everest, persiapan menuju everest, pendakian everest,

14 Persiapan Menuju Everest - Setahun lalu, tepatnya akhir Maret 2014, suami saya pergi ke Everest bersama seorang temannya. Gak sampe puncak, sih. Cukup mendekati basecamp, saja. Tapi, segitupun udah tinggi, sekitar 5300 meteran. Dan, (buat saya) juga cukup lama perginya. Sekitar 2 minggu lebih. Kalau sampe puncak, trus kapan suami saya pulang? Dia kan harus ngantor Hehehe. Berikut, berdasarkan hasil wawancara suami *sama suami aja pake wawancara hihihi* ada 14 persiapan menuju Everet yang suami lakukan.


Tiket Pesawat Jakarta - Kathmandu pp


Pasti lah, ya. Abis mau naik apa lagi. Kapal laut mah kayaknya bakal lama aja, tuh hehehe. Suami dan temannya naik Air Asia. Beli tikep PP, Jakarta-Kathmandu. Transit di Malaysia. Waktu itu masih ada tiket murah. Kalau sekarang masih ada gak, ya? *hmmm...*


Mengurus Surat Izin Pendakian


Berdasarkan rencana, suami sampai di Nepal hari Jum'at malam. Sedangkan, hari Sabtu kantor pemerintahan libur. Jadi, suami minta tolong travel agen di sana untuk mengurus surat izin pendakian sekaligus urusan tiket pesawat menuju Lukla. Komunikasi dengan travel agen melalu email. Biaya untuk mengurus surat izin, sekitar $10-20 *lupa pastinya berapa*


Tiket Pesawat Menuju Lukla


Bisa, sih pake transportasi lain tapi perjalanannya lebih lama. Nanti, saya akan tulis di postingan lain tentang bandara di Lukla.


Bawa Beberapa Jaket


everest, persiapan menuju everest, pendakian everest,

Suami bawa 5 jaket tebal, tapi yang 1 ketinggalan di taxi pas menuju Bandara. Jaketnya bisa balik, sih. Karena 1 ketinggalan, jadi yang dibawa cuma 4 jaket.


Outfit Lainnya yang Harus Dibawa


Bawa pakaian yang nyaman. Bawa juga long john. Celana juga jangan pake jeans, tapi celana bahan buat trekking. Sarung tangan yang tebal, kaos kaki tebal, sarung, dan lainnya. Sepatu juga pakai yang buat trekking. *Buat yang perempuan, jangan pake sepatu high heels di sana, ya :p* Setau saya, gak banyak pakaian yang dibawa suami untuk perjalanan lebih dari 2 minggu. Karena di sana, kan, dingin. Jadi, gak keringetan, katanya :D


Duffle Bag


everest, persiapan menuju everest, pendakian everest,
Tas, jaket, dan segala perlengkapannya komplit, Kakaaak! Dibeli ... dibeli ...! :D


Suami membawa 1 duffle bag berukuran besar. Naik gunung, kok, bawa duffle bag? Eits, jangan salah, yang bawa koper aja ada hehehe. Suami memang sudah berniat beli ransel berukuran besar di sana. Banyak, kok, yang jual ransel di sana. Dari yang mulai barang baru sampe bekas. Ketika mulai pendakian, duffle bag gak dibawa. Tapi dititip ke hotel di Kathmandu yang bakal dipake menginap sebelum pulang ke Jakarta.


Tas Pinggang Kecil


Untuk menyimpan surat, dokumen, atau barang berharga lainnya. Obat-obatan pribadi juga sebaiknya masukin ke tas pinggang kecil.


Botol Minum


Suami bawa botol minum berukuran kecil. Merk Nalgene

Iihh, pake disebut merknya! Iya, gak apa-apa, soalnya kami jualan botol merk ituuuh *modus* :p


Trekking Pole (Walking Stick)


Beli di sana juga. Walking stick ini, katanya membantu buat jalan.


Sleeping Bag


Suami sebetulnya udah bawa sleeping bag dari rumah, tapi kurang bisa menahan dingin. Beli lagi, deh, di sana.  Jadi, untuk yang bawa sleeping bag dari rumah, pastikan yang khusus untuk tempat dingin bersalju seperti di Nepal, ya.


Kacamata Hitam


Biar gak silau. Terutama di tempat yang dimana-mana salju.


Smartphone dan laptop


Ini mau trekking apa mau ke mall? Kok, masih bawa gadget? Hehehe. Laptop diperlukan suami apabila lagi ada di hotel, kali aja ada kerjaan yang bisa dikerjakan saat di sana *liburan tetep mikir kerja hihihi*

Smartphone juga masih berguna untuk saling kontak. Sampe di ketinggian tertentu kami masih bisa saling kontak. Ya, gak setiap saat, sih. Karena dia kan setiap hari harus terus berjalan. Irit-irit battere juga. Tapi, lumayan banget bisa menjawab rasa kangen ketika saling kontak *tsaaahh! :p*

Trus, di sekitar hari ke-4 apa ke-5 gitu, deh, baru hilang kontak sama sekali. Selama lebih kurang 1 minggu. Sempet bingung dan sedih banget karena gak nyangka bakal saling gak kontakan selama 1 mingguan. Ternyata, memang selama semingguan itu gak ada sinyal sama sekali.


Trangia


everest, persiapan menuju everest, pendakian everest,Ngopi-ngopi dulu? :)


Sempet bawa trangia dari rumah, tapi gak kepake sama sekali. Makannya di penginapan, katanya. Di setiap tempat yang dikunjungi banyak penginapan. Baik itu hostel maupun rumah penduduk.


Dompet


Iya, lah. Ini, sih, wajib dibawa. Dengan catatan ada isinya (baca: uang)

Itulah 14 barang yang yang disiapkan suami ketika menuju Everest. Nanti, kalau ada lagi saya tambahin. Suami lagi di kantor. Jadi, wawancara terputus sesaat. Di postingan berikutnya, semoga saya juga bisa menceritakan pengalaman suami selama di sana, ya :)

Selain 14 persiapan tadi, tentu aja kondisi fisik harus dijaga. Gak enak, kan, jalan-jalan dengan kondisi fisik yang gak fit. Apalagi jalan-jalan seperti ini membutuhkan banyak tenaga. Perlengkapan pribadi juga jangan sampe lupa. Termasuk, cream untuk kulit untuk mencegah iritasi. Walopun di sana dingin, tapi pulang dari sana suami makin hitam aja kulitnya hahaha.