Selasa, 05 Januari 2016

Yang Baju Orange Jangan Sampai Lepas!

Abis Nai ngacir banget. Bikin khawatir hilang di hutan.

"Mas, lihat anak perempuan yang pakai baju bola warna orange, gak?" tanya saya kepada seorang crew Tanakita yang sedang melintas sambil membawa ban untuk tubing.

"Gak lihat, Bu."

Duh! Napas yang belum hilang ngos-ngosannya, sekarang ditambah dengan hati yang mulai deg-degan.

Masa' gak lihat, sih? Trus, Nai kemana?

"Mas, lihat anak perempuan pakai baju orange lewat, gak? Anak kecil, Mas." Saya kembali bertanya ke crew Tanakita lain yang sedang melintas. Saya sangat gak yakin kalau mereka melihat. Karena yang kami lewati adalah jalan setapak. Kalau crew pertama yang baru saja lewat beberapa menit lalu gak melihat, rasanya kecil banget kemungkinan crew yang berikutnya akan berpapasan dengan Nai.

"Gak ada anak kecil yang lewat, Bu."

Walaupun saya sudah menduga jawabannya akan seperti itu, tetap aja lutut menjadi lemas mendengarnya. Jantung saya semakin berdegup kencang.

------------------------------


"Nai! Tunguuu ...!"
"Nai! Jangan kecepetan ...!"

Berulang kali saya harus berteriak memanggil Nai yang melesat sendirian. Saat itu, kami (minus Keke yang lebih memilih river tubing) dan 1 rombongan keluarga besar yang menjadi tamu Tanakita, sedang berjalan kaki menuju Tanakita Riverside.

Sebetulnya untuk menuju sana bisa aja naik angkot. Tapi, jadi gak berpetualang kalau naik angkot. *Naik angkot mah di kota aja :p* K'Aie mengajak trekking ke Tanakita Riverside. Berarti kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak di hutan.

Memang bukan di tengah hutan belantara. "Hanya" di pinggir hutan. Walau begitu tetap aja jalannya masih alami. Harus hati-hati, terlebih bila hujan turun. Apalagi di sepanjang 2/3 perjalanan ada jurang di pinggirnya.

Mungkin merasa sudah hapal jalan karena sudah berkali-kali kami trekking ke Riverside, Nai pun langsung melesat sendiri. Sesekali dia meloncat seperti kancil. Saya berkali-kali harus berteriak memintanya untuk berhenti. Padahal sulit untuk berteriak di saat bernapas aja sudah ngos-ngosan karena harus berlari mengejarnya. Ya, saya harus berteriak memintanya berhenti karena kalau tidak gak akan kekejar. Nai larinya cepat :D

Nai memang sudah hapal jalan, tapi saya merasa kami semua harus tetap jalan bersama. Tentu alasan utamanya untuk saling menjaga keselamatan. Trekking di hutan dengan kondisi jalan setapak yang apa adanya. Jalurnya gak selalu datar, kadang menurun dan menanjak. Ada juga jalan yang licin. Kebanyakan melewati jalan setapak yang di pinggirnya jurang.

Bagaimana kalau dia terpeleset atau terguling karena jalanan licin? Bagaimana bisa tau kalau dia terpeleset bila jalan sendirian? Siapa yang bisa langsung menolong kalau dia terjatuh saat jalan sendirian? *Duh, pikiran saya mulai aneh-aneh karena khawatir, nih*

Lama kelamaan teriakan saya semakin berkurang. Kalah dengan napas yang semakin terengah-engah dan rasa lelah karena mengejarnya. Ya, seharusnya trekking di jalani dengan berjalan santai, khususnya buat saya :D

----------------------


Dan, saya pun duduk di sebuah persimpangan ... 

Di tengah perjalanan trekking, kami akan menemui sebuah persimpangan. Satu-satunya persimpangan yang ada Ke kanan untuk menuju Tanakita riverside, ke kiri untuk menuju start river tubing.

Saat itu saya hanya menunggu bersama seorang anak laki-laki kelas 2 SD. Anak dari salah seorang tamu yang ikutan trekking bersama kami. Dia ikut berlari ketika saya mengejar Nai. Rombongan lain tertinggal jauh. Berkali-kali, saya menengok ke belakang, belum juga nampak rombongan trekking datang. Saya semakin gelisah karena beberapa kali bertanya ke crew Tanakita yang lewat dan mendapatkan jawaban tidak melihat anak kecil berkostum jersey warna orange.

Jangan-jangan Nai kebawa sama Keke?

Saat sedang menyusuri jalan setapak, tau-tau Keke datang sambil berlari. Tujuan dia adalah river tubing. Sama seperti Nai, Keke pun melesat meninggalkan rombongan tamu yang juga akan river tubing. Merasa klop, Keke dan Nai pun semakin melesat ketika mereka bertemu. Meninggalkan saya dan rombongan lain jauh di belakang. Hingga akhirnya mereka hilang dari pandangan.

Saya berharap Nai memang kebawa Keke. Setidaknya itu dugaan yang lebih menenangkan daripada menduga yang lain, seperti jatuh. Hiii ... Tapi, kalau Nai sampai kebawa sama Keke, trus gimana dia baliknya? Gak mungkin juga Nai ikut Keke menyusuri sungai. Nai gak pakai perlengkapan untuk river tubing. Lagipula badannya masih kekecilan untuk ikut aktivitas tubing.

Akhirnya rombongan besar yang ditunggu muncul juga ...


Saya pun langsung nyerocos menceritakan kejadiannya. Seorang crew Tanakita yang ikut menemani trekking dengan sigap mengatakan akan mencari ke tempat start tubing. Saya pun mulai sedikit lega. Setidaknya mulai ada yang bantuin cari.

Trus, apakah kemudian saya mulai bisa trekking dengan santai. Ternyata enggak ...!

Kali ini giliran anak kecil yang mengikuti saya dari awal trekking yang mengajak berlari. Kembali saya harus berteriak dan berlari. Ini anak kecil pada makan apa, sih? Energinya turbo semua. Untungnya anak ini masih mau nungguin saya. Menurut kalau saya minta berhenti. Ya, mungkin karena dia baru pertama kali juga trekking di sana hahaha :D *nasiiib ... nasiiiib ...* *pegangin lutut yang kembali nyut-nyutan*

Kenapa gak dari awal bukan K'Aie yang mengikuti Nai? Pasti secara tenaga K'Aie lebih bisa mengikuti ritme langkah kaki Nai. Itu karena kami berjalan dalam rombongan besar dengan rentang usia batita hingga lansia. K'Aie tidak hanya hapal jalan tapi juga tau bagaimana trekking yang aman. Tentu aja K'Aie lebih baik tetap bersama rombongan. Akhirnya yang 'ketiban' usaha mengejar Nai adalah saya hahaha!

Ketika saya sedang beristirahat sejenak di pinggir sungai karena napas yang terengah-engah, tau-tau ada yang nyolek dari belakang. Yaelah ...! Bocah perempuan berkostum jersey orange tau-tau udah di belakang bundanya lagi. Nai pun nyengir seperti tidak merasa sudah mekakukan sesuatu yang sudah bikin bundanya khawatir.

Ternyata benar dugaan saya. Nai kebawa Keke ke arah tempat river tubing. Mereka berdua asik berlari sambil ngobrol sepanjang jalan hingga gak sadar ada persimpangan. Nai baru sadar kalau salah jalan setelah crew Tanakita yang mencari menemukannya. Dan dengan cepat dia kembali, menyalip rombongan besar, kemudian bertemu dengan saya yang lagi beristirahat sejenak. *Lagi-lagi rombongan erada jauh ketinggalan di belakang*

Nai kembali berlari. Kali ini bersama dengan anak laki-laki yang dari tadi menemani saya. Saya pun kembali berlari. Untung aja Tanakita Riverside sudah semakin dekat. Jalur trekking sudah cenderung aman. Udah gak berjalan di pinggir jurang, jalannya juga banyak yang rata walopun masih ada tanjakan dan turunan. Paling tinggal melewati 1 turunan terakhir yang agak tinggi dan licin, sehingga harus lebih berhati-hati.


Nilai positif yang bisa saya ambil dari kejadian waktu itu adalah kalau segala sesuatu memang butuh proses. Seringkali gak instant. Masih inget banget, bertahun-tahun lalu ketika mulai mengajak anak-anak trekking. Mereka gak pernah kelihatan jijik'an, sih kalau cuma sekadar kaki dan tangan kotor karena lumpur. Tapi, belum kuat jalan jauh.

Biasanya kami bujukin untuk tetap berjalan. Beristirahat dulu bila perlu. Tapi kalau masih rewel juga, K'Aie yang kebagian tugas menggendong anak-anak secara bergantian. Sekarang mereka udah gak minta gendong lagi. Tapi kali ini giliran yang sesekali kami mengejar mereka hehehe ...

PR saya berikutnya adalah melatih stamina agak gak terlalu kalah sama anak-anak hahaha. Etapi yang terpenting adalah harus semakin mengingatkan Keke dan Nai tentang kebersamaan. Apalagi kalau lagi di alam bebas seperti itu. Yang penting adalah bukan tentang siapa yang duluan sampai karena sedang tidak berlomba. Tapi tentang kebersamaan. Jalannya bareng, sampenya juga bareng.

59 komentar:

  1. Wihhh keren Nai... sampe bikin Chi nyut2nyutan hhhheee...
    Cabe rawit nihh Nai.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu karena dia udah hapal rutenya. Makanya petakilan :D

      Hapus
  2. bacanya ikutan ngos2an nih aku :) naluri ibu suka bawel(akumaksudnya heheh) ya apalagi kalau di tengah hutan gitu

    BalasHapus
  3. Dari mana itu mak masih asri ya?

    BalasHapus
  4. pengin trekking ke sanaaa... kayaknya seru, mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. trekking di sana asyik, Mbak. Walaupun gak harus menginap :)

      Hapus
  5. Kmrn jg smpat jalan2 ke hutan, tp tangan bocah dipegang terus,soalnya takut kabur juga kayak nai hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak saya biasanya gak berlari kalau belum hapal rute. Jadi jarang dipegangin juga. Mungkin ini karena udah hapal hehehe

      Hapus
  6. Udah gede mainnya kejer2an ya mak. Inget terakhir naik sikunir ma nadia dia udah naik duluan jauh sama temennya mak idah cheris meninggalkan emaknya yg ngos2an hahhaahha....
    Itulah kalo terbiasa jalan sejak kecil jauhnya kaya apa ya ga akan ngomel

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mbak. Karena udah terbiasa, makanya jadi lincah :D

      Hapus
  7. mak di hutan2 gitu pernah nemuin ular gak sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di hutan pasti ada. Saya sih belum pernah ketemu. Alhamdulillah. semoga jangan karena saya takut banget sama ular. Tapi katanya ular dan binatang lainnya sebetulnya takut dengan manusia. Selama kita gak ganggu mereka aja

      Hapus
  8. Aaaak...aku bacanya ikutan panik!
    Mbak, saran nih, bikinin peta sederhana dong jalan trekking dan river tubing. Nggak ngerti soalnya kalau hanya baca kiri kanan. Daya khayalku nggak nyampe hahaha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya gak pintar menggambar, Mbak hehehe. Ya, bayangin aja persimpangan yang ada belok kiri dan kanan :D

      Hapus
  9. hahaha :D bodor! kalo jalan-jalan sama Nabil juga sama. Duh coba ya mereka dilengkapin magnet apa gitu biar nempel ibu/bapaknya :)))))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, ada gak, ya, magnet yang bisa nempel ke anak-anak? hihihi

      Hapus
  10. Kita kaum emak juga harus punya stamina kuat ya mak. Biar bisa mengimbangi anak anak ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, itu dia hihihi *mau olahraga tapi suka males :D*

      Hapus
  11. kalo wisata ama anak kecil, memang gini nih resikonya :D... apalagi kalo anaknya aktif bgtt... Fyllypun suka lari2 sndiri kalo kita sdg wisata mba.. tp untungnya, krn msh 3 thn, kakinya blm cepet2 amat kalo lari ;p.. jd msh bisa kekejar... tp aku slalu mnta papinya deh yg lari2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau waktu masih balita, suami saya yang gendong anak-anak hahaha. Karena mereka memang jarang petakilan kecuali kalau udah akrab suasananya :D

      Hapus
  12. Anak kecil selalu begitu ya, Mak... Energinya seakan tak ada habisnya, emaknya sdh kecapekan, dianya msh semangat sj.
    Salam kenal, Mak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga. Iya, nih, energi anak-anak emmang pada hebat :)

      Hapus
  13. Nai sudah jadi pemandu jalan, keren...Mak nya ketinggalan dibelakang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. stamina saya kalah sama anak hehehe

      Hapus
  14. Nai bikin deg-degan mamanyaa.. yg baca juga ikutan sport jantung :D

    BalasHapus
  15. hehe... Nai bikin Bunda sport jantung aja deh... :D

    BalasHapus
  16. Viewnya bagus banget mak, kayak di kampung halamanku daerah lereng gunung Lawu

    BalasHapus
  17. huaa... seru nih. kebayang deg-degannya... pengen sih jalan2 ke hutan sama anak-anak, masalahnya... takut gak kuat, nanti saya yang malu hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya, sih, sering gak kuat. Tapi cuek ajah hahaha. Tapi, Mbak Orin mendingan ngagoler. Kan, blogger goler hehehe

      Hapus
  18. kumat deh jantung bundanya hahahaha

    BalasHapus
  19. Ya ampun, Nai. Sampai deg2an bacanya nih. Tapi aku juga pasti ga sanggup deh nanjak lagi. *asem urat melototin.

    BalasHapus
  20. hehe beda sama anakku yg masih suka nempel kemana2.. hebat nai

    BalasHapus
  21. Mba.. pertama kali ngajak Keke dan Nai trekking usia berapa? Ikut rombongan sesama keluarga atau sendiri?

    BalasHapus
  22. Itu si Nai yang terlalu lincah atau emaknya yang jalannya lemot yak...hihi
    by the way...keren ih...Keke sama Nai..., bisa jadi petualang cilik..

    BalasHapus
  23. Tempatnya asyik mbak...anak2 ku pasti suka...sayangnya jauuh... :D

    BalasHapus
  24. Haaa...ikut ngos-ngosan ngebayangin deg-degannya nyari Nai.. :D

    BalasHapus
  25. kalau pake ijo apa gak samar2, kasian emaknya kewalahan..eh, tapi gak deh, emaknya jagoan juga

    BalasHapus
  26. memang anak kecil itu selalu akktif akhirnay mereka lari terus ,sedangkan maknya yg staminanya sudah uzur akhirnya harus keteteran. Pengalaman aku dulu juga gitu

    BalasHapus
  27. Saking udah sering datang jadi serasa datang ke halaman belakang sendiri ya si nai ini. Ibunya yg deg degan.

    BalasHapus
  28. Alhamdulillah pada melesat semua kalau trekking, duh ya itu Anin masih saja pengen digendong dengan alasan capek hahaha

    BalasHapus
  29. Kalau saya jadi Mbak Myra, mungkin udah nangis sesegukan kali ya. Tapi seru ya liburan di situ.

    BalasHapus
  30. kapan nih bloggers ngumpul di Tanakita. Gathering tahunan. Pasti seru!

    BalasHapus
  31. Haduuh mau dong sekali-kali tante manis ini diajak main ((tante))

    BalasHapus
  32. haduuh Nai bikin dag dig dug niih #eh, iya ngebacanya ikut dge2an mak chi... secara anak2 saya juga klo jalan ceept bgt kayak gini. klo ga dipegangin suka ilang duluan.
    kebayang dag dig dugnya mak chi

    BalasHapus
  33. Semangat sekali Nai, untung bajunya terang. :D

    BalasHapus
  34. Nai semangat banget mak, berani jalan di depan gitu. Kerennnnnn!!

    BalasHapus
  35. si Nai lincah banget, sini deh mainnya sama tante, kita blusukkan ke hutan, kayanya tante kalah nih sama semangatnya Nai

    BalasHapus
  36. HIhihiii...mana dengkul nyut2annya Mak Chi, sini toss dengkul dulu. Lincah banget sih ini Si Nai :)

    BalasHapus
  37. pengin trekking ke sanaaa... kayaknya seru, mak.

    BalasHapus
  38. kalau pake ijo apa gak samar2, kasian emaknya kewalahan..eh, tapi gak deh, emaknya jagoan juga

    BalasHapus
  39. Viewnya bangus banget! Baju orange kelak jadi pecinta alam profesional! Hihihi

    BalasHapus
  40. Lokasinya di mana Mbak,
    sepertinya menarik banget dan sejuk....

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...