Berburu Dessert di Tokyo Lewat Serial Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman

Review dorama Jepang Kantaro The Sweet Tooth Salaryman di Netflix tentang petualangan kuliner dessert.

Sebagai seorang food blogger yang gemar mengeksplorasi rasa, menonton serial Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman memberikan perspektif baru tentang betapa seriusnya Jepang menggarap kuliner manis. Serial Netflix ini bukan sekadar tontonan komedi yang unik, melainkan sebuah 'peta kuliner' bagi siapa pun yang ingin berburu dessert di Tokyo. Lewat mata Ametani Kantaro, Sahabat KeNai diajak blusukan ke kedai-kedai legendaris untuk mencicipi tekstur fluffy pancake yang sempurna hingga filosofi di balik semangkuk Anmitsu tradisional yang autentik. Bagi saya, setiap episodenya adalah inspirasi itinerary kuliner yang wajib dibuktikan sendiri kelezatannya saat berkunjung ke Negeri Sakura. Atau paling tidak, bisa dijadikan pelajaran untuk membuat review dan konten makanan yang semakin menarik terinspirasi dari serial ini.


Sinopsis Drama Jepang Netflix, Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman


Ametani Kantaro adalah staf penjualan baru di sebuah penerbitan ternama Jepang. Di balik setelan jasnya yang rapi, ia menyimpan sebuah misi rahasia yang ambisius. Sebelumnya, Kantaro adalah seorang programmer yang menghabiskan seluruh waktunya di balik meja. Namun, sebuah keputusan besar diambil: ia memilih resign demi satu alasan yang sangat manis yaitu keinginan lebih sering berburu kuliner dessert di tengah jam kerja. Inilah titik awal dimulainya kisah unik dalam dorama Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman.
 
Kecintaannya pada dessert memang sudah di level "garis keras". Saat masih menjadi programmer, ruang geraknya sangat terbatas, hanya bisa memuaskan dahaga akan makanan manis di hari libur. Bagi Kantaro, menunggu hingga akhir pekan terasa seperti siksaan, karena dunianya seolah terhenti hanya di depan layar komputer.

Dengan beralih profesi menjadi staf penjualan, Kantaro kini memiliki alasan sah untuk berkeliling kota mengunjungi berbagai toko buku. Namun, 'agenda tersembunyinya' di sela-sela jadwal kunjungan tersebut, ia memanfaatkan waktu dengan sangat efisien untuk "blusukan" ke berbagai kafe dan resto demi mencicipi dessert paling ikonik di sudut-sudut Tokyo.

Karakter Kantaro digambarkan serius, jarang sekali tersenyum. Tidak terlalu bersosialisasi dengan rekan sekantor. Terlihat gak senang bila harus 'store visit' dengan rekan sekerja apalagi bersama boss. Itu karena Kantaro tidak ini sisi lain kehidupannya diketahui orang lain.

Kantaro adalah seorang food blogger.

 

Aksi 'Penyamaran' Kantaro: Profesional di Kantor, Food Blogger Militan di Jalanan


Menjalani dua kehidupan sekaligus bukanlah perkara mudah, namun Kantaro melakukannya. Di Kantaro adalah adalah sosok karyawan teladan yang kaku, efisien, dan selalu mencapai target penjualan tepat waktu. Namun, begitu ia melangkah keluar dari pintu kantor, "penyamaran" itu pun dimulai. Sambil store visit ke toko buku, Kantaro juga menyempatkan mampir di resto atau cafe yang menjual dessert. Dan, sebagai seorang food blogger militas tentu dia akan membuat ulasan setelahnya.

Tidak dijelaskan alasan Kantaro merahasiakan identitasnya. Tebakan saya karena merahasiakan dari ibunya. Di salah satu episode diceritakan tentang kedatangan ibu Kantaro yang ingin menginap semalam di rumahnya.

Ibu Kantaro berprofesi sebagai dokter gigi. Selalu melarang putranya makan makanan manis. Alasannya bisa merusak gigi. Kantaro takut kalau ibunya sampai tau kesukaannya menyantap makanan manis. Mana pas ibunya datang, dia baru aja beli eclair yang enak banget. Dia harus putar otak supaya jangan sampai ketahuan.
 
Setiap kali menginap, ibu Kantaro selalu memeriksa lemari dan bagian lain dengan detil. Awas aja kalau sampai ketahuan ada makanan manis! Banyak yang bilang kalau seorang istri atau ibu bisa jadi detektif andal. Tapi, di serial ini, Kantaro selalu berhasil mengelabui ibunya.

Ada teman satu divisi yang selalu curiga kalau Kantaro adalah seorang food blogger idolanya. Karena setiap kali Kantaro ditugaskan untuk mengunjugi toko buku, gak lama kemudian muncul review salah satu resto atau cafe di wilayah yang sama. Kalau 1-2x mungkin hanya kebetulan. Tapi, berkali-kali tentu menimbulkan kecurigaan.

Rekannya pernah bertanya, tetapi Kantaro mengelak. Kemudian, dia membawa dessert enak untuk dibagiin ke seluruh rekan sedivisi. Padahal sebetulnya lagi modus. Pengen lihat ekspresi Kantaro menikmati dessert tersebut.

Kantaro pun pura-pura bersikap dingin. Seolah-olah gak menyukai makanan manis. Padahal mah sebetulnya pengen banget cobain. Kalaupun sempat nyobain, dia berusaha menjaga ekspresi tetap cool hehehe.
 
Gak habis akal, rekannya ini beberapa kali komen di postingan Kantaro. Maksudnya agak-agak menjebak gitu. Tapi, gagal lagi, gagal lagi ...

Setiap kali boss-nya menyuruh Kantaro store visit, dia selalu browsing tempat yang menjual dessert enak di wilayah tersebut. Nah, kemudian dia memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati dessert yang diinginkan.

Kalau dia punya waktu 2 jam keluar kantor, maka sekitar 1 jam atau kurang akan dipakai untuk kulineran. Mungkin kesannya jadi kayak korupsi jam kerja, ya. Tetapi, tidak ada yang curiga karena Kantaro selalu memperlihatkan performa terbaik. Bahkan menjadi karyawan teladan di divisinya.

Pernah sih ketahuan sama teman sedivisinya yang lain. Temannya ini diam-diam ngikutin Kantaro. Gara-garanya kesel karena dia selalu menjadi karyawan teladan sebelum ada Kantaro.

Ketika tau kalau Kantaro suka kulineran di tengah jam kerja, tadinya mau dijadikan ancaman. Eh, gak taunya Kantaro juga tau kalau temannya ini suka nge-gym saat jam kerja. Akhirnya malah jadi saling berjanji untuk sama-sama menjaga rahasia. Tapi, temannya ini gak tau kalau Kantaro seorang food blogger. Taunya sebatas karyawan yang suka manfaatin sisa jam kerja untuk kulineran.


Belajar Teknik Storytelling Kuliner dari Kantaro: Cara Mengulas Makanan agar Terasa Nyata


Cara food blogger mengulas makanan dengan memperhatikan detail tekstur saus manis yang menggugah selera.
Ekspresi Kantaro selalu sangat serius sebelum menyantap dessert


Sebagai seorang food blogger, saya menyukai dan terinspirasi dengan cara Kantaro mendeskripsikan setiap makanan yang ia santap. Ia tidak terjebak pada kata-kata klise seperti "enak" atau "manis" semata, melainkan mampu membawa audiens menyelami kedalaman tekstur, aroma, hingga filosofi sejarah di balik kudapan tersebut. Menariknya, setiap episode juga mengulas sisi historis wilayah dan resto yang dikunjungi. Sama seperti dua dorama lain yang pernah saya ulas sebelumnya, seluruh tempat di serial ini memang nyata dan bisa menjadi panduan itinerary bagi Sahabat KeNai yang ingin berburu dessert di Tokyo. Menonton serial ini seolah memberikan kursus singkat tentang bagaimana sebuah teknik storytelling dapat menaikkan kelas ulasan kuliner kita, dari sekadar informasi menjadi sebuah pengalaman rasa yang hidup dan menggugah selera.
 
 
Ketika makanan disajikan, Kantaro tidak langsung menyantapnya. Tetapi, selalu diperhatikan secara serius. Seperti seseorang yang sedang menikmati sebuah karya seni. Ulasannya sangat detil. Dilengkapi dengan video dan foto yang cakep banget. Kalau di blognya, dia hanya menampilkan foto. Tapi, di drama tersebut, dessert yang dipesan Kantaro divisualkan dengan sangat indah. Meskipun saya penggemar makanan gurih, tetapi melihat ulasannya jadi tergiur semua dessert-nya. Kalau aja di Jabodetabek, mungkin segera saya datangin satu per satu. 
 
Produk unik Ameya Eitaro Mitsuame yang muncul dalam serial dorama Kantaro sebagai inspirasi oleh-oleh Jepang.

Gak hanya makanan yang diulasnya. Di salah satu episode, Kantaro sedikit menceritakan tentang pelembap bibir merk Ameya Eitaro (Beneran ada nih produknya). Dia selalu pakai karena suka dengan rasanya yang manis.


Keunikan Serial Kantaro yang Mungkin Terasa 'Berlebihan' bagi Sebagian Penonton


degan surealis Ametani Kantaro membayangkan diri menjadi buah melon dalam dorama adaptasi manga.

Meskipun serial ini cakep banget visual dessert-nya, bukan berarti Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman hadir tanpa celah. Ekspresi Kantaro saat menikmati makanan manis buat saya terlalu teatrikal yang menyebalkan.

Sebetulnya, bukan hal aneh kalau menonton dorama atau reality show Jepang, ekpresi orang-orangnya akan terlihat ekspresif. Kayak di komik-komik gitu. Apalagi Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman merupakan adaptasi dari manga dengan judul sama. Jadi ya gak heran kalau kemudian ada beberapa adegan yang kayak komik. Tapi, untuk karakter Kantaro sepertinya pengecualian. Saya malah sebel lihatnya.

Menonton Kantaro saat menikmati makanan manis itu rasanya campur aduk. Saya menyukai tatapan serius Kantaro ketika mengamati makanan manis seperti sebuah karya seni. Tapi, sebel banget kalau udah berekspresi "merem melek" saat menikmatinya, seolah-olah menegaskan dia sangat bergairah dan dunianya memang hanya berputar di sekitar gula. Kantaro bahkan terang-terangan berkata lebih baik menikah dengan dessert daripada dengan sesama manusia!

Sambil "merem melek" Kantaro juga berimajinasi, membayangkan dirinya bertransformasi menjadi bagian dari dessert yang sedang dinikmati, lalu bertemu dengan "perempuan pujaan" yang juga berwujud dessert. Bukannya tertawa melihat unsur komedi ini, saya justru merasa gagal menangkap kelucuannya. Rasanya terlalu berlebihan alias lebay, sehingga  jari saya secara refleks selalu menekan tombol skip setiap kali adegan seperti itu muncul.

Mungkin faktor utamanya ada pada sang aktor. Sejak awal, saya merasa wajah Ametani Kantaro lebih punya aura kuat sebagai karakter yang dingin dan misterius. Jadi, ketika ia harus berakting konyol ala karakter komik, feel-nya terasa kurang pas dan justru menciptakan "gap" yang mengganjal. Bagi saya, keindahan visual makanannya sudah cukup memberikan kepuasan, tanpa perlu bumbu imajinasi yang terlalu jauh melampaui logika.


Filosofi Kantaro: Mengapa Hidup Terasa Lebih Berwarna dengan Passion?


Terlepas dari segala keunikannya yang kadang terasa berlebihan, ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok Ametani Kantaro yaitu hidup akan terasa jauh lebih hidup jika kita memiliki passion. Bagi Kantaro, passion itu adalah dessert. Itulah yang membuatnya berani mengambil risiko meninggalkan zona nyaman sebagai programmer demi mengejar apa yang benar-benar ia cintai. Passion itulah yang mengubah rutinitas kerja yang membosankan menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan setiap harinya.

Menurut saya, Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman mempunyai benang merah yang sama dengan The Road to Red Restaurant List. Tidak hanya sama-sama dorama. Tetapi, juga dari segi cerita. Sama-sama tentang karyawan yang memiliki passion di kuliner.

Banyak yang bilang kalau kerja enaknya sesuai passion supaya tetap semangat. Tapi, bagaimana kalau ternyata kerjaannya gak sesuai dengan yang kita inginkan? Harus resign dan terus mencari pekerjaan sesuai keinginan? Kalau di 2 dorama tadi tidak seperti itu solusinya.

Di The Road to Red Restaurant List, menceritakan tentang Suda seorang karyawan yang merasa kurang dihargai di kantor. Untuk melepas kepenatan (kalau bahasa sekarang tuh healing), dia selalu berkendara dengan mobil pribadinya setiap Jumat sore sepulang kerja. Mendatangi kota terdekat dan mencari resto yang gak kekinian. Karena dia menginginkan suasana hangat yang biasanya ada di resto-resto sederhana.


Sedangkan pada drama Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman menceritakan tentang Kantaro yang bela-belain keluar dari kerjaan lamanya demi bisa lebih sering kulineran. Bukan pula karena kerjaannya bikin dia seneng. Tapi, lebih karena merasa jadi punya banyak waktu untuk kulineran.
 
Malah ada salah satu episode di mana Kantaro menasehati rekan sedivisinya. Rekannya ini ceritanya gak punya gairah bekerja karena pengennya tuh jadi atlet baseball. Tapi, orangtuanya gak setuju. Pokoknya anaknya harus jadi PNS eh pekerja kantoran. 

Gak berani melawan, tapi kerjanya juga asal-asalan. Performanya terus turun sampai diomelin bossnya dan menyuruh belajar dari Kantaro.  Sebetulnya Kantaro gak suka, tapi bossnya yang nyuruh. Ya udah, dia pun menasehati rekannya supaya kerja yang bener. Kalau kerjanya bener kan jadi punya waktu bersenang-senang atau melakukan aktivitas yang sesuai passion.

Sebagai seorang food blogger, saya sangat memahami energi tersebut. Passion adalah alasan mengapa kita rela meluangkan waktu ekstra untuk memotret makanan dari berbagai sudut, melakukan riset mendalam, hingga menyusun kata demi kata agar pembaca bisa merasakan kelezatan yang sama. Sama seperti Kantaro yang menemukan kebahagiaannya dalam setiap dessert, kita semua butuh sesuatu yang membuat kita bersemangat untuk bangun di pagi hari.

Kurang lebih yang dilakukan Kantaro atau Suda seperti gambaran para pekerja saat ini, ya. Kalaupun tidak mendapatkan pekerjaan sesuai passion. Setidaknya masih bisa bersenang-senang setelahnya. Intinya sih Work Hard Play Hard kali ya.

Gak perlu lah sampe se-ekstrem Kantaro yang ingin "menikahi" makanan manis, namun memiliki sesuatu yang sangat kita cintai akan memberikan warna berbeda dalam keseharian. Pada akhirnya, serial ini bukan hanya tentang bagaimana cara berburu kudapan enak di Tokyo, melainkan tentang bagaimana kita merayakan dedikasi terhadap hal-hal yang membuat hati kita merasa penuh.

Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman berjumlah 12 episode. Saya nonton di Netflix. Sampai akhir episode, rahasia Kantaro tetap gak terbongkar. Terlepas ada bagian lebay yang saya kurang suka, tetapi sisanya saya suka banget. Apalagi kalau udah mengulas dessert-nya. Saya juga jadi bisa belajar mengulas makanan supaya terlihat menarik.

Seingat saya, semua resto/cafe yang didatangi Kantaro berlokasi di Tokyo. Sahabat KeNai, yang ingin cobain berbagai dessert di Tokyo, mungkin dorama ini bisa jadi salah satu panduan.

Post a Comment

98 Comments

  1. Mengulas dessert tuh sepertinya rumit deh, karena aku taunya dessert itu manis aja, hihihi.. belum tentu bisa sedetail Kantaro. Hidupnya berasa tantangan karena harus resign demi passion

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itulah salah satu alasan suka dengan dorama ini. Dia detil banget mengulasnya. Story tellingnya bagus. Jadi seperti bercerita.

      Delete
  2. Menarik banget ceritanya, pekerja kantoran yang punya selera ini sih, tempat - tempat yang dia kunjungi pun beneran ada ya bund?
    Nonton film sekalian cari rekomendasi kuliner jka suatu saat nanti bisa travelling kesana, yaampun ngiler banget baca ceritanya, mampir ah nanti buat nonton ini

    ReplyDelete
  3. Wah sampai episode terakhir, rahasia Kantaro sebagai food blogger nggak terungkap. Padahal temannya udah mencoba berbagai cara untuk mengungkapnya ya. Saya kok membayangkan Kantaro yang pura-pura cuek ketika temannya kasih dessert, dan berusaha tetap cool aja saat mencicipinya.

    Adegan-adegan lebay bagi sebagian orang emang jadi menyebalkan ya mbak, dan bagi sebagian lagi bisa malah jadi daya tarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Sepertinya Kantaro food blogger yang memang murni organik. Dia membuat konten memang hanya untuk dirinya sendiri hihihi

      Bukan hal aneh sih sebetulnya kalau ada adegan lebay di dorama Jepang. Ala-ala komik gitu. Saya juga sering terhibur lihatnya. Tapi, khusus dorama ini, saya merasa gak dapet lucunya.

      Delete
    2. Keren ya Kantaro yg bisa menyeimbangkan hobi dengan kerja yg memang harus dijalani demi menopang hobi.
      Nonton dorama kalau mulai ada adegan lebay, auto keingat nonton anime, heheh.

      Delete
  4. Duh mana makanan tuh kalau buatku enak dan gak enak hahahaa... Tapi kalau urusan dessert tuh aku agak lebih selektif sih. Terus ya kalau nonton film atau drama yang mengulas makanan tuh aku senang banget. Ini aku belum nonton sih, jadi pengen nonton juga penasaran pengen lihat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Apalagi saya lebih suka makanan gurih. Sedangkan dessert kebanyakan manis. Tapi, lihat dorama ini jadi bikin saya pengen nyobain juga. Sayangnya jauh di Jepang :D

      Delete
  5. Kadang aku suka nonton dorama atau film jepang lainnya karena hampir semuanya selalu berpikiran positif. Berarti Kantaro ini menggambarkan food blogger sejati ya, dia menampilkan cara-caranya untuk menjelaskan desert kesukaannya secara detail lewat tulisan dan foto. Daebak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Pengen sih bisa mengulas kayak Kantaro. Trus, ditulis dengan narasi yang enak untuk dibaca. Tapi, ya berarti harus tau bahan-bahannya dengan detil juga. Jangan cuma taunya enak dan gak enak hehehe

      Delete
    2. Jadi bisa belajar banyak juga dari Kontaro ini ya Teh sepanjang menonton, karena mengulas makanan kan nggak mudah pun bisa tersampaikan drngan baik rasa enak atau kurangnya gitu.

      Delete
  6. Menarik nih filmnya. Bisa jadi referensi juga buat jadi food blogger ya mbak 😆

    ReplyDelete
  7. Kayaknya menarik nih, ntar mau ngubek2 Netflix dulu soalnya aku termasuk jarang nonton dorama meskipun ada beberapa dorama bagus dan inspiratif. Apalagi aku termasuk penyuka makanan manis kelas berat hahaha, tapi itu dulu kalau sekarang sudah mulai mengurangi makanan manis. Tapi hanya sebatas menikmati dan jarang tahu detil bahan serta cara membuatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi saya kurang menyukai makanan manis. Tapi, lihat review di dorama ini jadi pengen juga cobain dessertnya hahha

      Delete
  8. menariknya, aku mau coba nonton deh mba. Soalnya aku lagi suka juga ngeliat beberapa dokumenter yang menceritakan soal perjalanan dari suatu makanan. Sama, aku juga agak aneh nih kalo udah sampai ke titik "lebay" dengan ingin menikah sama dessert kayak si kantaro gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringkali saya malah suka ekspresi atau gaya-gaya komik ala Jepang. Tapi, yang ini kayaknya pengecualian. Gak dapat lucunya hahaha

      Delete
  9. Ini kek perasaan saya. Pengen resign kerja biar bisa kulineran.

    Bedanya kalau saya belum berani resign karena banyak alasan.

    Mwnarik ini Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman. Bisa jadi tontoan pas akhor pekan. Mumpung saya juga udah langganan Netflix.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya gak diulas lebih detil. Cuma diceritain, pindah kerja demi bisa kulineran. Padahal kita mah kadang masih mikir gaji, ya hahaha

      Delete
  10. Kenapa ya, aku selalu berpikir kalau seorang food blogger tuh gak boleh terlihat lahap saat makan sesuatu?
    Hehhe, karena mereka sedang mencicip dan mendeskripsikan rasa, bukan gak menghargai makanan, tapi justru bentuk pengaguman terhadap makanan itu sendiri.

    Dan orang Jepang memang selalu sangat penuh rasa syukur ketika dihadapkan dengan makanan, sebagai sumber kehidupan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya sih gak apa-apa terlihat lahap atau ekspresif. Asalkan jangan terlalu lebay aja.

      Di Indonesia menurut saya, alm pak Bondan masih yang terbaik untuk review makanan. Terlihat ekspresif, tapi ada isinya. Gak sekadar bilang enak banget. Apalagi sampai kayak reviewe sekarang yang sampai bilang rasanya kayak mau mati hahaha

      Delete
  11. Menarik ya ini ceritanya tentang food blogger yang relate dengan dunia blogger. Jadi ingat ada juga drakor dengan tema blogger judulnya let's eat tapi aku belum nonton sih drakornya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah saya baru tau kalau yang drakor. Coba nanti saya cari deh seriesnya

      Delete
  12. Seru bacanya sambil membayangkan kantoro meriview desert.

    Jadi penasaran dengen desert2 recomended di tokyo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cakeo sih sebetulnya ulasannya. Bahkan visualnya juga indah banget. Cuma sebel aja pas bagian yang lebay.

      Delete
  13. Saya penikmat dorama sejak remaja. Tapi saya belum lihat yang ini. Melihat ulasannya, saya tidak bisa melewatkan untuk menontonnya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo lihat di Netflix, Mbak. Lumayan banget nih buat tontonan akhir pekan

      Delete
  14. Jadi kontradiksi sekali ya profesi Ibunya yang dokter gigi dengan passion Kantaro sebagai food blogger dengan kesukaan makan yang manis-manis. Aku jadi mupeng nonton drama Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman. Tapi kayaknya aku pun bakal skip adegan lebay nya, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya itu juga yang bikin Kantaro merahasiakan aktivitasnya sebagai food blogger. Kalau ketahuan, ibunya bisa ngamuk hehehe

      Delete
  15. Wkwkwk soal ekspresi itu yang bikin aku kurang sreg ma serial ini jd ya aku berhenti di tengah2 deh dan memilih nonton serial Jdrama bertema makanan yang lainnya.
    Walau sebenarnya ya suka aja sih liat kalau dia makan dan mengulas resto2 yang didatanginya. Mungkin ntr kalau gak ada tontonan lagi baru nonton ini lagi hehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya saya baru mengulas sekarang. Nontonnya sampai berbulan-bulan. Padhaal cuma 12 episode. Abis sebel banget pas bagian lebaynya. Meskipun sebetulnya tinggal diskip aja

      Delete
  16. Waahh jadi pengin nonton doramanya nih. Apalagi kisahnya relate banget ya, tentang dunia perblogeran. Bisa gitu ya food blogger ga nunjukin dirinya saat posting. Kebayang klo aku sih harus ada fotoku hehehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kantaro memang hanya ingin menulis tentang dessert. Jadi gak peduli orang bakal tau penulisnya atau enggak. Lagipula kayaknya dia gak mau ibunya sampai tau :D

      Delete
    2. Justru itu, unik banget ya karakternya. Sudahlah menyembunyikan identitas diri, makanan yang diposting pun khusus yang manis-manis aja. Nichenya sangat spesial.

      Delete
  17. Udah lama banget nggak nonton Dorama. Biasanya episodenya lebih dikit dari drakor nih. Unik juga ceritanya Kantaro sang food blogger yang menyembunyikan identitasnya. Btw endingnya dia ketahuan nggak ya jadi food blogger ama rekan kerja yang cewe? Penasaran kelanjutannya

    ReplyDelete
  18. Wah ada dorama yang mengulas tentang food blogger seperti ini ya mbak
    Menarik untuk ditonton nih
    Apalagi buat blogger kuliner

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Yang suka kulineran, terutama dessert coba lihat dorama ini, deh

      Delete
  19. Menarik! Saya selalu suka cara food blogger luar mengulas makanan. Dari tulisan dan foto-fotonya itu beneran bikin ngiler gitu dan kebanyakan ada story dalam makanan tersebut. Belum pernah nonton series ini, dan kayaknya perlu dicoba nih biar dapat ilmunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cakeo sih sebetulnya story telling si Kantaro ketika mengulas makanan

      Delete
  20. Menarik nih tema filmnya. Mengulik sisi seorang food blogger. Penasaran juga gimana triknya kucing-kucingan sama ibunya supaya gak ketauan makan manis. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlepas dari bagian lebaynya, kucing-kucingan ma ibunya memang bikin nyengir hehehe

      Delete
  21. Mbaaaa, aku juga ga suka pas ekspressi di kantaro udh mulai lebaya, ingetin aku Ama satria baja hitam wkwkwkwkw.

    Aku nonton serial ini hanya 2 eps, trus stop, ga tertarik lagi. Lebih karena ga suka ekspressinya yg lebaya, dan kedua, aku sendiri bukan penyuka makanan manis. So nonton serial ini jadi ga menarik lagi

    Beda Ama midnight diner, road to red restaurant list, atau yg samurai apaaa gitu.. trus ada yg khusus kuliner pedes doang di Jepang, aku lupa judulnya. . Itu menarik, Krn kulinernya sesuai Ama seleraku 😂. Walopun yg samurai juga rada lebai sih, tapi Krn makanannya enak, okelaah 😂😄.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha! Ternyata gak cuma saya yang ilfil ma bagian lebaynya itu. Gak dapate banget lucunya.

      Makanya saya menyelesaikan serial ini dalam hitungan bulan. Padahal cuma 12 episode. Tapi, ya, karena males lihat yang lebaynya hehehe

      Yang judulnya ada 'spicy' itu, ya. Saya belum selesai nih nontonnya. Yang Samurai juga lebay, tapi masih gak senyebelin Kantaro hehehe

      Delete
    2. Karakter lebai ini sebenernya relate sama ekspresinya orang Jepang asli yang komuknya gak bisa terkendali kalau kaget, seneng, sedih, sampai marah. Jadi real banget menggambarkannya ya..

      Delete
    3. Yup! Saya sering terhibur juga dengan ekspresi-ekspresi ala komik orang Jepang. Tapi, yang Kantaro ini kayaknya pengecualian. Gak dapat sama sekali lucunya kalau buat saya :D

      Delete
    4. Waduh, apakah berarti kak Myra gak mudah tertawa? Eh apa sih, wkwkwk.
      Daku juga pernah gitu kata orang itu lucu, tapi menurut daku nggak

      Delete
  22. Setujuuu,hidup butuh passion.enggak heran Kantaro sampai bela-belain keluar kerja biar bisa selaras dengan passion-nya. Salut juga tuh kalau dia tetap bisa jaga identitas food blogger-nya. Dijamin kalau nonton bakal ngiler nih, secara dia ngreview makanannya apik dan menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kayaknya dia hanya ingin mengulas dessert. Gak pengen orang tau siapa dia sebenarnya :D

      Delete
  23. Membaca ulasan detail tentang dorama Kantaro yang punya passion kuliner manis dan menuliskannya sebagai seorang bloger, sukses bikin penasaran untuk ikutan nonton dramanya. Setelah nonton dapat tips ngereview makanan pastinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak dessert yang dari bentuknya aja udah menarik. Saya yang lebih suka savory pun, suka terkagum-kagum lihat dessert yang menarik

      Delete
  24. wah, resign untuk kuliner makanan manis, unik banget wkwkwkw gak biasa nih ceritanya, udah jarang banget nonton dorama terakhir pas kuliah

    ReplyDelete
  25. Pas banget aku lagi nyari series yang berhubungan sama makanan. Jadi penasaran nontonnya

    ReplyDelete
  26. Hiyaaa amun si rekan satu divisinya saking curiganya, segitunya banget ahahahha. Mana dia kerja di dunia penerbitan pula, secara kan nggak jauh jauh sama dunia kepenulisan tuh kala jadi food blogger. Unik banget sih ceritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena memang terlalu kebetulan. Makanya temannya curiga hehehe

      Delete
  27. wah kudu nonton nih The Sweet Tooth Salaryman
    walau agak ragu juga karena ada adegan Kantaro jadi buah-buahan
    setuju gak lucu
    Atau emang selera jokes kita berbeda dengan mereka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya memang ciri khas Jepang suka kayak gitu. Hanya aja yang kali ini saya gak merasa dapat lucunya

      Delete
  28. Hooh sih. Terkesan lebay kalau penggambarannya adalah cewek yang bermuka buah. Geli pasti mendengar penjelasannya. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya ketika dia menjelaskan ttg makanannya gak geli. Hanya visual pas lebaynya itu. Skip aja deh :D

      Delete
  29. jujurly aku tidak seberapa suka nonton film drama korea. tapi membaca ulasan artikel ini sepertinya menarik untuk di tonton terlebih mengangkat tema food blogger, aku jadi penasaran deh untuk nonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini drama Jepang, Mbak. Kalau Drakor juga saya kurang suka :)

      Delete
  30. Doramanya jadi inspirasi nih buat kita yang mau mengulas makanan, biar bisa lebih ekspresif saat kontennya berbentu video, biar lebih mengena.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, bisa belajar juga dari cara dia mengulas dessertnya

      Delete
  31. Waaah seru banget sampe bikin list resto buat didatengin yah. Ini kayaknya bakal jadi tontonan yang menarik mba

    ReplyDelete
  32. jadi food blogger itu gak mudah sih menurut saya karena selain passion, yang dibutuhkan untuk menjadi food blogger adalah kejujuran juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Tapi, rasa memang selera yang gak bisa didebatkan. Jadi ketika seorang food blogger bilang rasanya enak, bukan berarti dia sedang berbohong kalau orang lain merasa yang berbeda

      Delete
    2. Kudu pandai menyampaikan ya, bila enak rasanya mungkin mudah. Namun bila tidak, maka sebisa mungkin bukan seperti mencela

      Delete
    3. benar banget, Mba. Selera masing-masing orang memang berbeda yaa dan gak bisa dipaksakan juga. Bisa jadi yang satu bilang makanannya enak, tapi bila makanan tersebut dicoba yang lain rasanya akan berbeda

      Delete
  33. Wah menarik. Film ttg foodblgger jarang. Yg terkenal Julie & Julia. Yg ini cowok. Kayaknya skrg udah gak pernah dengar istilah foodblogger, yg ada food enthusiast atau food influencer. Jadi terharu kalau dengar foodblogger.

    ReplyDelete
  34. Kantaro keren ya, bisa kerja sesuai pasion namun kerjaan yang dijalaninya juga berhasil dikerjakan sebagaimana harusnya, bahkan jadi panutan bagi karyawan lain ya.

    Jadi food blogger itu emang harus ditail dan jujur sih ya, gak harus lebay dan dibuat-buat jika emang rasa makanannya gak sesuai ekspektasi tapi tentu mengemasnya dengan cara yang apik ya.
    boleh juga nih nonton dorama Kantaro :)

    ReplyDelete
  35. kalau nonton begini memang bawaannya jadi ngiler yaaa mba hahaha. Aku juga suka kalau nonton yang berkaitan dengan food hehe

    ReplyDelete
  36. Di antara serial kulineran jejepangan di netplik aku msh belum bisa menikmati si Kantaro ini haha, gak tau gk tahan liat ekspresinya yang lebay. Apalagi dia suka mbayangin hal2 kek nikah ma makanan manis itu wkwk. Owalah jd ada latar belakangnya gttu tooo, soalnya kyknya aku berhenti di episode awal2. Ya mungkin nanti kucoba nonton lagi pelan2 haha :D

    ReplyDelete
  37. Wah seru nih kayaknya ya ceritanya. Relate banget dengan kehidupan kita yang sering juga ngulas tentang makanan. Nyoba nonton ah. Kepengen juga tahu dengan food blogger di luar sana dalam ngulas kerjaannya. Cus ke Netflix!

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Mbak, saya pun juga jadi penasaran nih dengan ceritanya, biar bisa sekalian belajar juga ya gimana cara food review versi luar :)

      Delete
  38. Ceritanya menarik sekali. Ngomong ttg food blogger, aku tuh paling ga bisa ulasan makanan yg seru kaya orang2. Ceritaku selalu datar. Kayanya perlu juga nonton dramanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena passionnya juga bukan di makanan, ya

      Delete
  39. Unik sekali jalan ceritan Kantaro: The Sweet Tooth Salaryman.
    Karena memang orang kalau sudah suka sama makanan manisnya susaaah dilarangnya. Kecuali kalau memang dia punya cara mengatur kadar manis yang dikonsumsi setiap hari ya..
    Hehhe, masalah selera soalnya... Dan aku salah satu pecinta makanan manis yang gak sekedar manis, tapi yang manisnya sampai banget kaya Kantaro.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa manis memang bikin nagih, ya. Kalau saya bukan penggemar makanan manis. Tapi, suka kagum sama dessert yang cantik

      Delete
  40. Menarik nih sepertinya Kantaro the Sweet Tooth Salaryman ini, dan bisa jadi referensi untuk siapa pun yang mau jadi food blogger. Soalnya kalau buat aku pribadi, mengulas makanan itu sulit lho. Apalagi mendeskripsikan cita rasa, bumbu, atau "rasa" lainnya. Aku lebih sukanya makannya aja... hahaha

    ReplyDelete
  41. Udah lama gak ngedrakor, baca ulasan ini kok ya jadi penasaran. Bener-bener deh, drama Korea nih gak ada habisnya kalau menggali ide. Sampai ke topik Food Blogger segala. Wow~

    ReplyDelete
  42. Wah kalau ada rencna liburan ke Tokyo bisa nih nonton dorama ini dulu. Siapa tahu beneran bisa makan dessert yang ada di ceritanya. Hehe jadi tergoda untuk mencicipi juga

    ReplyDelete
  43. ah jadi kepo deh mba pengen nonton juga, pas aku bulan ini juga lagi langganan netlifx lagi, mba udah pernah nonton midnight dinner atau izakaya bottakuri ini cerita kuliner di jepang juga menarik deh, samurai gourmet aku juga udah nonton tapi gak semenarik yang 2 sebelumnya kalo menurutku

    ReplyDelete
  44. Rekomendasi tontonan yang pas nih buat akhir pekan karena suka bangt sama tema makanan ceritanya juga menarik otw nonton deh hari ini mkasih mb myra ulasannya lengkap sekalii 😍

    ReplyDelete
  45. kayaknya dramanya seru ya, mbak. aku termasuk jarang banget nonton dorama nih kemarin cuma nontn first love aja. k

    ReplyDelete
  46. Mba Mira dorama ini bisa di tonton dimana? TV langganan seperti viu netflix gitu ada ya?

    ReplyDelete
  47. Wah seru banget jalan ceritanya aku sampai baca berulang kali, kisahnya unik juga dan kita jd belajar tentang passion seseorang yang terkadang tak sesuai dengan profesi yang dijalani

    ReplyDelete
  48. Lucu ya...
    Memang orang Jepang kalau sudah terlanjur lebaaii, bisa jadi lebai akut siih..
    Tapi menarik sekali karena ia memiliki kehidupan pribadi sebagai food vlogger.

    ReplyDelete
  49. Dorama ini bisa jadi referensi para food blogger ya mbak
    Biar bisa mengulas makanan secara apik

    ReplyDelete
  50. Serius banget aku baca postingan ini hehe. Kayak merasa relate dengan salah satu novel yang baru kubaca tentang keinginan resign kerja. Ternyata ngga semua kerja harus sesuai passion apalagi kalo udah ada tuntutan finansial. Ya opsinya harus pintar pintar menej waktu supaya bisa melakukan hal yang sesuai passion hehe

    ReplyDelete
  51. Emang jadi programmer keliatannya mbosenin ya. Tapi buat yang introvert sih asik-asik aja ya, daripada disuruh jadi customer servis atau jubir, hehe

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)