto legend yang berasa nostalgia suasananya
Aduh, membaca tulisan ini jadi ikut merasa sedih sekaligus bernostalgia. Suis Butcher Jalan Riau memang punya "nyawa" tersendiri yang sulit digantikan ya, Mbak. Sayang sekali harus tutup, padahal area outdoor-nya yang asri itu juara banget buat kumpul keluarga.
ReplyDeleteTapi syukurlah kenangan terakhir Juni 2024 kemarin sempat terekam manis dengan personil lengkap. Rib Eye Bone Marrow-nya bikin ngiler, apalagi melihat tingkat kematangannya yang pas! Setuju, meski yang di Setiabudi masih ada, suasana Jalan Riau pasti akan selalu dirindukan.
Sedih banget tahu cabang Riau tutup, padahal menu steak dan suasananya kuat kenangan sekali. Semoga yang di Setiabudi tetap bertahan!
ReplyDeleteKalau sudah jatuh cinta dengan tempat dan cita rasa rasanya pasti sedih kalau ada kabar mau tutup itu ya. Tapi ya mau bagaimana pihak manajemen mereka mungkin sudah memikirkan semuanya termasuk untung dan ruginya ya
ReplyDeleteSemoga kenangan keluarga di sana tetap tersimpan rapi
Salah satunya dengan cerita di blog seperti ini
Wahh, steak... Rasanya udah lama nggak makan steak. Terakhir makan 5 tahun lalu. Kalau steak ini favorit suami, apalagi yang tenderloin. Kalau aku nggak terlalu suka steak, perutku intoleran sama steak. Entah karena nggak cocok sama bagian dagingnya atau apa ya. Terakhir makan 5 tahun lalu, berakhir opname karena radang usus. 🥲
ReplyDeleteWah memang sayang bgt klo ada resto legendaris tutup. Apalagi yg punya kenangan di sana. Untunglah masih ada cabang lain yg buka, jd mengobati kekangenan ya.. Btw menunya menggiurkan semuaaa. Mau nyoba mampir ah klo kpn² ke Bandung
ReplyDeleteAduuuhhhh sayang banget pas ke Bandung ko ga mampir ke Suis Butcher, ehh ko malah mau ditutup sihhh! Meskipun ngga tutup total kan ya, tapi ada tempat2 yang punya banyak kenangan lahh. Apalagi tipe klasik gini. Menu-menunya juga bikin ngiler, yah emang legend sih!
ReplyDeleteKebayang betapa sedihnya karena Suis Butcher Jalan Riau Bandung akan tutup, padahal banyak sekali momen dan kenangan di sana. Tetapi, masih bersyukur karena yang di jalan Setiabudi masih ada. Steak house emang the best. Melihat menu-menu steak di Suis Butcher, kebayang betapa lezatnya. Apalagi tingkat kematangan yang di pesan sesuai pas steak tiba. Selain itu, banyak makanan bahkan camilan menarik dan aneka minumannya juga oke banget ya. Jadi penasaran sama range harganya.
ReplyDeleteWah menu ya bikin laper semua hahajha ... saya malah tertarik banget pada apple roll eh apa tadi namanya ... tampak enak bnget dan kedua jus.
ReplyDeletewaaaaaah yg di jl riau ini juga langgananku mbaaaa... kenapa yaaa sampai tutup :(...
ReplyDeletesebenarnya kalau dibandingin steakhouse lain yg lebih modern kayak justus, Bsteak etc, suis butcher biasa aja.. tapiiiii memang rasa klasik dia, ditambah tempatnya yg bener2 ingetin masa lalu, vintage, dekorasi pun maniiiiis bangettt, belum lagi taplak kotak2nya hahahahaha... itu yg bikin suis butcher tetap di hati.... makanya aku selalu sukaaaa kalau diajak makan di sana... dan bener, tingakt kematangan dia juga selalu pas...
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)