Temu Kangen di Ridho Restu, Bubur Ayam Enak di Bekasi

Bubur ayam tuh menu sarapan atau untuk orang sakit. Awalnya, saya berpikir seperti itu dan gak pernah kepengen makan di waktu lain. Tapi, prinsip ini mulai berubah setelah mengenal bubur ayam cina bernama Ridho Restu.

bubur ayam china enak

Apa bedanya bubur ayam China dengan bubur ayam Indonesia?

Bubur China atau Tionghoa tampilannya lebih sederhana. Buburnya polos, tapi rasanya sudah cukup gurih. Tektur buburnya lebih lembut. Gak padat, gak kecairan. Taburannya biasanya cakwe, ayam, dan daun bawang. Disediakan juga topping lainnya untuk tambahan.

Sedangkan bubur Indonesia biasanya tampilannya lebih ramai. Biasanya ada tambahan kuah dan toppingnya lebih banyak. Tapi, bubur Indonesia juga banyak ragamnya, lho. Yang saya tau ada bubur manado, bubur sukabumi, bubur cirebon, bubur bandung, bubur ase, dan mungkin masih banyak lagi.

Tuh, di Jawa Barat aja yang saya tau ada 3 macam bubur yaitu sukabumi, cirebon, dan bandung. Kalau bubur China ini agak mirip bubur bandung. Tapi, setahu saya beda di teksturnya buburnya. Kalau yang bandung lebih kental. Btw, tolong koreksi kalau saya salah, ya. Karena ini berdasarkan pengalaman saya aja.

[Silakan baca: Sarapan di Bubur Ayam Bejo Kosambi, Bandung]


Hampir Setiap Malam Makan Bubur Ayam Ridho Restu


menikmati bubur ayam di malam hari

"Wah! Ke mana aja, Mas? Ada ya 5 tahunan gak ketemu. Saya kadang kepikiran lho mas nih ke mana aja, gak pernah makan di sini lagi."

Penjualnya langsung menyapa suami dengan antusias begitu kami datang. Jadi lah mereka berdua ngobrol. Saya hanya menyimak, paling sesekali nimpalin obrolan.

Dulu, ketika kami masih tinggal di Bekasi, hampir setiap malam suami makan bubur ayam Ridho Restu. Lha, memangnya gak makan malam di rumah? Tentu makan, dong. Nanti saya ngomel karena udah masak, tapi gak dimakan wkwkwkw.

[Silakan baca: Sarapan di Bubur Ayam Bejo Kosambi, Bandung]


Cerita Inspiratif dari Tukang Bubur


lokasi bubur ayam enak di bekasi

Ini bukan cerita tentang sinetron tukang bubur naik haji, ya hihihi. Kami sudah gak pernah makan di sini sejak pindah rumah. Udah gitu ketemu pandemi sekitar 2 tahunan. Memang selama pandemi, kami jarang banget jajan makanan/minuman apapun. Jadi, kurang lebih 5 tahunan lah gak ke bubur ayam Ridho Restu.

Mengejutkan sekaligus menyenangkan karena penjualnya masih ingat dengan suami. Kalau sama saya baru ketemu. Biasanya suami bawa pulang seporsi bubur saat saya sakit. Jadilah sambil makan diajak ngobrol.

Obrolannya random, tapi cerita tentang pandemi terasa inspiratif bagi saya. Penjualnya bercerita di tahun pertama berasa banget sepinya. Nyaris gak ada kendaraan yang lewat. Benar-benar sepi!

Tahun kedua pandemi, mulai ramai lagi pembeli. Tapi, hanya menerima pesanan untuk dibungkus. Ramai dari pelanggan yang kangen bubur ayamnya. Juga ramai karena saat pandemi kan banyak yang sakit. Biasanya bubur jadi pilihan makanan bagi yang sakit.

kisah inspiratif penjual bubur ayam ridho restu

"Sekarang, pakai asisten, ya?"

Penjualnya cerita kalau sekarang punya 2 asisten. 1 orang membantunya, satunya lagi berjualan di tempat lain. Padahal, ya, tadinya selalu jualan sendirian selama bertahun-tahun. Gak punya cabang di manapun. Tetapi, setelah pandemi malah semakin laris jualannya. MasyaAllah.

Menarik menyimak cerita tentang perjuangannya selama menjadi penjual bubur. Dapat tips memilih lokasi jualan hingga jungkir baliknya selama pandemi. Menurut saya, selain rasa buburnya yang enak, penjualnya memang ramah kepada semua pelanggan. Selalu disapa dan diajak ngobrol.

"Tumben sendirian, Mbak. Biasanya setiap pulang kantor selalu ajak temannya makan di sini."
"Ini bubur buat istri ya, Pak Haji?"

Ya, saya pun menyimak ketika penjualnya menyapa para pembeli. Beberapa terlihat memang sudah berlangganan lama. Bahkan, sama suami pun masih ingat. Padahal udah 5 tahunan gak makan di sini.

Jadi, teringat dengan penjual mie yamin langganan saat saya masih SMA. Sekian tahun gak pernah makan di sana, tetap aja mamangnya ingat. Padahal sekian tahun, wajah dan badan mungkin udah mengalami perubahan, ya, Hal-hal seperti itu terasa menyenangkan, lho.


Review Bubur Ayam Ridho Restu


review bubur ayam ridho restu

Di tempat kami tinggal sekarang jarang banget yang jual bubur China. Cuma ada 1 tukang bubur pake motor yang jualannya setiap pagi. Lebih mudah cari yang jualan bubur ayam Sukabumi. Kami juga suka, tapi tetap lebih enak bubur ayam China.

Suka sedih kalau lagi sakit. Karena dulu suka dibawain bubur ayam Ridho Restu atau yang di Barito. Tapi, kantor suami udah pindah lokasi pula. Sekarang jauh banget dari Barito 😅.

Makanya jadi suka bikin sendiri. Sejak itu, deh, makan bubur ayam gak lagi hanya untuk sarapan atau sakit. Tapi, enak dinikmati kapan pun. Hikmahnya di situ. Jadi bisa bikin bubur ayam hahaha.

perbedaan bubur china dan bubur sukabumi

"Gimana, Mas? Buburnya masih enak, gak?" tanya penjualnya.
"Masih sama rasanya kayak 5 tahun lalu," jawab suami.

Kalau masih sama, berarti masih enak, dong, Karena gak mungkin dulu suami makan melulu di sana kalau rasanya gak enak.

Sepintas, seporsi bubur ayam Ridho Restu kayak sedikit. Padahal buat saya dan suami, porsinya cukup mengenyangkan. Lagipula, saya memang kurang suka sama sajian makanan atau minuman yang sampai melimpah dna tumpah-tumpah. Mendingan mangkok atau gelasnya digedein, deh.

Teksturnya mirip kayak bubur china pada umumnya. Gak kekentalan, tapi juga gak kecairan. Ya, memang kalau dibandingkan bubur Indonesia, teksturnya lebih cair.

ridho restu bubur ayam enak di bekasi

Ada 3 pilihan bubur di sini. Bubur ayam biasa, pakai ceker ayam, atau telur ayam kampung setengah matang. Kami memilih dikasih ceker. Gak banyak sih cekernya, kayaknya cuma 2 sepasang kaki kiri dan kanan 😂. Ukurannya juga kecil, mungkin pakai ayam kampung.

Di atas bubur, dikasih taburan cakwe dengan potongan cukup besar, sedikit potongan kecil ayam, dan cheese stick. Kemudian seplastik kerupuk. Bisa juga minta ditambahkan daun bawang dan emping.
 
Biasanya saya minta pakai emping. Tapi, kali ini lagi gak pengen. Minta tambahin daun bawang. Potongan daun bawangnya besar-besar. Gak difoto, ya. Karena saya penggemar bubur ayam diaduk. Baru dikasih daun bawang setelah buburnya diaduk 😄.

Ukuran cheese sticknya agak berubah, nih. Seingat saya, dulu agak gede-gede. Sekarang lebih kecil dan kurus. Kata suami, enakan yang sekarang karena bisa lebih menyatu ke bubur. Meskipun rasa kejunya memang kurang berasa, tapi enak suka sih dengan 'kriuknya'.

rasa bubur ayam china rhido restu

Di meja juga disediakan sate-satean. Ada sate ati ampela ayam, sate telur puyuh, dan sate usus. Ada juga telur rebus. Saya cukup nambah 1 tusuk sate ati ampela ayam aja.

Saya kasih kecap asin sedikit saja karena buburnya udah cukup gurih. Disediakan juga kecap ikan dan kecap manis, tapi saya skip keduanya. Sambalnya cair banget. Tapi, pelan-pelan nuangin ke mangkoknya. Karena dikasih sedikit aja udah berasa pedasnya.

2 porsi bubur ayam ceker, 2 tusuk sate ati ampela ayam, dan 2 gelas VIT totalnya Rp38.000,00. Menurut kami harganya masih sangat bersahabat banget. Gak sampai 50 ribu, kami berdua udah kenyang. Senang pula bisa saling bertukar cerita.

 

Patokannya Hotel Ibis Styles Bekasi Jatibening

 
lokasi hotel ibis styles bekasi jatibening

Bubur Ayam Ridho Restu masih berjualan di lokasi yang sama. Lokasinya ada di parkiran ruko. Seingat saya, ruko di sana gak rame. Tetapi, sekarang udah ada Mixue. Beneran spesialis penghuni ruko kosong, ya hahaha.

Kalau di parkirannya memang dari dulu juga jadi tempat para pedagang kaki lima. Tapi, saat kami ke sana sudah berganti pedagang. Hanya bubur ayam ini yang masih bertahan. Alhamdulillah.

Lokasi sekitarnya juga semakin ramai. Sekarang tepat di seberangnya ada Indomaret yang lumayan besar. Ada point coffee juga di dalamnya. Di samping ada hotel Ibis Styles dan apartemen. Nah, katanya bubur ayamnya semakin ramai pembeli sejak ada hotel. Kalau malam hari, banyak tamu hotel yang makan di sini.
bubur china enak selain bubur ayam barito

Sebetulnya dari dulu lokasinya mudah ditemukan. Dari jalan Kalimalang ke arah Bekasi, masuk jembatan Caman. Gak jauh dari jembatan deh lokasinya. Posisinya di sebelah kiri. Tapi, sejak ada hotel Ibis Styles memang semakin mudah dijadikan patokan.

Kalau LRT udah beroperasi, di dekat sana ada stasiunnya. Kalau gak salah namanya, stasiun LRT Cikunir 1. Tinggal lanjut naik ojol karena gak ada angkot.

Deket banget kok jaraknya. Kalau lihat di maps sih cuma 500 meteran. Tapi, kalau males jalan kaki ya naik ojo aja.

[Silakan Baca: Begini Caranya Naik LRT Jakarta]

Kapan-kapan makan di sini lagi, deh, Murah, kenyang, dan menyenangkan!


Bubur Ayam Ridho Restu


Jl. Caman Raya, Jatibening
Bekasi - Jawa Barat
(Patokannya - Hotel Ibis Styles Bekasi Jatibening)


Post a Comment

68 Comments

  1. Noted kalo ke Bekasi mampir, patokannya Ibis Style Jatibening. Tar kalo main2 ke rumah Bibi di Bekasi mau nyemil bubur Ridho Restu.

    Kbayang itu kalo bibirnya gurih meski polosan, aku pecinta bubur banget soale, suka diburruu dan diaduuk eeeh ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss kita timbubur diaduk hahaha. Ayolah ke Bekasi. Apalagi sekarang udah ada LRT. Pakai MRT juga bisa, ding

      Delete
  2. Temenku ada yang jualan bubur ayam , jadi pas main ke rumahnya ya disajikan bubur terus dia bilang, ini makan malam yang enak dan aman meski malam hari. Tapi sayang di Bengkulu gak ada yang jual bubur malam hari, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Bengkulu pada gak terbiasa makan bubur malam hari ya, Mbak

      Delete
  3. Suka banget sama bubur ayam sukabumi gurih dan toppingnya meskipun rame tapi enak aih hehehe...kalo di semarang kebanyakan bubur ayam yg berkuah manis aku ga begitu suka sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ternyata di Semarang beda lagi. Saya penasaran, sih. Meskipun kurang suka juga makanan manis

      Delete
  4. Setelah 5 tahun, akhirnya mengobati rindu dengan bubur ayam Ridho Restu ya Mbak Myr. Yang namanya bubur ayam yang sudah jadi langgangan, rasanya pasti sudah akrab banget ya. Aku juga suka gitu, suka kangen sate padang di tempat tinggal yang lama. Sayangnya aku tak seberuntung dirimu Mbak Myr, tukang sate padang langganan ku dulu sudah gak jualan lagi. Entah kemana dia sekarang, semoga sih baik2 saja ya. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saya masih penasaran sama bubutr ayam Cikini, Mbak. Enak juga itu rasanya. Tapi, sampai sekarang gak tau pindahnya ke mana

      Delete
  5. Buburnya ini jenis bersih ya, maksudnya ga banyak toping sebagai bumbu untuk bubur tradisional seperti bubur Cianjur atau bubur Sukabumi. Apa ini lebih ke gaya Chinese Porridge kali ya
    Tapi yang pasti emang enak tuh kalau pakai cakue. Jadi inget kebiasaan makan bubur di rumah majikan dulu

    ReplyDelete
  6. Ini tempat si tukang jual bubur ayam, kalau pagi ada nasi kuning kesukaanku juga loh mak. Aku malah baru ngeh ini ada bubur ayam kalau malam ya. Mau ah nanti kalau pas ke rumah mamahku sekalian nyobain juga. Biasanya suka nyari jajanan kalau pas kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya kalau pagi suka beda lagi para penjualnya, ua. Tapi, saya belum pernah jajan pagi hari di sana. Padahal selalu rame juga, tuh

      Delete
  7. Bubur kesukaan keluarga kami sama sama bekasi nih lokasinya tapi jauhh, next gada salahnya mau saya ajak keluarga cobain buburr ridho restu

    ReplyDelete
  8. yummyyyy tahu nggak di daerahku sekarang ga ada loh bubur ayam kayak di jabodetabekk gini mba serius. pas aku nyari buryam kok rada2 anaeh gitu kok gini yaaaa wkwkkw.

    ReplyDelete
  9. Wah bubur ayanm enak ada di Bekasi, kirain lagi cerita bubur di Rawamangun:)
    Aku lihat tekstur buburnya seperti yang aku suka nih. Jarang2 makan bubur malam aku nih ternyataa da juga yang jual. Asyik kl mau cobain gampang nih dari stasiun LRT Jatimulya turun di stasiun LRT CIkunir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Rawamangun yang jual bubur China adanya pagi. Belum ketemu yang jual malam. Tapi, kalau bubur lain sih banyak

      Delete
  10. Duh baca postingan ini jadi pengen makan bubur ayam malam ini. Kayanya enak deh. Saya juga punya langganan bubur ayam di deket rumah. Seneng ya makan di sini, penjualnya juga ramah. Masih inget aja kalau udah lama Mba Myra ama Suami nggak makan di Ridho Restu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, terkesan dengan keramahannya. selain buburnya juga enak

      Delete
  11. Aku suka bubur ayam China begini, lebih lembut teksturnya, jadi tinggal ditelan saja..pas sakit cocok banget ini. Pasti deh kalau bubur ayamnya enak balik lagi dan lagi, apalagi kalau penjualnya seramah Mas-mas yang di punya Ridho Restu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak. Bubur China memang lebih lembut dan rasanya udah gurih. Cocok juga buat kalau lagi sakit. Kan, biasanya kalau sakit suka susah menelan

      Delete
  12. wah mantap banget itu tekstur buburnya, sebagai pecinta bubur ayam garis keras dengan tekstur yang kental dan legit, kayaknya harus icip deh bubur ayam enak ini

    ReplyDelete
  13. kalau di tempatku yg sering dijual bubur ayam Cirebon hehe. Baru denger bubur ayam Cina, mungkin karena ada cakweya itu ya mbak?
    Harganya cukup terjangkau yaa. Apalagi penjualnhya juga ramah jadi pelanggannya pada betah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu ciri khasnya memang ada cakwenya. Bubur Bandung juga agak mirip dengan bubur China

      Delete
  14. pas anak-anak sakit aku sering beli bubur ayam dekat rumah, terbantu banget kalau masih buka saat udah malam, jadi enggak perlu bikin bubur sendiri. Apalagi pakai usus, anakku suka banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya juga suka dibawain bubur saat lagi sakit

      Delete
  15. Tim bubur ga diaduk hadir! Hehehe, lucu banget mbak ternyata masnya inget banget ya. And the photo looks super yummy! Jadi pengen cobain jugaaa.

    ReplyDelete
  16. Inspiratif kisah si tukang bubur yah Mak. Menyapa pelanggan dengan ramah, ini salah satu tips menarik pelanggan untuk datang dan datang lagi, karena pelanggan merasa ada ikatan batin apalagi ditambah dengan bubur yg enak main jatuh hatilah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Mbak. Pelanggan senang ya diramahin begini.

      Delete
  17. Penampakan bubur ayamnya gak kalah sama Tawan ya. Kelihatan enak buburnya. Harganya lebih mahal daripada bubur ayam abang2 lainnya yang seporsi 10 ribu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahkan ada netizen yang bilang kalau ini bubur Tawan KW. Karena memang cukup mirip hehehe

      Delete
  18. btw kalau disana bubur ayamnya engga pakai kuah kaldu gitu ya mba? atau beda-beda lagi? di tempatku (Aceh) bubur ayamnya pakai kuah kaldu lagi, terus kerupuknya pakai kerupuk warna warni gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jakarta ada banyak jenis bubur, Mbak. Ada yang pakai kuah dan enggak. Nah, kalau bubur China gak pakai kuah

      Delete
  19. Hoo, jadi yang tanpa kuah itu bubur Cina ya. Kayanya bubur Cirebon juga gitu ya mak? Tanpa kuah, jadi rasa buburnya emang udah gurih, andalannya ditambah sambal kacang deh. Deuh enak banget kayanya, ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mirip bubur Cirebon. Tapi, setahu saya kalau bubur Cirebon masih pakai kuah kaldu berwarna gelap. Nah, pakai sambal kacang juga kalau bubur Cirebon

      Delete
  20. Aku suka bubur ayam yang pake cakwe kayak gini
    Rasanya jadi lebih kaya di lidah. Juga gak terlalu berbumbu kental yang bikin rasa buburnya tertutupi
    Seandainya Bekasi dekat, mau juga nih nyobain

    ReplyDelete
  21. Kok sama sih mbak, aku juga dulu berpikirnya gitu deh, bubur kan buat yang sakit hihi tapi makin ke sini makin ngeh dengan kuliner satunini, enak aja di makan kapan aja yaa. Apalagi kalau tempat makannya juga nyaman, makin menikmati banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejak suka bikin bubur sendiri. Saya jadi suka makan bubur kapan pun hihihi

      Delete
  22. Wah aku baru tahu bedanya bubur cina dan bubur indo begini, hehe. Selama ini seringnya makan bubur ayam bandung aja, karena udah ada dimana2 kan, nemunya gampang. Bahkan ada satu langganan bubur ayam di Surabaya yang aku suka banget, udah jadi langganan, karena kalo harus kuliah pagi2 cuma bubur ayam ini yang buka, haha.

    Jujur, aku lebih suka tipe bubur ayam yang ada kuahnya, entah kenapa. Pas baca artikel ini jadi penasaran, nggak ada kuahnya tapi kok gurih? Jadi pengen nyobain juga, apalagi ada sate2an begitu hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bubur ayam bandung termasuk mirip sama bubur ayam cina. Cuma biasanya teksturnya lebih padat

      Delete
  23. Penjual seperti ini yang bikin makin betah beli di sana. Walau 5 tahun enggak ketemu masih ingat sama pembelinya. Berkah pandemi juga yaa malah makin rame jualannya walau awal-awal terasa sulit.
    Kalau pengalaman ibuku, beliau angganan mie ayam bahkan sejak aku belum lahir. Udah belasan tahun mungkin yah ga beli d sana. Sekalinya beli eh penjualnya masih hafal, ngajak ngobrol panjang lebar. Wow salut banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kan. Penjual yang seperti itu memang bikin senang pelanggan. Makanya suka banyak yang setia pelanggannya

      Delete
  24. Makan bubur malem2 kalau rasanya enak, auto dicari ya mbak. Apalagi pas laper
    Kalau seringnya kan bubur jadi sarapan ya, ini jadi unk makan malem 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daku pernah pulang kerja malah makannya bubur ayam, hehe. Apalagi kalau pas badan lagi gak enak, dibawa makan bubur jadinya lebih segeran

      Delete
  25. Sekilas itu mirip Bubur Cinajur.. Kalau di Malang di sebutnya Bubur Jakarta, , jadi pengen makan Bubur habis baca ini hiksss

    ReplyDelete
  26. Sebagai sesama penggemar bubur ayam baik dalam kondisi sehat dan sakit, auto tergugah lihat postingan ini, Kak. Semoga suatu waktu bisa menikmati kuliner ini juga. Apalagi ini bubur ayam China, ya. Sepertinya saya belum pernah makan ini.

    ReplyDelete
  27. Aku suka segala tipe bubur, tapi memang yang paling aku suka itu bubur china kayak gitu mba.. Buburnya aja udah gurih ya, terus kesannya clean gitu, pake cakwe sama ayam jadi makin kaya teksturnya. Boleh nih dicoba kalau nanti kapan-kapan aku main ke Bekasi... :D

    ReplyDelete
  28. Akhirnya jumpa lagi setelah 5 tahun berlalu dan ternyata rasa bubur ayamnya gak berubah ya? Keren banget sih ini, menjaga kualitas dan cita rasa yang patut buat dicicipi langsung

    ReplyDelete
  29. Yuummiii bangeett..
    Aku baru tau bedanya bubur ayam China sama bubur ayam Indonesia.
    Kek berasa makan bubur di China kalo makan di Ridho Restu. Hihih...yaaa, gak gitu juga sii..
    Aku juga seneng sama bubur yang sederhana, gak terllau ramai sama printilan. Karena aku tim bubur ga diaduk.

    ReplyDelete
  30. Penasaran sama bubur ayam ini, biasanya favorit aku tuh bubur ayam cirebon. Pasti citarasanya beda. Dulu tuh aku mikirnya orang makan bubur ayam cuma pagi buat sarapan aja, ternyata malam-malam banyak juga ya nyari buryam.

    ReplyDelete
  31. Memang ya bubur identik dengan makanan buat orang sakit tapi kalau tampilannya menggoda kayak bubur Ridho gini jadi pengin nyobain deh apalagi ada tambahan sate-satean yang makin menggugah selera.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi identik juga dengan sarapan kalau di Jabodetabek sih hehe

      Delete
    2. Wah area Barito aku sering lewatin tuh tiap Minggu kalau pas mau ke Ampera hehe, mau nitip?
      BTW sku gak suka bubur mbak,tapi suami dan anak2ku sukaaa haha. Jd kalau mereka makan bubur aku hanya menepi, minimal makan sate2annya atau gorengan kalau ada :D
      catet dulu kulinerannya, kali kapan2 wisata naik LRT bisa ajakin keluarga mampir sana.


      Delete
  32. bubur ayam china itu kayak yang di tawan gitu ya, mbak? kalau bubur ayam banjarmasin juga setahuku yang nggak banyak campurannya jadi bubur aja nggak pakai bumbu kuning. aku pribadi sukanya bubur ayam bandung dan ada juga langganan yang selalu ke situ kalau mau makan bubur

    ReplyDelete
  33. Aku jugaaa lebih suka bubur China gini Mbaaa. Krn buburnya tanpa Diksh apapun udh enaaak. Mamaku dulu sering bikin. Makanya aku LBH terbiasa Ama bubur China drpd yg lain.

    Ini sayang jauh juga yaaa si ridho 🤣. Kalo Deket aku datangin deh.

    skr palingan kalo kangen bubur aku ke cempaka putih. TK buburnya bukan Chinese style sih.

    Yg bubur di landmark BNI 46, juga enak. Tp cuma jualan hari kerja, dan cepet abis 😅. Jadinya pilihan lain, ke bubur Kwang tung di Pecenongan. Itu juga fav ku

    ReplyDelete
  34. Bubur Ayam Cina memang sudah kuat dirasa buburnya polosnya aja. Di deket rumah ku juga ada yang jual. Laris banget karena selalu tersedia. Sering pas lagi sakit, saya makan bubur ini. Karena cukup dengan bubur plus telor rebus dan kecap manis aja udah enak. Secara ya kalau lagi sakit kan susah untuk ngunyah dan nelan.

    Yang paling saya suka dari bubur Cina ini adalah topping cakwe nya itu. Dipotong tipis-tipis terus dicampur ke bubur. Duuhhh gurihnya lengkap banget terasa di lidah. Aahhh mendadak pengen telpon si abang penjual bubur Cina dekat rumah.

    ReplyDelete
  35. Bubur Cina tapi penjualnya bukan Cina ya?
    Menarik nih, karena di Sukabumi yang jualan bubur Cina ya etnis Cina (mualaf)
    Banyak bubur Sukabumi lain yang terkenal hingga luar Sukabumi
    Biasanya yang jual /pembuatnya urang Sunda ^^

    ReplyDelete
  36. Padahal aku habis makan siang, tapi baca tulisan ini tetap aja ngiler. Bayangin makan semangkuk bubur ridho restu lengkap dengan sate ati ampela ayam, sate telur puyuh, dan sate usus.

    ReplyDelete
  37. Gambar buburnya sangat menggoda, apalagi ada sate-sate nya... Sebagai penggemar bubur ayam, terpaksa nih aku catat nama dan alamat Ridho Restu. Siapa tahu saat ke Bekasi, bisa mampir...

    ReplyDelete
  38. Baru tahu ada bubur ayam Cina, Mbak. MasyaAllah masih tetpa laris. Toping buburnya nggak seberapa banyak ya.

    Biasanya kalau di Surabaya ada kacang gorengnya, telur dadar iris tipis, daun bawang, suwiran ayamnya. Rame isinya, diaduk-aduk lebih berasa, kalau saya., hehe

    ReplyDelete
  39. Noted kalau nanti ke Bekasi lagi ^^ Jadi penasaran karena terlihat sederhana tapi terlihat enak. Yummy! Saya pun baru tahu kalau ada bubur China dan topingnya simpel, kebayang enak..

    ReplyDelete
  40. Aku juga tim bubur diaduk mbak hehe. Ditambah telur puyuh makin endulita. Menurutku bubur ayam nggak hanya buat orang sakit kok. Enak buat sarapan. Eh iya juga ya, kalo kita diingat sama penjual tuh rasanya seneng banget. Apalagi udah lama dan dia tetep nyapa, mashaAllah. Semoga setelah pandemi ini, tukang buburnya makin lancar rezeki dan laris manis.

    ReplyDelete
  41. Yang jualnya humble banget ya..
    Aku juga suka makan di tempat yang jualannya humble. Suka canda dan gak cringe.. Hihihi..
    Soalnya di Surabaya, aku punya tempat makan yang jualnya suka sapa-sapa dan asal aku pulkam, selalu kangen sama si bapak.
    Memang menunya enak dan penjualnya ramah tuh jadi nilai plus plus seperti bubur ayam Ridho Restu di Bekasi ini.

    ReplyDelete
  42. seneng baca kisah penjual yang makin laris setelah Pandemi, mashaAllah. Makin seneng lagi kalau penjual bisa inget pembeli meski udah lama nggak ketemu. Semoga makin laris manis Bubur Ayam Ridho Restu. Bubur ayam adalah makanan yang nggak bisa ditolak pagi-pagi hehe

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kunjungannya. Saya akan usahakan melakukan kunjungan balik. DILARANG menaruh link hidup di kolom komentar. Apabila dilakukan, akan LANGSUNG saya delete. Terima kasih :)