Featured Post

Seventh Heaven at Samsara

    Seventh Heaven at Samsara

Kamis, 08 Juni 2017

Tanakita Rain Forest Festival, Hari ke-1 and 2

Tanakita Rain Forest Festival 

Tanakita Rain forest festival adalah cerita tentang perayaan tahun baru. Yup! Ini cerita tentang tahun baru lalu yang belum saya publish. Kelamaan ditunda keburu ganti tahun 😂 Etapi sebelum saya cerita, mau tanya dulu. Kalau Sahabat Jalan-Jalan KeNai suka merayakan tahun baru, gak?

Kalau saya iya. Tapi bukan dengan menghabiskan waktu di jalan, cafe, resto, hotel, atau di manapun. Saya lebih memilih berada di rumah saja saat tahun baru. Alasannya hanya satu yaitu macet. Malas banget menghadapi macet saat tahun baru.

Karena tahun baru biasanya bersamaan dengan masa liburan sekolah, biasanya kami kumpul keluarga. Kalau udah kumpul keluarga besar kenapa gak sekalian aja dibikin rame? Biasanya sih BBQ-an. Tapi paling selambatnya pukul 10 malam udah pada tidur. Keluarga besar Chi banyak yang gak kuat begadang, termasuk yang muda-mudanya 😂

Tahun kemaren, benar-benar berbeda dari biasanya. Suami ngajak tahun baruan di Tanakita. Saya sempat heran dan agak malas. Selama ini kalau ke Tanakita lebih suka di saat lagi sepi tamu. biar makin berasa syahdunya *apa, sih? 😁 Nah ini tumben-tumbenan suami ngajak tahun baruan di sana. Sesuatu yang selama ini kami hindari. Tapi katanya tahun ini event tahun baruannya agak berbeda.

Biasanya dimana-mana acara tahun baruan kan cuma diadakan sekian jam aja. Tetapi di Tanakita malah 3 hari 2 malam. Ngapain aja selama 3 hari malam? Gak mungkin juga kan terus-terusan niup terompet dan bakar kembang api? *Dan ternyata selama di sana gak ada bakar kembang api atau terompetan 😄

Rain Forest Festival, Hari ke-1

Tanakita Rain Forest Festival  
Naik kereta biar gak kena macet

Tanakita Rain Forest Festival
Ayo ini Keke dan Nai lagi merhatiin apa?

Kami memilih naik kereta. Sebetulnya event Rain Forest Festival baru dimulai keesokan hari. Tapi tetap aja kita anggap ini hari 1, ya. Biar saya gampang ceritainnya 😁

[Silakan baca: Kalau Roker The Flash ke Tanakita]

Di hari pertama, tamu belum banyak yang berdatangan. Aktivitas event pun belum ada karena masih dipersiapkan. Nai memilih untuk mengeluarkan peralatan menggambarnya. Kadang-kadang kami membuat video. Dan main perosotan pada sore hari. Pokoknya di hari pertama masih aktivitas bebas, lah.

Rain Forest Festival, Hari ke-2

Tanakita Rain Forest Festival

Pagi-pagi, saya dan suami udah jalan-jalan ke danau Situ Gunung. Anak-anak memilih tetap tidur di tenda. Tapi lagi-lagi kami masih belum berhasil mengejar matahari terbit di danau. Padahal udah berangkat lebih pagi dari pengalaman sebelumnya. Apa iya lain kali harus subuhan di sana?

Gagal melihat sunrise, kami putuskan untuk mengelilingi danau. Saya baru kali ini melihat aktivitas pagi di danau Situ Gunung. Belum ada satupun wisatawan kecuali saya dan suami. Tetapi sudah ada beberapa orang warga sekitar yang memancing ikan. Saya gak tau ada ikan apa aja karena selama kami di sana sepertinya belum ada satupun yang berhasil mendapatkan ikan.

Tanakita Rain Forest Festival

Terbersit rasa sedih di hati saya. Apakah mereka mencari ikan untuk makan keluarga? Belum lagi kalau melihat tempat peristirahatan mereka yang sangat sederhana selama memancing. Hanya beratampak plastik apa adanya dan beralaskan terpal atau plastik. Masing-masing membawa selembar sarung untuk menyelimuti badan supaya gak dingin. Dan ada ceret yang sudah gak mulus lagi untuk memasak air.

Dari jam berapa mereka datang ke danau ini? Entahlah. Saya gak ingin mengganggu mereka yang sedang memancing. Ya Allah, semoga dimudahkan rezeki untuk mereka kalau memang untuk mencari nafkah yang baik. Aamiin.

Tanakita Rain Forest Festival

Sampai di Tanakita, Nai dan Keke sudah bangun. Mereka sedang asik bikin video lagi. Kemudian saya bermain perosotan dengan Nai. Satu per satu tamu mulai berdatangan. Dari pagi sampai siang masih acara bebas. Acara Rain Forest Festival pun dimulai tepat pukul 3 sore.

Tanakita Rain Forest Festival  
Daftar acara

Untuk hari kedua, acaranya masih santai banget. Membuat terompet dan pondok rajin. Ada juga aktivitas flying fox tapi Keke dan Nai gak mau ikutan. Keke memang gak terlalu suka main flying fox. Sedangkan Nai lagi bosan. Entah udah berapa kali dia main flying fox di Tanakita, makanya dia bosan. 😂

Tanakita Rain Forest Festival  
Keke yang tadinya gak tertarik malah lama kelamaan ikutan asik menghias terompet

Tanakita Rain Forest Festival  
Terompet yang sudah selesai dihias kemudian divernis supaya mengkilap. Setelah itu dijemur hingga kering
 
Nai memilih membuat terompet untuk aktivitas Rain Forest pertama. Kalau Keke lebih memilih sibuk dengan gadgetnya. Tapi lama kelamaan, dia ngedeketin dan mulai ikutan bikin terompet juga. Terompet yang dibuat ini berbeda dengan terompet tahun baru pada umumnya. Kalau ini terbuat dari batok kelapa. Terompetnya sih udah jadi. Para tamu dibebaskan memilih terompet kecil atau besar. Setelah itu dihias sesuai daya kreativitas masing-masing.

Tanakita Rain Forest Festival   

Tanakita Rain Forest Festival
Ini salah satu hasil kerajinan di Pondok Rajin

Pondok Rajin adalah area kerajinan lainnya. Di sini, peserta diajak untuk bikin kerajinan yang terinspirasi dari dream catcher. Seluruh alat dan bahan disediakan oleh panitia. Setelah selesai menghias terompet, Nai lanjut ke Pondok Rajin. Tapi kali ini Keke gak mau ikutan.

Meskipun Keke gak mau ikutan bikin kerajinan di pondok rajin, gak bikin dia main gadget terus. Malah dia asik main pepeletokan. Sahabat Jalan-Jalan KeNai tau apa itu pepelokan? Atau malah puas banget zaman kecil main pepeletokan?

Tanakita Rain Forest Festival   
Gak ada capenya main pepeletokan seharian. Kejar-kejaran sambil main tembak-tembakan 😂

Pepeletokan atau ada juga yang bilang pletokan adalah pistol-pistolan dari bambu. Bentuknya gak seperti pistol tapi cara mainnya memang seperti main tembak-tembakan. Pelurunya dari kertas atau tissue yang sudah dibasahkan. Kalau agak dimodifikasi dikit bagian ujungnya, suaranya bisa keras banget saat peluru ditembakkan. Keke dan Nai betah banget main pepeletokan seharian. Mereka lari-larian, turun naik area udah kayak gak ada capenya.

Tanakita Rain Forest Festival

Setelah makan malam, para tamu diajak untuk mencari kunang-kunang. Tadinya Nai gak mau ikutan dengan alasan cape dan bosan karena udah beberapa kali ikut kegiatan mencari kunang-kunang di Tanakita. Tapi begitu lihat mayoritas tamu pada ikutan, Nai pun berubah pikiran. Kayaknya dia malas juga kalau kesepian di tempat.

Tanakita Rain Forest Festival

Untung aja kami ikut karena rutenya baru lagi. Kali ini lumayan jauh dan agak lama. Bahkan kami gak hanya diajak mencari kunang-kunang. Kami dibawa ke satu tempat yang cukup lapang tapi gelap karena gak ada penerangan sama sekali. Nama tempatnya adalah Tegal Arben.

Tegal Arben adalah salah satu area perkemahan di Situ Gunung. Saat kami ke sana gak ada satupun yang sedang camping. Kami pun diminta untuk berkumpul dan mematikan semua senter ketika di sana. Begitu seluruh senter dimatikan, yang langsung terasa adalah gelap gulita. Tapi lama kelamaan kami bisa melihat siluet pepohonan hingga para peserta yang ikut. Kami pun diberi penjelasan bahwa mata pada dasarnya bisa beradaptasi. Terbukti saat senter dimatikan, langsung gelap gulita tapi gak berapa lama kemudian kami bisa melihat jelas seperti siluet.

Tidak hanya itu, untuk sejenak kami diminta untuk tidak bersuara. Bukan untuk mengheningkan cipta tapi kami diminta untuk mendengar secara khusyuk suara-suara alam. Setelah sekian menit hening, guide pun mengajak diskusi masih di lokasi yang sama. Bertanya kepada kami suara apa saja yang terdengar. Beneran deh kalau kita mau hening ternyata suara di sekitar tuh akan terdengar. Memberi saya sedikit pelajaran bahwa kita pun harus sesekali belajar untuk mendengarkan. Jangan hanya mau didengar dan heboh sendiri.

Takutkah malam-malam jalan ke hutan? Enggak juga. Mungkin karena banyakan. Yang penting saling menjaga, berjalan hati-hati, dan tidak berisik untuk hal-hal yang gak perlu. Paling saya agak sedikit mengkeret saat di Tegal Arben. Di sana ada toilet umum yang sangat gelap. Kayaknya malas aja saya camping di sana trus pengen ke toilet di malam hari 😂

Tanakita Rain Forest Festival

Dari Tegal Arben, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di satu area lagi yang lumayan lapang. Tempat RRECFEST diadakan. Kami diajak untuk melihat kunang-kunang. Jangan berharap akan melihat kunang-kunang yang sangat banyak seperti di film The Good Dinosaur, ya. Kunang-kunang adalah indikator udara bersih. Setidaknya masih bisa melihat beberapa kunang-kunang setiap kali ke Tanakita. Menandakan udara di sana masih cukup segar untuk dinikmati. Apalagi buat kita yang terbiasa hidup di kota besar, melihat kunang-kunang adalah kenikmatan. Pleeeeeaaaaassseeee ... jangan merengek untuk dibawa pulang kunang-kunangnya. Biar aja kita menikmatinya di alam terbuka.

[Silakan baca: Piknik Asik di RRREC Fest In The Valley 2016]

Setelah melihat kunang-kunang, kami pun kembali ke Tanakita. Ada yang langsung kembali ke tenda masing-masing. Ada yang memilih untuk berkumpul sambil menikmati aneka camilan yang disediakan Saya dan anak-anak memilih untuk beristirahat. Masih banyak kegiatan keesokan harinya. Simpan tenaga jangan sampai kecapean dan sakit.

Bersambung ...

Tanakita Rain Forest Festival

Tanakita









18 komentar:

  1. seru banget ya acaranya.. bener2 back to nature :)

    BalasHapus
  2. aku belum kesampaian nih mau kesini

    BalasHapus
  3. wah seru sekali ya , di aalm itu memang menyenangkan ya

    BalasHapus
  4. Jadi itu kalo 4 orang 10juta ya?

    BalasHapus
  5. Belum kesampaian camping, saya nunggu anak agak besar dulu hehehe. Seru banget neh mbak acaranya

    BalasHapus
  6. Ini seru banget mba, pengen seperti begini juga neh sama keluarga, ajak anak camping.

    BalasHapus
  7. Asyik mba... Bisa ngajakin anak-anak kembali ke alam. Acara yang dibikin juga kreatif...bener2 acara nglewatin taon baru yang berguna, daripada cuma begadang nggak jelas sama menghamburkan kembang api

    BalasHapus
  8. Penasaran banget sama Tanakita ini pengen ngajak bocah deh

    BalasHapus
  9. Rain forest disana dijadiin tempat camping ya mba XD. Di Jambi rainforestnya masih pure buat perlindungan hewan. Pernah dikasih kesempatan camping dalam rangka tugas kampus tapi kurang begitu menikmati karena kondisi badan yg drop. Serunya masih bisa lihat cakar beruang langsung dipohon atau sarang ular yang gedenya minta ampun. Jarak satu tempat ke tempat lain juga lumayan jauh buat tracking tapi yang suka alam liar boleh dicobain lho mba :D

    BalasHapus
  10. pengen banget ajak 3 boyz ke tanakita. kapan ya kapan ya kapan ya... :D

    BalasHapus
  11. Aku penasaran sama Tanakita ini di Situ Gunung sebelah mananya kah? Soalnya aku tahun 2013 pernah ke Situ Gunung, cuma kayaknya belom ada kali ya? Sekarang udah makin bagus disana.

    BalasHapus
  12. seru banget rain foressst festival mauuu :D
    baru pertama kali nih denger acara ini :D

    thankyou for sharing mbaa

    BalasHapus
  13. hwaaa seru banget mba. Aku kepengin ikut perosotan juga. Tempat sholatnya unik. Lihat gambar danaunya aja udah adem apalagi ke sana *bayangin ini mah nggak batal kan ya :D

    BalasHapus
  14. menarik mbak,suatu saat pengen ke sini.
    apalagi, nuansa alamnya wah banget :)

    BalasHapus
  15. Asyik ya taun baruan di sana, beda... Terompetnya lucu pula

    BalasHapus
  16. Wah... asyik banget kegiatannnya.

    BalasHapus
  17. Kok gemas siiih, diajak nyari kunang2 segala hihihi .. Pasti enak ya kesini berame-rame dengan keluarga dan teman.

    BalasHapus
  18. Seru banget bisa glamping gtu, pengen jg ngajakin anak2 kapan2 :D

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...