Di balik foto-foto estetik keluarga di puncak gunung yang sering kita lihat di media sosial, ada realita lapangan yang jarang terekspos yaitu ransel berat, jalur menanjak tanpa henti, dan balada anak yang mendadak mogok jalan karena kelelahan. Mendaki gunung bersama anak memang menyajikan petualangan seru, tetapi jika dilakukan tanpa perhitungan matang, liburan impian bisa dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk. Keamanan dan keselamatan anak tentu menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Sebelum Sahabat KeNai dan keluarga mulai melangkah ke jalur pendakian, pahami dulu berbagai tips dan persiapan penting naik gunung bareng anak agar momen berharga ini tetap berjalan aman, nyaman, dan penuh tawa.
Udah lumayan lama saya ingin menulis tentanf Tips Mempersiapkan Anak Mendaki
Gunung. Draft di blog sudah ada sejak Juli 2019. Dengan berbagai alasan,
tulisan gak kunjung selesai. Terus menjadi draft, gak pernah dihapus, tapi
mau diterusin juga malas hehehe!
Hingga beberapa bulan lalu, saya membaca berita tentang anak bayi berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia ketika mendaki Gunung Ungaran. Gregetan banget ketika membaca kronologinya. Pasangan ini mengaku sekadar jalan-jalan ke petugas, bukan untuk muncak. Tapi, sepanjang jalan keduanya cekcok. Istrinya pengen turun karena cuaca tidak memungkinkan, bahkan hujan. Si suami bersikeras lanjut sampai puncak dengan bayinya. Singkat cerita, istrinya memilih turun sendirian dan di bawah meminta petugas untuk membujuk suaminya turun.
Tim SAR pun bergerak cepat. Melakukan evakuasi kepada bayo yang saat itu kondisinya basah karena kehujanan. Menyelimutinya denganemergency blanket atau selimut darurat agar suhu tubuh gak semakin turun.
Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja. Hanya mengalami dehidrasi ringan. Tapi, tetap aja ya bagi saya yang dilakukan orangtuanya tidak bijak. Abai dengan kesehatan dan keselamat anak.
Hingga beberapa bulan lalu, saya membaca berita tentang anak bayi berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia ketika mendaki Gunung Ungaran. Gregetan banget ketika membaca kronologinya. Pasangan ini mengaku sekadar jalan-jalan ke petugas, bukan untuk muncak. Tapi, sepanjang jalan keduanya cekcok. Istrinya pengen turun karena cuaca tidak memungkinkan, bahkan hujan. Si suami bersikeras lanjut sampai puncak dengan bayinya. Singkat cerita, istrinya memilih turun sendirian dan di bawah meminta petugas untuk membujuk suaminya turun.
Tim SAR pun bergerak cepat. Melakukan evakuasi kepada bayo yang saat itu kondisinya basah karena kehujanan. Menyelimutinya denganemergency blanket atau selimut darurat agar suhu tubuh gak semakin turun.
Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja. Hanya mengalami dehidrasi ringan. Tapi, tetap aja ya bagi saya yang dilakukan orangtuanya tidak bijak. Abai dengan kesehatan dan keselamat anak.
Mendaki Gunung Bukan FOMO, Persiapan Harus Matang
"Akhirnya, lo ikutan hobi suami, ya."
Teman-teman kuliah saya pernah mengatakan kalau saya mulai ikutan hobi suami. Mereka suka bilang kalau saya dan suami tuh beda banget hobinya. Suami anak gunung, sedangkan saya anak kota. Hmmm ... lebih tepatnya anak rumahan, sih. Karena saya lebih sering magernya dan betah banget di rumah hehehe.
Benar yang dikatakan teman-teman. Saya memang mulai ikut hobi suami ketika sudah menikah. Awalnya bukan karena mulai tertarik, tapi demi anak-anak. Saya ingin anak-anak juga mengenal aktivitas ayahnya. Jangan di rumah melulu kayak bundanya hehehe. Apa nanti setelah dewasa mereka akan lebih betah di rumah atau berpetualang? Paling gak dikenalin dulu dengan aktivitasnya.
Tapi, bukan berarti langsung diajak naik gunung, lho. Paling gak dikenalkan dengan suasana alam dulu. Camping pertama kali ketika Keke usia setahunan dan Nai masih di dalam perut. Diajak trekking tipis-tipis dulu.
Diajak bertahap karena gak cuma anak yang dikenalkan dengan alam bebas, tapi juga bundanya. Pasti saya juga bakal kaget kalau ujug-ujug diajak naik gunung. Makanya dikenalin pelan-pelan.
Kenapa gak anak sama ayahnya aja yang mendaki? Kan, ayahnya paham tentang mendaki gunung.
Ya, saya tau ada beberapa anak yang bisa diajak berpetualang seru dengan salah satu orang tuanya aja. Tapi, alasannya kembali ke tentang persiapan. Gak hanya fisik, tapi juga mental. Persiapan detilnyam seperti barang apa aja yang dibawa, sudah pernah saya tulis di blog ini, artikelnya berjudul Persiapan Pendakian Gunung Prau Bersama Anak ya.
Anak-anak kami sangat dekat dengan orang tuanya. Tapi, gak bakal mau deh kalau pergi berhari-hari tanpa bundanya ikut. Bisa-bisa mereka rewel, nanti ayahnya juga yang repot. Makanya ketika pertama kali mengajak kami mendaki gunung, hal pertama yang ditanya suami adalah "bunda udah siap?". Karena menurutnya kalau saya siap, insyaAllah anak-anak juga siap.
Silakan baca: Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri
Teman-teman kuliah saya pernah mengatakan kalau saya mulai ikutan hobi suami. Mereka suka bilang kalau saya dan suami tuh beda banget hobinya. Suami anak gunung, sedangkan saya anak kota. Hmmm ... lebih tepatnya anak rumahan, sih. Karena saya lebih sering magernya dan betah banget di rumah hehehe.
Benar yang dikatakan teman-teman. Saya memang mulai ikut hobi suami ketika sudah menikah. Awalnya bukan karena mulai tertarik, tapi demi anak-anak. Saya ingin anak-anak juga mengenal aktivitas ayahnya. Jangan di rumah melulu kayak bundanya hehehe. Apa nanti setelah dewasa mereka akan lebih betah di rumah atau berpetualang? Paling gak dikenalin dulu dengan aktivitasnya.
Tapi, bukan berarti langsung diajak naik gunung, lho. Paling gak dikenalkan dengan suasana alam dulu. Camping pertama kali ketika Keke usia setahunan dan Nai masih di dalam perut. Diajak trekking tipis-tipis dulu.
Diajak bertahap karena gak cuma anak yang dikenalkan dengan alam bebas, tapi juga bundanya. Pasti saya juga bakal kaget kalau ujug-ujug diajak naik gunung. Makanya dikenalin pelan-pelan.
Kenapa gak anak sama ayahnya aja yang mendaki? Kan, ayahnya paham tentang mendaki gunung.
Ya, saya tau ada beberapa anak yang bisa diajak berpetualang seru dengan salah satu orang tuanya aja. Tapi, alasannya kembali ke tentang persiapan. Gak hanya fisik, tapi juga mental. Persiapan detilnyam seperti barang apa aja yang dibawa, sudah pernah saya tulis di blog ini, artikelnya berjudul Persiapan Pendakian Gunung Prau Bersama Anak ya.
Anak-anak kami sangat dekat dengan orang tuanya. Tapi, gak bakal mau deh kalau pergi berhari-hari tanpa bundanya ikut. Bisa-bisa mereka rewel, nanti ayahnya juga yang repot. Makanya ketika pertama kali mengajak kami mendaki gunung, hal pertama yang ditanya suami adalah "bunda udah siap?". Karena menurutnya kalau saya siap, insyaAllah anak-anak juga siap.
Silakan baca: Pengalaman Pertama Mengajak Anak Mendaki Gunung Gede via Gunung Putri
Gunung Gak Akan Ke Mana-Mana. Kapan Waktu yang Tepat Mengajak Anak Mendaki?
Gak hanya sekali suami menanyakan apakah saya sudah siap. Gak memaksa juga.
Gunung gak akan ke mana-mana, kok. Tapi, kapan waktu yang tepat mengajak
anak mendaki?
Sahabat KeNai mungkin pernah melihat orang tua yang mengajak anaknya mendaki. Bahkan ada yang anaknya masih batita. Terkadang menimbulkan komen beragam pro kontra. Bagi saya pribadi, berdasarkan pengalaman, selama orangtuanya paham pendakian dan persiapannya matang sih gak apa-apa deh bawa anak mendaki.
Ketika saya bilang siap, semua persiapan detilnya diserahkan ke suami. Saya ikut aja karena suami kan udah pasti paham teknisnya. Kalau pun penasaran ya paling nanya, bukan untuk mengatur-ngatur.
Contohnya nih ketika semua diminta bawa ransel dengan isi perlengkapan pribadi masing-masing seperti pakaian, jaket, hingga makanan dan minuman. Saya sempet bertanya kenapa anak-anak juga diminta bawa ransel. Kayaknya gak tega gitu. Saya maunya biarin aja mereka jalan tanpa bawa apa-apa.
Suami pun menjelaskan dengan rinci alasannya. Tentu aja berat ranselnya juga disesuaikan dengan berat badan masing-masing. Jadi, dipastikan anak-anak tetap bisa bergerak lincah meskipun sambil bawa ransel. Ya udah kembali saya percayakan semua ke suami.
Kami juga pakai jasa porter meskipun suami paham mendaki gunung. Tapi, masalahnya adalah dia juga bawa 3 orang pemula yaitu istri dan anak-anaknya hehehe. Porter yang akan mendampingi anak-anak, sedangkan suami mendampingi saya.
Selama pendakian seringkali saya yang selalu kelelahan. Sedangkan anak-anak kayak gak ada habis battere energinya. Mereka seringkali protes kalau kebanyakan berhenti. Nah, porter yang akan mendampingi kelincahan anak-anak kami.
Ketika mendaki memang setiap orang memiliki situasi dan kondisi berbeda. Jangan samakan juga sama akamsi. Beberapa melihat bocah-bocah akamsi naik gunung hanya pakai sandal jepit dan tanpa bawa perlengkapan apapun. Sambil berlarian pula. Bagi mereka, gunung memang seperti tempat bermain. Makanya, bisa tektok mendakinya.
Ada pula orang tua yang mengajak anaknya mendaki tanpa membawa porter. Apapun pilihannya memang bebas aja. Kuncinya memang di persiapan. Safety First.
Saya baru 2x mendaki gunung, yaitu Gunung Gede dan Prau. Bahkan yang ke Gunung Gede, kami gagal muncak. Hanya sampai alun-alun Suryakencana. Rencananya, setelah subuh akan nanjak ke puncak Gunung Gede. Tapi, saya dan anak-anak terlalu mager. Lebih memilih mendingan tidur karena kecapean hahaha!
Terlepas dari alasan mager, memang mendaki gunung juga tentang mengendalikan ego. Ya mungkin akan berasa puas kalau bisa sampai puncak gunung. Sayang banget udah sekian jam mendaki tapi gagal sampai puncak. Ya, tapi saya dan anak-anak juga capek. Apalagi ini pengalaman pertama mendaki. Daripada maksain trus kenapa-napa yakaaan. Lagian gunung juga gak akan ke mana-mana. Siapa tau suatu saat bisa balik lagi.
Berikutnya, kami sekeluarga sempat berencana mau mendaki Semeru di akhir tahun. Kebetulan suami juga mau hadir di salah satu acara tentang mendaki gunung di Malang. Jadi sekalian aja setelah itu ke Semeru.
Persiapan udah matang. Tinggal berangkat aja sebenarnya. Tapi, Qadarullah terjadi banjir besar di Pacitan dan bencana alam di beberapa wilayah lain. Tentu Tim SAR dan lainnya berpencar melakukan evakuasi. Sehingga acara pun batal, termasuk rencana kami mendaki. Gak lama setelah itu datanglah pandemi.
Pandemi udah usai. Anak-anak udah besar. Udah punya kesibukan masing-masing. Tapi, sepertinya Keke mulai menunjukkan minat seperti ayahnya. Kalau saya pribadi kayaknya harus mulai melupakan naik gunung. Apalagi sejak lutut bermasalah lumayan lama. Meskipun sekarang sudah bisa jalan normal, tapi tetap deg-degan kalau treking tipis atau sekadar turun naik tangga.
Suami sih tetap menyemangati, insyaAllah bisa lah diajak berpetualang. Tentu aja saya masih pengen banget. Tapi, saya gak akan bosan-bosannya bilang kembali ke persiapan. Jangan mendaki hanya karena FOMO. Mendaki hanya untuk 'kasih makan' konten medsos.
Bagaimana kalau kedua orang tua juga minim pengalaman naik gunung? Sekarang ini kan banyak open trip, Sahabat KeNai bisa ikut salah satunya. Tapi, jangan asal-asalan memilih. Cari yang sesuai kebutuhan atau malah lebih bagus lagi pakai jasa private. Apalagi ini kan bawa anak-anak. Mendingan pakai jasa professional yang private.
Ingat! Safety first. Mendaki gunung itu bukan sekadar jalan-jalan. Persiapannya harus matang demi keamanan. Jangan FOMO, kendalikan ego. Persiapannya harus lebih matang lagi. Jangan deh ajak anak-anak berpetualang tanpa adanya persiapan. Ini bukan perkara 'kalau ada apa-apa jadi nyusahin Tim SAR'. Kalau bener-bener sayang, harus perhatiin juga keselamatan dan keamanan anak, ya.
Silakan baca: Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng: Keindahan yang Perlu Dikenang
Sahabat KeNai mungkin pernah melihat orang tua yang mengajak anaknya mendaki. Bahkan ada yang anaknya masih batita. Terkadang menimbulkan komen beragam pro kontra. Bagi saya pribadi, berdasarkan pengalaman, selama orangtuanya paham pendakian dan persiapannya matang sih gak apa-apa deh bawa anak mendaki.
Ketika saya bilang siap, semua persiapan detilnya diserahkan ke suami. Saya ikut aja karena suami kan udah pasti paham teknisnya. Kalau pun penasaran ya paling nanya, bukan untuk mengatur-ngatur.
Contohnya nih ketika semua diminta bawa ransel dengan isi perlengkapan pribadi masing-masing seperti pakaian, jaket, hingga makanan dan minuman. Saya sempet bertanya kenapa anak-anak juga diminta bawa ransel. Kayaknya gak tega gitu. Saya maunya biarin aja mereka jalan tanpa bawa apa-apa.
Suami pun menjelaskan dengan rinci alasannya. Tentu aja berat ranselnya juga disesuaikan dengan berat badan masing-masing. Jadi, dipastikan anak-anak tetap bisa bergerak lincah meskipun sambil bawa ransel. Ya udah kembali saya percayakan semua ke suami.
Kami juga pakai jasa porter meskipun suami paham mendaki gunung. Tapi, masalahnya adalah dia juga bawa 3 orang pemula yaitu istri dan anak-anaknya hehehe. Porter yang akan mendampingi anak-anak, sedangkan suami mendampingi saya.
Selama pendakian seringkali saya yang selalu kelelahan. Sedangkan anak-anak kayak gak ada habis battere energinya. Mereka seringkali protes kalau kebanyakan berhenti. Nah, porter yang akan mendampingi kelincahan anak-anak kami.
Ketika mendaki memang setiap orang memiliki situasi dan kondisi berbeda. Jangan samakan juga sama akamsi. Beberapa melihat bocah-bocah akamsi naik gunung hanya pakai sandal jepit dan tanpa bawa perlengkapan apapun. Sambil berlarian pula. Bagi mereka, gunung memang seperti tempat bermain. Makanya, bisa tektok mendakinya.
Ada pula orang tua yang mengajak anaknya mendaki tanpa membawa porter. Apapun pilihannya memang bebas aja. Kuncinya memang di persiapan. Safety First.
Saya baru 2x mendaki gunung, yaitu Gunung Gede dan Prau. Bahkan yang ke Gunung Gede, kami gagal muncak. Hanya sampai alun-alun Suryakencana. Rencananya, setelah subuh akan nanjak ke puncak Gunung Gede. Tapi, saya dan anak-anak terlalu mager. Lebih memilih mendingan tidur karena kecapean hahaha!
Terlepas dari alasan mager, memang mendaki gunung juga tentang mengendalikan ego. Ya mungkin akan berasa puas kalau bisa sampai puncak gunung. Sayang banget udah sekian jam mendaki tapi gagal sampai puncak. Ya, tapi saya dan anak-anak juga capek. Apalagi ini pengalaman pertama mendaki. Daripada maksain trus kenapa-napa yakaaan. Lagian gunung juga gak akan ke mana-mana. Siapa tau suatu saat bisa balik lagi.
Berikutnya, kami sekeluarga sempat berencana mau mendaki Semeru di akhir tahun. Kebetulan suami juga mau hadir di salah satu acara tentang mendaki gunung di Malang. Jadi sekalian aja setelah itu ke Semeru.
Persiapan udah matang. Tinggal berangkat aja sebenarnya. Tapi, Qadarullah terjadi banjir besar di Pacitan dan bencana alam di beberapa wilayah lain. Tentu Tim SAR dan lainnya berpencar melakukan evakuasi. Sehingga acara pun batal, termasuk rencana kami mendaki. Gak lama setelah itu datanglah pandemi.
Pandemi udah usai. Anak-anak udah besar. Udah punya kesibukan masing-masing. Tapi, sepertinya Keke mulai menunjukkan minat seperti ayahnya. Kalau saya pribadi kayaknya harus mulai melupakan naik gunung. Apalagi sejak lutut bermasalah lumayan lama. Meskipun sekarang sudah bisa jalan normal, tapi tetap deg-degan kalau treking tipis atau sekadar turun naik tangga.
Suami sih tetap menyemangati, insyaAllah bisa lah diajak berpetualang. Tentu aja saya masih pengen banget. Tapi, saya gak akan bosan-bosannya bilang kembali ke persiapan. Jangan mendaki hanya karena FOMO. Mendaki hanya untuk 'kasih makan' konten medsos.
Bagaimana kalau kedua orang tua juga minim pengalaman naik gunung? Sekarang ini kan banyak open trip, Sahabat KeNai bisa ikut salah satunya. Tapi, jangan asal-asalan memilih. Cari yang sesuai kebutuhan atau malah lebih bagus lagi pakai jasa private. Apalagi ini kan bawa anak-anak. Mendingan pakai jasa professional yang private.
Ingat! Safety first. Mendaki gunung itu bukan sekadar jalan-jalan. Persiapannya harus matang demi keamanan. Jangan FOMO, kendalikan ego. Persiapannya harus lebih matang lagi. Jangan deh ajak anak-anak berpetualang tanpa adanya persiapan. Ini bukan perkara 'kalau ada apa-apa jadi nyusahin Tim SAR'. Kalau bener-bener sayang, harus perhatiin juga keselamatan dan keamanan anak, ya.
Silakan baca: Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng: Keindahan yang Perlu Dikenang



20 Comments
Betul sekali. Jangan mendaki hanya karena pengen punya foto keren dia atas awan
ReplyDeleteAtau selfie di Padang edelweis
Risiko yang akan terjadi, siapa tau...
Waktu bawa anak (usia Fahmi 6 tahun) naik gunung api tertinggi di Indonesia alias puncak Indrapura, ada yg meninggal dunia asal Medan. Ternyata dia sakit tapi memaksakan diri muncak
Nah, udah tau sakit, maksa pula
Turut berdukacita. Semoga kita semua bisa ambil pelajaran dari kejadian tersebut
DeleteTurut berduka buat korbannya..
DeleteNah apalagi di zamans ekarng, naik gunung buat ikut2an aja supaya bisa posting dan dijadikan konten supaya FYP dan dikenal banyak orang dengan komentar "ihh keren ya kamu, uda naaik gunung ini-itu". Padahal sebelum muncak ada persiapan maatang yang harus dipersiapkan terutama kesehatan
Anak aku suka ngajak mendaki gunung mba, sayangnya badan saya pasti rempong kalau naik gunung, waktu masih muda cukup kuat jalan berkilo kilo dan berbukit tapi sekarang gampang ngis ngosan karena usia dan memang tidak terlatih juga buat naik gunung. Pasti seru ya mendaki gunung sama anak, menikmati indahnya alam ciptaan yang Maha Kuasa.
ReplyDeleteWaaaah ada artikel ini, kebetulan saya juga mau ajak dua anak perempuan saya naik gunung teh, pernah sih ke Papandayan, tapi waktu itu masih pada kecil banget, yang satu bayi yang satu balita, alhasil jadinya digendong dua-duanya pastinya. Seru dan beneran bukan FOMO tapi juga mengajarkan anak tentang motivasi yang tidak terasa cara mengajarkannya
ReplyDeleteAsalkan persiapannya matang, insyaAllah dilancarkan. Bagus kok mengajak anak mendaki gunung
DeleteSetuju banget, keselamatan anak tuh nomor satu! Naik gunung emang wajib persiapan matang, gak bisa cuma modal FOMO. Inspiratif banget ceritanya, jadi paham harus mulai dari trekking tipis-tipis dulu. Makasih sharingnya yang super berguna mbak Mira!
ReplyDeleteYup! Jangan maksain naik gunung kalau persiapannya gak matang. Bahkan yang ketinggiannya rendah sekalipun.
DeleteSaya belum pernah naik gunung tapi beberapa kali trekking ke Curug yang rutenya cukup menantang. Ternyata banyak juga orang yang trekking mengajak anaknya yang masih kecil untuk ikut serta jalan menyusuri trekking yang cukup menantang ini. betul yaa ternyata harus dipersiapkan segala halnya apalagi untuk naik gunung, so pasti harus menyiapkan segala sesuatunya dengan seksama.
ReplyDeleteke curug pakai sebaiknya pakai outfit dan alas kaki yang aman dan nyaman
Deletesekarang aktivitas trekking atau naik gunung ini lagi diminati ya, mbak. kayak adikku kemarin juga barusan ikut trekking dia ke bukit mana gitu. aku sebenarnya pengen dan anak-anak juga ngajakin tapi lututku nggak kuat huhu
ReplyDeleteSaya juga mulai berhenti trekking karena lutut mulai rewel
DeleteBayi 1,5 tahun diajak naik gunung?
ReplyDeleteWaktu denger cerita Teh Okti dia naik bareng anaknya yang masih kecil aja, saya bingung
Tapi kemudian paham, sedini mungkin anak harus diperkenalkan dengan berbagai aktivitas
Daripada tenggelam dalam gadget
Dan itu akan terbawa sampai nanti kuliah, sehingga anak punya jejaring
Memang banyak manfaatnya mengenalkan pengalaman di alam terbuka sejak anak-anak. Tapi, yang utamanya tetap di faktor safety. Gak boleh abai sedikit pun. Kalau tetap ingin mengenalkan alam ke anak-anak masih ada pilihan lain yang minim risiko. Kembali ke kesiapan dan pengalaman orangtuanya
DeleteIkut gemes baca orang yang bawa bayi tanpa prepare:((( pake acara bohong ke petugas pula!
ReplyDeleteNaik gunung bareng anak memang ternyata bukan sekadar soal memilih perlengkapan dan menyiapkan fisik, tapi juga tentang belajar mengenal batas kemampuan anak, sabar mengikuti ritmenya, dan menjadikan perjalanan sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Kadang justru perjalanan seperti ini yang nantinya menjadi cerita masa kecil paling berkesan.
Anakku yang hobinya hiking cuman 1 sih yang 2 anak rumahan semua
Sama kita, Mba Myra. Suami saya juga anak gunung saya anak rumahan...Bedanya sampai kini pun tetap begitu, saya belum ketularan hobinya hihihi...
ReplyDeleteSetujuuu, mendaki bersama anak memang bukan sekadar jalan-jalan apalagi mengejar konten, karena persiapannya harus benar-benar matang dan kemampuan anak juga perlu diperhitungkan. Saya suka cerita pengalamannya, terutama bagaimana anak-anak dikenalkan dengan alam secara bertahap dan setiap keputusan tetap mengutamakan safety first. Apalagi sekarang saya sendiri sudah mulai lebih berhati-hati dengan aktivitas trekking karena lutut, jadi tulisan ini terasa makin relate. Ternyata mengendalikan ego juga bagian penting dari mendaki—kalau memang belum siap, ya nggak perlu dipaksakan
Saya dan keluarga gak ada yang suka mendaki gunung. Malah hampir ke semua kegiatan outdoor. Apalagi buat aku yang punya HNP. Jika pun ada yang menarik, gak sampe harus berjuang untuk menikmatinya. Jadi aku selalu salut sama mereka yang suka hiking dan olga lumayan berat seperti mendaki. Fisiknya pasti prima banget. Dan yes, persiapannya memang harus mapan. Gak cuma kebutuhan fisik dan fisik itu sendiri tapi juga kesiapan mental.
ReplyDeleteDuh gedek banget dah sama orang tua yang mentingin ego kudu sampai puncak tanpa melihat situasi dan kondisi. Mana yang dibawa anak masih bayi. Mereka nggak tahu apa kalau kondisi fisik mereka dan bayi tuh beda.
ReplyDeletePadahal, benar kata kakak. Gunung tuh nggak akan kemana-mana. Mau ngejar apa sih?
Tunggu siap dulu semua. Tunggu kondusif dulu cuaca. Ketimbang bayinya berisiko hipotermia coba. Kalau ada apa-apa, bukannya orang tua juga yang akan panik. Repot.
Hmmm... Ada saja.
Chiiiii, draftnya udah nongkrong di folder sejak 2019, saat Keke dan Nai masih cilik ya? Hihi.... Sekarang anaknya udah gede ajaaaa.
ReplyDeleteYes, mendaki gunung bersama anak memang bukan sekedar jalan-jalan sih yaaa? Ada banyak hal yang harus dipersiapkan agar pendakian berlangsung safe, happy, dan hasilkan konten yang keren!
Setujuuuu. Naik gunung itu bukan hal main2. Ga cuma adu gengsi Krn udh berhasil naik gunung A misalnya. Banyak persiapan, ga asal pake sepatu trekking, trus pergi.
ReplyDelete.
Kalau untuk ngajarin anak supaya terlatih naik gunung, kayaknya salah satu orangtua memang hrs suka dulu 🤣. Kalau kayak aku dan suami, suami ga tertarik naik gunung, aku apalagi 😅. Jadi ga mungkin kami ngajakin anak2 utk mendaki memang.
Tapi seandainya nanti mereka tertarik, ntah Krn teman2nya, yg pasti aku bakal ingetin utk safety first. Dan hrs pakai guide yg pro. Hrs ikutin aturan yg berlaku. Kalau gunungnya lagi ditutup, ya jangan maksa diem2 cari jalur lain. Kalau nanti celaka, yg ada malah ngerepotin orang lain juga 😔
Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)