Selasa, 20 Oktober 2015

Belum Berhasil Melihat Migrasi Burung Raptor

migrasi burung raptor
 Rupanya kami memang belum berhasil melihat migrasi burung raptor, karena ... *hiks! :(*

"Bun, tiket kereta untuk ke Tanakita udah dibeli, ya," kata suami lewat telpon.

Kami pun kembali berlibur ke Tanakita. Udah pengen banget berlibur. Kalau gak tau mau kemana, ya paling ke Tanakita (lagi). Belum pernah bosan liburan ke sini karena selalu ada aja pengalaman baru. Selain ada area camp baru di Tanakita yang akan saya ceritain di postingan lain. Tujuan kami ke sana minggu lalu adalah mau melihat migrasi burung.

Bulan Oktober hingga November tahun ini, diperkirakan di Indonesia akan terjadi puncak migrasi para burung pemangsa (raptor). Area di sekitar Tanakita biasanya akan dilintasi oleh banyak burung pemangsa (raptor). Menurut berbagai sumber, diperkirakan sekitar 1 juta burung pemangsa akan migrasi ke Indonesia di periode tersebut.

Tentu saja ini fenomena yang sangat menarik. Dan, juga sangat penting untuk edukasi khususnya bagi anak-anak. Saya dan suami sampai membolehkan mereka bolos 1 hari supaya bisa agak lama di Tanakita untuk melihat migrasi burung ini, lho.

Sebelumnya, anak-anak sudah pernah melihat sepasang elang di Tanakita. Saya pernah menulisnya di postingan yang berjudul, "Ketika Elang Datang." Menarik melihat keadaan sebelum Elang datang. Tanakita yang kadang suka terdengar gemeresek suara di pepohonan karena monyet yang saling melompat dari satu pohok ke pohon lain. Atau bisa juga tupai yang sedang berada di pohon. Ketika elang akan datang, suasana sunyi senyap.

Tentu saja itu pemandangan yang menarik dan sekaligus bisa mengajarkan anak-anak kenapa bisa terjadi. Kalau untuk migrasi burung, saya dan anak-anak belum pernah melihatnya. Oiya, beberapa malam sebelum kami kesana, suami sempat diajak temannya untuk mengamati burung yang ada di hutan kota Jakarta saat malam hari. Sayangnya pas hari kerja, tentu aja saya dan anak-anak gak bisa ikut. Kata suami jumlah burung yang ditemukan sangat sedikit.

Tapi, apa yang terjadi?

migrasi burung raptor
Seandainya hutan tetap hijau dan gak berkurang lahannya.

Selama 3 hari 2 malam kami di sana, hanya 1 ekor burung elang yang melintas. Itupun gak sengaja melihatnya. Saat suami sedang melihat ke atas, terlihat elang yang melintas. Tumben sekali, elang melintas dengan sunyi senyap. Biasanya terdengar pekikannya walopun terbang sangat tinggi.

Suami memang mengatakan kalau mau puas melihat migrasi elang, seharusnya kami pergi ke area paralayang, Puncak. Di seputaran Tanakita memang gak sebanyak di puncak. Kecuali kalau kami mau naik ke area yang lebih tinggi lagi. Tapi, biasanya tetap ada yang melintas, kok. Hanya saja kami gak beruntung saat itu :(

Setelah sampai rumah, saya coba cari info di Google. Mencari tahu kenapa nyaris tidak ada elang yang melintas. Setelah tau, malah jadi sedih banget. Menurut beberapa info, seharusnya migrasi burung sudah terjadi sejak September. Tahun 2014 lalu, di bulan September sudah mulai terlihat migrasi burung. Tapi tahun ini hingga bulan Oktober masih sedikit sekali burung pemangsa yang terlihat bermigrasi. Bahkan di area paralayang, Puncak dan Lembang juga masih terlihat sedikit. Kabarnya baru sekitar 3 ribuan burung yang berhasil terpantau *jauh banget dari 3.000 ke 1 juta, ya*

Kemungkinan Bencana asap di Sumatera yang menjadi penyebabnya

Lintasan migrasi para burung itu kan tetap. Makanya, sebetulnya mudah dibaca. Para burung menghindari lautan luas lebih dari 25 km. Mereka melintas daerah yang banyak hutannya untuk sesekali bisa beristirahat. Tapi, kalau sekarang para burung jarang terlihat kemungkinan besar penyebabnya karena pembakaran hutan di Sumatera. Kepulauan Riau dan Palembang adalah 2 area diantara beberapa area lain yang menjadi jalur migrasi burung raptor. Kedua daerah itu, saat ini sedang terkena bencana asap. Sedangkan, para elang mengandalkan indera penglihatan untuk bisa bermigrasi. Kabut asap menghalangi semua itu.

Sahabat Jalan-Jalan KeNai, tau kan kalau elang adalah termasuk binatang yang memiliki penglihatan yang sangat tajam. Sampai ada istilah 'setajam mata elang'. Jadi, kalau sampai elang yang memiliki penglihatan tajam saja tidak mampu menembus asap, bisa bayangkan seperti apa pekatnya asap di Sumatera sana *dan, juga Kalimantan* Yang menyedihkan, kalau para elang sampai merubah jalur migrasinya, kemudian menemukan laut lepas kemungkinan besar mereka akan mati *aaarrrggghh! sediiiihhh!!* *Hiks!!*

Semoga kami masih diberi kesempatan untuk melihat migrasi elang lagi. Tidak hanya kami bisa memberikan edukasi secara langsung kepada anak-anak. Tapi, saya juga percaya dengan mata rantai kehidupan. Contohnya adalah, raptor akan memangsa tikus yang menjadi hama tanaman. Sahabat Jalan-Jalan KeNai bisa bayangkan seandainya gak ada pemangsa tikus, kan? Dimangsa dengan bahan kimia? Hmmm ... mungkin harus nonton film The Lorax kalau selalu setuju dengan yang serba kimia.

Jadi, Raptor tidak akan mungkin bisa hidup sendiri. Sesama makhluk hidup saling terkait, bahkan juga dengan manusia. Alam butuh keseimbangan supaya kehidupan tetap berlangsung. Memang beberapa bulan lagi akan ada migrasi. Dimana para burung raptor akan kembali ke negara asalnya. Tapi, kalau sekarang aja datangnya sudah sedikit, berarti populasi mereka semakin berkurang, dong.

Untuk para raptor dan juga burung lainnya, tetap semangat, ya!! *segini dulu ceritanya karena saya sedih :(*

migrasi burung raptor
 Tetap semangat menunggu migrasi burung :)

30 komentar:

  1. puk puk mak Myra dan ke nai :(

    BalasHapus
  2. Tanakita yang di sukabumi, Mbak?

    BalasHapus
  3. Itulah ya gara2 kepentingan segelintir orang hutan dibabat habis hancur deh ekosistem. Moga2 si elang nemu tempat baru yg lebih baik seh jangan sampe mati dilaut :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya juga berharap begitu. Tapi, kalau lihat bencana asap yang gak brenti begini, rasanya gimana, ya? *sedih*

      Hapus
  4. Sayang, ya, Mbak, keinginannya belum terwujud. Sedih pastinya, ya. Tapi lebih menyedihkan lagi burung-burung itu. Kasihan banget. Speechless jadinya. Aku blm pernah ada pengalaman liat migrasi burung. Berharap sekali burung-burung itu akan terus lestari.

    Soal bolos, sepertinya aku bakal ikut Mbak Chi & suami deh. aku bakal ngizinin anak-anak bolos untuk sesuatu yang tidak mereka dapat di sekolah. Biar dapat ilmu sekaligus pengalaman nyata. Jadinya pas dapat materi ajar di sekolah, anak-anak udah ngerti. Tanpa bermaksud mengerdilkan peran sekolah sebagai fasilitator pendidikan, aku punya pemikiran kalau ilmu bisa didapat di luar sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami sekeluarga pernah lihat migrasi burung. Tapi burung-burung kecil. Kalau yang raptor ini belum.

      Sesekali gak apa-apa bolos kalau memang ada sesuatu yang lebih penting :D

      Hapus
  5. The Lorax itu satu kehidupan yang mungkin akan terjadi satu saat nanti... hiks.... *lirik skyscraper*

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh, semoga jangan, ya. Ngeri ngebayanginnya

      Hapus
  6. Jadi ikut sedih

    Baca ini jadi dapet banyak pengetahuan, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua kita semakin mencintai alam, ya

      Hapus
  7. Ah, sampai2 burung2 raptorpun enggan lewat ya mba :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. saking pekatnya asap, mereka pun harus melindungi diri. Semoga tidak mati :(

      Hapus
  8. burung elang sudah jarang ya...waktu kecil inget banget , pernah liat elang melintas di atas kampung tmpt saya tinggal, anak-anak dan orang dewasa antusias melihat karena fenomena itu sudah jarang , ternyata di 'hutan' di tanakita juga udah jarang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan beberapa jenis elang pun sudah ada yang langka :(

      Hapus
  9. Aaa. jadi sedih klu bicara asap. hanya untuk keuntungan materi, org2 mengorbankan berbagai jiwa. Bahkan satwa seperti elang juga. padahal saya belum pernah liat elang langsung. jangan sampe langka deh. T^T

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah ada beberapa yang mulai langka

      Hapus
  10. denger denger setelah muncul asap, tiba tiba pohon sawit muncul ya bu?wah, ngeri negeri ini... penuh dengan mafia

    BalasHapus
  11. kira kira akan ada migrasi apa enggak ya mbak?

    BalasHapus
  12. Ajaklah aku camping ke tanakita dong, mau banget kesana

    BalasHapus
  13. kalo melihat banyaknya hutan terbakar di Indonesia sejak September 2015 lalu..berkemungkinan burung gak berani migrasi takut kena kabut ASAP juga....heeee

    BalasHapus
  14. Terasa nyaman dan tenang ya mbak kalau berada di alam terbuka yang masih hijau alami

    BalasHapus
  15. aku juga kepengen banget lihat burung elang...kayaknya langka gitu

    BalasHapus
  16. Hiks, jadi ikutan sedih juga.
    Pernah liat elang, tapi di TERAKOTA Malang. Gak pernah kalo langsung ke tempat kaya' gini.

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...