Jalan-Jalan KeNai

Blog family traveling tentang adventure, kuliner, hotel, dan tips perjalanan

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung

sumber foto: bragapermai.com

Sejak dulu, saya selalu menyukai jalan Braga. Jejak-jejak masa lalu cukup terasa saat datang ke kawasan ini. Berbagai bangunan bergaya art deco, baik yang terawat atau tidak menjadi salah satu alasan saya untuk kembali ke sana. Beberapa kali saya foto-foto di sana dengan para sahabat saat masih SMA. Ketika sudah menikah, saya pun kembali berfoto-foto di sana dengan keluarga termasuk anak-anak.

Saat saya masih SMA, Braga tidak seramai sekarang. Kesannya seperti hidup segan mati tak mau. Berbagai bangunan tua masih berdiri dengan megah. Tetapi, dengan kondisi yang tidak terawat. Gedung-gedung tersebut seolah-olah hendak bercerita kalau pada masa Hindia Belanda, daerah tersebut pernah berjaya dan menjadi salah satu pusat keramaian.

Dari beberapa sumber yang saya dapatkan melalui internet, membahas kejayaan jalan Braga tidak lepas dari cerita tentang toko kelontong bernama de Vries. Adreas de Vries adalah seorang warga negara Belanda yang datang ke Bandung pada tahun 1899. Sebagai warga Eropa ke-1500 yang datang ke Bandung, dia mendirikan toko de Vries. Toko ini menjual berbagai macam kebutuhan. Ya bisa dikatakan udah kayak mall pada masa itu.

Toko de Vries ini lah yang menjadi cikal bakal kejayaan jalan Braga dan sekitarnya. Bank, hotel, toko, hingga restoran pun mulai berdiri di kawasan ini. Jalan Braga menjadi semakin populer sebagai kawasan elite pada kurun waktu tahun 1920-1930. Wali kota Bandung pada saat itu, B. Coops, memang menginginkan kawasan Braga sebagai pusat perbelanjaan elite dengan gaya Eropa.

[Silakan baca: Lebaran di Hotel El Royale (D/H Hotel Grand Royal Panghegar), Bandung]

Maison Bogerijen, Braga Permai Tempo Dulu


Setelah sempat berjaya, kemudian meredup, kini kawasan Braga kembali ramai. Bahkan sangat ramai. Seingat saya, saat masih SMA masih bisa bebas berfoto bahkan di tengah jalan sekalipun karena sepi. Sekarang mah boro-boro, kawasan Braga dan sekitarnya sudah macet banget. Saya pernah cerita juga di postingan mudik lebaran lalu, buat bisa masuk ke hotel aja lama banget karena kena macet. Padahal hotel udah di depan mata. 😅

[Silakan baca: Sepanjang Jalan Braga]

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung

Beberapa bangunan modern mulai ada di Braga. Bercampur dengan beberapa bangunan klasik yang masih tetap berdiri. Bangunan-bangunan klasik yang masih berdiri sudah banyak yang berubah fungsi, termasuk de Vries. Setelah sempat terbengkalai sekian lama, bangunan ini sekarang menjadi bank. Hanya segelintir bangunan klasik yang isinya masih bertahan. Salah satunya adalah restoran Braga Permai.

Walaupun tidak sekinclong gedung-gedung sekitarnya, bentuk resto ini tetap terlihat klasik. Tetapi, sebetulnya bangunan aslinya tidak seperti itu. Braga Permai tadinya bernama Maison Bogerijen. Maison dalam bahasa Perancis artinya rumah. Sedangkan Bogerijen adalah nama belakang dari pemilik resto ini yaitu L. van Bogerijen.

Ada lambang kerajaan Belanda pada bangunan aslinya. Ratu Belanda pada saat itu langsung menyetujui pembangunan resto ini. Bahkan kabarnya Maison Bogerijen menjadi satu-satunya resto di luar Belanda yang mendapatkan izin menyajikan kue khas kerajaan yaitu Koningin Emma Taart dan Wilhelmina Taart. Berada di kawasan elite jalan Braga, resto ini menjadi tempat bersantap anggota kerajaan dan gubernur Hindia Belanda pada saat itu.

Ada sumber yang mengatakan kalau Maison Bogerijen mengalami kebakaran pada era tahun 60-an. Tetapi, ada juga yang mengatakan bangunan aslinya memang sengaja dirombak. Entah mana yang benar, tetapi pada masa itu Presiden Soekarno memiliki sikap anti kolonialisme. Akibatnya nama Maison Bogerijen pun berubah menjadi Braga Permai.

[Silakan baca: Nostalgia Megaria]

Berbagai Kuliner Klasik di Braga Permai


Meskipun bangunannya sudah tidak seperti aslinya, suasana jadul masih cukup terasa saat kami masuk ke resto ini. Foto-foto zaman dahulu terlihat dipajang di dinding. Meja-meja yang tertata rapi dengan taplak, peralatan makan dan minum, serta serbet.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung

Dengan sigap pramusaji segera memberikan buku menu yang lumayan tebal. Pilihan makanan di Braga Permai memang lumayan banyak. Tidak hanya menu western, makanan Indonesia juga ada. Di bagian depan buku menu juga ada beberapa lembar tentang sejarah Braga Permai. Sayangnya kenapa backgroundnya harus garis-garis, sih. Bikin saya agak puyeng bacanya. 😂

Sambil menunggu makanan pesanan kami datang, pramusaji menyajikan sekeranjang kecil roti dan mengisi gelas-gelas di hadapan kami dengan air putih. Untuk air putih, kami bisa minta refill secara gratis. Nanti pramusaji akan menuangkan ke gelas.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung
Roti tinggal segini, baru keingetan buat difoto 😅

Kami tidak menyangka kalau di sini akan ada makanan compliment. Udah gitu lumayan bervariasi pula roti-rotinya. Makanya saya sempat gak keingetan untuk fotoin itu roti-roti. Setelah dimakan sebagian, baru nyadar buat difoto hehehe. Lumayan banget deh buat cemal-cemil sambil menunggu makanan yang dipesan datang. Rasa rotinya pun enak.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung
Warna minumannya kompakan. Tetapi, rasanya beda-beda.
1.  Pina Apel Bit (Jus Kesehatan terdiri dari nanas, apel, dan bit), IDR25K
2. Pinky Float, IDR28,5K
3. Bubble Grape (Grape juice, Lime, Sprite, Bubble, dan Selasih), IDR34,5K

Makanan pesanan kami pun datang. Platingnya biasa banget. Gak seperti kuliner zaman sekarang yang instagramable. Side dish untuk steak juga standar banget dengan saus barbeque. Tetapi, makanan yang kami pesan rasanya enak. Malah senang kan ya kalau rasanya enak.

[Silakan baca: Sejuta Rasa di Rasa Bakery & Cafe]

Mahal atau murah memang relatif. Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda. Tetapi, bagi saya harga di sini termasuk biasa aja, Memang yang saya tulis ini adalah harga tahun 2016. *Yup! Kami ke sana pada tahun 2016. Saya baru sempat menuliskan sekarang. 😁* Saya gak tau berapa harga makanan ini sekarang. Mungkin sudah mengalami kenaikan.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung
Spaghetti Bolognese, IDR58,5K

Tetapi, yang juga harus dicatat adalah porsi makanan di sini lumayan besar. Mungkin karena tamu di sini kebanyakan bule. Kayaknya porsinya menyesuaikan dengan mereka. Jadi, dengan tamu yang mayoritas bule dan porsi makanannya juga lumayan besar, menurut saya masih cukup bersahabat, lah.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung
T-Bone Steak 500gr, IDR162,5K

Kami datang bertiga. Saya, suami, dan Keke. Nai gak mau ikut karena pengen main sama sepupunya. Kalau Nai ikut, saya yakin dia gak akan sanggup menghabiskan 1 porsi. Memang lumayan banyak, sih. Tetapi, saya bahagia banget melihat Keke sanggup menghabiskan steak pesanannya. 500 gram lho steak di sana per porsinya.

Kalau lagi sehat, Keke memang banyak makannya. Tetapi, saat itu dia baru sembuh banget dari typus. Berat badannya susut sampai sekitar 10 kg. Nafsu makannya belum bagus meskipun sudah mulai mau makan. Makanya saat itu saya seneng banget Keke mau menghabiskan steaknya.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung
Steak ala Braga Permai, IDR134K

Jangankan Keke yang baru banget sembuh, Saya aja sempat ragu apakah mampu menghabiskan makanan yang dipesan kalau banyak begitu. Apalagi sebelumnya sudah menyantap roti. Alhamdulillah ternyata saya sanggup hehehe. Tapi, jelas udah gak sanggup lagi menyantap dessert. Kenyang banget!

Saya memilih steak ala braga permai. Steak ini menggunakan daging sapi bagian has dalam. Side dishnya sama kayak steak pesanan Keke. Tetapi, saya memilih ini karena sausnya. Saya menyukai jamur dan steak ini disiram saus jamur champignon.Berbeda dengan steak pesanan Keke di mana saus dan steak disajikan terpisah. Steak pesanan saya disajikan dalam keadaan tercampur. Steaknya nyaris gak kelihatan. Apalagi masih ditutup lagi dengan lembaran keju.

Memang harusnya makan di sini tuh dalam keadaan santai dan perut kosong. Jadi bisa menikmati appetizer hingga dessert.  Tapi, tetap antara yakin dan enggak juga kalau saya sanggup menghabiskan semuanya. Mungkin kalau sempat pesan dessert atau appetizer, pilih 1 menu untuk disantap bersama-sama.

Kuliner Klasik dan Sepenggal Sejarah di Braga Permai, Bandung

Restonya bersih, pramusajinya ramah, dan pelayanannya lumayan cepat. Tapi, kabarnya kalau akhir pekan bisa waiting list saking ramainya. Ada live music juga saat akhir pekan. Untungnya waktu kami ke sana langsung dapat tempat meskipun suasana resto ramai.

Kapan-kapan balik lagi ke sini, ah. Apalagi katanya es krim dan kue-kue di sini memang enak. Tapi, kapan ya? Udah lama juga gak main ke Bandung *Kangen Bandung banget! 😁

Braga Permai Resto Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Braga Permai













72 komentar:

  1. Wauuu... Zaman dulu harga-harganya berapaan ya? penasaran...

    BalasHapus
  2. Beberapa kali lewat sih kok restoran ini ke-skip, padahal suasananya nostalgik sekali ya. Pernah juga niat mau hanya nikmati Braga ke Bandung sampe bela2in nginep di Jalan Braga, terasa sih nostalgianya. Next lewat Braga berarti kudu mampir ke Braga Permai

    BalasHapus
  3. Ya betuuul. Yang paling saya suka dari Braga adalah 'jalan'nya dan resto sepajang jalan itu. Tapi belum sempat ke resto ini dulu hehehe.

    BalasHapus
  4. Porsinya memang bule banget ya, Banyak. dan rasanya pasti lebih bule juga alias light.
    harganya lumayan ya. Dan kalau sudah pesan menu utama, nggak usah appetizer atau [enutup, bakalan kenyang banget. hehehe

    BalasHapus
  5. Aku belum pernah sekalipun foto fotoan di Jalan Braga. Padahal aku suka skali dengan ornamen jaman dlu yang terkesan penuh kenangan. Tahun 2016 sempat ke Jalan Braga tapi ya hanya lewat saja. Hhehehhe

    BalasHapus
  6. Harga soaghetinya lumayan yaa, kalo steak kayaknya emg umumnya segitu harganya. Dan MasyaAllah, Keke habis 500gr sendirian. Masa pemulihan kayaknya mmg butuh makanan enak ya, jd lbh bernafsu makannya. Hihi

    BalasHapus
  7. REsto klasik bisa dijadikan salah satu ciri khas di Braga juga ya. Sayangnya di Braga sudah banyak bangunan yang direnovasi ya. Wah itu sih makanan kesukaannya pascal banget roti-rotian. Mau nyobain ah kapan2 tapi ada menu nasinya juga kan ya buat Alvin hehehe

    BalasHapus
  8. Wah, menunya bunda n cucu bunda banget nih. Sayangnya bunda jarang banget ke Bandung.

    BalasHapus
  9. Sampai saat ini masih penasaran sama Braga... Seringnya ke gruty sih kalo ke bandung

    BalasHapus
  10. Paling suka kalau ada resto yang bersih dan pramusajinya ramah.
    Bikin adem.
    Kuliner Bandung memang umumnya, juarak ya, mba

    BalasHapus
  11. Wow, spaghetti dan steak ini menu makanan kesukaan anak-anak. Aku malah tertarik dengan roti-rotinya itu, keliatannya enak banget. Kapan ya bisa ke Bandung :D

    BalasHapus
  12. Porsinya gede juga ya mba, sering lewatin braga tapi saya kurang ngeh dengan resto ini. Udah lama juga ya restonya, klasikk pastinya

    BalasHapus
  13. Yup,penataan makanannya biasa tapi rasanya enak banget serta porsi banyak kalau makan di Braga Permai, dan pas makan di sana saya pernah pesan sop bakar, porsinya bear dan nggak nyagka habis sama Fathan 1 porsi, baca tulisan ini jadi pengen ke sana lagi

    BalasHapus
  14. Aku ke Bandung baru tiga kali, tahun 1985, 1988, sama 2014. Hahahaha, lama banget yaakk.

    T-Bone steak nya mantaaap, pasti kenyang. Dan aku ngiler lihat es nya yang merah seger

    BalasHapus
  15. Duuh...pengen nyicip steak nya, Chi.. dan minumannya itu lhooo..sangat menggoda...

    BalasHapus
  16. Duuh Mbak, itu steaknya bikin lapar deh. 500gr itu lumayan banyak lhoo yah, stgh kilo bookk. Woow, kenyaang lah yah, apalagi utk ukuran anak2.

    BalasHapus
  17. Mkanan dan minumannya menggoda banget. Minumnnya terlihat seger bnget mixed rasanya, jadi pengen sruput... Hehehe

    BalasHapus
  18. Sejarah memang menarik untuk diperhatikan ya kak. Seperti ada saja alasan sejarah untuk enampakan kaki di kawasan Braga ini. Entah karena tertarik dengan ceritanya maupun dengan peninggalan sejarah yang masih bisa dinikmati saat ini.

    BalasHapus
  19. Mau ajak suami keliling Bandung tapi dia bosen, karena dulu kuliah di Bandung. Alhasil kalo ke bandung ya cuma nginep di hotel wkwk

    BalasHapus
  20. ya ampuuuun..aku jadi kanten Bandung Mba. Berat! Dan memang Kuliner vintage itu ser yaaa...penuh sejarah, sarat cerita dan nikmat!

    BalasHapus
  21. Itu keju diatas steak nya menggoda banget sih jadi pengen makan heuheu. Btw resto yang bersih dan pramusaji nya yang ramah itu buat kita nyaman Yo.

    BalasHapus
  22. Wawww, porsinya gede yah, kalau aku paling abis sepertiganya, ahaha.. Tertarik juga sih untuk coba ke sana, berasa nostalgia yahhh 😄

    BalasHapus
  23. Steak ala barga-nya bikin ngiler 😍. Saya ke Bandung tahun 2007, entah kapan lagi bisa menginjakkan kaki ke sana

    BalasHapus
  24. Saya juga suka main di Braga, banyak tempat menarik yang termasuk Cagar Budaya. Yang paling malesin itu, macetnya. Karena di tengah kota, jadi dari arah manapun, macet.

    BalasHapus
  25. Selisih harganya mungkin cuma sedikit ya Mbak sekarang ini, dan aku lihat harga nya pun kayaknya memang setara dengan masakannya.

    BalasHapus
  26. Wah, jadi pengen berkunjung juga ke jalan Braga nih. Mudah-mudahan ntar bisa mampir ke sini kalo lagi main ke Bandung :)

    BalasHapus
  27. jadi inget masa kecil sering jalan2 dan kulineran di braga

    BalasHapus
  28. Duh duh lihat makanannya jadi perih perutku minta makan juga tengah malam, haha.
    Jadi banyak tabu soal spot ini. Hmm Bandung maybe my next trip in 2019

    BalasHapus
  29. Kudapan lezat, pelayanan oke, siapa sih yang nggak kangen pengen ke sana lagi. Natre pun dijabanin ya, Chi.

    BalasHapus
  30. Kayaknya aku pernah deh makan disini entah kapan. Dah lama banget. Krn rumah makannya khas, dominasi coklat. Ini yang ada booth butik2 di sekelilingnya kan ya?

    BalasHapus
  31. oh ini di braga ya, wah kapan2 deh kalau ke bandung lagi pingin bgt mampir kesitu

    BalasHapus
  32. Aku Sabtu depan ke Bandung nih. Insya Allah mampir sini ah

    BalasHapus
  33. Aku suka banget steak, jadi pengin cari steak deh siang ini haha anaknya latah banget ya oantang ngeliat postingan makanan. Btw aku ke Bandung baru 2x jadi belum begitu mengeskplor Bandung nih.

    BalasHapus
  34. Kalau anak-anak udah gede gitu ya Mba, bisa banget ada orang tua mau pergi eh dianya nggak ikut. Pas masih kecil gini mah, ngintil terooooss, hahaha. Nikmatin aja lah, nanti udah gede kaya Keke dan Nai eike bisa bebas pacaran lagi sama suami :p

    BalasHapus
  35. Kapan-kapan kopdaarr doonk kak Myr...

    Aku ga hobi jalan ke Braga.
    Emm, pasalnya bingung mau ke cafe yang mana.
    Ini bisa jadi salah satu refrensi niih...

    Haturnuhun.

    BalasHapus
  36. Dari dulu denger ke-legend-an Braga, tapi belum pernah ke situ. Ke Bandung aja baru sekali, itu pun langsung ke Lembang hehehee.. Itu menu2nya semacam resto Oen ya kalau di Semarang sini.

    BalasHapus
  37. Ooooh ini toh dalemnya Braga Permai. Waktu ke bandung aku nginepnya daerah Braga dan karena ga pake itinerary, jadinya ga tau mau makan di mana. Malem2 keliling ini restonya rame bener dah, aku ga mampir karena ya males aja gitu kok rame banget sampe WL. :D Aku kan sekeluarga sama adik & mamah juga, kapan makannya? :D

    BalasHapus
  38. Sekarang mah Braga keren banget ya Mbak Myr. Sudah banyak bangunan bersejarah, cafe-cafe-cafe cantik. Menyisir jalan di sini, memancing hasrat memotret :)

    BalasHapus
  39. Ngga akan ada habisnya bahas Braga. Selalu ada sudut-sudut yang bisa diangkat untuk jadi bahan cerita. Ini tempat favorit Alm. Bokap dulu. Dan sekarang nular ke aku hehe

    BalasHapus
  40. Tempatnya kayknya persis kyk aslinya ya, braga memang gudangnya tempat buat nostagia dengan makanan yang enak.

    BalasHapus
  41. Udah lama niiih engga ke Braga Permai. Baru tahu steaknya 500gr. NyangNdut deh. Hehe...Ada coklat enak juga lho di jual bareng roti²nya. Tapi sering habis...

    BalasHapus
  42. Beberapakali ke Braga. Makan es krim dan bikin puisi.

    BalasHapus
  43. Enak banget memang Braga Permai ini. Pengen ke sini lagi belum sempet mulu.. suasananya masih jadul sekali..

    BalasHapus
  44. Pernah ke jalan Braga, tapi hanya sekedar lewat aja, kapan-kapan mau disempetin mampir ah.

    BalasHapus
  45. sudah lama ga jalan ke Braga, asik y mba Ke sudah tau Braga dari zaman doeloe dari yang sepi kini macet warbiyasah.

    Jadi pengen coba deh kulinernya itu steak 500gr belenger banget :D

    BalasHapus
  46. Satu kata... UWOWWWWWW... wkwkwkwk
    Gak tega makannya kecuali ditraktir hahaha

    Jadi pengen bikin spaghety bolognese :D

    BalasHapus
  47. Dua kali ke Bandung (iya, baru 2x seumur idup hiks) belum pernah makan di Braga, padahal udah banyak yang kasih tau kalau bagus. Abisnya di Bandung terlalu banyak tempat makan asyik, padahal waktu mainnya nggak lama, jadi malah selalu bingung mau kemana aja.
    besok kalau ke Bandung lagi, wajib ke Braga nih :)

    BalasHapus
  48. Tempatnya klasik, makanan juga terlihat enak. Bisa nih buat rekomendasi kuliner di Bandung

    BalasHapus
  49. Masih ingat saya pertama kali ke Braga lagi setelah keluar SD itu tahun 2011. Pas ada acara Kompasiana. Wah langsung deh narsis2... Padahal suasana masih kotor dan belum tertata seperti sekarang

    BalasHapus
  50. Suasananya ngangenin ya Mbak..jadi ingat restoran jadoel. Platingnya juga sederhana dan enggak neko-neko, dulu banget plating kayak gini..biasa tapi rasa makanan sempurna. Kalau sekarang kadang, plating oke tapi rasa ..ke laut aje
    kwkwkw

    BalasHapus
  51. Aduuh Jalan Braga, Jalan intelek tidak boleh masuk keretek. Saya selalu jatuh cinta pada jalan Braga, menyusurinya sampai alun-alun dan berakhir dengan minum kopi di kopi Purnama jalan Alkatiri. Ke Braga permai juga sudah beberapa kali hehhehe. Saya merasa beruntung pernah mengecap keindahan Bandung selama masa kuliah dulu. Bandung selalu dina hate pokona mah

    BalasHapus
  52. saya klu ke bandung cuma numpang lewat di braga
    belom sempat icip icip kulinernya
    duh jadi mupeng nih
    semoga suatu saat bisa ke sini

    BalasHapus
  53. dulu sebelum nikah sama suami, tempat ketemuan kita di braga ini wkwkwk.. paling cepet sebulan sekali.. kadang bisa berbulan-bulan, maklum kita LDR-an hihihi.. jadi kangen main-main di braga

    BalasHapus
  54. Asiiiik dapat rekomendasi kuliner jalan Braga
    Minggu depan aku mau ke Bandung, mbak
    Mau ah susur jalan Braga dan menikmati kulinernya
    Makasi yaaaaaa

    BalasHapus
  55. Keliatannya enak banget steaknya itu, juicy2 sausnya. Yumm! Btw ga ads kesan angker2 nya gitu mba? *anaknya suka horor sendiri :D

    BalasHapus
  56. Pernah sekali jalan ngelewatin Braga ini memang terasa romantis, padahal jalan sama cewek. Apalagi sama suami ya. Sayang, blm nyicipin kulinernya.

    BalasHapus
  57. berasa kayak balik ke beberapa puluh tahun lalu yaa, resto dan menu makannya , suasananya juga..
    braga memang tempat kongkow yg seru tinggal pilih mau yg model atau nuansa apa

    BalasHapus
  58. Pertama kali tahu Braga itu karena aku baca novel yang latar tempatnya di Bandung. Siang-siang gini lihat foto steak dan minuman warna merah yang menggoda membuat saya lapar dan haus.

    BalasHapus
  59. Pertama kali tahu Braga itu karena aku baca novel yang latar tempatnya di Bandung. Siang-siang gini lihat foto steak dan minuman warna merah yang menggoda membuat saya lapar dan haus.

    BalasHapus
  60. T-Bone Steak nih nggak boleh dilewatkan.. Harus dihapalkan nanti pas sampai di braga permai Bandung. Reminder to me 😂

    BalasHapus
  61. harganya masih terjangkau ya kak... jadi wishlist ku nanti ah

    BalasHapus
  62. Kalo lagi ke Bandung aku pun menyempatkan diri kesini, ke Braga, hihi. Ternyata Braga memang kenangan tempo dulu yaa.

    BalasHapus
  63. Baru kali ini lihat, cantiknya steak kalah pamor sama lembaran keju. Lol
    Mestinya ya, kejuanya dilelehin dulu atau dipotong kecil-kecil.
    Smoga bisa jalan-jalan ke Braga jika ada rejeki suatu hari nanti. Pengen coba kulineran jajanan Bandung yang terkenal enyak

    BalasHapus
  64. Aku beberapa kali ke Bandung kapok buat makan di resto yang ga jelas. Hahhaha,soalnya kurang sreg dilidah. Kayaknya restoran klasik ini bisa masuk daftar rekomendasi ya. Suasananya juga kayaknya enak banget. Walaupun ga instagrable, tapi tempatnya rapih. Enak buat ngobrol dan curhat sambil makan tuh :D

    BalasHapus
  65. Bangunannya boleh tua, desain resto jg jadul, tp sajian menu makanannya kayak uda kekinian banget ya...

    BalasHapus
  66. Spot buat destinasi kalau ke Bandung nih. Biar ga itu-itu aja. Nuansa klasiknya sih memikat dari Braga di tulisan ini. Lengkap dan komprehensif banget...

    BalasHapus
  67. Saya sukses dibuat kangen Bandung sama tulisan mba. Dulu pernah pengen coba nginap di hostel backpacker dekat Braga biar bisa ngerasaim suasana pagi habis subuh di sana. Sayang nggak kesampean dulu, karena over budget. Sekarang tulisan ini bikin aku pengen mampir ke Bandung Permai juga. Doakan aku punya kesempatan ke sana ya mba.

    BalasHapus
  68. Enaknya jalan-jalan sore kalau ke braga ya mba. Sekalian makan malam sambil nongkrong cantik.

    BalasHapus
  69. wah aku tergoda dengan Tbone steaknya... sepertinya enak sekali,,,

    BalasHapus
  70. Masih ingat banget ini dengan Jalan Braga. Kami malah suka dan hafal lagu yang diiringi musik degung yang judulnya Jalan Braga. Huhu ingat masa lalu.

    BalasHapus
  71. Aku juga suka banget Braga, jadi inget punya postingan hotel di Braga yang temanya muslim hotel gitu. Jadi mau balik ke Braga...

    BalasHapus
  72. Wah iya porsi makanannya cukup besar ya :D Nanti harus kesini deh kalau jalan di Braga

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)